
Diana sungguh tidak menyangka jika Andrew akan datang dan menyatakan rasa cintanya, dia jadi merasa jika semua ini hanyalah mimpi bahkan ilusi.
Karena sejak dulu Andrew memang tidak pernah melirik kepada dirinya, Andrew selalu berkata jika dia mencintai Carol.
Andrew bahkan selalu berkata dia sudah siap menjadi seorang ayah sambung untuk Julian, maka dari itu dia tidak pernah berharap untuk mendapatkan cinta dari Andrew.
Walaupun pada kenyataannya dia begitu mencintai lelaki itu, tapi dia tidak pernah berniat sedikit pun untuk mengungkapkan perasaannya.
Namun, siapa yang menyangka jika lelaki itu kini justru datang dan mengajak dirinya untuk menikah, bukan hanya sekedar berpacaran.
Awalnya dia menolak, karena takutnya Andrew mengajak dia menikah hanya karena kecewa melihat Carol yang sudah menikah dengan Jonathan.
Akan tetapi, setelah melihat ketulusan dari Andrew bahkan setelah Diana melihat cara memandang Andrew yang penuh cinta terhadap dirinya, akhirnya dia memutuskan untuk mengatakan iya aku mau.
Sayangnya, acara pernikahan mereka sempat terkendala karena memang mereka menikah antara dua negara.
Perbedaan kewarganegaraan menjadi penghalang kelancaran untuk membuat surat pernikahan mereka secara resmi, sangat tidak mudah.
Walaupun Andrew mempunyai banyak uang, tetap saja terasa sulit untuk dia bisa menikah secara resmi dengan Diana.
Beruntung Berlin mempunyai kerabat seorang pendeta, maka dari itu akhirnya Diana memutuskan untuk menikah di kediamannya sendiri dengan disaksikan oleh teman-teman dan juga kerabat dekatnya.
Biarlah dia menikah terlebih dahulu walaupun tanpa surat resmi, yang penting mereka bisa menikah terlebih dahulu secara peneguham.
"Selamat ya, Diana, Sayang. Akhirnya kamu nikah juga," kata Carol seraya memeluk erat sahabatnya itu.
Di saat dirinya merasakan kebahagiaan dengan Jonathan, Carol tentu saja berdo'a kepada Tuhan agar sahabatnya, Diana pun segera menyusulnya untuk menikah.
Ternyata Tuhan begitu baik kepada sahabat yang selalu mendampinginya itu, sahabat yang selalu ada untuk dirinya di kala dia susah dan juga di saat keadaan dia terpuruk sekalipun.
"Terima kasih," ucap Diana.
Diana terlihat melerai pelukannya, lalu dia menatap wajah sahabatnya, Carol yang terlihat begitu pucat.
Sebenarnya sedari tadi Diana ingin bertanya kepada sahabatnya itu, kenapa sahabatnya datang dengan wajah yang pucat.
Bahkan, dia terlihat berjalan dengan sedikit kesusahan. Jonathan bahkan harus memapah Carol saat berjalan dan duduk di atas kursi untuk menyaksikan acara pernikahan Diana.
Bahkan, saat ini Carol berjalan dengan begitu hati-hati. Dia seperti sedang menahan rasa sakit yang teramat. Diana khawatir dan juga penasaran.
Diana yang benar-benar merasa penasaran, akhirnya terlihat mencondongkan tubuhnya. Kemudian, dia berbisik tepat di telinga Carol.
__ADS_1
"Sebenranya elu kenapa sih? Kenapa jalannya kaya nahan sakit gitu? Elu sakit apa?" tanya Diana.
Wajah Carol langsung terlihat bersemu merah ketika Diana bertanya seperti itu kepada dirinya, rasanya pertanyaannya terdengar sangat konyol di telinga Carol.
Dia terlihat kesusahan untuk menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu, bagaimana dia tidak merasa kesakitan saat berjalan jika Jonathan menggempurnya sampai sore hari tiba.
Walaupun saat melakukannya terasa sangat nikmat, bahkan rasanya sangat luar biasa. Tetap saja hal itu membuat dirinya tersiksa.
Bahkan kini suara Carol juga terdengar serak, tentu saja hal itu bisa terjadi karena pada saat milik Jonathan menghujam inti tubuhnya, Carol terus saja berteriak.
"Ya Tuhan, Carol. Gue bertanya, kenapa elu diam aja? Elu udah nggak mau cerita lagi sama gue?" tanya Diana sedih.
Carol terdiam, dia menimang-nimang bahasa. mana yang kira-kira pantas untuk diceritakan kepada sahabatnya itu.
"Bukan seperti itu, hanya saja... Nanti malam elu juga pasti ngerasain," ucap Carol pada akhirnya.
