
Leo merasa benar-benar tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Merlin, apa maksud dari perkataan Merlin saja dia tidak paham.
Kenapa tiba-tiba dia datang dan berkata ingin memulai dari awal, maksudnya memulai apa? Apakah mereka harus memulai apa yang tadi malam terjadi?
Haruskah mereka melanjutkan apa yang terjadi tadi malam? Atau memulai apa?
Sungguh Leo tidak paham, karena seingatnya dia tidak pernah mempunyai hubungan spesial dengan Merlin.
Bahkan, ketika enam tahun yang lalu dia meniduri Merlin tanpa sengaja saja, Merlin terang-terangan menolak dirinya ketika dia akan bertanggung jawab.
Padahal dia bersungguh-sungguh akan menikahi Merlin, dia benar-benar takut jika wanita itu akan hamil karena perbuatannya.
Namun, dia salah. Setelah dia menunggu beberapa bulan, perut Merlin tidak juga kunjung membesar.
Dia merasa aman, dia merasa tenang dan berusaha untuk menghindari Merlin. Walaupun pada kenyataannya bayangan-bayangan percintaan panas di antara mereka terus aja terlintas di otaknya.
"Ma--maksudnya bagaiamana? Apa yang harus dimulai dari awal? Kita tidak pernah punya hubungan sepesial," kata Leo.
"Ehm, anu. Itu, maksud aku. Aku mau kita berkenalan dengan cara yang benar," jawab Merlin.
Leo terlihat mengernyitkan dahinya dengan apa yang dikatakan oleh Merlin, dia benar-benar tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh wanita tersebut.
"Maksudnya?" tanya Leo.
Merlin terlihat menegakkan tubuhnya, kemudian dia tersenyum manis ke arah Leo. Lalu, dia terlihat mengulurkan tangannya dan berkata.
"Hai, perknalkan. Nama aku Merlin, nama kamu siapa?" tanya Merlin.
Walaupun merasa bingung dengan apa yang dilakukan oleh Merlin, tapi Leo tetap membalas uluran tangan dari Merlin.
Dia terlihat membalas senyuman Merlin dengan raut wajah bingung, bahkan dahinya terlihat mengerut dalam. Kemudian, dia berkata.
"Namaku Leonard, panggil saja Leo," jawab Leo.
Leo langsung terkekeh seraya menggelengkan kepalanya, dia merasa apa yang sudah dia lakukan bersama dengan Merlin adalah hal yang konyol dan kekanak-kanakan.
"Hai Leo, bolehkah aku berteman dengan kamu? Kalau boleh, bagaimana kalau sore ini kita pergi ke rumahku? Kita memasak dan makan malam bersama," ajak Merlin.
"Tapi--"
"Kamu mau, kan, jadi teman aku?" tanya Merlin.
"Ya," jawab Leo. 'Bahkan jadi suami kamu pun aku mau,' sambungnya dalam hati.
"Kalau begitu kamu tidak boleh menolak, kita masak bersama dan makan bersama," putus Merlin.
Mendapatkan penawaran yang tidak mau mendapatkan penolakan dari Merlin, akhirnya Leo terlihat menganggukan kepalanya.
Lalu, dia menatap jam yang melingkar di tangan kirinya, ternyata waktu menunjukkan pukul 15.12. Itu artinya waktu untuk pulang tinggal sebentar lagi.
__ADS_1
"Baiklah, tunggulah sebentar lagi, aku akan menyelesaikan pekerjaanku," putus Leo.
"Aku akan menunggu," jawab Merlin.
Leo terlihat membuka jas yang dia pakai, dia juga membuka dasi yang sudah terlihat acak-acakan, lalu menyimpannya di atas sofa.
Setelah itu, Leo langsung melangkahkan kakinya menuju kursi kebesarannya dan duduk di sana.
Tangannya terlihat bergerak untuk mengambil beberapa berkas yang menumpuk di sana, karena Leo harus segera mengerjakannya agar dia bisa secepatnya pergi bersama dengan Merlin ke kediaman Bram.
Merlin tersenyum melihat Leo yang begitu kelelahan, dia tahu jika pria itu sangat capek karena pekerjaannya sangat banyak.
Dia juga tahu jika Jonathan sedang pergi dan tidak hadir ke perusahaan, hal itu membuat pekerjaan Leo bertambah banyak.
Agar tidak jenuh, akhirnya Merlin memutuskan untuk mengambil ponselnya dan berselancar dengan ponsel pintarnya itu.
"Semoga ini menjadi awal yang baik, aku sudah sangat lelah dengan apa yang sudah terjadi selama ini dalam hidupku," gumam Merlin tanpa ada yang mendengarnya.
Di lain tempat.
Jonathan terlihat begitu bahagia karena bisa menghabiskan waktunya seharian ini bersama dengan Julian dan juga Carol, dia begitu bahagia karena Julian benar-benar selalu menempel kepada dirinya.
Hanya saja ada satu hal yang membuat dirinya tidak tenang, Carol belum menjawab pertanyaan darinya.
Akan tetapi, Jonathan tidak akan menyerah. Dia sudah membuat Carol kehilangan mahkotanya, dia sudah membuat Carol tersiksa karena mengandung benihnya.
