After Six Years

After Six Years
Ketakutan


__ADS_3

Walaupun merasa sangat enggan untuk pulang, akhirnya Jonathan memutuskan untuk segera pergi karena tidak enak hati. Carol mengantarkannya sampai di halaman rumahnya.


Jonathan terlihat tersenyum, lalu menganggukkan kepalanya sebelum dia pergi menuju kediaman Anderson.


Saat tiba di kediaman Anderson, Jonathan langsung di berondong pertanyaan oleh Berlin. Karena tadi siang Berlin kembali ke kantor putranya itu, dia berniat ingin mengatakan jika hasil tes DNA'nya akan keluar dua minggu lagi.


Sayangnya, saat dia ke sana. Jonathan tidak ada di tempatnya, Leo mengatakan jika tuanya itu sedang pergi entah ke mana.


Maka dari itu Berlin terlihat begitu kesal, dia kembali ke rumahnya dengan perasaan yang


sedih dan kecewa.


"Dari mana saja kamu? Kenapa pulang selarut ini? Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Berlin tidak sabar.


Melihat kekhawatiran di wajah ibunya, Jonathan tersenyum. Lalu, dia memeluk ibunya yang begitu dia sayang dan mengecup keningnya dengan lembut.


"Tidak tidak ada masalah, Mom. Hanya saja aku ingin pergi untuk menenangkan diri," jawab Jonathan.


"Seharusnya kamu memberitahukan hal ini kepada, Mom. Biar Mom tidak cemas," kata Berlin.


"Aku hanya pergi ke pantai," jawab Jonathan.


Jonathan terlihat melerai pelukannya, kemudian dua duduk di atas sofa. Berlin mengikuti putranya, lalu duduk tepat di samping Jonathan.


Dia menatap wajah putranya tersebut dengan penuh tanya, wajah Jonathan terlihat begitu sumringah. Sudah sangat lama sekali dia tidak melihat akan hal itu.


"Sepertinya wajah kamu begitu sumringah? Ada apa? Cerita sama Mom," kata Berlin.


Jonathan terlihat tersenyum-senyum kala mendapatkan pertanyaan seperti itu dari ibunya, dia malah teringat akan kebersamaannya bersama dengan Carol dan juga Julian.


"Mom tahu, tadi saat di pantai aku bertemu dengan Julian dan juga Carol. Ternyata benar kata Mom, Julian sangat mirip denganku," kata julian seraya mengingat-ingat wajah Julian yang begitu mirip dengannya.


"Mom sudah bilang jika dia pasti putramu, tapi... untuk memperkuat dugaan, Mom sengaja melakukan tes DNA," kata Berlin.


"Terserah Mom saja, yang pasti aku sangat yakin kalau dia adalah putra aku. Lagi pula Leo sudah menyelidikiny, jika memang benar Carol yang sudah aku tiduri enam tahun yang lalu," kata Jonathan.


Wajah Julian tiba-tiba saja berubah menjadi lesu kala mengingat dosa yang sudah pernah dia lakukan, dia benar-benar merasa bersalah karena sudah merenggut paksa mahkota Carol.


Dia tidak menyangka jika wanita yang dia tiduri itu bukan wanita malam yang dikirim oleh Leo, tapi wanita baik-baik.


"Kamu harus bersemangat, kamu harus bisa. mengambil hati keduanya. Tapi ingat, kamu harus berkata jujur terlebih dahulu. Biar semuanya jelas," kata Berlin.


"Akan kucoba," kata Jonathan tidak yakin.


Dalam hati dia merasa takut, dia takut kalau Carol dan juga Julian malah akan membenci dirinya jika dia berkata jujur.


"Hem, sekarang mandi dan tidurlah," kata Berlin.

__ADS_1


"Yes, Mom," jawab Jonathan.


Jonathan terlihat mengecup kening ibunya dengan lembut, kemudian dia segera pergi menuju kamarnya. Dia ingin mandi dan beristirahat.


Di lain tempat.


Leo yang terlalu lelah mengerjakan tugas dari Jonathan sampai tidak sempat makan malam, atasannya itu selalu saja seenaknya pergi dan menyerahkan banyak tugas padanya.


Namun, dia tidak bisa protes. Karena upah yang Jonathan berikan memang sepadan dengan tugas yang dia kerjakan.


"Ck! Laper, dia selalu saja seenaknya memerintah!" keluh Leo.


Leo membuka buka jas yang ia pakai, lalu dia melemparkannya secara asal. Setelah itu, dia langsung mentalakan mesin mobilnya dan segera pergi dari sana.


"Sepertinya aku makan di sini saja, kata Leo ketika melihat beberapa pedagang yang menjajakan dagangannya di pinggir jalan.


Leo langsung menepikan mobilnya, lalu dia turun dari dalam mobilnya dan berjalan menuju kang nasi goreng sea food.


"Sepertinya enak," gumam Leo.


Leo terlihat memesan satu porsi nasi goreng, lalu dia duduk anteng menunggu makanan tersebut siap.


Sambil menunggu, Leo terlihat mengedarkan pandangannya. Ternyata banyak muda-mudi yang keluar malam hanya untuk mengisi perutnya di sana.


Bahkan, ada juga sepasang kekasih yang terlihat bercanda berduaan. Sedangkan makanan hanya dijadikan alasan untuk mereka bisa keluar bersama.


"Aku sudah bilang, aku tidak mau sama kamu!"


