
Jonathan terlihat benar-benar ketakutan apalagi saat melihat kondisi Carol yang memprihatinkan, Carol tidak sadarkan diri dengan kondisi tubuh yang begitu panas.
Sepanjang malam Carol memang tidak bisa tidur karena terlalu banyak pikiran, banyak rasa yang berkecamuk di dalam dadanya.
Tubuhnya tidak kuat menanggung beban yang terus saja dipertanyakan di dalam benaknya, Carol syok dengan apa yang dia simpulkan sendiri tanpa mempertanyakannya kepada siapa pun.
Kini, Carol sudah mendapatkan penanganan. Bahkan, istri dari Jonathan itu kini sudah tertidur dengan sangat pulas di atas ranjang pasien.
Kondisi tubuhnya belum stabil, panasnya juga belum turun. Namun, dokter sudah memberikan obat dan penanganan yang terbaik untuk wanita yang baru dua bulan dinikahi oleh Jonatan itu.
Jonathan terlihat duduk dengan sedih seraya menggenggam erat tangan istrinya, sesekali dia akan mengecupi punggung tangan istrinya itu.
Lalu, dia juga akan menunduk untuk mengecup kening istrinya dengan sangat lembut. Dia benar-benar merasa sangat bersalah karena tidak jujur dari awal.
Jonathan terlihat merutuki dirinya sendiri, dia merasa jika tindakan yang dia ambil sudah salah. Seharusnya Jonathan jujur sejak awal jika dirinyalah yang sudah merenggut kesucian Carol.
Seharusnya dia Jujur dari awal jika dirinya adalah ayah dari Julian, putra yang Carol lahirkan lima tahun yang lalu.
Seharusnya dari awal Jonathan jujur jika dirinya kala itu tersiksa dengan obat perangsang yang diberikan oleh entah siapa karena sampai saat ini Jonathan tidak pernah mengetahuinya.
Tidak pernah ada bukti tentang siapa orang yang sudah memberikan obat perangsang tersebut, karena hal itu dilakukan dengan sangat rapi sekali.
"Carol, Sayang. Maafkan aku, maaf karena aku tidak jujur padamu. Sungguh aku tidak berniat untuk memerkosa kamu saat itu, aku sedang ada di dalam pengaruh obat. Kumohon maafkan aku, bangun Sayang. Bangun," pinta Jonathan.
Jonathan terlihat menangis sesenggukan, dia menumpahkan kesedihannya lewat air mata. Jonathan yang biasanya terlihat gagah dan berwibawa kini nampak berantakan.
Saat ini yang dia inginkan hanyalah kesembuhan istrinya, saat ini yang dia inginkan hanyalah pengampunan dari istrinya tersebut.
"Sayang, aku mohon bangunlah! Maafkan aku, please... maafkan aku. Jika kamu bangun nanti, kamu boleh memukuli aku sepuasmu, asal jangan pernah meninggalkan aku. Aku tidak mau kamu tinggalkan," kata Jonathan seraya mengusakkan pipinya pada pundak istrinya.
Berlin yang sudah datang sejak tadi terlihat diam mematung di ambang pintu, dia tidak menyangka jika putranya akan sekacau ini.
Dia tidak menyangka jika putranya akan selemah ini, dari awal memang Berlin sudah mengusulkan kepada Jonathan agar putranya itu jujur saja kepada Carol.
__ADS_1
Namun, Jonathan selalu beralasan jika dia takut Carol akan langsung meninggalkan dirinya jika dia jujur tentang masa lalu mereka.
Tidak lama kemudian Berlin terlihat menghampiri putranya tersebut, dia benar-benar prihatin dengan keadaan putranya. Berlin terlihat memeluk putranya lalu mengelus puncak kepala putranya itu dengan lembut.
"Bersabarlah, Sayang. Berdoalah kepada Tuhan, semoga Carol mau memaafkan kamu. Mom berharap kamu juga akan jujur menceritakan semuanya kepada Carol, agar dia mengerti," ucap Berlin mencoba menenangkan.
"Yes, Mom. Aku memang lelaki yang bodoh, aku benar-benar bodoh. Seharusnya aku berkata jujur dari awal agar kejadiannya tidak seperti ini," kata Jonatan lirih.
Saat Jonatan dan juga Berlin sedang mengobrol tiba-tiba saja tangan Carol bergerak, bahkan kelopak matanya terlihat seakan hendak membuka.
Berlin dan juga Jonathan terlihat saling pandang, mereka tersenyum karena itu artinya sebentar lagi Carol akan tersadar.
Dengan cepat Jonathan melerai pelukannya dengan ibunya, lalu dia menunduk dan mengucup kening istrinya.
"Bangun, Sayang. Bangun, ini aku. Bangunlah, Sayang," pinta Jonathan.
