
Pagi telah menjelang, Diana sudah terbangun dari tidurnya. Namun, Diana begitu enggan untuk turun dari tempat tidurnya.
Tubuhnya terasa remuk redam, untuk bergerak pun seakan begitu susah. Tentu saja hal itu terjadi karena perbuatan dari Andrew, suaminya.
Lelaki yang kemarin malam menikahi dirinya itu dengan tidak sabar memerawani dirinya, lelaki yang sudah resmi menikahi dirinya itu dengan tidak sabarnya mengajak Diana untuk melakukan pergumulan panas.
Tempat tidur yang berukuran nomor tiga itu terlihat bergoyang sesuai dengan gerakan yang Andrew lakukan.
Andrew bukan hanya memikirkan kesenangan saja setelah menikahi Diana, justru dia takut jika Diana akan berpaling karena Andrew hanya empat hari berada di tanah air.
Dia memutuskan akan mengajak Diana untuk terus bergumul di atas ranjang selama dia masih berada di tanah air, hal itu dilakukan agar Diana cepat hamil.
Dengan seperti itu, jika Andrew pergi meninggalkan Diana untuk sementara pun, dia tidak akan takut istrinya akan berselingkuh.
Tadi malam, saat Diana memekik kesakitan karena milik Andrew yang berusaha untuk menerobos masuk pada inti tubuhnya, barulah Andrew terdiam.
Dia menghentikan gerakannya, bahkan dia berusaha untuk menenangkan istrinya yang terlihat hendak menangis.
"Jangan menangis, Sayang. Aku tidak akan menyakitimu, aku hanya ingin memberikan kenikmatan padamu. Aku ingin berusaha untuk menghadirkan Andrew kecil di sini," ucap Andrew seraya mengusap perut istrinya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya itu, barulah Diana melebarkan senyumnya. Dia merasa menjadi wanita yang berharga setelah suaminya mengutarakan keinginannya.
Tentu saja dia tidak mau menikmati tubuh istrinya saja, apalagi saat dalam keadaan menangis. Tidak akan ada nikmatnya, pikirnya.
Lagi pula tujuannya menggauli istrinya juga memang bukan sekedar kata nikmat, tapi untuk mengikat istrinya dengan berharap segera ada anak di dalam perut Diana.
Setelah Diana terlihat lebih tenang, barulah Andrew mulai kembali menggoyangkan pinggulnya. Diana yang sudah mulai merasakan nikmat yang disuguhkan oleh suaminya pun terlihat memejamkan matanya.
Bahkan, dari bibirnya keluar suara-suara yang membuat Andrew semakin bersemangat untuk menggali istrinya tersebut.
Setiap kali Diana akan berteriak, Andrew pasti langsung membungkam bibir istrinya dengan ciuman yang sangat lembut.
Dia masih mengingat akan pesan pak RT yang mengatakan jika rumah Diana bukanlah rumah kedap suara, maka dari itu mereka tidak boleh berteriak.
'Sepertinya besok aku harus memesan kamar hotel,' ucap Andrew dalam hati.
Diana masih terdiam seraya mengingat-ingat apa yang sudah terjadi tadi malam kepada dirinya, rasanya masih seperti mimpi.
Andrew yang sudah terbangun melihat istrinya dengan heran, dia menarik lembut tubuh istrinya lalu mengecup kening istrinya tersebut dengan lembut.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenapa, hem?" tanya Andrew.
Andrew merasa khawatir Karena kini istrinya hanya diam saja, bahkan dia terkesan sedang melamun.
"Itunya masih sakit, kamu ngga sabaran banget. Maunya langsung itu aja, padahal mandi aja belum. Makan juga belum, aku jadinya lemes." Diana mengadu dengan bibir mengerucut.
Andrew benar-benar merasa bersalah ketika istrinya mengatakan hal itu, tapi jujur dia tidak berniat untuk menyakiti istrinya.
"Maaf, waktuku tidak banyak. Cuma empat hari, Sayang. Aku sedang berusaha untuk menghadirkan Diana junior, jadi harus kebut. Aku baru akan datang lagi bulan depan, aku pasti rindu," ucap Andrew.
"Hem, lalu bulan depan kamu akan meresmikan pernikahan kita, kan?" tanya Diana.
"Tentu, Sayang. Jangan takut," ucap Andrew.
