After Six Years

After Six Years
Harus Sabar


__ADS_3

Setiap hari Jonathan akan datang untuk menjemput Carol, dia juga akan datang di kala sore tiba ke kantor tempat Carol bekerja untuk mengantarkan Carol pulang


Awalnya Carol merasa keberatan dengan apa yang dilakukan oleh Jonathan, tapi ternyata perusahaan yang Carol kelola bekerja sama dengan perusahaan milik Jonathan.


Hal itu membuat dia tidak bisa berkutik, karena Jonathan selalu saja beralasan ada hal yang ingin dibicarakan dengan dirinya tentang pekerjaan.


Padahal, pada kenyataannya Jonathan hanya ingin berbicara masalah pribadi dengannya. Setiap hari Jonathan akan berusaha untuk meyakinkan Carol, jika dirinya benar-benar ingin menikahi wanita yang sudah mempunyai anak itu.


Anak yang terlahir karena benihnya, anak yang terlahir karena kesalahan yang sudah dia lakukan kepada Carol.


Berulang kali Carol berusaha untuk menolak ajakan dari Jonathan, berulang kali juga Jonathan meyakinkan wanita itu.


Dalam hatinya Carol selalu berkata jika dirinya ingin menikah dengan Jonathan, tapi di dalam pikirannya selalu saja berkata tidak boleh.


Otaknya selalu menuntut jika dirinya harus benar-benar memikirkan hal itu dengan sangat matang, jangan asal memutuskan saja.


Setelah satu minggu, hal itu terus berlangsung. Jonathan terus saja meminta dirinya untuk menjadi istrinya.


Kini, Carol tidak bisa lagi menolak ajakan dari Jonathan. Karena putranya Julian kini sedang sakit dan anak itu meminta dirinya untuk menikah dengan lelaki yang selalu menjadi bayangan untuk dirinya itu.


"Sayang, makanlah dulu. Dari pagi kamu makanya cuman sedikit," bujuk Carol.


"No, Mom. Kalau Mom tidak menikah dengan Om Jo, aku tidak akan makan," jawab Julian dengan lemah.


Carol benar-benar merasa serba salah dihadapkan dengan keadaan seperti ini, Julian adalah segalanya bagi dirinya.


Dia tidak mungkin menolak keinginan dari putranya itu, apalagi kini keadaannya sangat lemah. Wajahnya terlihat pucat sekali, dia sudah berulang kali mengajak Julian agar mau berobat.


Namun, dia tidak mau. Dia berkata tidak akan mau melakukan apa pun jika Carol tidak menuruti apa keinginannya.


Anak itu terus saja menyerukan hanya satu keinginannya, melihat Carol dan Jonathan menikah.


Dia ingin mempunyai keluarga yang utuh sama seperti anak-anak yang lainnya, jika di negara A dia tidak pernah mendapatkan bulian masalah orang tua, tapi ternyata keadaan di sini sangat berbeda.


Setelah dia bersekolah di tanah air, teman-temannya selalu menanyakan kenapa setiap harinya Julian diantarkan oleh seorang pria yang sama wajahnya dengan dirinya.


Namun, kenapa Julian selalu menyebutnya dengan panggilan om. Apakah Julian tidak mempunyai ayah?


Itulah yang selalu ditanyakan oleh teman-temannya dan itu membuat pikirannya terganggu, hal itu membuat Julian sakit.


Anak itu tidak kuat dengan apa yang diucapkan oleh teman-temannya, anak itu masih terlalu kecil untuk menghadapi kenyataan yang sulit untuk dia pahami.


"Tapi, Sayang. Mom--"


Carol kehabisan kata-kata, dia tidak mampu mengucapkan alasan lagi. Julian yang kesal langsung memunggungi ibunya tersebut, dia tidak mau melihat ibunya jika Carol tidak mengatakan iya.

__ADS_1


Dia tidak mau mendengar apa pun lagi, dia hanya ingin mendengar Carol berkata iya. Dia ingin memiliki keluarga yang utuh.


"Baiklah-baiklah, Mom akan menikah dengan Om Jo. Apa kamu senang?" tanya Carol.


Julian yang sedang marah langsung bangun dan melompat ke dalam pelukannya, dia begitu bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya tersebut.


Padahal anak itu tadi terlihat begitu lemah, bahkan wajahnya sangat pucat. Kini, dia terlihat ceria dengan tubuh yang digerakkan dengan paksa.


"Are you serious, Mom?" tanya Julian.


"Yes, i am serious," jawab Carol pada akhirnya.


Setelah Carol mengatakan hal itu, Julian pun mau makan dan meminum obatnya. Dia bahkan tertidur dengan sangat lelap, setelah itu Carol bisa bernapas dengan lega.


Jonathan yang sedari tadi duduk di atas sofa terlihat mengembangkan senyumannya, lalu dia menghampiri Carol yang masih duduk tepat di samping putranya itu.


Tanpa aba-aba dia langsung duduk tepat di samping Carol dan memeluk wanita itu dengan erat, lalu dia menunduk dan mengecup kening wanita itu.


"Jo!" kata Carol dengan suara tertahan karena takut jika Julian akan bangun.


Carol bahkan terlihat berusaha untuk mendorong dada Jonathan, agar pria itu melepaskan pelukannya.


Sayangnya itu tidak terjadi, akrena Jonathan mendekap tubuhnya dengan erat. Bahkan kini Julian malah mengangkat tubuh Carol dan memdudukannya di atas pangkuannya.


