
Sebenarnya Carol tidak mengerti kenapa Jonathan begitu antusias untuk bertemu dengan putranya, Julian.
Bahkan, dia juga merasa tidak paham dengan arti tatapan yang selalu Jonathan tunjukkan untuk dirinya.
Jika Carol perhatikan, ada rasa sesal, sedih, senang dan juga tatapan yang begitu sulit untuk diartikan saat dirinya menatap Jonathan.
Padahal, dia merasa jika dirinya tidak mengenal Jonatan sama sekali. Mereka tidak akrab, hanya dua kali bertemu dan itu pun karena tidak disengaja.
Dia memang pernah berusaha untuk mencari tahu siapa Jonathan, karena saat dirinya mengandung selalu saja ingin menatap wajah pria tampan itu.
Bahkan, setelah dia melahirkan pun Jonathan selalu menjadi penyemangat untuk dirinya agar bisa menyelesaikan kuliahnya dan mewujudkan impiannya, yaitu menjadi pengusaha yang sukses.
Ini adalah pertemuan ketiganya dengan Jonathan, pertemuan yang memang tidak direncanakan.
Entah kenapa, dia merasa jika Jonathan begitu menginginkan untuk bisa bersama dengan dirinya dan juga Julian.
Bahkan, pria itu malah sampai membawa ibunya untuk bisa bertemu dengan dirinya dan Julian.
'Aku tidak boleh kepedean, bisa saja Jonathan itu menyukai putraku. Karena wajah mereka sangat mirip,' batin Carol.
"Selamat pagi, Sayang. Kenapa malah bengong? Ayo berangkat," ajak Berlin.
"Eh? Iya," jawab Carol.
Jonathan terlihat menggendong Julian dengan penuh kasih sayang, kemudian dia membukakan pintu mobil dan mendudukkan putranya itu di bangku yang berada di samping kemudi.
Dia tersenyum lalu memasangkan anak itu sabuk pengaman, dia memutari mobilnya untuk segera masuk agar bisa duduk di balik kemudi.
Berlin tersenyum, kemudian dia mengajak Carol untuk masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku penumpang.
Carol semakin tidak mengerti, kenapa Jonathan begitu memperlakukan putranya dengan sangat istimewa.
Namun, untuk saat ini dia tidak mau banyak praduga. Lebih baik segera pergi untuk mendaftarkan anaknya sekolah, karena satu minggu lagi masa sekolah akan dimulai.
Dia tidak mungkin membiarkan anaknya tertinggal pelajaran, karena Julian memang sudah waktunya memulai pendidikannya.
"Kita langsung ke sekolahan kamu dulu, Jo. Di sana lengkap banget loh, dari TK sampai SMA," kata Berlin bersemangat.
__ADS_1
Carol benar-benar tidak paham, kenapa Berlin dan juga Jonathan terlihat begitu bersemangat sekali.
Padahal, dia saja merasa takut untuk pergi. Bukan karena tidak ada uang, tapi dia takut jika pihak sekolah akan menolak putranya karena dirinya memang tidak bersuami.
"Kita akan ke mana, Tante?" tanya Carol.
Mendengar pertanyaan dari Carol, Berlin langsung menyebutkan nama sekolah ternama yang berada di pusat kota.
Carol sangat was-was mendengarnya, karena di sana persyaratan yang harus lengkap. Carol sempat membacanya dan dia tidak berani untuk mendaftarkan anaknya ke sana.
"Tapi, Tante--"
"Ada Tante, Sayang." Berlin mencoba menguatkan.
Carol terlihat menghela napas berat, mereka tidak tahu jika Julian lahir tanpa ayah, pikirnya. Sudah pasti jika Carol datang, Julian pasti akan ditolak.
Itu artinya, Julian akan sakit hati. Begitupun dengan dirinya, Carol bahkan takut jika Julian akan tahu jika putranya itu terlahir tanpa ayah.
Tiba di depan sekolah tempat di mana Jonathan dulu menimba ilmu, Berlin begitu antusias turun dari mobilnya.
Begitupun dengan Jonathan, dia langsung menggendong Julian dengan penuh kasih dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam sekolah tersebut.
"Selamat pagi, Nyonya Berlin. Ada perlu apa?" tanya Tuan Martien, sang pemilik sekolah.