Andrew melerai pelukannya, kemudian dia menunduk dan menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya.
Bibir yang begitu lembut itu terlihat meleleh dan menyatu menjadi satu, Diana yang awalnya terlihat enggan pun kini terlihat begitu menikmatinya.
Bahkan, erangan mulai terdengar dari bibirnya. Andrew melepaskan tautan bibir mereka, lalu dia menatap wajah istrinya dengan penuh cinta.
"Mau lagi, Yang," pinta Andrew.
"Oh ya ampun, kamu pelit sekali," keluh Andrew dengan bibir mengerucut.
"Kalau maksa nanti aku ngga bakalan mau kamu sentuh, setidaknya kasih aku waktu untuk beristirahat nanti malam kamu boleh menyentuhku lagi," kata Diana.
Andrew terlihat melebarkan senyumannya, setidaknya nanti malam dia masih bisa menggauli istrinya. Untuk saat ini dia akan membiarkan istrinya untuk beristirahat terlebih dahulu.
"Baiklah, nanti malam kita ke hotel yuk. Biar bisa berteriak dengan bebas," ajak Andrew seraya menaik turunkan alisnya.
"Oh ya ampun, boleh!" jawab Diana seraya terkekeh.
"Nakal!" seru Andrew.
"CK! Aku lapar, tapi punyaku sakit banget, kamu cariin aku sarapan dong. Aku takut diketawain kalau keluar," pinta Diana
Diana jadi berpikir, mungkin inilah yang Carol rasakan. Sakit di area intinya setelah melakukan pergumulan panas dengan suami.
Maka dari itu Carol berjalan dengan sangat aneh, sepertinya jika dirinya tidak menikah tadi malam Carol juga pasti akan berdiam diri di rumah.
__ADS_1
"Baiklah, Sayang. Aku mandi dulu, nanti aku akan mencarikan sarapan untuk kamu," ucap Andrew.
Mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya, Diana terlihat menatap jam digital yang berada di atas nakas. Ternyata, waktu menunjukkan pukul sepuluh.
Pantas saja dirinya sudah merasa kelaparan, lebih tepatnya nanti mereka akan melaksanakan makan siang, bukan lagi sarapan.
"Cepatlah, An. Aku sangat lapar," pinta Diana.
Andrew terkekeh, kemudian dia menunduk dan mengecupi bibir istrinnya. Dia tahu jika istrinya itu pasti sangat kelaparan.
Karena memang Diana belum makan sejak malam, dia terlalu terburu-buru membawa istrinya ke atas ranjang.
Dia benar-benar merasa bangga beristrikan Diana, karena dia merupakan orang pertama yang membuka segel istrinya.
"Sabar ya, Sayang." Andrew langsung turun dari tempat tidur dan segera masuk ke dalam kamar mandi.
Di lain tempat.
Siang ini Carol sedang menikmati waktu bersama dengan Jonathan dan juga Julian, mereka sedang berada di ruang tengah di kediaman Anderson.
Mereka sedang bermain game, siapa yang kalah maka wajahnya akan mendapatkan coretan menggunakan bibir merah.
"Oh, Carol, Sayang. Aku kalah terus, wajahku sudah merah semua," keluh Jonathan.
"Tidak apa-apa, Sayang. Kamu terlihat sangat tampan," ucap Carol seraya terkekeh.
"Daddy juga terlihat sangat gagah," goda Julian.
"Oh ya Tuhan, sepertinya kalian bersekongkol untuk mengerjaiku," keluh Jonathan.
Mendengar akan keluhan dari Jonathan, baik Carol ataupun Julian terlihat tertawa dengan terbahak-bahak.
Mereka merasa lucu dengan keluhan dari Jonathan, karena ternyata Jonathan tidak bisa bermain karambol.
"Ow, ow, ow. Kalian sudah berani menertawakan seorang Jonathan Anderson, rasakan pembalasanku," ucap Jonathan.
Setelah mengatakan hal itu, Jonathan terlihat mengusakkan wajahnya pada wajah Carol dan juga wajah Julian. Alhasil wajah mereka pun kini terlihat belepotan karena terkena bibir merah.
Berlin yang melihat akan hal itu terlihat bersorak bahagia, karena akhirnya Jonatan bisa berkumpul dengan anak dan juga istrinya.
__ADS_1