Tidak lama kemudian Carol terlihat membuka matanya, dia terlihat menatap Jonathan dengan tatapan penuh kebencian.
Dengan cepat dia menggenggam tangan istrinya, lalu Jonathan mengecup punggung tangan istrinya dan berkata.
"Maafkan aku, kumohon. Aku bisa menjelaskan semuanya, pada saat itu aku sedang dalam pengaruh obat perangsang. Ada orang yang berusaha untuk menjebakku," jelas Jonathan.
Carol seakan enggan untuk mendengarkan, dia memalingkan wajahnya ke arah lain dengan air matanya yang mengalir di kedua sudut matanya.
Melihat akan hal itu hati Jonathan benar-benar terasa sakit, jantungnya terasa terlepas. Jonathan kembali menunduk dan mengecupi setiap inci wajah istrinya.
Carol kembali berusaha untuk tidak menggubris apa pun yang dilakukan oleh suaminya itu, Jonathan tidak pantang menyerah. Dia kembali menggenggam tangan istrinya lalu berkata.
"Kamu bisa bertanya kepada Leo, kalau kamu tidak percaya. Aku berkata dengan jujur, Sayang. Dulu aku dalam pengaruh obat perangsang dan aku kira kamu adalah--"
Jonathan tidak berani meneruskan ucapannya, karena saat itu dengan sangat lantang Jonatan mengatakan jika Carol adalah seorang wanita jalangg.
Bahkan dengan sangat kasar Jonathan menarik Carol dan menghempaskannya ke atas tempat tidur, lalu menguasai tubuhnya.
__ADS_1
Tanpa bertanya terlebih dahulu Jonathan langsung menggauli Carol, bahkan saat Carol berteriak kesakitan pun karena dirinya merenggut kesuciannya, Jonatan seakan tidak peduli.
Napsunya sudah berada di ubun-ubun, dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Hasratnya seakan menggelora dan membara ingin mendapatkan kepuasan.
Dia menyesali atas perbuatannya, apalagi ketika mengingat Carol yang mengandung benihnya. Sudah pasti Carol begitu tersiksa mendapatkan banyak hinaan dari orang lain.
Karena dia mengandung tanpa seorang suami, apalagi saat membesarkan Julian sendirian. Pasti dia banyak mendapatkan cemoohan, karena dia membesarkan seorang putra tanpa menikah.
"Maafkan aku, Sayang. Maaf, aku mohon maafkan aku," ucap Jonathan dengan terisak.
Sayangnya Carol masih memalingkan wajahnya ke arah lain, dia seakan begitu enggan untuk menatap wajah suaminya.
Jangankan untuk mendengarkan apa kata suaminya, untuk menolehkan wajahnya saja ke arah suaminya dia tidak mau.
Bukannya Carol tidak berbakti kepada suaminya, tapi hatinya masih sakit, kesal, kecewa, marah dan terasa benci. Bahkan, dia tidak sekalipun menatap ke arah Berlin.
Berlin mengerti dengan perasaan Carol, dia terlihat mengelus lembut lengan dari menantunya tersebut.
"Mom tahu kamu adalah wanita yang sangat cerdas, Mom tahu jika kamu adalah wanita yang pandai. Kamu pasti bisa membedakan antara Jonathan yang ingin merenggut paksa kesucianmu dengan sengaja atau karena sesuatu hal yang mendesak," kata Berlin.
Hanya kalimat itu yang bisa keluar dari mulut Berlin, tidak ada kalimat pembelaan untuk putranya. Karena memang pada dasarnya putranya juga salah.
"Mom tahu kamu membutuhkan waktu untuk berpikir, Mom tahu kamu membutuhkan waktu untuk beristirahat. Sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksakan kondisi kesehatan kamu, setelah itu beristirahatlah," kata Berlin.
Berlin seakan ingin memberikan kesempatan kepada menantunya agar dia bisa bersikap lebih tenang, agar menantunya itu bisa berpikir lebih jernih lagi.
"Jika kamu membutuhkan apa pun, bicara saja. Jika kamu tidak ingin kami berada di sini, bicara saja. Nanti biar bibi yang menjaga kamu atau mungkin Nancy yang akan berjaga," kata Berlin lagi.
Carol tidak menjawab, karena dia merasa serba salah. Karena walau bagaimanapun juga Jonathan adalah ayah dari Julian, Carol tidak bisa gegabah.
Dia tidak mungkin bisa memisahkan begitu saja antara Jonathan dengan Julian, apalagi Berlin yang begitu mencintai putranya.
"Ayo kita pergi, Jo. Dia butuh waktu untuk sendiri," kata Berlin seraya menarik tangan putranya untuk ke luar.
__ADS_1