
Sebenarnya Carol merasa tidak enak hati karena kini dia malah sibuk memasak bersama Berlin di dapur, sedangkan Julian dan juga Jonathan terlihat begitu asik bermain di dalam kamar putra tersayangnya itu.
Bahkan mereka berdua bukan hanya main bersama, tapi Julian juga meminta Jonathan untuk memandikannya.
Dengan senang hati Jonathan memandikan putra kandungnya itu, baru kali ini Jonathan merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
Dia benar-benar merasa bersyukur, karena Carol memberikan kesempatan kepada dirinya untuk bisa berduaan saja dengan Julian.
Merasakan kebahagiaan yang luar biasa bersama dengan putranya, membuat Jonathan bertekad untuk segera menghalalkan hubungannya dengan Carol.
Sungguh dia tidak bisa memendam keinginannya untuk bisa segera tinggal satu atap dengan Carol dan juga Julian, dia sudah tidak sabar.
"Boy! Bagaimana kalau pake baju yang ini saja?" tanya Jonathan.
Jonathan terlihat mengambil piyama tidur berwarna hitam, karena memang Julian begitu menyukai hitam dan juga abu-abu Julian langsung menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.
Jonatan tersenyum, kemudian dengan telaten dia memakaikan baju pada putranya yang berusia lima tahun itu.
"Kamu sangat tampan," kata Jonathan seraya mengelus lembut pipi putranya.
Julian merasa senang karena mendapatkan pujian dari Jonathan, dia bahkan langsung berdiri di depan cermin, lalu menatap wajah dirinya juga wajah Jonathan secara bergantian dari pantulan cermin.
"Hem, kaya Om Joe. Sama," kata Julian.
Setelah mengatakan hal itu, Julian nampak melompat ke dalam pelukan Jonathan. Jonathan terkekeh, lalu dia mengangkat tubuh mungil putra tampannya dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar tersebut.
Jonathan langsung membawa Julian untuk masuk ke dalam dapur, dia ingin melihat persiapan makan malamnya. Apakah sudah selesai atau belum, pikirnya.
Pada saat dia tiba di dapur, ternyata Carol dan juga Berlin sudah menyelesaikan masakannya. Nancy terlihat membantu menata makanan yang sudah disajikan di atas piring ke dalam ruang makan.
Melihat putranya datang dengan wajahnya yang terlihat begitu tampan dan juga wangi, Carol tersenyum, kemudian dia mengecup pipi putranya yang berada di dalam gendongan Jonathan.
"Kamu sangat wangi, pintar sekali anak Mom mandi sendiri," kata Carol.
"No, aku dimandikan sama Om Jo," kata Julian.
Carol terlihat kaget dan juga tidak enak hati, rasanya seharian ini dia benar-benar membuat Jonathan kelabakan.
Karena terus saja merepotkan pria itu, tapi ternyata Jonathan tidak merasa direpotkan sama sekali. Dia terlihat begitu bahagia.
Justru hal seperti ini yang Jonathan inginkan, karena dengan seperti itu dia bisa berusaha untuk menebus kesalahannya di masa lalu terhadap Carol.
__ADS_1
"Maaf, karena hari ini aku benar-benar merepotkan kalian," kata Carol.
Carol bisa melihat dengan jelas wajah lelah Jonathan, dia juga bisa melihat dengan jelas wajah Berlin yang terlihat kelelahan. Walaupun bibirnya terus saja tersenyum.
"Tidak apa-apa, justru aku sangat bahagia. Aku senang bisa direpotkan oleh kalian," kata Jonathan.
Jonathan terlihat begitu semangat sekali, walaupun dia merasa lelah, tapi dia merasa jika rasa lelahnya itu entah menguap ke mana saat melihat Carol dan juga Julian.
"Ehm, ayo kita makan malam dulu. Ngobrolnya nanti dilanjutkan lagi," ajak Berlin.
Berlin sengaja mengatakan hal itu, agar kebersamaan mereka tidak sia-sia. Namun, kebersamaan mereka harus penuh makna.
"Ah iya," jawab Jonathan dan Carol bersamaan. Akhirnya mereka berjalan beriringan menuju ruang makan.
Di kediaman Bram.
Kebersamaan Leo dan juga Merlin terlihat mengalir begitu saja, tidak ada kecanggungan di antara keduanya.
Apalagi ketika Leo membantu Merlin yang memasak di dapur, mereka terlihat bekerja sama dengan kompak.
