After Six Years

After Six Years
Begitu Sulit


__ADS_3

Keesokan harinya, Andrew benar-benar memesan kamar hotel untuk dirinya bersama dengan Diana menikmati masa pengantinnya.


Pasangan pengantin baru itu terlihat begitu rajin bercocok tanam sebelum Andrew pergi kembali ke negara A, tentunya untuk mengurusi bisnis keluarganya.


Dia sebenarnya ingin membawa Diana bersamanya, hanya saja dia takut jika Diana tidak akan mau.


Untuk saat ini dia ingin menikmati masa-masa indahnya dulu bersama Diana, biarlah urusan itu nanti mereka bicarakan belakangan.


Jika Diana setuju maka Andrew benar-benar akan mengajak Diana untuk pergi ke negara A, tapi jika istrinya itu tidak setuju Andrew akan memilih menjalankan usahanya di tanah air.


Tentu saja hal itu dia lakukan karena dia tidak ingin berpisah dengan istrinya tersebut, Andrew baru saja menyadari jika dirinya begitu mencintai Diana.


Dia tidak mungkin tahan berjauhan terlalu lama bersama dengan istri tercintanya tersebut, dia juga kini mulai memikirkan tentang berkas-berkas yang harus diurus karena dia ingin segera meresmikan pernikahannya.


Empat hari kemudian Andrew terlihat berpamitan kepada istrinya untuk pergi dan kembali ke negara A, Diana terlihat begitu sedih.


Andrew terlihat mendudukkan Diana di atas pangkuannya, dia peluk pinggang istrinya dengan erat lalu berkata.


"Jangan bersedih, aku tidak akan bisa meninggalkan kamu kalau kamu terus murung seperti ini," ucap Andrew ketika melihat Diana mulai terisak.


Diana terlihat memeluk Andrew dan menyandarkan kepalanya pada pundak suaminya, terasa nyaman dan enggan untuk melepaskan.


"Kita ini pasangan pengantin baru, tentu saja aku sangat sedih. Apakah kamu tidak merasa sedih, An?" tanya Diana.


Andrew merasa lucu dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh istrinya, tentu saja dia lebih sedih. Karena dirinya harus berpisah dengan istri tercintanya.


Namun, dia juga mempunyai tanggung jawab yang sangat besar. Tidak mungkin dia meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja.


"Tentu saja, Sayang. Aku sangat merasa sedih, tapi aku janji sama kamu. Aku tidak akan lama di sana, nanti kita bicarakan lagi. Pokoknya sampai di sana aku akan membicarakan semuanya," kata Andrew lagi.


Diana melerai pelukannya, Andrew terlihat tersenyum kala melihat wajah cantik istrinya penuh dengan air mata. Tangannya terulur lalu menghisap kedua pipi istrinya yang basah.


"Iya, sekarang kamu pergilah. Tapi ingat, kamu harus sering mengabari aku kalau di sana. Jangan cuekin, jangan selingkuh. Kalau berani selingkuh, aku bakalan potong belalai gajah kamu!" ancam Diana.


Andrew langsung terkekeh dengan ancaman dari istrinya, tapi dia suka. Istrinya kini mulai posesif, Andrew senang akan hak itu.


"Kamu kok malah ketawa, aku pites belalainya kalau kamu ketawain aku," kesal Dina.


"Ngga ngetawain, Sayang. Kamu tuh lucu banget," kata Andrew seraya tertunduk dan mengecup bibir istrinya dengan gemas.


"Ck! Awas kalau nakal, pokoknya ngga ada ampun." Dina menelusupkan tangannya ke dalam celana bahan yang Andrew pakai, lalu tangannya memelintir milik suaminya yang menegang sejak tadi.

__ADS_1


"Ouch, Sayang. Jangan!" keluh Andrew.


"Itu hukuman buat kamu, karena sudah berani ketawain aku," kata Dina dengan cemberut.


Melihat istrinya yang merajuk, Andrew menjadi tidak tahan. Dia langsung merebahkan tubuh istrinya, mengungkungnya dan menyatukan bibir mereka kembali.


"Engh!" terdengar lenguhan dari bibir Diana.


Dengan cepat Andrew melepaskan pagutannya, kemudian dia mengajak Diana untuk duduk di atas sofa.


Dia takut jika dirinya akan menggempur istrinya kembali, sebentar lagi dia harus berangkat ke Bandara.


Walaupun dia masih menginginkan kebersamaannya dengan istrinya, Andrew tidak boleh melakukan hal tersebut.


Andrew menarik lembut Diana ke dalam pelukannya, lalu dia mengecup kening istrinya beberapa kali.


Diana bisa merasakan ketulusan cinta Andrew untuk dirinya, Diana bisa merasakan kasih sayang yang besar dari suaminya untuk dirinya.


