After Six Years

After Six Years
Rencana Pulang


__ADS_3

Lima tahun kemudian.


Seorang anak kecil sedang merajuk karena tidak mau dipisahkan dari pengasuhnya, Nancy. Wanita berusia tiga puluh lima tahun yang sudah mengasuhnya semenjak dia terlahir ke dunia.


Bukan maksud Carol ingin memisahkan putranya dengan Nancy, hanya saja dia ditugaskan dari perusahaan tempat dia bekerja untuk mengelola perusahaan cabang yang berada di tanah air.


Tentu saja Carol yang begitu merindukan tanah airnya langsung menyetujui, walaupun di sana sudah tidak ada rumahnya.


Tidak ada orang tua yang akan menyambutnya, tidak akan ada hal yang akan membuat dia bangga di sana. Karena justru dia malah harus kehilangan mahkotanya di negara asalnya.


Namun, setidaknya dia ingin mengunjungi pusara terakhir kedua orang tuanya. Dia juga ingin membeli sebuah rumah sederhana yang bisa dia tinggali bersama dengan Julian, putranya.


"Mommy, jahat. Aku ngga mau pisah sama Ibu," keluh Julian seraya memeluk erat tubuh Nancy.


Carol menghampiri putranya, lalu dia mengelus lembut puncak kepala anak tampan yang selalu membuat dirinya bersemangat itu. Bahkan, dia mengecup kening Julian dengan sangat lembut.


"Boy! Please, jangan mempersulit, Mom. Kita harus pergi, Mom harus bekerja," kata Carol berusaha untuk menjelaskan.


Carol terlihat menatap wajah Nancy dengan penuh harap, dia berharap jika Nancy akan membantu dirinya untuk membujuk putranya agar mau pulang ke tanah air.


Sebenarnya dia juga sangat berat untuk pulang, dia bahkan membayangkan apakah dirinya sanggup menginjakkan kakinya di tanah air?


Di tempat dia kehilangan mahkotanya, tapi keinginannya untuk memberikan kehidupan yang layak untuk Julian sangatlah besar.


Selama dua tahun ini dia bekerja dan mendapatkan upah yang sangat besar, bahkan dia bisa menghidupi Julian lebih dari kata layak.


Kini, dia ditugaskan untuk mengelola perusahaan cabang yang berada di tanah air dengan Iming-iming gaji yang lebih besar lagi.


Tentu saja Carol mau, lagi pula dia sudah bertekad untuk tidak mengungkit masa lalu kelamnya. Masa lalu yang hanya membuat dirinya sakit.


Satu malam yang membuat dirinya mendapatkan kecewa, tapi dia juga mendapatkan seorang putra yang sangat tampan dan selalu membuat dirinya berharga.


Walau bagaimanapun juga Carol merasa bersyukur karena Julian yang terlahir dari hasil pemerkosaan itu tumbuh menjadi anak yang sangat pandai, tampan dan juga selalu bisa membuat dirinya merasa bahagia.


"Ian ngga mau pergi tanpa Ibu Nancy," kekeh Julian.


Carol terlihat menghela napas berat, ini menjadi sebuah pilihan yang sulit untuk dirinya. Kalau dirinya pergi ke tanah air tentunya karirnya akan semakin bagus.

__ADS_1


Penghasilannya juga semakin besar dan dia juga bisa mempunyai rumah impiannya bersama dengan Julian, tapi keinginan putranya seakan menghambat impian dari Carol saat ini.


"Ibu akan ikut kalian pulang ke tanah air," celetuk Nancy pada akhirnya.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Nancy, mata Carol langsung berkaca-kaca. Dia langsung menubrukan tubuhnya pada tubuh Nancy, wanita yang selalu menjadi pelindung dan pengasuh untuk putranya itu.


"Apakah itu benar Kakak?" tanya Carol.


Dia seakan tidak percaya jika Nancy mengatakan hal tersebut, entah untuk membahagiakan dirinya dan juga Julian atau benar-benar dari hatinya yang benar akan ikut dengan dirinya.


"Tentu saja, untuk apa aku meneruskan hidupku di sini hanya berdua saja dengan suamiku. Aku ingin ikut pulang ke tanah air agar aku dan suamiku bisa terus bersama dengan putramu, Julian," kata Nancy.


"Lalu, bagaimana dengan pekerjaan suamimu?" tanya Carol dengan tidak enak hati.


Nancy terlihat tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Carol, selama ini suaminya bekerja dengan sangat keras dan tabungannya sangat banyak karena tidak ada anak yang harus mereka biayai.


"Hei! Selama ini aku tidak mempunyai anak dan semua uang yang diberikan oleh suamiku aku tabungkan, tabunganku sudah sangat banyak. Belum lagi upah yang selalu kamu berikan," jawab Nancy jumawa.