"Saya mau mendaftarkan cucu saya untuk bersekolah," jawab Berlin bersemangat.
Tuan Martien langsung mengerutkan dahinya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Berlin, semua orang tahu jika Jonathan sang pengusaha muda dan juga sukses belum menikah sampai saat ini.
Lalu, Berlin berkata jika dia akan mendaftarkan sekolah untuk cucunya. Cucu siapa, pikir Martien.
"Cucu? Cucu yang mana? Bukankah Tuan Jonathan belum menikah?" tanya Tuan Martien.
Wajah Carol berubah pias, dia benar-benar takut jika Julian tidak akan bisa bersekolah di sana. Sudah dapat dipastikan jika tuan Martien akan menanyakan ayah dari Julian.
"Julian memang belum menikah, tapi akan secepatnya menikah. Aku mau mendaftarkan cucuku, Julian untuk bersekolah di sini. Bisa?" tanya Berlin.
Untuk sesaat, tuan Martien terdiam. Dia melihat wajah Carol, Berlin Jonathan dan juga Julian secara bergantian.
__ADS_1
Tidak dapat dipungkiri jika wajah Julian dan juga Jonathan begitu sama, tuan Martien pun jadi berpikir jika Julian pasti sudah melakukan kesalahan bersama dengan seorang wanita sampai melahirkan seorang putra yang begitu tampan dan begitu mirip dengan dirinya.
"Baiklah, saya akan memprosesnya," jawab Tuan Martien.
Carol terlihat bisa bernapas dengan lega mendengar apa yang dikatakan oleh tuan Martien, Tapi satu hal yang Carol tidak paham.
Kenapa Jonathan dan juga Berlin terlihat begitu antusias untuk mendaftarkan anaknya sekolah, dia juga begitu tidak paham kenapa Berlin terlihat begitu ingin meyakinkan kepada tuhan Martien jika Julian adalah cucunya.
"Bagus, saya memercayakan semuanya kepada anda. Untuk biayanya nanti saya transfer," kata Berlin.
"Untuk anda, secepatnya akan saya proses. Oiya, Nyonya--"
Tuan Martien terlihat menghentikan ucapannya, lalu dia menetap Carol dengan penuh tanya.
"Saya Carolina Sebastian, apa ada yang mau ditanyakan?" tanya Carol.
Sebenarnya, tidak bertanya seperti Itupun Carol tahu jika dirinya pasti akan ditanya tentang data kelengkapan saat dia mendaftarkan putranya untuk bersekolah.
"Oh, itu. Saya hanya butuh ktp anda, akta lahir putra anda dan ktp tuan Jonathan," jawab Tuan Martien. Tentu saja untuk mendaftarkan Julian sekolah memerlukan data kelengkapan diri
"Oh, sebentar," jawab Carol yang memang sudah mempersiapkannya.
Dia terlihat mengambil akta lahir Julian dan juga KTP miliknya yang berada di dalam tas dan memberikannya kepada tuan Martien, Jonathan melakukan hal yang sama. Dia merogoh saku celananya, lalu mengambil dompetnya dan mengeluarkan KTP miliknya.
Untuk sesaat tuan Martien terdiam ketika melihat status Carol dan juga Jonathan yang masih lajang, Berlin seakan paham. Dia tersenyum lalu berkata.
"Mereka akan secepatnya menikah, jangan khawatir," ucap Berlin.
Sontak Jonathan dan juga Carol langsung menatap ke arah Berlin, karena Berlin mengatakan hal itu benar-benar di luar dugaan mereka.
Dalam hatinya Jonathan terlihat begitu bahagia, ketika Berlin mengatakan hal itu. Berbeda dengan Carol yang terlihat kebingungan.
Namun, beberapa detik kemudian Carol menyadari satu hal. Mungkin saja hal itu sengaja dilakukan oleh Berlin agar tuan Martien mau menerima putranya untuk bersekolah di sana, pikirnya.
"Oh, baiklah. Kalau begitu secepatnya akan kami proses," kata Tuan Martie seraya memasukan data Julian ke dalam laptop yang ada di hadapannya.
***
__ADS_1
Selamat pagi, selamat beraktifitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky, sayang kalian selalu.