
Jonathan yang sedang duduk seraya menikmati hembusan angin pantai merasa kaget, karena tiba-tiba saja ada seorang anak kecil yang terjatuh tepat di sampingnya.
Dengan cepat Jonathan membantu bocah lelaki itu untuk bangun dan mengusap kaki anak itu yang penuh dengan pasir, saat anak itu menatap wajahnya, Jonathan terlihat sangat kaget.
Karena ternyata wajah anak itu benar-benar mirip dengan dirinya, hanya saja versi Jonathan kecil. Ingin sekali dia bertanya, tapi lidahnya terasa kelu.
Tidak lama kemudian, anak kecil yang berada di hadapannya itu terlihat tersenyum lalu bertanya kepada Jonathan.
" Apakah Om, Ayahku?" tanya anak kecil itu dengan wajah imutnya.
Deg!
Mendengar pertanyaan dari anak kecil itu, jantung Jonathan seakan berpacu dengan sangat cepat.
Ingatannya kembali pada kejadian enam tahun yang lalu, di mana dirinya telah meniduri seorang perempuan yang masih terlihat muda dan pastinya dia masih perawan.
Jonathan jadi bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah mungkin bocah tampan yang berada di hadapannya itu adalah putranya?
Karena semakin Jonathan menatap wajah anak itu dengan lekat, dia semakin merasa melihat dirinya dari pantulan cermin.
Melihat Jonathan yang hanya diam saja, Julian terlihat berdiri dengan tegak. Lalu, dia menepuk-nepuk pipi Jonathan dengan lembut.
Ada rasa yang mengalir sampai ke dasar hatinya, tapi Jonathan tidak tahu rasa apa itu. Namun, tangan kecil itu membuat dirinya menghangat.
"Om kenapa diam saja? Ian cuma bertanya, maaf kalau Ian salah bicara," kata Julian seraya menunduk.
Jonathan yang melihat raut wajah kesedihan di wajah Julian merasa sangat bersalah, dia langsung tersenyum lalu mengusap kedua lengan bocah tampan itu dengan sangat lembut.
"Maaf, tadi Om hanya kaget karena kamu bertanya seperti itu," kata Jonathan.
Carol yang berusaha untuk mengejar putranya, akhirnya kini berada di belakang kedua pria yang memiliki wajah sama tersebut.
Awalnya Carol malah terdiam melihat Jonathan dan juga Julian, karena entah mengapa dirinya begitu susah untuk berucap.
Namun, tidak lama kemudian dia terlihat menghela napas panjang dan mengeluarkannya dengan perlahan.
Dia berusaha untuk mengumpulkan keberaniannya, dia berusaha untuk menenangkan dirinya.
__ADS_1
Karena saat dia menatap wajah Jonathan, entah kenapa jantungnya malah berpacu dengan sangat cepat.
Padahal dia merasa tidak ada hubungan apa pun dengan Jonathan, hanya memang dia begitu mengagumi sosok pria yang berada di hadapannya itu.
Pengusaha yang selalu memotivasi dirinya agar menjadi wanita karir yang sukses, sosok pria yang dia kagumi kegigihannya dalam bekerja.
Carol melihat jika Jonathan mengangkat tubuh mungil putranya dan mendudukkan di atas pangkuannya, lalu dia mengusap puncak kepala putranya dengan lembut. Dia tersenyum lalu berkata.
"Maaf, Tuan, kalau anak saya sudah merepotkan. Terima kasih karena sudah menolong anak saya," kata Carol.
Julian dan juga Jonathan terlihat menolehkan wajahnya ke arah Carol secara bersamaan, mereka terlihat kompak sekali. Carol tersenyum lalu dia kembali berkata.
"Terima kasih sekali lagi," ucap Carol tulus.
"Ah iya, anda--"
"Saya Ibunya," jawab Carol cepat.
Melihat wajah Carol, entah kenapa dia merasa tidak asing dengan wajah itu, dia jadi penasaran dengan siapa nama perempuan yang berada di hadapannya itu. Jonathan tersenyum lalu dia berkata.
"Oh, ini putra anda. Saya Jonathan," ucap Jonathan memperkenalkan diri seraya mengulurkan tangannya.
Pengusaha muda yang sukses dan juga memiliki aset yang berharga di mana-mana, bahkan kekayaannya sudah sangat banyak di usianya yang masih muda.
