
Carol benar-benar tidak menyangka jika Jonathan akan menanyakan hal itu saat ini juga, padahal mereka baru saja masuk ke dalam kamar milik Jonathan.
Bahkan, gaun pengantin yang dipakai oleh Carol saja belum dilepaskan. Dia masih mau mandi untuk membersihkan tubuhnya.
Lagi pula, dari awal Carol sudah berkata jika dirinya tidak mungkin bisa melakukan hal itu secara langsung dengan Jonathan.
Karena pada kenyataannya Carol memang belum siap untuk melakukannya, masih ada rasa ketakutan di dalam hatinya.
Rasa takut saat mengingat dirinya dipaksa untuk menyerahkan kesuciannya oleh seorang pria yang tidak dia kenal, dia masih merasa takut kala mengingat dirinya diperkosa.
Carol memang menyukai Jonathan, bahkan dia menyadari jika di dalam hatinya sudah tumbuh rasa cinta untuk Jonathan. Namun, bukan berarti dia harus melakukannya saat ini juga.
"Carol, Sayang. Kenapa kamu malah terdiam? Aku bertanya, apakah boleh aku meminta hak aku malam ini juga?" tanya Jonathan seraya mengelus pundak Carol yang polos.
Carol menunduk, dia merasa takut untuk mengatakan tidak. Namun, dia juga tidak berani untuk mengatakan iya.
Melihat Carol yang hanya diam saja, Jonathan terlihat berjongkok. Lalu, dia menatap wajah Carol seraya menggenggam erat kedua lengan wanita itu.
"Apakah kamu belum siap untuk melakukannya?" tanya Jonathan.
Mendengar pertanyaan dari Jonathan, Carol dengan cepat menggelengkan kepalanya. Jonathan tersenyum kecut melihat akan hal itu.
"Kamu tahu sendiri, kan, Jo? Dulu aku diperkosa, masih ada rasa takut di dalam diri ini jika aku akan melakukannya kembali," kata Carol jujur.
Hati Jonathan terasa dilempar batu besar, dia paham dengan apa yang dialami oleh Carol adalah atas kesalahannya. Carol tidak mungkin memiliki trauma jika dia dulu tidak memaksanya.
Namun, itu bukan sepenuhnya kesalahannya. Hal itu terjadi karena dulu ada orang yang memberikan obat perangsang kepada dirinya.
"Tapi, Sayang. Aku janji akan melakukannya dengan lembut, aku akan memperlakukan kamu dengan sangat baik." Jonathan masih berusaha untuk bernegosiasi.
Sayangnya Carol malah kembali menggelengkan kepalanya, dia benar-benar belum siap. Dia masih merasa takut, dia harap Jonathan mengerti.
"Aku belum siap," jawab Carol.
Mendengar apa yang Carol katakan, Jonathan terlihat menghela napas berat. Kemudian, dia berusaha untuk tersenyum dengan sangat manis ke arah Carol.
"Baiklah, kalau begitu aku bantu kamu membuka gaun pengantinnya. Kamu harus cepat mengganti baju dan beristirahat," kata Jonathan.
"Ya, tapi aku ingin mandi dulu. Rasanya tubuhku benar-benar begitu lengket," ucap Carol.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Tidak apa-apa," kata Jonathan.
Walaupun hatinya kecewa, tapi dia harus bersabar. Karena dia sadar betul apa yang terjadi kepada Carol adalah karena ulahnya sendiri.
Jonathan terlihat bangun, lalu membantu Carol untuk membuka gaun pengantinnya. Saat gaun pengantinnya terbuka, tanpa ragu Jonatan langsung meloloskan gaun pengantin itu dari tubuh Carol.
Mata Jonathan langsung membulat dengan sempurna kala dia melihat Carol yang hanya menggunakan segitiga pengaman saja, dia tidak memakai bra.
Dadanya terlihat tergantung dengan sangat indah, ingin sekali Jonathan meremat kedua dada itu. Sayangnya dia masih mengingat jika Carol belum siap melayani dirinya.
"Heh!"
Hanya helaan napas panjang yang terdengar dari bibir Jonathan, dia begitu menginginkan istrinya. Namun, dia tidak bisa.
"Aku akan segera mandi," kata Carol seraya meninggalkan Jonathan dengan cepat.
Carol terlihat berlari menuju kamar mandi, setelah itu dia menutup pintu kamar mandi itu dengan rapat. Bahkan, Carol menguncinya karena takut Jonathan akan ikut masuk ke dalam kamar mandi tersebut.
Jonathan hanya bisa menghela napas berat melihat akan hal itu, ini adalah upah yang setimpal yang harus dia dapatkan, pikirnya.
