After Six Years

After Six Years
Merayu


__ADS_3

Jonathan benar-benar merasa bahagia karena Carol gini berada di hadapannya, dia terlihat begitu cantik sekali pagi ini di matanya.


Jonathan juga tidak menyangka jika Carol akan datang untuk membawakan bekal untuk dirinya, karena dia bisa melihat di tangan kanannya terdapat kotak bekal yang cukup besar.


Padahal, dia pikir hari ini akan menjadi hari yang begitu buruk untuk dirinya. Namun, setelah kedatangan Carol rasa kecewanya meluap entah ke mana.


Justru saat ini yang dia rasakan adalah sebuah kebahagiaan yang luar biasa, dia benar-benar merasa bersyukur karena Carol berinisiatif untuk datang ke kantornya.


"Masuklah, Sayang. Ayo, masuk," ajak Jonathan seraya melebarkan pintu ruangannya.


Carol tersenyum mendengar ajakan dari Jonathan, kemudian dia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam ruangan kerja dari suaminya itu.


Saat dia masuk, dia menyimpan kotak bekalnya di atas meja. Kemudian, dia mengedarkan pandangannya.


Dia memperhatikan seluruh ruangan milik Jonathan tersebut, ruangannya terasa sangat nyaman, luas, rapi dan juga wangi.


"Sayang, aku laper." Jonathan berusaha untuk mencari perhatian dari istrinya tersebut.


Carol yang mendengar suaminya memanggil namanya, langsung menolehkan wajahnya ke arah Jonathan kemudian dia tersenyum dan menghampiri suaminya itu.


"Maaf, ini pertama kalinya aku masuk ke dalam ruanganmu. Jadi aku ingin mengetahuinya," kata Carol.


"Nanti lagi, aku laper." Jonathan terlihat mengelus lembut perutnya.


Carol terkekeh, kemudian dia menghampiri Jonathan dan langsung mempersiapkan sarapan pagi untuk suaminya tersebut.


"Mau makan sendiri atau mau disuapin?" tanya Carol.


"Suapin!" jawab Jonathan manja.


Carol terkekeh mendengar jawaban dari Jonathan, karena saat Jonathan mengatakan hal itu, dia begitu mirip sekali dengan Julian saat meminta disuapin olehnya.


"Boleh, sini deketan!" pinta Carol.


Jonathan menurut, dia duduk tepat di samping Carol. Lalu, Jonathan mulai membuka mulutnya saat Carol mulai mengendok nasi lengkap dengan lauknya.


"Enak!" kata Jonathan dengan mulut penuh dengan makanan.


"Enak dong Jo, mom yang masak," kata Carol seraya terkekeh.


"Masakan mom, memang enak. Tapi, lebih enak lagi rasanya karena kamu yang menyuapi," ucap Jonathan.


"Alesan," elak Carol.


"Aku tidak beralasan, aku jujur. Tangan kamu itu bener-bener bikin aku enak makan," kata Jonathan.

__ADS_1


"Terserah, sekarang makan dulu. Jangan ngomong terus, takutnya nanti tersedak." Carol kembali menyuapi suaminya.


"Iya, istriku," jawab Jonathan.


Carol terlihat menyuapi Jonathan dengan telaten, suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya. Tidak lama kemudian, semua makanan itu tanpa terasa sudah berpindah ke dalam perutnya.


"Kenyang banget, Yang. Kalau kenyang seperti ini yang ada nanti aku mengantuk dan ingin tertidur, aku tidak mau bekerja," kata Jonathan.


Setelah mengatakan hal itu, Jonathan terlihat merapatkan tubuhnya kepada istrinya tersebut. Dia memeluk Carol lalu menyadarkan kepalanya di pundak istrinya tersebut.


Kedua tangannya juga terlihat terulur lalu memeluk pinggang Carol dengan posesif, Jonathan terlihat begitu enggan untuk melepaskan istrinya tersebut.


"Jo! Jangan seperti ini, ini di kantor," kata Carol tidak enak hati.


Dia merasa takut jika nantinya akan ada karyawan yang datang dan melihat apa yang sedang mereka lakukan.


Karena menurutnya kantor adalah tempat bekerja, bukan tempat untuk bermesraan. Namun, Jonathan tidak mendengarkan apa yang diucapkan oleh Carol.


Dia malah terlihat memeluk Carol lebih posesif lagi, bahkan dia terlihat mengusakkan wajahnya di cerukan leher istrinya.


"Jo, geli!" ucap Carol.


Tanpa sadar Carol mengeluarkan suara yang begitu seksi dan juga manja menurut Jonathan, hal itu membuat dirinya merasa tidak tahan untuk menyentuh istrinya lebih dari itu.