Setelah Carol mengatakan hal itu, Diana langsung terdiam. Dia mulai paham dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.
Dia paham jika Carol dan Jonathan pasti sudah melakukan hal yang seharusnya terjadi, dia turut senang dalam kekalutannya.
Diana pun jadi berpikir, apakah dia akan seperti itu setelah nanti Andrew meminta haknya kepada dirinya?
"Jangan takut, rasanya enak kok. Hanya saja ya... gitu," kata Carol ambigu.
Setelah mengatakan hal itu Carol terlihat tertawa dengan terbahak-bahak, Jonathan sampai menatap Carol dengan tidak percaya karena istrinya itu bisa bersikap seperti itu.
Padahal biasanya Carol akan bersikap kalem, terkesan pendiam dan sangat malu-malu. Namun, Jonathan senang. Karena itu artinya Carol merasa bahagia.
Carol yang merasa malu langsung menutup mulutnya, bahkan dia terlihat menyembunyikan wajahnya pada lengan kekar suaminya.
"Maaf, aku terlalu senang," ucap Carol pelan.
Jonathan tersenyum mendengar permintaan maaf dari Carol, istrinya itu sudah terlihat seperti anak kecil yang melakukan kesalahan.
"Tidak apa-apa, yang penting kamu bahagia," kata Jonathan seraya mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut.
Setelah mengucapkan selamat kepada pasangan pengantin baru itu, akhirnya Carol memutuskan untuk pulang.
Begitupun dengan semua teman, kerabat dan juga para tetangga. Mereka sudah terlihat meninggalkan kediaman Diana, karena memang waktu sudah malam.
Pak RT yang ikut dalam acara pernikahan tersebut terlihat tersenyum hangat kepada Diana, lalu berkata.
__ADS_1
"Selamat ya, Nak Diana. Akhirnya bisa melepas masa keperawanannya juga, eh? Salah, belum lepas ya, baru mau? Maksudnya sudah menikah," ucap Pak RT.
Wajah Diana terlihat memerah mendengar ucapan dari pak RT, berbeda dengan Andrew yang terlihat bersemangat karena akhirnya malam ini dia akan memiliki Diana seutuhnya.
"Kalau begitu saya pulang dulu, oiya. Nanti kalau udah mulai itu, jangan kenceng-kenceng tereaknya, ini bukan hotel. Rumah Nak Diana tidak kedap suara," ucap Pak RT seraya menolehkan wajahnya ke arah Andrew.
Lelaki kebangsaan asing itu terlihat tinggi tegap, pak RT menebak jika milik Andrew juga pasti besar. Dia langsung tersenyum penuh arti.
"Ehm, iya Pak RT," jawab Diana dengan kesal.
Akhirnya pak RT terlihat meninggalkan pasangan pengantin baru itu, kedua pasangan pengantin baru itu langsung masuk ke dalam kamar Diana dengan gugup.
"Kamu ganti baju sana," kata Diana.
Dia merasa tidak terbiasa karena kini ada Andrew di sampingnya, padahal biasanya dia hanya sendirian saja di dalam kamarnya.
"Nanti aja, mau bukain baju kamu dulu," jawab Andrew.
Diana terlihat memelototkan matanya ke arah suaminya itu, dia masih normal dan bisa membuka gaun pengantinnya sendiri.
Walaupun Andrew tidak membantunya pun sudah pasti gaun pengantin itu akan terlepas dari tubuhnya.
"Aku bisa sendiri," kata Diana mencoba menolak tawaran dari suaminya.
Mendapatkan penolakan dari istrinya, Andrew terlihat merapatkan tubuhnya pada tubuh istrinya itu. Diana semakin memundurkan langkahnya.
"Iya aku tahu, kamu tuh wanita mandiri yang kuat. Namun, izinkan aku untuk membantu. Bukankah sekarang aku adalah suamimu? Boleh dong, bantu," pinta Andrew.
Andrew terlihat membalikkan tubuh Diana, sehingga saat ini Diana terlihat membelakangi suaminya itu.
"Ck! Aku tuh biasa ngelakuin apa-apa sendiri, dahlah sana," keluh Diana.
Entah kenapa perasaan Diana kini mulai tidak enak, apalagi tangan Andrew kini terasa mengusap-usap kedua lengannya dengan begitu lembut.
"No! Aku mau bantu istriku," kata Andrew seraya menurunkan resleting belakang gaun pengantin istrinya.
"Ouh, An!" keluh Diana.
Diana merasa kesal karena kini suaminya itu malah mengecupi pundak dan punggung polosnya, setelah gaun pengantin yang dia pakai terjatuh ke lantai tentunya.
"Apa?" tanya Andrew seraya membalikkan tubuh istrinya seraya menatap Diana dengan tatapan penuh damba.
__ADS_1