After Six Years

After Six Years
Ingin Mengetahuinya


__ADS_3

Carol yang melihat kepergian Berlin terlihat begitu acuh, lagi pula ini kali pertamanya dia bertemu dengan Berlin. Dia tidak mengenal dekat wanita itu, pikirnya.


Tidak mengapa rasanya jika wanita paruh baya itu terlihat pergi, karena mungkin saja dia punya banyak acara. Namanya juga orang sosialita, pikirnya.


Carol malah terdiam seraya memperhatikan putranya yang terlihat begitu asik menikmati es krim yang sangat dia inginkan dan sangat dia suka, sesekali dia bahkan terlihat menjilati sendok es krimnya.


"Cepat habiskan, setelah ini kita pergi ke Mall. Kita belanja, kita mainan sepuasnya. Besok baru kita cari sekolah yang cocok buat kamu," kata Carol.


Carol ingin mengajak putranya untuk bersenang-senang, tidak apa bukan jika Carol ingin menghabiskan waktu dengan putranya.


"Yes, Mom." Julian berbicara seraya menyuapkan taburan kacang mede ke dalam mulutnya.


Matanya terlihat berbinar kala rasa gurih, dingin dan juga rasa manis melebur menjadi satu di lidahnya.


Anak itu terlihat begitu menyukainya, Carol sampai bingung dibuatnya. Karena Julian tidak seperti dirinya, bahkan wajahnya pun tidak ada kemiripan dengan dirinya.


'Aku tidak peduli kamu terlahir karena benih siapa, Julian, Sayang. Satu hal yang pasti, Mom sangat senang karena kamu selalu membuat hidup Mom terasa lebih berwarna,' batin Carol.


Setelah cukup lama memperhatikan wajah putra tampannya, Carol terlihat asik mengajak putranya berbicara. Membicarakan apa yang putranya suka.


Berbeda dengan Berlin yang terlihat begitu bahagia, cemas dan juga takut setelah bertemu dengan Julian dan juga Carol.


Dia terlihat berjalan dengan tergesa, lalu dia masuk ke dalam mobil dan meminta sopirnya untuk mengantarkan dirinya ke perusahaan Anderson.


Dia ingin segera bertemu dengan putranya dan menceritakan semuanya, dia benar-benar tidak sabar untuk segera bertemu dengan Jonatahan.


"Semoga saja Julian benar-benar cucuku, karena aku tidak keberatan jika Jonathan akan menikah dengan turunan dari keluarga Sebastian," kata Berlin lirih.


Tiba di depan lobby perusahaan, Berlin langsung turun dengan tergesa. Lalu, dia masuk ke dalam ruangan putranya tanpa memgetuk pintu terlebih dahulu.


Jonathan yang melihat kedatangan ibunya terlihat keheranan, apalagi melihat wajah Berlin yang terlihat begitu sulit untuk diartikan.


Selama ini Berlin adalah sosok wanita yang tidak pernah mau ikut campur masalah perusahaan, jangankan memikirkan perusahaan, untuk menginjakkan kakinya di perusahaan Anderson saja harus ada alasan yang kuat, harus ada acara yang khusus baru dia mau datangm


"Mom, ada apa? Kok tumben datang ke kantor? Udah gitu Mom terlihat aneh," kata Jonathan.


Berlin terlihat tersenyum, kemudian dia dengan tidak sabarnya bercerita kepada Jonathan tentang apa yang sudah terjadi dan apa yang sudah dia alami.


"Jo, ada kabar bagus. Kamu harus dengar, barusan Mom bertemu dengan wanita dan seorang putra berusia lima tahun yang sangat tampan dan juga mirip dengan kamu, Jo. Mom yakin jika itu adalah putra kamu," kata Berlin dengan wajah yang menggebu.


Jonathan terlihat mengernyitkan dahinya, selama ini dia sudah berusaha untuk mencari wanita yang pernah dia tiduri itu. Dia memang meyakini jika wanita itu pasti sudah mengandung benihnya dan pasti sudah melahirkan keturunannya.

__ADS_1


Sayangnya, dia tidak pernah menemukan wanita itu. Namun, kenapa dengan mudahnya Berlin mengatakan jika dirinya sudah bertemu dengan seorang putra yang begitu mirip wajahnya dengan dirinya?


"Mom tidak bercanda, kan?" tanya Jonathan seraya menatap wajah Berlin dengan serius.


Mendengar pertanyaan dari putranya, Berlin langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tentu saja dia tidak bercanda, dia bahkan sangat serius.


"No! Mom tidak bercanda," jawab Berlin. "Kamu tahu? Tadi mau bertemu dengan wanita itu dan juga putranya di pemakaman, bahkan Mom habis dari kedai es krim bersama dengan mereka," cerita Berlin antusias.


"Benarkah?" tanya Jonathan.


Berlin tersenyum seraya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan yakin, karena memang itulah yang baru saja dia lakukan bersama dengan Carol dan juga Julian.


"Kamu tahu, Jo. Dia sangat tampan mirip sekali denganmu, dia juga menyukai es krim yang sama sepertimu. Es krim coklat bertaburkan kacang mede di atasnya," kata Berlin dengan mata yang berbinar.


Jonathan menghela napas kasar, bisa saja bukan anak jika anak itu mempunyai kesukaan yang sama dengan Jonathan, tapi bukan berarti jika di dalam tubuh anak itu ada darah yang mengalir dari dirinya, pikirnya.


