After Six Years

After Six Years
Benarkah?


__ADS_3

Dua bulan telah berlalu, Diana selalu melalui harinya dengan penuh semangat. Karena walau bagaimanapun juga, Andrew tidak pernah absen untuk menghubungi Diana.


Dalam satu hari Andrew akan melakukan panggilan video call dari tiga sampai empat kali, tentu saja hal itu bisa mengurangi rasa rindu yang Diana rasakan kepada suaminya itu.


Diana dan juga Jonathan bahkan sudah meresmikan pernikahannya, satu bulan setelah acara pernikahan yang disahkan oleh pendeta di rumahnya sendiri.


Setelah itu Diana bahkan melakukan bulan madu selama satu minggu di pulau Dewata, mereka benar-benar menikmati masa pengantin barunya.


Jangan tanya Carol ikut atau tidak, karena Carol dan Jonathan juga ikut bulan madu dengan Diana. Kedua pasangan pengantin baru itu pergi ke pulau Dewata hanya untuk bercocok tanam.


Mereka keluar dari kamar hotel, saat mereka ingin membeli oleh-oleh saja dan saat mereka akan kembali ke ibu kota.


Setelah satu minggu berbulan madu, Andrew bertanya kepada istrinya itu. Apakah Diana mau tinggal di tanah air atau ikut bersama dengan dirinya ke Negera A?


Diana berkata jika dirinya ingin tinggal di tanah air, maka dari itu Andrew kembali ke negara A untuk mengurusi semua hal yang harus dikerjakan.


Tentunya memindahkan perusahaan ke tanah air bukanlah hal yang mudah, Andrew meminta waktu kepada Diana selama enam bulan untuk memindahkan perusahaannya ke tanah air.


Dengan senang hati istrinya itu menuruti keinginan dari suaminya tersebut, tentu saja dengan syarat jika Andrew selalu menghubungi dirinya dan memberitahukan apa pun kegiatan yang dia lakukan.


"Aku izinkan, Sayang. Asal kamu jangan nakal, jangan macam-macam. Nanti aku sunatin lagi," ancam Diana kala itu.


"Mana ada yang seperti itu, aku akan setia," ucap Andrew seraya memeluk istrinya dengan gemas.


Begitupun dengan Carol, dia merasa begitu bahagia dengan kehidupan yang kini dia jalani dengan Jonathan.


Hidupnya terasa sempurna, apalagi dia tetap bisa bekerja dengan baik. Julian akan bermain dengan Nancy, sesekali Berlin akan menemani cucunya itu.


Apalagi Jonathan memperlakukan dirinya dengan penuh cinta, dia semakin mencintai suaminya itu. Lelaki yang menurutnya mau menerima dirinya apa adanya.

__ADS_1


Malam ini.


Selepas makan malam Carol memutuskan untuk kembali ke kamarnya, di sinilah Carol sekarang. Dia sedang duduk berdua di atas sofa bersama dengan Jonathan.


Carol terlihat memeluk Jonathan dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya itu, Jonathan dengan penuh kasih mengusap puncak kepala istri.


"Kamu kalau sudah mengantuk tidurlah terlebih dahulu, aku masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan," kata Jonathan.


Mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, Carol terlihat melerai pelukannya. Kemudian, dia menatap wajah suaminya itu dengan lekat.


"Tapi, Jo. Ini sudah malam, sudah waktunya kita tidur. Aku tidak mau ditinggal sendirian," ucap Carol dengan manja.


Jonathan terkekeh karena akhir-akhir ini istrinya begitu manja, tapi walaupun seperti itu dia benar-benar suka dengan Carol yang bersikap manja seperti Julian.


"Hanya sebentar," kata Jonathan. Lalu, pria itu terlihat menanduk dan mengecup bibir istrinya dengan mesra.


Jonathan sedang berusaha untuk merayu istrinya agar Carol tidak marah kepada dirinya, dia sedang mengerjakan proyek besar dan besok pagi semuanya harus sudah selesai.


Jonathan terlihat pergi ke ruang kerjanya untuk mengerjakan tugasnya, sedangkan Carol terlihat merebahkan tubuhnya untuk tidur terlebih dahulu sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh Jonathan.


