
Setelah kurang lebih melakukan perjalanan selama dua puluh empat jam, akhrnya Carol, Julian, Diana, Nancy dan juga sang suami tiba di tanah air.
Setelah tiba di Bandara, mereka langsung pergi menaiki taksi menuju rumah yang sudah Carol beli. Saat Carol masih di negara A, dia meminta salah satu karyawan yang bekerja di perusahaan cabang untuk membelikan rumah dan monil untuk dirinya.
Tentu saja rumah yang memang dia inginkan, rumah yang dia beli dengan uang yang sudah dia kirimkan terlebih dahulu.
Saat tiba di rumah berlantai dua itu, Carol langsung disambut oleh seorang asisten rumah tangga dan juga seorang security.
"Selamat sore, Nyonya. Saya Reni, rumahnya sudah rapi dan siap huni," katanya dengan sopan.
Wanita yang menyambut kedatangan Carol terlihat masih sangat cantik, walaupun usianya tidak lagi muda.
"Oh, terima kasih, Bi," jawab Carol.
Setelah pintu utama terbuka, Julian terlihat langsung berlari menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Karena memang saat berada di pesawat Carol menjelaskan jika dirinya dan juga putranya akan tidur di lantai dua, sedangkan Nancy dan juga sang suami akan tidur di lantai bawah.
Melihat putranya yang dengan tidak sabar berlari untuk melihat kamarnya, Carol langsung mengikuti putranya.
Melihat Carol dan juga Julian pergi ke lantai dua, Diana pun jadi ingin ikut. Karena dia juga ingin melihat bagaimana kamar Julian yang ada di lantai dua tersebut.
"Aku ikut ke atas dulu, Kak Nancy sama Bang Antony langsung masuk kamar saja buat istirahat," kata Diana.
"Ya, terima kasih," jawab Nancy.
Nancy dan juga Antony terlihat melangkahkan kaki mereka untuk masuk ke dalam kamar, mereka butuh waktu untuk beristirahat setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan.
Berbeda dengan Diana, dia langsung menyusul Carol yang naik ke lantai dua, dia ingin melihat kebahagiaan Julian saat masuk ke dalam kamarnya.
Sebelum mereka datang, Carol sempat meminta untuk mendekorasi kamar Julian sesuai keinginan dari putranya tersebut.
Padahal putranya itu masih sangat kecil, tapi dia tidak seperti anak yang lainnya yang meminta kamarnya didekorasi dengan gambar superhero atau lainnya.
Julian malah meminta kamarnya dicat dengan warna hitam dan juga abu-abu, dia juga menginginkan semua barang yang ada di dalam kamar tersebut berwarna hitam dan juga abu-abu.
Awalnya Carol tidak menyetujuinya, karena itu terlalu gelap, menurutnya. Namun, Carol tidak bisa menolak keinginan dari putranya itu karena memang Julian begitu menyukai dua warna gelap tersebut.
Saat masuk ke dalam kamarnya, Julian terlihat begitu bahagia. Bahkan dia langsung melompat ke atas tempat tidur dengan sprei berwarna abu-abu dan bedcover berwarna hitam.
Carol hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah dari putranya tersebut, menurutnya putranya itu benar-benar sangat luar biasa. Selalu saja bisa membuat dirinya bahagia dan juga terpana karena keinginan dan juga kepintarannya.
"Wow! Ini sangat bagus, kamarnya sangat luar biasa. Ian sangan suka," kata Julian seraya memeluk guling dengan erat.
__ADS_1
Carol dan juga Diana langsung tertawa saat melihat kebahagiaan di mata Julian, padahal mereka sempat mengira jika Julian tidak akan betah tinggal di tanah air.
Namun, ternyata perkiraan mereka salah. Justru Julian terlihat begitu senang, bahkan saat tiba di Bandara saja dia terlihat berceloteh sembari memuji keindahan alam yang dia lihat sepanjang perjalanan menuju rumah.
"Anak elu girang banget punya kamar baru, oh iya. Gue balik sekarang ya, gue pengen nostalgila sama rumah emak gue," kata Diana seraya terkekeh.
"Ngga nginep aja sekalian? Ini udah sore loh, bentar lagi makan malem," tawar Carol.
"No! Gue mau langsung pulang, gue udah kangen banget sama rumah. Gue pengen tidur di kamar emak sama bapak gue," kata Diana.
"Ya, gue paham," kata Carol.
Diana dan juga Carol terlihat berpelukan, kemudian Diana melerai pelukannya dan menghampiri Julian.
"Tante pulang dulu, jangan nakal! Besok sebelum berangkat ke kantor Tante ke sini dulu buat jemput kalian," kata Diana.
"Yes, Tante. Hati-hati, kalau Tante rindu Ian, call me, oke!" kata Julian.
"Iya, Sayang. Pasti," kata Diana seraya mencubit gemas pipi Julian.
"Carol, mobil yang ada di garasi gue pake, ya. Biar gue ngga kerepotan bawain barang-barang gue," kata Diana.
"Iya, iya. Bawa aja sonoh, gue sengaja beli mobil emang buat keperluan kita," kata Carol.