Diana terlihat memeluk Andrew dengan sangat erat, dia masih ingin merasakan hangat tumbuh dari suaminya itu. Tidak lama kemudian perempuan itu berkata.


"Pergilah, Sayang. Aku ikhlas," ucap Diana.


Mendengar perkataan seperti itu dari suaminya, Diana terlihat melerai pelukannya. Kemudian, dia menatap wajah suaminya dan memonyongkan bibirnya.


"Cium lagi," pinta Diana.


Andrew terkekeh, kemudian dia menunduk dan langsung menyatukan bibir mereka kembali dengan penuh cinta.


"Aku pasti akan merindukanmu," kata Andrew setelah tautan bibir mereka terlepas.


"Aku pun," kata Diana dengan mata berkaca-kaca.


Andrew terlihat memberikan pelukan penuh kasih sayang kepada Diana, dia bahkan terlihat berusaha untuk menenangkan istrinya agar tidak bersedih.


Jauh di dalam lubuk hatinya dia pun merasakan hal yang sama, sedih yang teramat sangat. Namun, dia harus menyelesaikan tugasnya terlebih dahulu.


Kembali Andrew memberikan ciuman perpisahan, setelah ciuman perpisahan dilakukan, akhirnya Andrew pun terlihat meninggalkan kediaman Diana.


Dia harus segera pergi ke Bandara agar tidak tertinggal oleh pesawat, walaupun sedih Diana tetap merelakan suaminya untuk pergi.


"Semoga kamu selamat sampai tujuan, Sayang. Semoga kamu tidak melupakan aku, semoga cinta kamu terus untuk aku," do'a tulus Diana.

__ADS_1


Selepas kepergian suaminya, Diana terlihat pergi ke kantor karena dia tidak ingin diam sendirian di rumah. Rasanya itu sangat menyedihkan.


Setelah emoat hari ada yang menemaninya, setelah emoat hari ada yang memeluknya dan memberikan kasih sayang yang banyak untuk dirinya.


Kini dia harus kembali sendiri, rasanya sangat sepi. Dia merasa sangat sedih dan akhirnya memutuskan untuk bekerja.


Saat tiba di kantor, dia melihat Carol yang terlihat sedang tersenyum-senyum seraya mengerjakan tugasnya.


"Bahagia bener deh, gue lagi sedih. Laki gue barusan berangkat lagi," ucap Diana dengan lesu seraya mendudukan bokongnya tepat di hadapan Carol.


Carol terlihat menghentikan aktivitasnya, kemudian dia menolehkan wajahnya ke arah sahabatnya tersebut.


"Sabar, baru juga laki elu berangkat. Entar juga pulang lagi, nggak usah khawatir," kata Carol seraya terkekeh.


"Iya, elu bener. Tapi kan, gue pengantin baru. Rasanya gue nggak ikhlas harus langsung ditinggalkan sama laki gue," ucap Diana jujur.


"Iya gua paham, sekarang mendingan elu kerja deh. Biar waktu elu terisi, terus elu juga nggak uring-uringan. Semangat Diana, Sayang!" kata Carol.


"Ya, sepertinya harus seperti itu memang," jawab Diana.


Setelah mengatakan hal itu, akhirnya Diana terlihat mengerjakan pekerjaannya. Begitupun dengan Carol, mereka berdua terlihat sibuk saat berada di kantor.


Saat sore hari tiba, Carok terlihat bersemangat untuk pulang ke kediaman Anderson.


Tentu saja karena selain bertemu dengan Julian, putranya. Kini ada Jonathan yang akan dia temui, pria yang sudah menikahinya.


Pria yang sudah memberikan kasih sayang yang begitu besar kepada dirinya, pria yang saat ini menjadi tempat keluh kesah untuk dirinya.


Berbeda dengan Diana yang terlihat begitu lesu, karena untuk pulang juga dirasa akan percuma. Rumahnya seakan sepi tanpa Andrew.


"Jangan cemberut, gue pulang duluan. Laki gue udah nungguin di lobi," pamit Carol.


"Hem," jawab Diana.


Diana melihat kepergian Carol dengan rasa iri di hatinya, karena kini dia akan pulang ke rumahnya dan akan sendirian.


Sebelum dia pergi, Diana terlihat melihat layar ponselnya yang masih belum ada kabar dari suaminya.


Karena memang perjalanan ke negara A membutuhkan waktu sekitar kurang lebih dua puluh empat jam, Diana hanya bisa menghela napas berat. Kemudian, dia pun keluar dari ruangannya.


"Semangat, Diana. Semangat, jangan lembek kayak gini," ucap Diana menyemangati dirinya.

__ADS_1


__ADS_2