After Six Years

After Six Years
Antara Bahagia Dan Juga Sedih


__ADS_3

Malam ini Jonathan terlihat tidur dengan terlelap, dia merasakan kenyamanan yang sangat luar biasa saat tidur bersama dengan Julian.


Dia benar-benar merasa bahagia, karena ternyata memiliki putra itu adalah hal yang benar-benar membuat dirinya merasa luar biasa.


Walaupun dulu Jonathan selalu merasa jika dirinya tidak ingin memiliki istri dan juga anak, karena menurutnya memiliki istri itu hanya akan merepotkan.


Namun, dugaannya salah. Justru bisa berdekatan dengan putranya saja membuat dia bahagia, lalu apa kabarnya jika dirinya bisa berduaan dengan Carol, pikirnya.


"Selamat pagi, Sayang!" sapa Jonathan saat membuka matanya.


Dia merasa sangat bangga karena saat membuka mata dia bisa melihat anak tampan berwajah sama seperti dirinya sendiri.


"Pagi, Om Jo." Julian terlihat menggeliatkan tubuhnya.


Saat matanya terbuka dengan sempurna, dia begitu bahagia karena ternyata Jonathan tidak pergi kemana-mana.


Namun, Jonathan benar-benar tetap bersama dengan dirinya. Dia langsung melompat ke atas tubuh Jonathan dan memeluknya dengan erat, bahkan dia mengecup pipi Jonathan beberapa kali.


"Oh ya Tuhan, aku sangat senang sekali karena saat membuka mata ada Om Jo di sini," kata Julian dengan riang.


Hati Jonathan merasa sedih kala Julian mengatakan hal itu, dia jadi membayangkan saat hari-hari Julian tanpa dirinya.


Pasti anak itu selalu bersedih karena tidak ada sosok ayah di sampingnya, pikir Jonathan. Rasa bersalah kembali menyeruak sampai ke dalam dasar hatinya.


"Yayayaya, Om Jo ada. Sekarang kita ke kamar mandi, kita harus mandi dulu. Mau Om dulu atau kamu dulu yang mandi?" tawar Jonathan.


Mendengar pertanyaan dari Jonathan, Julian terlihat mengetuk-ngentukkan jari telunjuknya pada dagunya.


Jonathan langsung tertawa, karena menurutnya Julian benar-benar terlihat menggemaskan sekali.


"Bagaimana kalau kita mandi bersama?" ajak Julian.


Jonathan langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, menurutnya seorang anak kecil mandi bersama dengan orang dewasa adalah hal yang tidak baik.


Jangankan mandi bersama antara orang dewasa dan anak kecil, mandi bersama anak kecil dan juga anak kecil itu adalah hal yang tidak baik, menurutnya.


Karena ada sebagian orang yang malah akan tumbuh rasa tidak biasa setiap mereka mandi bersama, sehingga menimbulkan terjadinya hubungan terlarang sesama jenis, pikir Jonathan.


"No! Kamu sudah besar, tidak boleh mandi bersama. Harus mandi sendiri, atau kamu mau Om mandikan? Om pasti mau mandiin, tapi tidak boleh mandi bersama," jelas Jonathan.

__ADS_1


Untuk sesaat Julian terdiam, dia nampak mencerna apa yang dikatakan oleh Jonathan. Tidak lama kemudian dia pun berkata.


"Oh, baiklah kalau begitu. Ian mau mandi sendiri saja, Ian sudah besar," kata Julian.


Julian langsung mengambil handuk dan berlari menuju kamar mandi, Jonathan terkekeh melihat kelakuan dari putranya itu.


Dia benar-benar merasa bahagia sekali bisa berinteraksi dengan putra tampannya itu, dia berjanji akan meluangkan banyak waktu untuk putranya Jonathan.


Hanya memerlukan waktu sepuluh menit saja Julian sudah keluar dari kamar mandi, dia terlihat menutupi tubuhnya dengan handuk, tapi badannya masih terlihat basah.


Jonathan terkekeh, lalu segera menghampiri Julian dan mengeringkan tubuh serta rambutnya.


Setelah itu, Jonathan juga memakaikan minyak telon, bedak dan juga baju untuk putranya tersebut.


"Kamu sudah sangat tampan," kata Jonathan.


Julian terlihat begitu bangga kala Jonathan mengatakan dirinya tampan, dia bahkan sampai menatap pantulan wajahnya di depan cermin.


