After Six Years

After Six Years
Persiapan


__ADS_3

Setelah mendengar apa yang Carol ucapkan, hari ini Jonathan terlihat begitu bersemangat. Dia dengan cepat pergi untuk mengantarkan Carol terlebih dahulu, setelah itu dia pun langsung pergi ke kantor miliknya .


Saat tiba di kantor miliknya, Jonathan tidak langsung masuk ke dalam ruangannya. Namun, dia langsung masuk ke dalam ruangan Leo.


Melihat Jonathan yang pagi-pagi sekali datang ke dalam ruangannya, membuat Leo menghela napas dengan berat.


Karena dia sangat tahu jika itu artinya Jonathan akan menyerahkan semua pekerjaannya kepada dirinya, Jonathan akan mengabaikan pekerjaannya demi hal yang kata dia lebih penting.


Jika Jonathan hanya membutuhkan bantuannya saja, sudah dapat dipastikan jika dia hanya akan memanggil Leo ke dalam ruangannya.


"Ada apa, Tuan?" tanya Leo berbasa-basi.


Jonathan langsung terkekeh saat melihat wajah Leo yang langsung muram saat dia datang ke dalam ruangannya, Jonathan tahu jika Leo sudah bisa menebak apa yang dia inginkan.


Jonathan langsung duduk tepat di hadapan Leo, dia melipat kaki kanannya di atas kaki kirinya kemudian dia pun berkata.


"Hari ini aku akan sangat sibuk, ada hal yang harus aku kerjakan. Tolong kamu handle semua pekerjaan," kata Jonathan.


"Sudah aku duga," kata Leo seraya menghela napas berat.


Kembali Jonathan terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Leo, walaupun Leo berkata seperti itu dia tidak pernah mangkir dari tanggung jawabnya.


Lelaki itu selalu saja mengerjakan tugasnya dengan sangat baik, lelaki itu selalu bisa dia percaya. Karena Jonathan sangat mengenal asisten pribadinya itu.


"Nanti akan aku tambahkan uang bonusnya, bekerjalah dengan baik. Aku akan pergi," kata Jonathan.


Ini bukan hanya masalah uang bonus menurut Leo, tapi pikiran dan dan juga tenaganya begitu tersita jika dia mengerjakan semuanya sendiri.


"Ya, pergilah!" kata Leo seraya mengibaskan tangan kanannya.


Jonathan terlihat berdiri dari duduknya, kemudian dia menepuk-nepuk pundak Leo dengan lembut. Dia tersenyum,lalu dia pun pergi dari ruangan Leo.


Selepas kepergian Jonathan, Leo hanya mendengkus sebal. Karena lagi-lagi dia harus bekerja sendirian, padahal siang ini dia harus ke luar kota.


Itu artinya pagi ini Leo harus bekerja dengan sangat ekstra, dia harus mengerjakan semua pekerjaan kantor sebelum waktu makan siang tiba.


Jonathan yang terlihat keluar dari perusahaan Anderson terlihat begitu ceria, bahkan senyum di bibirnya pun terus saja mengembang.


Tentu saja tujuan utamanya hari ini adalah dia ingin kembali pulang ke rumahnya, dia ingin mengadu kepada ibunya jika hari ini Carol meminta dirinya untuk melamarnya secara resmi.


Saat tiba di kediaman Anderson, Berlin terlihat begitu kaget saat melihat putranya yang belum lama berangkat tapi sudah datang kembali.


Dia terlihat memperhatikan putranya dari atas kepala sampai ujung kaki, kemudian dia pun bertanya.


"Kamu kok balik lagi? Ada apa, hem?" tanya Berlin.

__ADS_1


Bukannya menjawab, Jonathan malah tersenyum dengan sangat lebar. Lalu dia menghampiri ibunya dan memeluknya dengan sangat erat.


Berlin sangat tahu jika itu artinya Jonathan sedang begitu senang, tapi dia tidak tahu apa yang membuat anaknya itu menjadi sangat senang.


"Ada apa sih? Kenapa kamu terlihat aneh seperti ini? Apa yang membuat kamu senang?" tanya Berlin.


"Apa Mom tahu ka--"


"Mana Mom tahu!" jawab Berlin dengan capat.


Jonathan langsung mendengkus sebal ketika ibunya mengatakan hal itu, jonathan mau jika ibunya itu mendengarkan dirinya terlebih dahulu. Bukan menyelak ucapannya.


"Haish! Mom jangan menyelak, aku mau bicara," kata Jonathan kesal.


Berlin langsung tertawa karena memang dia hanya berniat untuk menggoda putranya saja habisnya Jonathan terlihat begitu bahagia dan juga mengekspresikannya seperti anak-anak.


Berlin menjadi gemas dibuatnya, sehingga dia berniat untuk menggoda anaknya yang sudah berumur tapi selalu bertingkah seperti anak remaja itu.


"Sorry, jadi apa yang membuat kamu sangat bahagia?" tanya Berlin.


"Hari ini Carol memintaku untuk melamarnya secara resmi, jadi aku sangat bahagia," jawab Jonathan.