Lebih tepatnya Merlin yang membantu Leo untuk memasak, karena ternyata Leo lebih jago memasak ketimbang Merlin yang memang jarang sekali untuk menginjakkan kakinya di dapur.
Hal itu membuat Bram terlihat begitu senang, karena baru kali ini dia melihat keceriaan di wajah putrinya.
"Apa masaknya sudah selesai? Daddy sudah lapar," kata Bram.
"Sudah, Dad. Daddy pasti ngga akan kecewa, Leo pandai sekali dalam memasak," puji Merlin.
"Ah, tidak juga," balas Leo malu-malu.
Tinggal sendiri di rumahnya, membuat Leo setiap pagi akan membuat sarapan untuk dirinya sendiri. Bahkan ketika pulang bekerja pun, dia akan memasak untuk dirinya sendiri
Dia begitu jarang memesan makanan dari Restoran, menurutnya memasak sendiri selain lebih murah juga lebih higienis dan sehat.
Karena Leo tahu cara memasaknya seperti apa, Leo juga akan membersihkan sayuran ataupun ikan dan bahan masakan lainnya yang akan dia masak dengan bersih sempurna.
"Syukurlah kalau sudah matang, Dad sudah lapar," kata Bram seraya mengelus lembut perutnya yang terlihat membuncit.
Merlin terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya tersebut, kemudian dia mengambil makanan yang sudah dimasak oleh Leo dan menatanya di atas meja makan.
Bram benar-benar begitu bahagia melihat perubahan pada diri putrinya, Merlin benar-benar jauh berbeda ketika berada di samping Leo.
__ADS_1
Dengan menyaksikan hal itu, Bram semakin yakin jika Leo menikah dengan Merlin, maka Merlin akan berubah menjadi sosok wanita yang lebih baik.
"Hem, makanannya enak. Kamu pandai sekali memasak, Merlin saja kalah," kata Bram setelah memasukkan satu sendok nasi beserta lauknya ke dalam mulutnya.
"Dad!" protes Merlin.
Dia merasa malu kala ayahnya mengatakan hal itu, memang benar adanya jika dirinya tidak bisa memasak. Namun, ayahnya tidak seharusnya membicarakan hal itu di hadapan Leo, rasanya dia benar-benar sangat malu.
''Itu nyata, Sayang," kata Bram seraya terkekeh.
Makan malam kali ini berjalan dengan sangat lancar, tidak ada kecanggungan sama sekali di antara Merlin dan juga Leo, karena Bram begitu pandai mencairkan suasana.
Saat ini Merlin benar-benar baru menyadari jika ternyata bersama dengan Leo adalah hal yang begitu membahagiakan, dia merasa menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura menjadi orang lain saat bersama dengan Leo.
"Ini sudah malam, sudah saatnya aku pulang," kata Leo seraya melirik jam tangan yang ada di tangan kirinya. Ternyata waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
Setelah mereka makan, mereka akhirnya memutuskan untuk berkumpul di ruang keluarga. Mereka mengobrol ke sana kemari membahas hal yang menurut mereka lucu.
Leo memang merasa enggan untuk pulang, karena masih merasa betah saat bercanda bersama dengan Merlin.
Namun, dia sangat sadar jika seorang pria lajang seperti dirinya tidak boleh berlama-lama bertamu di rumah perempuan. Takutnya nanti akan menjadi fitnah dan akan merugikan kedua belah pihak.
"Pulanglah, lain kali datanglah lagi. Jangan sungkan," kata Bram.
"Ah, iya, Om," jawab Leo.
"Merlin, Sayang. Tolong hantarkan Nak Leo sampai ke depan," pinta Bram.
"Iya, Dad," jawab Merlin.
Setelah berpamitan kepada Bram, akhirnya Leo langsung keluar dari kediaman Bram. Tentunya langkahnya ditemani oleh Merlin.
"Terima kasih untuk hari ini," kata Merlin tulus.
"Sama-sama, aku pulang," pamit Leo seraya membuka pintu mobilnya.
Leo terlihat masuk ke dalam mobilnya, lalu dia duduk di balik kemudi. Leo nampak hendak menutup pintu mobilnya, tapi tangan Merlin terlihat menahan tangan Leo.
"Sebentar," ucap Merlin.
Merlin terlihat menunduk, lalu dia mengecup bibir Leo dan langsung lari menuju rumahnya. Leo hanya diam mematung mendapatkan perlakuan seperti itu dari Merlin.
__ADS_1
***
Selamat malam kesayangan, selamat beristirahat. Sayang kalian selalu, Love sekebon pisang.