"Terima kasih Tuhan, atas semua kebaikan yang sudah engkau berikan kepadaku dan keluarga kecil kami," ucap Carol sebelum memejamkan matanya.


Karena merasa begitu lelah akhirnya Carol pun terlelap dalam tidurnya, sedangkan Jonathan terlihat serius bekerja di dalam ruang kerjanya.


Belum lama rasanya Carol memejamkan matanya, tapi rasa haus yang dia rasa membuat dia terjaga kembali.


"Jam berapa ini?" tanya Carol seraya melirik Jam yang berada di atas nakas.


Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, Carol sempat mengedarkan pandangannya. Ternyata Jonathan belum kembali ke kamar.

__ADS_1


Padahal Jonathan berkata hanya akan melakukan pekerjaannya sebentar saja, karena merasa penasaran akhirnya Carol turun dari tempat tidur. Kemudian, dia meminum air putih yang disediakan di atas meja.


"Aku ingin menemui suamiku dulu, siapa tahu dia malah ketiduran di ruang kerja. Makanya belum kembali," monolog Carol setelah meminum air putih yang berada di atas meja


Saat dia tiba di depan ruang kerja milik Jonathan, ternyata pintunya tidak dikunci. Carol tersenyum, kemudian dia masuk ke dalam ruang kerja milik suaminya tersebut.


Carol tersenyum karena dugaannya benar, Jonatan tertidur di atas kursi kerjanya. Dia terlihat melipat kedua tangannya di depan dada, sedangkan kepalanya terlihat menengadah dengan dia sandarkan di atas sandaran kursi kebesarannya.


Carol menghampiri pria itu, dia bermaksud untuk membangunkan suaminya itu. Namun, tanpa sengaja tatapan matanya malah melihat sebuah tas yang berada di lemari kaca.


Lemari kaca yang berada tepat di samping meja kerja Jonathan, di sana tersimpan sebuah tas mahal yang sangat dia kenal.


Jantung Carol berpacu dengan cepat, karena dia merasa jika Itu adalah tas miliknya. Tas yang tertinggal di klub malam sebelum dia pergi ke luar negeri.


Melihat akan hal itu, tentu saja pikiran Carol berubah menjadi buruk tentang Jonathan. Dia jadi berpikir jika Jonathan adalah yang memperkosa dirinya pada saat malam itu.


"Tidak mungkin, itu tidak mungkin punyaku. Itu pasti tas milik mom Berlin, mungkin hanya merek dan bentuknya saja yang sama," bantah Carol.


Kini batin Carol berperang, haruskah dia memastikannya atau tidak. Namun, karena begitu penasaran akhirnya Carol menghampiri lemari kaca tersebut.


Dengan tangan yang bergetar dia membuka lemari kaca tersebut, lalu dia mengambil tas itu. Dia bahkan membuka dengan sangat perlahan, karena takut membuat Jonathan terbangun.


Air matanya langsung luruh begitu saja ketika dia melihat di dalamnya masih ada barang-barang lengkap miliknya, semuanya terlihat lengkal dan masih utuh.


Dia tidak menyangka jika Itu adalah tas miliknya, dia tidak menyangka jika benar itu adalah barang-barang miliknya. Berarti Jonathan adalah lelaki yang sudah merenggut kesuciannya, begitu pikir Carol.


Tubuh Carol bergetar hebat, kakinya bahkan terasa kopong. Lemah sudah dia yang rasakan saat ini, tanpa sadar dia menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai.


Dia menangis seraya menatap Jonatan dengan penuh kebencian, dia tidak menyangka jika suami itu adalah lelaki yang memperkosa dirinya di saat enam tahun yang lalu.

__ADS_1


Pantas saja Jonathan begitu bersikukuh ingin menikahinya, apakah itu bentuk janggung jawab dari Jonathan untuk dirinya, tanya Carol dalam hati.


"Jika kamu memang benar kamu yang merenggut mahkotaku, kenapa kamu setega itu, Jo?" tanya Carol dengan lirih.


__ADS_2