Sebenarnya Diana juga bisa membeli mobil, karena dia memiliki tabungan yang lumayan banyak setelah dua tahun bekerja di negara A.
Namun, dia merasa tidak enak hati jika harus berlainan mobil jika pergi bepergian. Lagi pula mereka bekerja di tempat yang sama, apa salahnya kalau pergi berbarengan pikir Diana.
Setelah berpamitan kepada Carol dan Julian, Diana terlihat keluar dari kamar itu. Dia ingin segera tiba di dalam rumah sederhana peninggalan kedua orang tuanya.
Tiba di depan rumahnya, Diana langsung meminta kunci rumahnya itu kepada tetangganya. Setelah itu dia langsung masuk ke dalam rumah sederhana itu.
Tentu saja pertama kali yang Diana lakukan adalah masuk ke dalam kamar orang tuanya, dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur seraya memeluk guling dan memejamkan matanya.
"Panas, tanah kelahiran gue ini memang panas," kata Diana seraya membuka kemeja yang dia pakai, sehingga menyisakan kain pelindung dadanya saja yang dia pakai.
Setelah dia melempar bajunya secara sembarang, Diana terlihat merubahkan tubuhnya kembali di atas tempat tidur sederhana itu. Kemudian, dia kembali memeluk guling dan memejamkan matanya.
"Welcome Diana, selamat datang di rumah penuh kebahagiaan ini," kata Diana seraya terkekeh.
Sebenarnya perutnya sudah terasa sangat lapar, tapi dia ingin menikmati indahnya bisa merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur milik orang tuanya.
__ADS_1
Diana terasa begitu malas untuk melakukan apa pun, dia hanya ingin memejamkan matanya barang sebentar saja. Sayangnya suara dering ponsel terasa mengganggu indra pendengarannya.
"Ck! Baru juga gue rebahan, Carol udah nelpon gue aja!" keluh Diana seraya turun dari tempat tidurnya.
Diana mencari tasnya untuk mengambil ponselnya, dia ingin memaki Carol yang menganggu waktu istirahatnya.
Sayangnya, saat dia menemukan ponsel miliknya. Ternyata yang menelpon dirinya bukanlah Carol, tapi Andrew yang melakukan panggilan video call.
"Hastaga! Ngapain sih dia video call gue? Make video call segala lagi, bagaimana gua bisa ngelupain dia dengan cepat kalau dia terus menghubungi gue?" kata Diana seraya menggerutu.
Walaupun dia merasa kesal, tapi Diana terlihat berusaha untuk mengontrol emosinya. Walau bagaimanapun juga, dia merasa rindu terhadap Andrew dan ingin menatap netranya yang berwarna kebiruan itu.
Dia menghela napas sepenuh dada dan mengeluarkannya dengan perlahan, setelah itu dia duduk di tepian tempat tidur dan menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan video call dari Andrew.
Tidak lama kemudian, terpampanglah wajah tampan Andrew. Andrew terlihat tersenyum saat memandang wajah Diana, berbeda dengan dirinya.
Diana terlihat cemberut, dia takut jika dirinya tidak bisa melupakan pesona lelaki yang lebih tua tiga tahun darinya itu.
"Ya Tuhan, gue baru sampe. Baru juga gue rebahan, elu udah video call aja. Ganggu tau ngga!" keluh Diana, padahal hatinya berbunga bisa kembali menatap wajah Andrew.
"So--sorry kalau gue ganggu, gu--gue cuma mau tahu aja. Elu udah sampe apa belom," kata Andrew gugup seraya memandang Diana tanpa berkedip.
Mendengar ucapan dari Andrew, Diana nampak kebingungan. Pasalnya wajah lelaki itu terlihat memerah, bahkan dia terlihat begitu gugup.
"Elu kenapa sih? Elu sakit?" tanya Diana yang tidak sadar jika dirinya tidak memakai baju, hal itu membuat Andrew harus sekuat tenaga menjaga kewarasannya.
Dia baru saja bangun, dia rindu dengan wanita yang sudah dia anggap sahabat itu. Namun, justru dia malah harus melihat dada Diana yang terlihat akan tumpah dari tempatnya.
"Gu--gue, itu, Anu. Ehm!" Andrew berdehem beberapa kali, tapi tatapan matanya tetap tidak beralih dan terus menatap Diana.
"Elu kenapa aneh banget sih? Oh iya, di sana masih pagi. Pasti elu baru bangun tidur, mandi gih biar waras," kata Diana seraya terkekeh.
"Elu yang bikin gue ngga waras," kata Andrew.
"Gue?" tanya Diana seraya menunjuk wajahnya sendiri.
Andrew terlihat mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali, lalu dia menunjuk ke arah dada Diana dengan jari terlunjuknya.
Diana langsung menunduk dan menatap dadanya, saat sadar jika dirinya tidak memakai baju. Diana langsung menutup panggilan video call dari Andrew.
"Hastaga! Kenapa gue ceroboh?" tanya Diana seraya memukul-mukul keningnya dengan jantung yang berdetak dengan cepat.
__ADS_1
****
Selamat siang kesayangan, selamat beraktifitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeki, sayang kalian semua. Jangan lupa tinggalkan like dan juga komentarnya, terima kasih.