After Six Years

After Six Years
Ungkapan Perasaan


__ADS_3

Diana tidak pernah menyangka jika Andrew akan datang ke tanah air, dia bahkan tidak menyangka jika Andrew kini berada di halaman rumahnya sedang menunggu dirinya.


Bahkan, satu hal yang tidak dia sangka. Andrew menyatakan jika dirinya mencintai Diana, Diana hanya bisa terdiam dengan apa yang dikatakan oleh Andrew. Diana benar-benar merasa tidak percaya.


Saat mereka tinggal bersama di negara A, Andrew selalu saja mengatakan jika dirinya mencintai Carol. Pria itu selalu berkata ingin menjadi ayah sambung untuk Julian.


Lalu, apa ini? Kenapa dengan mudahnya lelaki itu berkata jika dirinya mencintai dirinya? Apakah Andrew patah hati karena Carol menikah dengan Jonathan, pikirnya.


Melihat Diana yang hanya diam saja, Andrew terlihat melerai pelukannya. Kemudian dia menatap wajah Diana dengan lekat.


"Kenapa kamu hanya diam saja? Kenapa kamu tidak merespon apa yang aku ucapkan?" tanya Andrew.


Diana masih terdiam, dia bingung harus berkata apa, dia hanya menatap wajah Andrew dengan tidak percaya.


"Oh Tuhan, Diana. Kamu sangat seksi, aku jadi pengen cium," kata Andrew.


Andrew terlihat menunduk, lalu dia memiringkan kepalanya. Dia hendak menyatukan bibirnya dengan bibir Diana, wanita yang membuat dirinya tersiksa selama dua minggu ini.


Sayangnya, sebelum bibir mereka bertemu. Dengan cepat Diana mendorong wajah Andrew, karena rasanya itu begitu asing untuk dirinya.


"Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan kamu jika kamu berkata dengan tidak jelas seperti itu, aku rasa kamu kecapean. Makanya berkata dengan tidak karuan," kata Diana seraya menjauhkan tubuhnya dari tubuh Andrew.


Diana tanpa sadar mengatakan aku kamu, tidak seperti biasanya. Bahkan Diana berbicara dengan lembut, tidak ada Diana yang selalu bicara dengan intonasi tinggi.


"Mana ada tidak jelas seperti yang kamu ucapkan itu, aku benar-benar tulus mengatakan hal itu dari dalam lubuk hatiku," kata Andrew.


Andrew sebenarnya merasa sangat kesal karena Diana seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dia katakan, tapi dia tidak bisa marah.


"Sudah ngga usah ngomong lagi, ngga usah ngaco. Lebih baik kamu duduk dulu, aku ke dalam dulu. Mau bikinin minuman hangat buat kamu," kata Diana.


Diana lebih memilih menghentikan perdebatan ini, dia takut jika dirinya malah akan terbawa suasana.


"Aku ngga mau minuman hangat, di sini panas. Aku butuhnya yang dingin-dingin, sesuatu yang bisa ngademin hati aku," kata Andrew.


Maksud Andrew bukan ingin minum, tapi dia ingin melihat sikap Diana yang lembut yang bisa menenangkan dan menyejukkan hatinya.


"Ya udah, kamu duduk aja. Aku bikinin es teh manis dulu, biar adem sampai ke ubun-ubun," kata Diana saya terkekeh.

__ADS_1


Diana terlihat mengeluarkan kunci dari dalam tasnya, kemudian dia membuka pintu rumahnya dengan kunci tersebut. Lalu, dengan cepat dia masuk ke dalam rumah agar bisa segera membuatkan minuman buat Andrew.


Namun, dia tidak tahu jika Andrew langsung mengikuti langkah Diana. Dengan cepat dia masuk dan mengunci pintu rumah tersebut.


Dia menarik Diana dan mendorong tubuh Diana dengan perlahan sampai dia menyadarkan tubuhnya pada tembok.


"Eh? Ada apa?" Kenapa kamu mendorong aku seperti ini? Kamu tuh kenapa sih?" tanya Diana heran.


"Kamu yang kenapa? Aku sudah bilang kalau aku rindu kamu, tapi kamunya kaya orang ngga percaya banget. Aku tuh cinta sama kamu, aku rindu sama kamu. Please percaya sama aku," katak Andrew seraya menatap Diana dengan sangat lekat.


Diana terdiam, dia seolah sedang mencerna apa yang diucapkan oleh Andrew, dia juga seakan sedang mencari kebenaran dari apa yang diucapkan oleh pria tersebut lewat tatapan matanya.


Diana bisa melihat ada ketulusan dari sorot mata Andrew, dia menjadi merasa bersalah sudah menuduh yang tidak-tidak terhadap pria yang kini berada di hadapannya itu.


''Kamu itu jahat sama aku, aku sudah bela-belain datang ke sini hanya untuk bertemu dengan kamu. Aku melalaikan pekerjaanku karena aku begitu rindu, tapi kamu tidak percaya sama aku," ucap Andrew dengan lesu.


