After Six Years

After Six Years
Bahagia Dalam Kesedihan


__ADS_3

Diana merasa dirinya sangat bodoh karena bisa lupa jika dia telah melempar kemejanya entah ke mana, dia jadi berpikir mungkinkah dia masih sanggup mengangkat panggilan video call jika Andrew kembali melakukan panggilannya.


"Bodo amat ah, ngapa juga gue mikirin Andrew. Lagi pula dia ngga bakalan tertarik sama badan gue, pede banget sih. Inget, Na. Dia itu cintanya cuma sama Carol," kata Diana mengingatkan dirinya.


Setelah mengatakan hal itu Diana terlihat masuk ke dalam kamar mandi dan segera mengguyur tubuhnya dengan air dingin, dia ingin menetralkan pikirannya.


Dia berharap dengan seperti itu akan merasa kembali segar, dengan seperti itu dia berharap akan melupakan kejadian yang baru saja dia alami.


"Ngga usah mikirin dia, dia ngga bakal ngelirik elu juga." Diana tersenyum miris seraya memandang gayung berwarna pink di tangannya.


Di belahan dunia lainnya.


Andrew masih terdiam terpaku mengingat tubuh indah milik Diana, entah kenapa dia merasakan hatinya begitu berdebar.


Padahal, selama ini dia selalu berkata jika dirinya mencintai Carol. Dia menyukai anak Carol, tapi dia tidak pernah merasakan hatinya bergetar sampai membuat lututnya terasa lemas seperti ini.


Bahkan, dia tidak pernah membayangkan hal yang aneh tentang dirinya bersama dengan Carol. Namun, saat melihat tubuh Dina barusan malah membuat otaknya traveling.


Dia juga sempat berpikir untuk menyentuh dua bongkahan besar yang terlihat padat dan kenyal itu dengan telapak tangan besarnya.


"Oh ya tuhan, sebenarnya apa yang terjadi sama gue? Jangan bilang kalau selama ini gue menyukai Diana, selama ini gue---"


Andrew tidak berani meneruskan ucapannya, dia malah terlihat menggigit kuku jempolnya. Dia berusaha untuk menenangkan hatinya, dia benar-benar tidak menyangka jika hanya dengan melihat bagian tubuh Diana yang hampir polos itu membuat dirinya merasa kehilangan akal.


Bahkan, dia merasa tubuhnya panas dan juga jantungnya seakan hendak melompat dari tempatnya. Sangat aneh, menurutnya.


"Sepertinya gue harus membuktikan sesuatu, sebenarnya gue itu cintanya sama siapa. Jangan sampai gue salah," kata Andrew seraya melangkahkan kakinya ke dalam kamar mandi.


Dia ingin segera mandi dengan air dingin agar tubuhnya terasa segar, dia ingin mandi agar otaknya tidak kotor karena terus saja membayangkan kemolekan tubuh bagian atas Diana.


Setelah mandi, tentunya dia ingin pergi ke kantor untuk mengurusi pekerjaannya. Dia masih mempunyai tanggung jawab yang besar.


Di rumah baru Carol.


Carol terlihat mengajak putranya untuk makan malam, karena memang perutnya juga sudah keroncongan. Sebenarnya dia sangat ingin makan di luar, tapi bukan makan di sebuah Restoran mewah.


Justru dia sangat rindu untuk makan lesehan di pinggir jalan bersama dengan Diana, sayangnya dia merasa tidak enak hati kalau harus mengajak Diana untuk pergi.


Karena mereka baru saja sampai, Diana pasti kecapean. Lagi pula ada Julian, dia tidak mau mengajak Julian untuk pergi malam-malam seperti ini.


Takutnya anak itu akan sakit karena merasakan udara malam yang penuh dengan polusi itu, lagi pula tubuh Julian belum menyesuaikan diri dengan iklim tanah air.

__ADS_1


Dia juga masih ada waktu sebelum masuk bekerja selama dua hari, dia bisa mengajak Julian untuk berjalan-jalan di siang hari dan malam harinya dia bisa menitipkan Julian kepada Nancy, barulah dia akan makan di luar bersama dengan Diana.


"Aku punya waktu dua hari untuk mengajak Julian jalan-jalan sebelum sibuk bekerja," kata Carol lirih.


Keesokan harinya, selepas sarapan Carol mengajak putranya untuk pergi ke pemakaman. Dia sudah rindu untuk mengunjungi pusara terakhir kedua orang tuanya.


"Kita mau ke mana, Mom?" tanya bocah tampan itu.


Dia merasa bingung karena baru saja selesai sarapan, Carol malah mengajak dirinya untuk pergi. Padahal ini masih pagi, menurut Julian tidak mungkin jika mereka akan pergi ke Mall karena pasti masih tutup.


"Ke pemakaman, rumah terakhir nenek dan kakek," jawab Carol dengan raut wajah sedih.


Matanya tiba-tiba saja mengembun dan air matanya terlihat turun, dia merasa sangat sedih saat mengingat kehilangan orang tuanya secara mendadak.