Berlin terlihat mengusap telinganya beberapa kali, dia takut jika telinganya salah mendengar apa ya dikatakan oleh putranya, Jonathan.


"Benarkah itu?" tanya Berlin seraya melerai pelukannya.


Dia sudah tidak sabar ingin segera tinggal satu atap dengan Carol dan juga Julian, dia berharap dengan seperti itu rumahnya akan terasa sangat ramai, setelah begitu sepi karena kepergian dari suaminya


"Oh ya Tuhan, kapan kamu mau melamarnya?" tanya Berlin.


"Nanti malam, Mom. Setelah makan malam, jadi... apakah hari ini Mom mau membantuku?" tanya Jonathan.


"Membantu apa?" tanya Berlin dengan bingung.


"Aku ingin membelikan cincin untuk melamar, aku perlu bantuan Mom untuk memilihkan cincin yang terbaik," jawab Jonathan.


"Ah, kamu benar. Selain membelikan cincin, Mom juga harus membelikan dia satu set perhiasan dan barang-barang lainnya agar dia senang," kata Berlin.


Jonathan terlihat mengernyitkan dahinya kala ibunya mengatakan hal itu, bukankah melamar seorang wanita hanya cukup dengan satu cincin saja, tapi kenapa ibunya berkata jika dirinya harus membawakan banyak barang.


"Memangnya kalau melamar harus banyak bawaan Mom?" tanya Jonathan.


"Seharusnya seperti itu, tapi tidak untuk Carol. Mom melihat Carol begitu sederhana, sepertinya hanya dengan cincin saja dia akan merasa senang. Tapi, Mom tidak mau seperti itu, kita harus memberikan yang terbaik untuk dirinya dan Julian," kata Berlin


"Ya, Mom benar. Aku juga akan memberikan bunga yang sangat indah untuknya," kata Jonathan.

__ADS_1


"Itu lebih baik," kata Berlin.


Jonathan terlihat begitu bersemangat sekali, dia dan Berin akhirnya pergi ke toko perhiasan termegah di pusat kota.


Mereka pun langsung memilih cincin untuk melamar Carol dan juga satu set perhiasan untuk Berlin berikan kepada Carol, wanita yang sudah melahirkan cucu untuknya.


Kedua manusia yang terlihat sedang begitu berbahagia itu begitu antusias dalam membeli apa pun yang mereka inginkan, bahkan Jonathan dan juga Berlin tidak lupa memberikan mainan dan juga baju untuk Julian.


Berbeda dengan Leo yang kini begitu sibuk dalam mengerjakan pekerjaannya, sesekali. dia memijat pelipisnya yang terasa sakit.


Setelah berusaha dengan sangat baik, akhirnya pukul 11.30 siang Leo terlihat bisa mengerjakan semua pekerjaan yang berurusan dengan perusahaan Anderson.


"Akhirnya kelar juga, aku bisa meluruskan punggungku sebentar sebelum pergi keluar kota," kata Leo.


Setelah mengatakan hal itu, dia merapikan semua berkas yang sudah dia kerjakan dan menyimpannya di dalam ruangan Jonathan.


Lalu dia pun kembali ke dalam ruangannya dan terlihat duduk di atas sofa seraya menyandarkan punggungnya, rasa nyaman langsung terasa.


Dia ingin beristirahat sejenak, menurutnya setengah jam adalah waktu yang cukup untuk istirahat sebelum dia makan siang dan pergi ke luar kota.


Namun, baru saja dia hendak memejamkan matanya tiba-tiba saja dari arah luar ada yang mengetuk pintu ruangannya.


Leo sempat mengernyitkan dahinya karena dia tidak merasa memesan apa pun jika memang ada OB yang datang, dia hanya ingin istirahat saja.


"Siapa?" tanya Jonathan sedikit berteriak.


"Ini aku, Merlin," jawab Merlin dengan ragu dari arah luar.


Leo terlihat salah tingkah mendengar nama Merlin disebutkan, dia malah mengingat kejadian malam itu.


Rasanya dia masih malu jika harus bertemu dengan Merlin, bahkan saat ini jantung Leo terasa berdetak dengan sangat cepat dan tidak karuan.


Berkali-kali Leo berdehem, lalu dia mengendurkan dasinya yang terasa mencekik dan membuka jasnya yang tiba-tiba saja membuat dirinya gerah.


"Ada apa?" tanya Leo.


"Aku hanya ingin berbicara sebentar, boleh?" tanya Merlin masih tidak berani membuka pintunya, dia tetap saja berdiri di depan ruangan Leo.


"Masuk saja, pintunya tidak dikunci," kata Leo seraya berdehem untuk menetralkan otaknya yang mendadat buntu.


Ceklek!


Pintu ruangan Leo nampak terbuka, Leo terlihat ngerjap-mengerjapkan matanya saat melihat Merlin yang menurutnya sangat cantik.


"Ehm, kenapa melihatku seperti itu?" tanya Merlin.

__ADS_1


***


Selamat siang Ayang, satu bab untuk menemani kalian. Terima kasih sudah meninggalkan komentar dan likenya, Love seempang kong Jali.


__ADS_2