"Jo!" ucap Carol seraya mengeratkan giginya.


"Lepaskan, Jo!" sentak Carol kala Jonathan memeluk pinggangnya dengan posesif.


"Diamlah sebentar, aku mau bicara." Jonathan menatap wajah Carol dengan lekat.


Mendapatkan tatapan seperti itu dari Jonathan, Carol terlihat salah tingkah. Walaupun mulutnya selalu berkata tidak, tapi hatinya mengatakan iya.


"Terima kasih karena kamu sudah mengatakan mau menikah denganku," kata Jonathan tulus. "Aku berjanji akan berusaha untuk menjadi suami yang baik untuk kamu, aku berjanji akan berusaha untuk menjadi Ayah yang baik buat Ian dan anak kita yang lainnya," kata Jonathan lagi.


Carol yang masih merasa belum percaya karena Jonathan mengucapkan hal itu, terlihat menatap Jonathan seraya mengerjapkan-ngerjapkan matanya.


Jonathan langsung tertawa melihat tingkah Carol yang seperti itu, Carol sangat lucu, pikirnya. Jonathan lalu menunduk dan mengecup bibir Carol.


Sontak Carol langsung mendorong wajah Jonathan dengan cukup kencang, dia suka tapi dia berusaha untuk menolaknya.


"Jo, kamu kurang ajar sekali. Kita belum menikah, kenapa kamu malah berani-beraninya mengecup bibirku?" kata Carol dengan tidak suka.


Wajah Carol sudah memerah karena malu, dia tidak menyangka jika Jonathan akan melakukan hal itu. Menurutnya ini terlalu cepat.


"Lain kali kamu tidak boleh melakukannya, Jo! Aku tidak suka," kata Carol. Dia sengaja mengatakan hal itu untuk menutupi rasa malunya.

__ADS_1


Mendengar Carol yang mengatakan hal itu, Jonathan terlihat takut. Dia takut jika Carol malah tidak akan mau menikah dengannya.


Dia terlalu bersemangat, sampai-sampai dia tidak bisa menahan dirinya sendiri untuk tidak melakukan hal yang lebih.


Jonathan bahkan terlihat sedikit menjauh dari Carol, dia takut jika dirinya akan berbuat hal yang lebih dan membuat Carol lebih marah lagi.


"Maaf, habisnya kamu terlalu menggemaskan," kata Jonathan seraya tertunduk dia bahkan terlihat meremat kedua tangannya secara bergantian.


Carol terlihat mengernyitkan dahinya, karena tingkah Jonathan sama persis seperti Julian kalau dia merajuk.


'Oh ya Tuhan, kenapa mereka terlihat begitu sama? Kenapa mereka terlihat seperti ayah dan anak sungguhan?' tanya Carol dalam hati.


"Tidak apa-apa, aku maafkan. Sekarang kamu pulanglah, Jo. Kalau memang kamu benar-benar ingin menikahiku, besok datanglah ke sini untuk melamarku dengan resmi dan bawalah ibumu," kata Carol pada akhirnya.


Jonathan yang sedang menunduk langsung menatap Carol dengan lekat, dia bahkan langsung mengangkat tubuh Carol dan memeluknya dengan erat.


"Oh ya Tuhan, terima kasih Carol, Sayang. Besok sore selepas pulang kerja aku akan langsung kemari dengan mom," kata Jonathan.


"Ya, aku tunggu dan sekarang tolong turunkan aku!" kata Carol dengan tegas.


Sebenarnya hatinya merasa berdebar dengan sangat kencang, tapi dia berusaha menutupinya dengan ekspresi wajah datarnya.


"Iya, iya, maaf. Maaf karena aku terlalu senang," kata Jonathan.


Setelah mengatakan itu, dia menurunkan Carol dengan sangat perlahan. Lalu, dia menunduk dan mengecup kening Carol dan berpamitan untuk segera pulang.


Andai saja bukan di kamar Julian, Ingin rasanya Carol memukul wajah Jonathan seraya meneriakinya. Karena Jonathan tetap saja melakukan hal yang di luar dugaan, sayangnya dia takut putranya akan terbangun jika melakukan hal itu.


"Pergilah dan jangan suka mencuri ciuman atau kecupan, jika kamu belum menikahiku," kata Carol.


Awalnya Jonathan merasa takut karena melihat wajah Carol yang begitu serius, tapi ketika mendengar apa yang ada di akhir kalimatnya, wajah Jonathan terlihat begitu bahagia.


"Oh ya Tuhan, Carol. Aku sangat bahagia mendengarnya, berarti nanti kalau kita sudah menikah aku boleh melakukannya?" tanya Jonathan.


"Melakukan apa?" tanya Carol.


"Melakukan semuanya, semua hal yang biasa dilakukan oleh pasangan suami istri," jawab Jonathan dengan cengir di bibirnya.


"Jangan mimpi, kita belum saling mengenal. Yang penting kita menikah dulu agar Julian merasa senang," jawab Carol.


"Oh ya Tuhan, aku harus masih bersabar," kata Jonathan lirih.


Setelah mengatakan hal itu, Jonathan benar-benar pulang ke kediaman Anderson karena dia takut khilaf jika terus saja berlama-lama dengan wanita yang bernama Carol itu.


"Aku harus bisa menaklukkan hati Carol," tekad Jonathan.

__ADS_1


***


Selamat pagi, salam santun subuh.


__ADS_2