"Saya Carol," ucapan seraya membalas uluran tangan dari Jonathan.
Deg!
Jonathan tertegun mendengar nama Carol, bahkan jantungnya serasa ada yang mencubit. Mungkinkah wanita yang kini berada di hadapannya itu adalah Carolina Liandra Sebastian, pikirnya.
Wanita yang pernah dia tiduri itu, wanita yang dia rampas mahkotanya. Wanita yang berteriak meminta ampun, tapi tidak dia dengarkan pada saat itu.
Jantungnya benar-benar berpacu dengan cepat, keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Jika memang benar wanita yang ada di hadapannya adalah wanita yang pernah dia tiduri, dia ingin segera bertanggung jawab atas perbuatannya.
Dia ingin segera menikahi wanita itu, apalagi saat melihat wajah Julian yang terlihat begitu tampan dan juga lucu juga begitu mirip dengan dirinya.
Hal itu membuat dia ingin cepat-cepat menghalalkan Carol, tapi Jonathan terlihat kebingungan. Dari mana dia harus memulainya, kata apa yang harus dia bicarakan untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Begitu berat untuk berkata jika dirinyalah yang mengambil kehormatan wanita ada dihadapannya itu, dia juga merasa takut.
Karena sudah pasti jonathan akan dipukuli, bahkan bisa saja wanita yang berada di hadapannya akan berteriak jika dia berkata jujur.
Akibatnya pasti akan banyak orang yang datang dan mereka akan memukuli Jonathan sampai babak belur, tapi untuk saat ini Jonathan harus memastikan terlebih dahulu, apakah benar wanita itu adalah wanita yang dia tidur atau bukan.
"Oh iya, Nona. Boleh saya tahu nama lengkap anda siapa?" tanya Jonathan.
Mendengar pertanyaan dari Jonathan, Carol terlihat mengernyitkan dahinya. Dia tidak menyangka ada orang seperti Jonathan yang menanyakan nama lengkapnya.
"Loh, kok malah diam saja? Saya tidak boleh tahu ya, nama lengkap anda?" tanya Jonathan seraya menyeka keringat yang ada di dahinya.
Dia benar-benar sangat tegang, takut, khawatir, cemas dan semua rasa campur aduk menjadi satu.
"Eh? Boleh, Tuan. Nama saya Carolina Liandra Sebastian," kata Carol seraya tersenyum hangat.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Carol, Julian benar-benar merasakan kepalanya tiba-tiba saja terasa pusing.
Bahkan tubuhnya begitu lemas, Ibunya belum lama datang ke kantor dan berkata jika kemungkinan wanita yang bernama Carolina Liandra Sebastian adalah wanita yang dia tiduri dan wanita yang melahirkan keturunannya.
Dia memperhatikan wajah Carol dan juga Julian yang berada di pangkuannya, wajah anak itu benar-benar mirip dengan dirinya. Tidak ada yang mirip sedikitpun dengan ibunya.
"Wah, ternyata putra anda sangat tampan. Pasti papanya juga sangat tampan," kata Jonathan memancing.
Carol seakan tidak senang mendengar apa yang dikatakan oleh Jonathan, dia terlihat tersenyum kecut seraya memalingkan wajahnya.
Melihat reaksi dari Carol, dia menjadi serba salah. Dia jadi berpikir mungkin dia sangat membenci ayah dari anak yang sudah dia lahirkan, yaitu dirinya.
"Ck! Om itu ngga paham, Mom sangat marah sama daddy!" celetuk Julian.
"Kenapa bisa seperti itu?" tanya Jonathan dengan perasaan takut.
"Karena daddy tidak pernah pulang, katanya dia sedang bekerja di tempat yang sangat jauh. Makanya Mom marah sama daddy, harusnya daddy sering pulang agar bisa tidur bersama dengan kami," kata Julian dengan polos.
"Kamu, belum pernah bertemu dengan daddy kamu?" tanya Jonathan.
"Belum, bagaimana kalau Om saja yang jadi daddyku?" tanya Julian.
__ADS_1
****
Selamat siang kesayangan, selamat beraktifitas. Selamat menikmati hari libur, semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky. Sayang kalian selalu, terima kasih sudah meninggalkan like dan juga komentarnya.