"Ya, aku tampan. Sama kaya Om Jo," kata Julian.


Anak itu berkata dengan bangga, laku dia mencubit gemas kedua pipi Jonathan. Jonathan langsung tertawa terbahak-bahak dengan apa yang dilakukan oleh Julian.


Dia merasa lucu karena anak itu terlihat begitu gemas terhadap dirinya, bahkan Julian terlihat berkali-kali mencubit pipinya dan. mengecupnya.


"Ya," jawab Julian dengan riang.


Tanpa disadari oleh kedua pria tampan berbeda generasi itu, Carol memperhatikan interaksi antara keduanya dari celah pintu yang tidak tertutup dengan rapat.


Carol merasa senang saat melihat interaksi antara keduanya, tapi Carol juga merasa sedih karena Julian seperti mendapatkan harapan palsu jika dia terus saja bersama dengan Jonathan, pikirnya.


Karena Jonathan pasti akan pergi dari sisi mereka kalau tidak ada pernikahan di antara keduanya, Carol sangat ingin menikah dengan Jonathan.


Saat Jonathan menanyakan dirinya mau atau tidak menikah dengan Jonathan saja, dia ingin sekali menjawab dengan kata iya.


Namun, dia merasa tidak pantas untuk menikah dengan Jonathan. Menurutnya Jonathan terlihat lalu berharga untuk dirinya.


"Sebaiknya aku menunggu di ruang makan saja," kata Carol.


Setelah mengatakan hal itu, Carol nampak melangkahkan kakinya menuju ruang makan. Dia menyiapkan sarapan pagi untuk Jonathan dan juga Julian.

__ADS_1


Nancy dan juga suaminya terlihat sudah berada di ruang makan untuk melakukan sarapan, karena seperti biasanya, Carol tidak pernah membeda-bedakan orang lain.


Nancy memang pengasuh untuk putranya, tapi Nancy bukan sekedar pengasuh baginya. Nancy adalah keluarganya, Nancy adalah kakaknya.


Di lain tempat.


Diana sedang kesal, karena jam empat pagi Andrew sudah melakukan video call. Padahal dirinya masih terlelap dari tidurnya, tapi suara ponselnya yang berdering tidak bisa dia abaikan.


Satu hal yang membuat Diana merasa kesal, setelah mengangkat panggilan video call dari Andrew, pria itu hanya terdiam seraya menatap wajah Diana dengan lekat.


Diana yang masih mengantuk langsung menutup panggilan video call dari Andrew dengan cepat, lalu dia berusaha untuk tidur kembali.


Sayangnya, dia malah tidak bisa tidur. Alhasil dia malah bangun dan bermain game sampai perutnya berbunyi dengan riang.


"Oh, hastaga! Gue laper," keluh Diana.


Diana terlihat mematikan ponselnya, kemudian dia turun dari tempat tidur. Lalu, Diana melangkahkan kakinya menuju dapur.


Diana sempat melirik ke arah jam yang ada di dinding, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 06.03 pagi.


Pantas saja dia sudah merasa lapar, pikirnya. Karena ternyata dia sudah menghabiskan waktu selama dua jam untuk bermain game.


"Aku bisa makan apa? Dari kemaren ngga belanja, ah gue sarapan di rumah Carol aja," kata Diana seraya berlari kembali ke dalam kamarnya.


Diana segera melaksanakan dari ritual mandinya, kemudian dia langsung memakai baju kerjanya dengan tergesa. Dia ingin segera cepat sampai ke rumah Carol, agar bisa segera ke menikmati sarapannya.


"Sabar ya, cacing kesayanganku," ucap Diana seraya mengelus lembut perutnya.


Setelah mengatakan hal itu, Diana terlihat pergi ke kediaman Carol. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, saat tiba di kediaman Carol, tanpa permisi Diana langsung berlari dan masuk ke dalam


ruang makan.


"Pagi sayangnya Ta---"


Diana tidak melanjutkan ucapannya, dia begitu kaget saat melihat Jonathan yang sedang memangku Julian.


Wajah mereka terlihat sama, tidak ada beda sama sekali. Hanya saja Jonathan terlihat lebih dewasa, sedangkan Julian terlihat sangat menggemaskan.


"Woow, bagai pinang dibelah kampak," kata Diana dengan mata yang membulat.

__ADS_1


***


Siang guyz, jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya. Sayang kalian selalu, love seempang kong Jali.


__ADS_2