Kini mobil yang dikendarai oleh Jonathan sudah tiba tepat di halaman rumah Carol, Carol sudah mengucapkan ucapan terima kasih beberapa kali kepaada Jonathan dan juga Berlin.
Dia benar-benar merasa terbantu dengan adanya Berlin dan juga Jonathan, kala tidak ada mereka, dia tidak tahu apakah Julian bisa bersekolah atau tidak.
Namun, saat jonathan dan juga Berlin hendak pulang, Julian tidak mengizinkan. Dia malah berkata jika Berlin dan juga Jonathan masih harus tetap tinggal di rumah Carol untuk membantu ibunya memasak dan makan malam bersama.
Sungguh apa yang dikatakan oleh bocah tampan itu benar-benar di luar dugaan, Carol terlihat tidak enak hati akan permintaan dari putranya.
Berbeda dengan Jonathan dan juga Berlin, kedua manusia yang begitu mengharapkan bisa dekat dengan Julian dan juga Carol itu terlihat bersorak dalam hatinya.
Mereka benar-benar merasa bersyukur karena Julian mencetuskan ide seperti itu, itu artinya mereka masih bisa berlama-lama bersama dengan Carol dan juga Julian.
"Sayang, tidak bisa seperti itu. Granny sama Om Jo mau pulang, mereka harus beristirahat karena sudah lelah selama seharian ini menemani kita," bujuk Carol.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Carol, Julian nampak kecewa, dia bahkan terlihat hendak menangis.
"No, Mommy! Aku mau bersama dengan Om Jo dan juga Granny, aku tidak mau berpisah dengan mereka. Mereka adalah orang-orang yang menyenangkan, aku tidak pernah menemui orang seperti mereka saat berada di negara A," kata Julian dengan mengiba.
Tentu saja Julian tidak akan bertemu dengan orang-orang baik ataupun orang-orang jahat, karena memang Carol menutup diri saat berada di negara A.
Dia bahkan tidak pernah membiarkan Julian keluar dari rumah, dia takut akan ada orang yang mencibirnya.
Dia takut akan ada orang yang mempertanyakan siapa ayah dari Julian, itu yang akan membuat Carol susah untuk bernapas dan berkata-kata.
__ADS_1
Mendengar apa yang dikatakan oleh Julian, dada Jonathan terasa begitu sesak. Dia benar-benar merasa sedih melihat raut kesedihan di wajah putranya.
"Aku tidak keberatan jika harus menginap sekali pun," kata Jonathan.
"Jo!" kesal Carol.
Bukannya membantu, Jonathan malah terlihat ingin terus bersama Julian, sama seperti putranya itu.
"Mommy, please!" pinta Julian dengan wajah yang terlihat menggemaskan.
Karena kasihan akhirnya Carol pun mengizinkan Julian untuk mengajak Jonathan dan juga Berlin untuk ikut masuk ke dalam rumahnya.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita masuk," ajak Carol.
Julian terlihat bersorak dengan gembira, dia langsung melompat ke dalam gendongan Jonathan. Dengan senang hati Jonathan menggendong anak tampan itu.
Berlin terlihat begitu senang melihat kedekatan antara putranya dan cucunya itu, dia berharap dalam hatinya semoga saja Jonathan bisa dengan segera meluluhkan hati Carol. Agar mereka bisa berkumpul di dalam keluarga yang utuh.
"Ayo, Tante," ajak Berlin.
"Ya," jawab Berlin.
Berlin terlihat berjalan beriringan dengan Carol untuk masuk ke dalam rumah, sedangkan Jonathan terlihat mengikuti dari belakang seraya menggendong anak tampan itu.
''Silakan duduk, Jo, Tante," ucap Carol mempersilakan.
"Terima kasih," ucap Berlin dan juga Jonathan secara bersamaan.
Berlin terlihat duduk berdampingan dengan Carol, sedangkan Jonathan terlihat duduk seraya memangku putra tampannya itu. Julian seolah tidak mau berjauhan sedikit pun dengan ayah kandungnya itu.
Mendengar suara-suara dari ruang keluarga, Nancy terlihat menghampiri Carol. Dia tersenyum lalu bertanya.
"Mereka siapa?" tanya Nancy.
"Perkenalkan, saya Berlin dan ini putra saya," kata Berlin seraya mengulurkan tangannya.
Dengan senang hati Nancy membalas uluran tangan dari Berlin, lalu dia pun berkata.
"Nama saya nanti Nancy, saya pengasuh dari Julian," kata Nancy.
Mendengar apa dikatakan oleh Nancy, Julian langsung turun dari pangkuan Jonathan. Kemudian, dia memeluk Nancy dan berkata.
"No, bukan penghasuh. Ini ibu Nancy, ibunya Ian," kata Julian.
Carol tersenyum mendengar apa dikatakan oleh putranya, tentu saja Nancy bukan hanya sekedar pengasuh untuk Julian. Karena Nancy benar-benar selalu ada untuk Julian dan begitu menyayangi putranya.
***
Selamat sora, satu bab menemani waktu sore kalian. Terima kasih karena sudah meninggalkan like dan juga komentarnya, sayang kalian selalu.
__ADS_1