"Sayang, kamu tuh cantik. Kamu tuh seksi," kata Jonathan seraya mengangkat tubuh Carol dan mendudukkannya di atas pangkuannya.


"Tidak akan ada yang berani masuk," ucap Jonathan yakin.


Setelah mengatakan hal itu, Jonathan terlihat menyandarkan wajahnya di dada istrinya. Carol terlihat menggeliatkan tubuhnya.


"Oh, Jo. Geli," protes Carol.


"Ya udah, biar ngga geli aku---"


Jonathan tidak meneruskan ucapannya lagi, dia tersenyum. Lalu, tiba-tiba saja dengan cepat dia menggigit ujung dada Carol yang masih terbungkus rapi dengan pelindungnya.


"Jo!" teriak Carol.


Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Jonathan, tubuh kalau tiba-tiba terasa panas. Seperti ada gelenjar aneh yang mengalir di seluruh tubuhnya.


"Keluarkan suara seksi kamu, Sayang," kata Jonathan seraya mengusap paha Carol.


Lalu, tangan itu terlihat menelusup masuk dan mengusap pangkal paha istrinya. Mendapatkan perlakuan seperti itu dari suaminya, Carol terlihat menggeliatkan tubuhnya.


"Jo, jangan nakal!" kata Carol seraya memukul gemas pundak suaminya.

__ADS_1


"Sayang, aku sudah tidak tahan. Dia mau berkunjung, aku juga mau kamu." Jonathan menarik lembut tangan istrinya, lalu mengusapkannya pada miliknya yang sudah mengeras seperti batu.


"Hastaga! Besar sekali Jo!" teriak Carol tanpa sadar.


Jonathan langsung tertawa dengan lepas setelah mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya tersebut, tentu saja miliknya akan sangat besar setelah dibangunkan.


"Kenapa, Sayang?" tanya Jonathan.


Sebagai seorang lelaki, tentu saja dia merasa bangga saat istrinya mengatakan jika miliknya sangat besar.


Dia sangat percaya jika miliknya itu pasti akan mampu membuat istrinya menikmati pergumulan panas, ketika mereka bercinta nanti.


Dia ingin menebus hal menyakitkan yang dulu sempat dia lakukan kepada Carol, dulu dia menghujam Carol tanpa ampun.


Dulu dia tidak memedulikan sama sekali saat Carol berteriak kesakitan, sungguh dia merasa bersalah jika mengingat akan hal itu.


Sungguh dia berjanji, jika mereka melakukan hal itu kembali. Dia akan memberikan sebuah kenyamanan, sebuah kenikmatan yang luar biasa.


"U--ulernya, besar!" jawab Carol terbata.


Mendengar apa yang istrinya katakan, Jonathan langsung tertawa. Apalagi saat melihat wajah Carol yang begitu lucu di matanya.


"Ulernya bisa bikin kamu keenakan, mau nyoba ngga? Dia udah ngga tahan pengen berkunjung," kata Jonathan memelas.


"Nanti aja di rumah, di sini ngga akan enak," jawab Carol gugup.


Jantung Carol seakan berpacu dengan sangat cepat ketika mendapatkan tawaran seperti itu dari Jonathan, sungguh dia ingin sekali melayani suaminya itu.


Dia sangat tahu jika menolak suaminya adalah merupakan hal yang mendatangkan dosa, tapi dia takut akan mengecewakan suaminya.


"Ngga mau nyoba di sini, tadi Leo sama istrinya juga abis itu. Aku iri," adu Jonathan.


Carol tidak menyangka jika Jonathan akan mengatakan hal itu kepada dirinya, rasanya itu adalah hal yang tidak pantas.


"Di rumah aja, iya. Nanti malam aja di rumah," kata Carol seraya berusaha untuk melepaskan diri dari suaminya itu.


Dia merasa tidak nyaman karena milik Jonathan begitu keras dan mengganjal, dia merasa duduknya tidak nyaman.


Sayangnya Jonathan memeluk pinggangnya dengan sangat erat, hal itu mempersulit dirinya untuk melepaskan diri dari Jonathan.


"Jo, lepasin. Aku ngga nyaman," ucap Carol seraya menggeliatkan tubuhnya.


Jonathan terlihat memejamkan matanya, karena setiap Carol bergerak miliknya semakin ingin masuk ke dalam inti tubuh istrinya.


"Jangan bergerak terus, Sayang. Aku tidak tahan," kata Jonathan.

__ADS_1


Carol langsung diam, bahkan dia terlihat bernapas dengan sangat perlahan. Dia menatap wajah Jonathan dengan raut wajah memelas.


"Jo!" panggil Carol saat tangan suaminya mulai merambat dan meremat dada Carol.


__ADS_2