
Malam ini Jonathan benar-benar merasa bahagia, karena pada akhirnya dia berkesempatan untuk melamar wanita yang sudah melahirkan seorang putra untuknya.
Dia juga benar-benar merasa bahagia karena Julian sudah memanggil dirinya dengan sebutan daddy, semuanya seperti mimpi baginya.
Satu hal yang lebih membahagiakan lagi, yaitu ketika dia mengutarakan maksud dari kedatangannya. Carol begitu menyambut dirinya dengan sangat baik.
"Ehm, Carol. Maukah kamu menjadi istriku?" tanya Jonathan.
Carol terlihat terdiam mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Jonathan, tidak lama kemudian, wanita yang sudah memiliki seorang putra yang begitu tampan itu menatap Jonathan dengan lekat dengan senyum manis di bibirnya.
"Aku mau," jawab Carol.
Jonatan terlihat begitu bahagia mendengar jawaban dari Carol, dia bahkan tanpa ragu langsung menghampiri Carol.
Dia berjongkok di hadapan wanita itu dan memasangkan cincin yang begitu cantik di jari manisnya.
"Terima kasih sudah mau menerima aku untuk menjadi suamiku kamu," kata Jonathan tulus.
"Ya, tapi ada syartnya," kata Carol.
"Apa?" tanya Jonathan.
"Kamu harus menyayangi aku, terutama Julian," kata Carol.
"Pasti, aku akan menyayangi kalian dengan sepenuh hatiku," kata Jonathan.
Setelah mengatakan hal itu, Jonathan langsung menggenggam kedua tangan Carol lalu mengecup punggung tangannya dengan lembut.
"Aku mau kita menikah secepatnya, aku ingin segera hidup bersama dengan kalian," kata Jonathan dengan tulus.
"Boleh, aku kasih kamu waktu satu minggu untuk mempersiapkan acara pernikahan kita," kata Carol tanpa ragu.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Carol, Jonathan terlihat melototkan matanya. Dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar, saat ini.
Carol berkata jika dirinya memberikan waktu satu minggu untuk Jonathan mempersiapkan pernikahan mereka, itu artinya satu minggu ke depan hubungan mereka akan berubah menjadi suami istri.
"Maksud kamu, minggu depan kita--"
Jonathan terdiam, dia seolah tidak berani melanjutkan apa yang ingin dia katakan. Semuanya seakan hanya mimpi belaka, Jonathan serasa masih tidur dan belum terbangun dari alam bawah sadarnya.
Carol terkekeh, kemudian dia pun menganggukkan kepalanya. Dia seakan mengiyakan apa yang Jonathan inginkan.
"Ya, aku mau minggu depan kita menikah. Jangan mengulur waktu lagi, kalau memang kamu mau menikahiku," jelas Carol.
Jonathan terlihat begitu bahagia mendengar apa yang Carol katakan, dia bahkan langsung memeluk calon istrinya itu dengan penuh kasih.
"Satu minggu adalah waktu yang cukup, katakan! Kamu mau pernikahan yang megah atau--"
Belum juga Jonathan menyelesaikan ucapannya, Carol sudah menggelengkan kepalanya dengan cepat.
__ADS_1
Bukan pernikahan megah dan juga mewah yang Carol inginkan, cukup pernikahan sederhana saja yang dia inginkan.
Baginya, yang terpenting rumah tangga ke depannya akan berjalan dengan sangat baik. Bukan mewahnya resepsi, hanya itu harapan Carol yang terasa sangat sederhana.
"Aku mau pernikahan kita dilaksanakan secara sederhana saja," kata Carol.
"Yakin?" tanya Jonathan.
"Yakin, pernikahan itu bukan seberapa mewah saat kita mengadakan acara pernikahan itu. Namun, bagaimana cara kita menjalani pernikahan itu," jawab Carol.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Carol, Jonathan terlihat tersenyum bahagia. Dia benar-benar merasa tidak salah mendapatkan wanita seperti Carol.
Jika saja wanita yang dulu dia tiduri bukan Carol, mungkin saja tidak akan ada Julian saat ini. Bisa saja wanita itu menggugurkan kandungannya karena malu tidak mempunyai suami.
Namun, berbeda dengan Carol, dia tetap membesarkan Julian dengan penuh kasih sayang. Itulah hal yang membuat Jonathan begitu mengagumi sosok wanita yang kini berada di hadapannya itu.
"Baiklah, semuanya akan sesuai dengan apa yang kamu inginkan," kata Jonathan.
"Bangunlah, Jo. Duduklah di sampingku, jangan berjongkok terus seperti itu," kata Carol.
"Ya, Sayang," jawab Jonathan.
Jonathan terlihat bangun dan duduk tepat di samping Carol, Julian yang sedari tadi duduk di pangkuan Diana langsung turun dan naik ke atas pangkuan Jonathan.
Anak tampan itu terlihat begitu bahagia, bahkan dia terus saja memeluk Jonathan seakan dia tidak mau dipisahkan dari pria itu.
"Kita makan malam dulu, nanti dilanjutkan lagi ngobrolnya," ucap Nancy.
Mereka melaksanakan ritual makan malam dengan begitu ceria, bahkan Julian terlihat berceloteh ria.
Dia seperti sedang mengungkapkan rasa bahagianya, karena sebentar lagi Jonathan dan juga Carol akan menikah. Itu artinya Julian akan mempunyai sosok ayah.