"Bukan seperti itu, aku hanya kaget saja. Setiap hari kamu bilang kamu mencintai Carol, terus tiba-tiba kamu datang bilang cinta sama aku. Apa itu ngga aneh?" tanya Diana dengan raut wajah penuh tanya.


"Please jangan marah, aku sudah sadar kalau selama ini ternyata aku butuh kamu. Aku mencintai kamu, aku hanya merasa kasihan karena Carol tidak mempunyai suami saat sedang mengandung dan melahirkan. Bahkan saat membesarkan putranya pun dia sendirian," jelas Andrew.


"Aku sangat mencintai kamu, kamu mau, kan nikah sama aku?" tanya Andrew.


Diana tersenyum kecut mendengar apa yang dikatakan oleh Andrew, Andrew menanyakan kepada dirinya jika dirinya mau atau tidak menikah dengannya.


Namun, menurutnya lamaran yang dikatakan oleh Andrew sangat tidak romantis. Yang selama ini dia harapkan adalah lamaran yang sangat romantis, sayangnya Andrew tidak melakukan sesuai harapannya


"Kenapa diam saja, aku serius loh mau ngelamar kamu, kok kamu malah tersenyum meledek begitu sama aku?" tanya Andrew seperti anak kecil yang merajuk.


"Bukan seperti itu, aku hanya aneh saja. Kamu bilang mau melamar aku, lalu kenapa kamu tidak memberikan aku sesuatu? Misalkan cincin atau apa gitu?" tanya Diana.


Mendengar apa yang ditanyakan oleh Dianaz Andrew terlihat menepuk jidatnya. Kemudian, dia pun berkata.


"Maaf-maaf, aku lupa." Dia terlihat merogoh saku celananya, kemudian mengeluarkan sebuah cincin berlian yang begitu cantik. Lalu, dia pun kembali berkata.


"Diana, Sayang. Maukah kamu menikah denganku? Aku sudah tidak sabar ingin menjadikan kamu sebagai istri aku, aku sudah tidak tahan lagi jika harus berpisah dengan kamu," kata Andrew.


Setelah mengatakan hal itu, tanpa ragu Andrew langsung menarik lembut lengan kiri Diana lalu dia menyematkan cincin cantik yang dia bawa di jari manis Diana.

__ADS_1


Diana hanya bisa melongo tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Andrew, dia belum mengatakan Iya. Dia belum menjawab apa pun, tapi Andrew sudah menyematkan cincin itu di jari manisnya.


"Ngga usah bengong, ngga usah jawab apa-apa. Pokoknya kamu harus mau nikah sama aku, karena kamu sudah pakai cincin yang aku berikan," kata Andrew.


"Cih! Dasar pemaksa, aku belum mengatakan Iya," kata Diana seraya tersenyum dengan ibu jari kananya yang mengelus cincin yang Andrew sematkan di jari manisnya.


Andrew tersenyum melihat akan hal itu, satu hal yang dia sadari. Dia melihat cinta yang begitu besar untuk dirinya saat menatap Diana.


"Ngga usah bilang apa-apa, aku tahu jika kamu juga suka sama aku. Aku tahu kamu juga cinta sama aku," kata Andrew dengan percaya diri.


"Mana ada, aku ngga pernah cinta sama kamu," kata Diana.


"Beneran ngga cinta?" tanya Andrew.


"Iya," jawab Diana.


"Oke, kita buktiin," kata Andrew.


Diana terlihat mengernyitkan dahinya dengan ucapan yang dikatakan oleh Andrew, maksudnya bukti apa, pikirnya.


Berbeda dengan Andrew, tanpa banyak bicara dia langsung menunduk dan menyatukan bibir mereka.


Awalnya Diana terlihat begitu kaget, bahkan dia terlihat memelototkan matanya. Namun, setelah Andrew memberikan pagutan yang begitu lembut Diana langsung memejamkan matanya.


Diana terhanyut dalam permainan bibir yang disuguhkan oleh Andrew, bibir Andrew yang hangat dan basah sekaan melebur menjadi satu.


Andrew tersenyum, karena nyatanya wanita yang berada di dalam dekapannya kini begitu menikmati suguhan kenikmatan yang dia berikan.


Dengan seperti itu, dia sangat yakin jika Diana mencintai dirinya. Dia yakin jika Diana tidak menyukai dirinya, sudah pasti Diana akan menampar pipinya. Bukan malah membalas tautan bibirnya.


"Aku sudah yakin kalau kamu mencintaiku," kata Andrew setelah tautan bibir mereka terlepas.


"Geer," kata Diana seraya mengusap bibirnya yang basah akibat kelakuan dari Andrew.


Andrew tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Diana, karena perempuan itu tidak juga mengakui perasaannya kepada dirinya.


"Mau mengaku jika kamu mencintaiku, atau mau aku perawani saat ini juga?" tanya Andrew.

__ADS_1


__ADS_2