"Tapi, Mom. Apa Mom yakin jika itu adalah wanita yang pernah aku tiduri? Apa Mom yakin jika anak itu adalah putra aku?" tanya Jonathan.


Berlin terlihat mencebikkan bibirnya mendengar apa yang dikatakan oleh Jonathan, dia benar-benar kesal kepada putranya karena tidak memercayai apa yang dia katakan.


"Kamu itu nggak pernah percaya sama Mom!" kesal Berlin.


"Bukan begitu, Mom. Hanya saja... sudahlah," kata Jonathan.


Jonathan nampak menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Berlin, karena dia memang tidak paham mengapa selama ini dia begitu sulit untuk menemukan wanita itu.


"Dia adalah keturunan Sebastian," jawab Berlin.


Mendengar apa yang dikatakan oleh mom'nya, Jonathan langsung mengernyitkan dahinya. Setahunya enam tahun yang lalu perusahaan milik keluarga Sebastian bangkrut dan dia sendiri yang membeli perusahaan tersebut.


"Tapi, Mom. Bukankah---"


Belum juga Jonatan melanjutkan ucapannya, tapi Berlin sudah menyela. Bahkan dia terlihat memukul tangan Jonathan dengan gemas.


Pada akhirnya Berlin pun menceritakan dugaannya kepada Jonathan, jika Carol pasti susah ditemukan karena dia yang pergi ke luar negeri setelah kejadian malam itu.


Dia juga mengatakan kepada Jonathan jika Carol pasti menjadi pelayan pada malam itu, karena perusahaan milik keluarganya baru saja bangkrut dan kedua orang tuanya meninggal dunia.


"Begini deh, Jo. Kalau kamu tidak percaya, coba minta Leo untuk meminta foto dari keluarga Sebastian. Bukankah dulu Leo yang mengurus saat rumah mereka disita karena mempunyai hutang pada perusahaan milik daddy kamu?" kata Berlin.


"Tapi, Mom. Apa hubungannya dengan Leo?" tanya Jonathan.

__ADS_1


"Ah sudahlah, kamu itu tidak mengerti. Sekarang berikan rambutmu kepada Mom, kita lakukan tes DNA," kata Berlin.


"Tes DNA? Maksud, Mom bagaimana?" tanya Jonathan.


"Ya ampun, Jo. Kamu itu terlalu bodoh, makanya kamu selama ini tidak bisa menemukan wanita yang kamu tiduri itu. Kamu tahu? Tadi Mom mengambil beberapa helai rambut milik anak tampan itu, Mom yakin kalau dia adalah cucu Mom. Sekarang berikan rambutmu, karena Mom akan melakukan tes DNA," kata Berlin.


"Mom, apakah ini tidak keterlaluan? Kenapa Mom melakukan tes DNA tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada ibunya?" tanya Jonathan. "Bagaimana kalau dia marah?" Wajah Jonathan terlihat sendu.


"Sudahlah, Jo. Itu urusan belakangan, sekarang berikan beberapa helai rambutmu. Mom akan segera ke Rumah Sakit," kekeh Berlin.


"Tapi, Mom," sela Jonatahan.


"Ck! Terserah apa katamu, tapi Mom ingin mengetahui hal yang sebenarnya dengan cepat," kata Berlin.


"Terserah!" kata Jonathan pada akhirnya.


Jonathan mengalah, dia terlihat mengambil beberapa helai rambutnya lalu memberikannya kepada ibunya.


Walaupun dia merasa kesal, tapi dia terlihat pasrah. Dalam hatinya dia juga ingin mengetahui apa hasil dari tes DNA tersebut.


Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan, Berlin terlihat langsung pergi dan berniat untuk langsung pergi ke Rumah Sakit.


Berbeda dengan Jonathan, setelah kepergian ibunya dia nampak menyadarkan tubuhnya. Lalu, dia menyugar rambutnya beberapa kali dengan kasar.


Untuk sesaat dia terdiam, dia sedang mengingat-ingat di mana enam tahun yang lalu di mana dia mengambil mahkota seorang perempuan yang dia anggap sebagai seorang wanita malam.


Beberapa kali dia mendesah karena merasa bersalah sudah mengambil paksa keperawanan seorang wanita, apalagi sampai membuat wanita itu hamil dan melahirkan anaknya tanpa ada dirinya yang menemani.


"Sepertinya aku harus menghubungi Leo, aku harus meminta Leo untuk menyelidiki wanita itu," kata Jonathan.


Setelah mengatakan hal itu, Jonathan terlihat mengambil ponselnya. Lalu, dia langsung mengirimkan pesan singkat kepada Leo agar segera masuk ke dalam ruangannya.


Tidak lama kemudian, Leo nampak datang dan duduk tepat di hadapan atasannya tersebut. Atasan yang sudah seperti saudara kembarnya.


"awda apa, Tuan? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Leo.


"Tentu, ada satu tugas penting yang harus kamu segera lakukan. Coba kamu cek silsilah dari keluarga Sebastian," kata Jonathan.


"Baik, Tuan," jawab Leo. Walaupun dia tidak paham, tapi Leo tetap patuh dan akan melaksanakan tugas dari tuannya tersebut.


****

__ADS_1


Selamat sore kesayangan, selamat beristirahat. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeki, jangan lupa tinggalkan like dan juga komennya. Terima kasih.


__ADS_2