Melihat wajah Nancy yang terlihat kesal saat berkata seperti itu kepada Carol, membuat dirinya ingin tertawa. Namun, dia segera mengatupkan mulutnya agar tawanya tidak meledak.


"Iya-iya," jawab Carol seraya terkekeh. "Lalu, pekerjaan apa yang akan dikerjakan oleh suamimu di sana?" tanya Carol.


Carol tertawa senang dengan air mata yang berurai, dia sangat bahagia karena Nancy dan suaminya rela ikut bersama dirinya ke tanah air.


"Kalian sangat baik, aku beruntung bertemu dengan orang-orang yang baik seperti kalian," kata Carol.


"Aku pun merasa beruntung karena bisa bertemu dengan kalian, walaupun aku tidak mempunyai anak, tapi aku bisa merasakan kasih sayang yang besar dari Julian," kata Nancy yang mulai menitikan air matanya.


Malihat Carol, Nancy dan juga Julian yang saling memeluk, Diana yang sejak tadi diam saja langsung menghampiri mereka.


"Oh, akhirnya aku akan pulang dan kembali ke rumahku yang sederhana itu," kata Diana kegirangan seraya mengusap puncak kepala Julian.


Ya, Diana pun sama dengan Carol. Dia bekerja di perusahaan yang sama dengan Carol dan mereka berdua ditugaskan untuk mengelola perusahaan cabang yang berada di tanah air.


Carol merasa sangat kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Diana, dia sempat berpikir jika mereka pulang nanti Diana akan memilih untuk tinggal bersama dengan dirinya, Julian dan juga Nancy dan suaminya.


Namun, ternyata kak Diana mempunyai rencana yang lain. Akan tetapi, Carol tidak bisa memaksa.

__ADS_1


"Elu nggak mau tinggal di rumah gue nantinya?" tanya Carol.


Dengan cepat Diana menggelengkan kepalanya, tentu saja dia begitu merindukan rumah sederhananya yang sudah enam tahun ini dia tinggalkan.


Rumah peninggalan dari kedua orang tuanya, yang walaupun kecil tapi dia sangat betah tinggal di rumah itu.


"Gue rindu rumah emak gue, sorry. Tapi gue jamin tiap hari gue bakal mampir ke rumah elu buat nemenin Julian," kata Diana.


Dia menunduk dan langsung mengangkat tubuh bocah tampan itu, lalu dia memeluknya dengan erat.


"Kamu senang Julian, ibu Nancy juga akan ikut pulang ke tanah air?" tanya Diana.


"Senang, sangat senang. Ian senang," kata Julian seraya mengecupi setiap inci wajah Diana, wanita yang selalu terlihat begitu menyayangi dirinya itu.


"Oh, syukurlah. Kalau begitu sekarang kita bersiap, dua hari lagi kita akan pulang," kata Diana.


"No, aku lahir di sini. Itu artinya aku mau merantau, bukan mau pulang. Karena tanah kelahiran Ian adalah di sini," kata Julian.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Julian, Diana langsung menolehkan wajahnya ke arah sahabatnya Carol.


"Elu punya anak kebangetan pinternya, gue jadi pengin nyubit pipi tembemnya," kata Diana seraya mencubit gemas kedua pipi Julian.


Nancy dan juga Carol hanya tertawa melihat dan mendengar apa yang dikatakan oleh Diana, mereka tidak bisa berkomentar apa pun.


"Oiya, Na. Kapan elu nikah? Elias mepetin elu malu tuh, emang elu ngga mau nikah sama dia?" tanya Carol.


Diana langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia tahu jika Elias begitu mencintai dirinya.


Bahkan, Elias selalu saja datang hanya untuk memberikan makanan kesukaan dari Diana. Sayangnya, selama ini Diana sudah menyukai Edward. Sosok lelaki yang terus saja mengejar Carol, walaupun berkali-kali Carol menolak dirinya.


"Ngga, nanti saja. Gue belum siap punya anak tampan kaya anak elu, nanti gua bisa langsung resign dari kerjaan gue." Diana tertawa menutupi perasaannya.


Terkadang Diana merasa cemburu kepada Carol, karena walaupun hidupnya melalui banyak cobaan, tapi banyak orang yang begitu mencintai diri Carol.


Menyayangi dan mengasihi serta memberi bantuan yang banyak kepada Carol, tidak seperti dirinya yang terkadang hanya bisa menginginkan tanpa kesampaian.


Namun, berulang kali Diana menyadarkan dirinya jika setiap nasib dan takdir seseorang itu berbeda-beda. Tidak ada yang sama.

__ADS_1


****


Selamat sore kesayangan, happy weekend. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky, terima kasih sudah meninggalkan like dan komentnya. Sayang kalian semua, selamat malam mingguan.


__ADS_2