"Kamu harus mau sama aku, aku tuh beneran cinta sama kamu. Kamu tahu sendiri bukan jika aku ini selalu saja bsrusaha untuk ada untuk kamu, jangan menghindar terus."


Lelaki itu tetap tidak mau pergi dari hadapan wanita yang terlihat begitu kesal menatap dirinya, tapi lelaki itu seolah tidak peduli.


"Tapi, Duck. Aku tidak menyukai kamu sebagai seorang kekasih, aku menganggap kamu sebagai teman saja."


"Vangke banget sih kamu tuh, aku tuh dari dulu suka sama kamu. Kamunya aja yang malah ngejar-ngejar lelaki yang susah kamu gapai, mending sama aku aja udah."


Saat melihat nasi goreng seafood yang dia pesan diantar oleh abangnya, Leo merasa sangat senang.


Perutnya keroncongan sudah tidak sabar untuk diisi, tapi sebuah perdebatan antara seorang perempuan dan lelaki yang tidak jauh darinya membuat rasa laparnya berubah menjadi rasa kesal.


Dia terlihat menolehkan wajahnya ke arah dua orang yang sedang berdebat itu, awalnya dia ingin menegur kedua orang yang sedang beradu argumen itu.


Akan tetapi, setelah melihat siapa yang berdebat Leo malah terdiam mematung seraya memperhatikan apa yang mereka debatkan.


"Merlin," ucapnya lirih.


Dia melihat dengan jelas jika lelaki yang dipanggil Duck itu terlihat begitu memaksa, bahkan kali ini Duck terlihat menarik pergelangan tangan Merlin agar mau mengikuti langkahnya.

__ADS_1


Saat tiba di depan mobilnya, pria itu tidak terlihat membuka pintu mobilnya dan membanting tubuh Merlin dengan paksa.


Melihat akan hal itu, Leo merasa jika dirinya tidak bisa tinggal diam. Dia langsung bangun dan menghampiri Duck, tanpa aba-aba dia langsung melayangkan bogem mentahnya.


Dia begitu merasa kesal saat melihat Duck yang memperlakukan Merlin dengan seenaknya, wanita itu memang pongah. Namun, Leo merasa tidak suka saat ada pria lain yang memperlakukan Merlin seperti itu.


"Brengsek! Siapa elu, hah? Berani sekali mukul gue," kata Duck seraya mengusap ujung bibirnya yang berdarah.


Merlin yang mendengar perdebatan antara Duck dan juga Leo langsung keluar dari dalam mobil, dia merasa sangat senang saat melihat Leo dan langsung bersembunyi di balik tubuh Leo.


"Terima kasih," ucapnya pelan tapi Leo masih bisa mendengarnya.


"Kamu ngapain malah sembunyi di balik tubuh dia? Buruan masuk, aku bakalan anterin kamu, cepet!" kata Duck.


Duck mencoba untuk menarik paksa kembali Merlin dari belakang tubuh Leo, tapi dengan cepat Leo menepis tangan Duck dengan kencang.


Duck merasa kesal dan marah, dia langsung mengepalkan kedua tangannya dan hendak memukul Leo.


Namun, dengan cepat Leo menghindar dan memukul perut Duck dengan sangat kencang. Duck terlihat mengaduh kesakitan, bahkan dia sampai tersungkur karena tidak kuat menahan bobot tubuhnya yang terhuyung ke belakang.


"Jika anda memang menyukai seorang wanita, bersikaplah dengan baik. Bukan memperlakukannya seperti binatang," kata Leo.


Setelah mengatakan hal itu, Leo langsung pergi dari sana. Merlin yang ketakutan terhadap Duck langsung mengikuti langkah Leo.


Duck sebenarnya masih ingin memberikan pelajaran kepada Leo, tapi dia merasa jika dirinya tidak sebanding jika harus beradu otot dengan Leo yang memang sudah terlatih.


Akhirnya Duck memutuskan untuk segera pergi dari sana, dia bisa menemui Merlin lain waktu, pikirnya.


"Kang, nasi gorengnya bungkus aja," pinta Leo.


Napsu makannya sudah menghilang, dia lebih baik memilih pulang dan merendam tubuhnya dengan air hangat. Urusan perut bisa nanti, pikir Leo.


"Iya, Jang!" sahut Kang nasi goreng.


Setelah membayar nasi goreng yang Leo beli, dia terlihat hendak masuk ke dalam mobilnya. Namun, langkahnya terhenti kala Merlin menarik ujung kemeja yang Leo pakai.


"Ada apa?" tanya Leo.


"Tolong antarkan aku pulang," kata Merlin seraya menunduk malu dan tidak enak hati.


Leo terlihat menghela napas berat, kalau dia tidak mengantarkan Merlin pulang, rasa kasihan sudah mendominasi di dalam hatinya.


"Masuklah!" kata Leo.


"Terima kasih," kata Merlin seraya memeluk tubuh Leo. Saat menyadari kesalahannya, Merlin langsung melerai pelukannya. Kemudian, dia menatap Leo dan berkata. "Maaf," ucapnya penuh sesal.


"Tidak apa, masuklah!" ucap Leo dengan wajah datar tanpa ekspresi, padahal hatinya berdebar tidak karuan.

__ADS_1


***


Selamat siang kesayangan, selamat beraktifitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky, sayang kalian selalu. Terima kasih sudah meninggalkan jejak komentar.


__ADS_2