
Setelah mendapatkan perintah dari sang atasan, Leo terlihat keluar dari ruangan Jonathan. Kemudian, dia langsung masuk ke ruangan miliknya dan duduk di kursi kerjanya.
Setelah itu, dia nampak mengambil laptopnya dan mulai mengotak-atik benda canggih tersebut. Dia mencari data keluarga Sebastian, Sesuai dengan yang diperintahkan oleh Jonathan.
Leo masih sangat ingat ketika dia menyita rumah keluarga Sebastian, ada seorang perempuan paruh baya dan juga anak perempuannya yang sedang menangis.
Leo juga masih ingat ketika semua hutang tuan Barra telah lunas dan masih ada sisa uangnya, dia melemparkan uang tersebut kepada istri dari Barra.
Lelaki yang Leo dengar kabarnya langsung masuk Rumah Sakit karena syok setelah kebangkrutan perusahaannya, lelaki itu dikabarkan tidak berdaya karena serangan jantung.
Sebenarnya Leo merasa iba karena tuan Barra bangkrut karena ditipu oleh sahabatnya sendiri dan itu sudah menjadi rahasia umum, semua orang yang terlibat di dalam dunia bisnis sangat tahu dengan apa yang terjadi terhadap keluarga Sebastian.
Saat itu orang yang paling bahagia atas kebangkrutan dari keluarga Sebastian adalah Jonathan, karena dengan seperti itu dia bisa membeli perusahaan tersebut dengan harga yang murah.
Dia bisa membuktikan kepada ayahnya jika dirinya bisa membuat usahanya sendiri tanpa bantuan orang tuanya, dia berusaha untuk mandiri kala itu.
"Kenapa tuan Jonathan baru menyuruhku untuk memeriksa data keluarga Sebastian sekarang?" tanya Leo lirih.
Setelah mengatakan hal itu, Leo langsung mengumpulkan data tentang keluarga Sebastian. Dia juga mencari tahu bagaimana keadaan keluarga Sebastian setelah kebangkrutannya.
Leo nampak iba setelah mengetahui jika tuan Barra dan juga istrinya meninggal setelah kebangkrutannya, mereka meninggalkan seorang anak perempuan berusia delapan belas tahun dalam kesusahan.
"Ya ampun, kasihan sekali anak gadis itu ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Pasti dia mengalami kesusahan selama ini, kata Leo.
Leo terlihat mengingat-ingat wajah anak gadis yang menangis di dalam pelukan ibunya saat dia melakukan penyitaan rumah milik keluarga Sebastian, enam tahun yang lalu.
Leo terlihat menggeleng-gelengankan kepalanya, kemudian dia kembali fokus kepada layar laptopnya dan kembali mencari tahu tentang semua data dari keluarga Sebastian.
Setelah Leo mencari data tentang keluarga Sebastian dengan lengkap, dia terlihat begitu kaget. Karena ternyata Carol pernah menjadi pelayan bersama dengan Diana di Club malam yang pernah tuannya sewa.
Leo melihat data di sana yang menyebutkan, jika Carol dan juga temannya Diana bekerja pada malam itu sebagai pelayan pengganti.
Leo juga menemukan data jika Carol pergi bersama dengan Diana menuju negara A setelah dia menjadi pelayan di Clun malam yang Jonathan sewa.
Melihat data yang seperti itu Leo jadi berpikir, mungkinkah wanita yang ditiduri oleh Jonathan adalah Carolina Liandra Sebastian, tanya Leo dalam hati.
"Oh ya Tuhan, apakah dia menyuruhku mencari data keluarga Sebastian karena ini?" tanya Leo.
Setelah mengatakan hal itu, Leo langsung mengcopy data yang dia ditemukan pada ponselnya. Lalu, dia pun segera menemui Jonathan di dalam ruangannya.
"Bagaimana?" tanya Jonathan tidak sabar.
"Sepertinya--"
Leo pun terlihat melaporkan data yang sudah ditemukan, Jonathan nampak terdiam mendengarkan Leo saat mengutarakan semuanya tanpa ada yang terlewatkan sedikitpun.
Jonathan semakin resah saat Leo mengucapkan apa yang mungkin saja terjadi, kemungkinan Carolina adalah wanita yang ditiduri oleh Jonathan kala itu.
__ADS_1
"Oh ya Tuhan, lalu... di mana dia sekarang tinggal?" tanya Jonathan.
"Di komplek perumahan yang tidak jauh dari perusahaan X, karena sekarang nona Carol yang mengurus perusahaan tersebut," jawab Leo.
"Kalau begitu cepat buat proposal, minta kerjasama dengan perusahaan tersebut," kata Jonathan.
Leo terlihat kebingungan kala Jonathan mengatakan hal itu, perusahaan milik Jonathan bergelut dalam bidang pakaian.
Dari mulai pakaian bayi, anak-anak, remaja, sampai dewasa. Jonathan juga menyediakan bahan tekstil untuk konveksi.
Berbeda dengan perusahaan yang kini dipegang oleh Carol, mereka memproduksi makanan instan. Lalu, bagaimana caranya dia meminta bekerjasama, sedangkan perusahaan mereka saja berbeda dalam masalah produksi, pikir Leo.
"Buat apa?" tanya Leo.
Jonathan terlihat tidak senang dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Leo, menurutnya Leo harus pandai mencari alasan agar bisa bekerjasama dengan perusahaan tersebut. Bukan malah bertanya kepada dirinya.