Mulai hari ini Jonathan harus memutar otaknya, bagaimana cara dia untuk menaklukkan hati Carol. Bagaimana cara dia meluluhkan hati istrinya tersebut.
Setelah mengatakan hal itu, Jonathan terlihat membuka tuxedo yang dia pakai. Lalu, dia melepaskan semua kain yang melekat di tubuhnya.
Dengan cepat dia menggantinya dengan piyama tidur, rasanya untuk mandi saja dia begitu enggan. Dia takut kedinginan dan ingin meminta jatahnya kepada Carol saat ini juga.
Enam tahun sudah berlalu, dia memang sudah tidak pernah melakukannya lagi dengan wanita mana pun. Namun, saat berdekatan dengan Carol jiwa kelelakiannya meronta-ronta.
Dia ingin sekali menggauli Carol saat ini juga, sayangnya hal itu tidak bisa dia lakukan. Karena Carol tidak siap untuk melayaninya saat ini.
"Sabar ya, Dede ganteng. Belum saatnya kamu melakukannya," kata Jo seraya menatap miliknya yang tertidur lemas di dalam pelindungnya.
Setelah mengatakan hal itu, Jonathan terlihat merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Lalu, dia memiringkan tubuhnya dan berusaha untuk memejamkan matanya.
Rasanya dia ingin segera tidur saja, dia tidak ingin menyapa Carol sebelum dia tidur. Karena takut dia malah menginginkan istrinya tersebut.
Carol yang sudah melakukan ritual mandinya terlihat menatap tubuh Jonathan yang sudah tertidur dengan pulas, dia merasa tidak enak hati.
"Maaf," kata Carol seraya merebahkan tubuhnya di samping Jonathan.
__ADS_1
Dia tatap punggung kekar Jonathan, lalu dengan perlahan dia mengulurkan tangannya untuk memeluk tubuh lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.
"Semoga mimpi indah," ucap Carol
Di lain tempat.
Diana yang baru saja pulang setelah menghadiri acara pernikahan sahabatnya dikagetkan dengan kedatangan Andrew, dia benar-benar sangat kaget.
Pria tampan berkebangsaan negara S itu sedang duduk anteng di depan rumahnya, dia duduk sambil memainkan ponsel miliknya.
Diana merasa sangat bingung, kenapa Andrew bisa mengetahui alamat rumahnya, dia bingung kenapa Andrew bisa ada di tanah air.
"Elu ngapain di sini?" tanya Diana dengan bingung.
Mendengar ada yang menyapanya, Andrew langsung mematikan ponselnya dan menyimpannya di dalam sakunya.
"Ya Tuhan, Diana. Gue udah nunggu satu jam di sini, terus itu kata sambutan elu buat gue?" tanya Andrew dengan sedih.
"Bukan begitu, elu mau kemari kaga bilang-bilang sama gue. Terus, elu kok bisa tahu rumah gue?" tanya Diana.
Walaupun bibirnya bertanya dengan ketus, tapi hatinya berdebar dengan sangat kencang saat melihat wajah Andrew. Wajah lelaki yang begitu dia rindukan.
"Elu berisik, gue ke sini mau nemuin elu. Gue kangen banget sama elu," kata Andrew.
Tanpa ragu dia langsung memeluk Diana dan mengecupi puncak kepala wanita itu, ada rasa senang di dalam hatinya.
Namun, ada rasa kecewa juga yang menyelinap. Dia menyangka jika Andrew datang karena kecewa mendengar Carol yang sudah menikah dengan Jonathan.
Diana terlihat melerai pelukannya bersama dengan Andrew, kemudian dia menatap wajah lelaki itu dengan sangat lekat.
"Sekarang elu jujur sama gue, kenapa elu tiba-tiba ada di tanah air? Kenapa elu tiba-tiba ada di depan rumah gue? Elu kecewa Carol kawin sama Jonathan, makanya elu sampai kemari?" tanya Diana.
Andrew terlihat menggeleng-gelengan kepalanya dengan apa yang ditanyakan oleh Diana, dia mengusap lembut kedua bahu wanita itu lalu dia pun berkata.
"Gue ke sini mau nemuin elu, gue rindu. Padahal elu baru dua minggu ada di tanah air. Tapi rasanya gue udah kangen banget, gue ngga rindu sama Carol. Gue rindu sama elu, gue baru sadar kalau gue ternyata cinta sama elu," kata Andrew.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Andrew, Diana hanya melongo tidak percaya. Bahkan, bibirnya terlihat menganga dengan lebar.
"Hais! Jangan seperti ini, nanti aku cium bibir kamu," kata Andrew seraya menunduk dan mendekatkan wajahnya.
__ADS_1