Melihat akan hal itu Julian ikut bersedih, bocah tampan itu langsung mengusap pipi Carol dengan tangan mungilnya.


"Don't cry, Mom." Julian memeluk Carol dengan erat.


"Okey, Mom tidak akan menangis. Terima kasih sudah hadir di dalam kehidupan, Mom," kata Carol seraya mengecupi puncak kepala putranya.


Dulu saat awal kehamilannya, Carol merasa hidupnya hancur karena dia harus mengandung dan bahkan dia hamil dengan lelaki yang tidak dia kenal sama sekali.


Julian bisa membuat carol merasa sangat bahagia dengan tingkah lucunya, Julian bisa menjadi pelipur laranya ketika dia sedang sedih dan terluka.


"Jangan nangis lagi, ayo kita berangkat," ajak Julian.


"Hem," jawab Carol.


Carol dan juga Julian nampak pergi ke pemakaman menggunakan taksi, karena mobilnya masih di rumah Diana.


Sebenarnya dia bisa saja meminta Diana untuk mengantarkan dirinya dan juga Julian untuk pergi ke pemakaman, tapi dia tidak mau merepotkan sahabatnya itu.


Karena Diana juga pasti membutuhkan waktu untuk beristirahat, Diana juga pasti ingin melakukan semua halnya sendiri tanpa harus diganggu oleh Carol dan Julian.


Tiba di pemakaman, Carol langsung membeli bunga dan mengajak Julian untuk duduk tepat di depan pusara ayah dan ibunya.


Walaupun sekuat tenaga dia sudah menahan agar tangisannya tidak pecah, tetap saja air matanya keluar begitu saja.


Dia menangis di depan pusara kedua orang tuanya, Julian sang putra yang melihat kesedihan ibunya hanya bisa memeluk ibunya tersebut.


Dia terlihat menepuk-nepuk punggung ibunya dengan sangat lembut dengan tangan kecilnya, sikapnya sungguh sangat manis.

__ADS_1


"Nek, kek. Aku dan Mommy datang, dia cengeng. Baru datang langsung nangis, padahal Ian ngga nakalin, Mom," kata Julian seraya memandang pusara kedua orang tuan Carol.


Mendengar apa dikatakannya putranya, Carol terlihat terkekeh seraya mengusap air matanya yang berlinang.


"Sorry, Boy! Mom ngga cengeng," kata Carol berusaha untuk menyembunyikan kesedihannya.


"Aku pura-pura percaya," kata Julian dengan wajah imutnya. Carol tersenyum lalu mengecup kening putranya, setelah itu dia menatap pusara kedua orang tua'nya.


"Aku datang, Mom. Aku membawa putraku yang tampan untuk aku kenalkan, namanya Julian Wijayana Sebastian. Maaf lama tidak datang, aku---"


Carol tidak melanjutkan ucapannya, dia terlihat berusaha untuk menahan air matanya yang hendak keluar. Dia tidak mau terlihat cengeng di depan kedua orang tuanya.


"Oh iya, Mom, Dad. Aku akan meneruskan kehidupanku yang baru, lusa aku akan bekerja. Mom dan Daddy pasti bangga," kata Carol.


Sekuat tenaga dia berusaha untuk menahan air matanya, tapi tetap saja keluar juga. Dia menangis seraya memeluk putranya, Julian hanya menghela napas panjang.


Namun, walaupun seperti itu dia tetap berusaha untuk menenangkan ibunya. Anak berusia lima tahun itu berusaha untuk menghibur ibunya.


Setelah merasa tenang, Carol memutuskan untuk segera pergi. Dia tidak mau jika dirinya terus menangis, karena dengan menatap pusara terakhir kedua orang tuanya kesedihan terus terasa di dalam hatinya.


"Kita akan pergi ke mana?" tanya Julian ketika keluar dari pemakaman.


Sebenarnya Carol ingin sekali mengajak Julian untuk pergi ke Mall, dia ingin mengajak Julian bermain sepuasnya. Namun, dia merasa masih belum siap untuk bepergian ke tempat yang terlalu ramai.


"Bagaimana kalau kita pergi ke teman?" tanya Carol.


Ya, pergi ke taman adalah hal yang lebih baik menurutnya. Karena selain menghirup aroma bunga yang menenangkan, di sana juga pasti tidak akan terlalu ramai. Karena ini adalah hari kerja, pikirnya.


"Baiklah, terserah kata Mom," jawab Julian menurut.


"Oke," jawab Carol.


Carol mengajak putranya untuk mencegat taksi, saat dia sedang berdiri untuk mencegat taksi, tiba-tiba saja ada sebuah mobil mewah yang berhenti tepat di hadapannya.


Tidak lama kemudian, seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan juga terlihat berpenampilan elegan turun dari mobil tersebut.


Saat dia melihat wajah Julian, wanita paruh baya itu malah berdiri mematung tanpa berkata apa pun.


***


Selamat pagi, maaf baru up. Kemarin riweuh, jangan lupa untuk tinggalkan like dan juga komentarnya, terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2