Setelah acara makan malam usai, mereka kembali berkumpul di ruang keluarga. Sebenarnya Jonathan ingin segera pulang, dia ingin segera memerintahkan Leo secara langsung untuk mempersiapkan acara pernikahannya.
Sayangnya, Julian tidak mengizinkan Jonathan untuk pulang. Anak itu berkata jika Jonathan tidak boleh pulang sebelum dirinya terlelap.
Akhirnya dia mengalah, kini Jonathan terlihat sedang memangku Julian yang begitu asik memainkan mainannya
Berbeda dengan Berlin, dia terlihat pulang terlebih dahulu karena merasa sudah mengantuk.
"Jo, Ian sudah tidur," kata Carol saat melihat putranya yang sudah terlelap di dalam gendongan Jonathan.
"Hem, kamu benar," ucap Jonathan.
Setelah mengatakan hal itu, Jonathan terlihat membawa Julian menuju kamar putranya. Tiba di dalam kamar putranya, dia terlihat merebahkan tubuh mungil Julian dengan sangat perlahan ke atas tempat tidur.
"Tidurlah, Sayang. Mimpi yang indah, minggu depan kita akan tinggal di dalam satu atap yang sama," kata Jonathan seraya mengusap puncak kepala putranya dengan lembut.
Tidak lama kemudian, Jonathan terlihat menunduk. Lalu, dia mengecup kening putranya dengan penuh kasih.
__ADS_1
"Maaf, karena selama ini Daddy tidak pernah memberikan kasih sayang kepada kamu. Maaf karena Daddy telat mengetahui keberadaan kamu," kata Jonathan.
Terlihat dengan sangat jelas raut kesedihan di wajah Jonathan, raut penyesalan juga begitu kentara di wajahnya.
"Jo, ini sudah malam. Pulanglah," kata Carol yang baru saja masuk ke dalam kamar putranya.
Jonathan terlihat berdecak sebal kala Carol memintanya untuk pulang, dia masih ingin bersama dengan putranya, tapi ternyata waktunya sudah habis.
"Baiklah, aku akan pulang," jawab Julian lesu.
Jonathan terlihat bangun lalu menghampiri Carol, dia menarik lembut wanita itu ke dalam pelukannya.
"Terima kasih untuk semuanya," ucap Jonathan.
Dia mendekap tubuh Carol dengan penuh kasih, lalu dia menunduk dan mengecup kening wanita yang sudah memberikan putra itu kepada dirinya dengan penuh cinta.
"Aku mulai mencintai kamu, aku harap kamu juga memiliki rasa yang sama," kata Jonathan penuh harap.
Carol hanya terdiam, tidak lama kemudian dia terlihat mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Jonathan dengan lekat.
Carol seolah sedang mencari kebenaran dari ucapan yang Jonathan lontarkan kepada dirinya, dia tersenyum kala melihat ketulusan di mata lelaki itu.
"Pulang gih, udah malem," kata Carol.
Dia berusaha untuk melepaskan diri dari dekapan Jonathan, karena semakin lama dia merasa tubuhnya seakan panas dingin.
"Kamu tuh kebiasaan, sukanya ngusir- ngusir mulu. Padahal aku masih kangen sama kamu," kata Jonathan penuh protes.
"Sekarang kita belum menikah, Jo. Kamu harus pulang, minggu depan setelah kita menikah kita akan tinggal bersama," kata Carol mencoba untuk menenangkan.
Wajah Jonathan terlihat berbinar, bahkan senyum di bibirnya langsung mengembang. Dia sudah tidak sabar untuk melewati waktu satu minggu, agar bisa hidup bersama dengan Carol dan juga Julian.
"Nanti, kita tinggal di rumah mommy, ya. Kasihan nanti dia sendirian kalau aku tinggal sama kamu," pinta Jonathan.
"Ya, setelah kita menikah. Kamu adalah suamiku, aku akan menuruti apa pun yang kamu katakan. Selama itu yang terbaik," jawab Carol.
"Oh, Carol, Sayang. Kamu memang pengertian," kata Jonathan dengan senang.
Jonathan terlihat menunduk, lalu dia mengecup bibir Carol beberapa kali. Carol langsung melototkan matanya, dia tidak percaya dengan apa yang kini Jonathan lakukan.
"Jo!" kata Carol dengan suara pelan tapi penuh penekanan.
Jonathan terkekeh, dia langsung menarik tengkuk leher Carol dan menyatukan bibir mereka. Rasanya begitu nikmat, sampai-sampai dia tidak memedulikan Carol yang berusaha untuk melepaskan diri dari Jonathan.
"Mom, Dad. Kalian sedang apa?" tanya Julian yang merasa terganggu. Anak itu terlihat sedang mengucek matanya.
Jonathan dan juga Carol memang tidak berbicara, tapi mereka begitu berisik dengan suara yang lainnya. Hal itu membuat Julian terbangun dari tidurnya.
Mendengar teguran dari putranya, Carol dan juga Jonathan terlihat menjauhkan diri. Mereka terlihat salah tingkah, bahkan Carol terlihat melipat bibirnya yang basah karena ulah Jonathan.
__ADS_1
***
Malem Ayang, satu bab menemani waktu malam kalian. Sayang kalian selalu, love sekebon jengkol.