"Lakukan saja, aku mau sering bertemu dengan wanita itu. Agar aku bisa memastikan kalau wanita itu benar-benar wanita yang pernah aku tiduri," kata Jonathan.
"Ya, baiklah!" kata Leo.
Setelah mengatakan hal itu, Leo kembali ke dalam ruangannya untuk melaksanakan apa yang diminta oleh Jonathan.
Berbeda dengan Jonathan, dia yang sudah merasa pusing menjadi tidak fokus dalam bekerja.
Akhirnya di hanya mengirimkan pesan singkat kepada Leo, agar pria itu menghandle semua pekerjaannya.
"Sepertinya aku harus pergi ke pantai, aroma
pantai selalu bisa menenangkan diriku," kata Jonathan.
Setelah mengatakan hal itu Jonathan langsung melajukan mobilnya menuju tempat yang sangat ingin dikunjungi, tempat yang selalu bisa membuat dirinya merasa tenang
Di pusat perbelanjaan.
Julian terlihat begitu bahagia karena kini dia sedang mencoba setiap permainan yang ada, dia terlihat begitu senang bermain di sana dengan Carol.
Sesekali terdengar tawa dan canda dari bibir mungilnya, Carol sangat senang karena bisa menemani putranya sebelum aktif bekerja lagi.
"Bagaimana, Sayang? Apa kamu senang?" tanya Carol.
Walaupun dia sudah tahu jawabannya, tapi tetap saja dia bertanya karena ingin mendengar secara langsung dari bibir putranya apa yang putranya tersebut rasakan.
"Sangat, Mom. Sangat senang, setelah ini aku mau ke pantai. Sepertinya itu lebih baik dan akan sangat menyenangkan." Julian nyengir kuda
"Oh hastaga! Mau apa ke pantai?" tanya Carol.
"Ian ingin menikmati suasana di sore hari, Ian ingin melihat matahari terbenam," jawab balita itu.
__ADS_1
"Memangnya untuk apa melihat matahari terbenam?" tanya Carol bingung.
Dia merasa jika putranya semakin hari semakin pandai dan semakin banyak maunya, tidak seperti dirinya yang lebih banyak diam. Walaupun Carol memang terlahir dari keluarga ada.
"Ian ingin berdo'a kepada Tuhan, semoga saat matahari terbenam rasa sedih yang selalu Mm rasakan akan ikut tenggelam bersama dengan hilangnya cahaya matahari," kata Julian
Carol nampak tertegun dengan apa yg dikatakan oleh putranya itu, putranya yang begitu tampan dan juga pandai itu selalu saja membuat dirinya kagum.
"Memangnya siapa yang suka bersedih? Mom tidak pernah bersedih," elak Carol.
"Kata siapa Mom tidak pernah bersedih, Ian sering melihat Mom menangis," kata Julian.
Carol benar-benar kaget dengan apa yang dikatakan oleh Julian, karena ternyata putranya itu mengetahui jika dirinya selalu menangis secara diam-diam.
Bukannya tidak bersyukur, hanya saja dia tetap merasa jika semua yang terjadi di dalam hidupnya sangat berat.
Satu-satunya jalan yang dia lakukan untuk meluapkan rasa sesak di dalam dadanya adalah dengan menangis, karena dengan seperti itu dia bisa merasa lebih tenang.
Beban di dalam hidupnya memang tidak hilang, tapi beban itu seakan terasa berkurang.
"Baiklah, kalau begitu kita ke pantai. Mau pergi sekarang atau nanti?" tanya Carol.
"Sekarang saja, Mom. Oiya, nanti kalau sudah sampai di pantai, Iyan juga mau mmenikmati makanan yang enak-enak di sana," kata Julian.
"Ya, Sayang. Mom tahu kalau kamu sangat menyukai sea food," jawab Carol.
Setelah mengatakan hal itu, Carol terlihat mengajak Julian untuk pergi ke pantai dengan menaiki taksi. Sepanjang perjalanan menuju pantai, rona bahagia begitu terlihat dengan jelas di wajah putra tampannya itu. Carol sangat bersyukur akan hal itu.
Tiba di pantai Julian terlihat langsung berlari seraya melepas sandalnya, karena dia ingin merasakan dinginnya air yang dia pijak.
"Ian, jangan berlari terlalu cepat!" teriak Carol.
Julian yang begitu senang terlihat tidak memedulikan apa yang dikatakan oleh Carol, sehingga pada akhirnya tubuh mungilnya jatuh tersungkur di atas pasir.
Anak tampan itu terlihat meringis kesakitan, air matanya bahkan terlihat merembes dari sudut matanya.
"Mommy!" isaknya seraya tertunduk.
"Bangunlah, Boy!" ucap seorang pria yang berada di dekat Julian, pria itu terlihat berusaha membangunkan Julian dan mengusap-usap kaki Julian yang dipenuhi dengan pasir.
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari seorang pria asing, Julian terlihat hendak memundurkan tubuhnya. Namun, saat dia menatap wajah pria itu Julian terdiam.
Pria yang sedang mengelusi kaki Julian itu terlihat menatap wajah tampan Julian, reaksi dari pria itu pun sama halnya seperti Julian. Terdiam seraya menatap wajah anak yang dia tolong.
"Ehm, sorry. Apakah Om itu ayahku?" celetuk Julian setelah sekian lama mereka saling tatap.
***
__ADS_1
Selamat siang kesayangan, selamat beraktifitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky, jangan lupa tinggalkan like dan juga komentarnya, sayang kalian selalu.