
Jonathan dan juga Carol terlihat menghampiri Julian, lalu mereka duduk di samping kanan dan kiri Julian.
Jonathan mengelus puncak kepala putranya, begitupun dengan Carol. Julian tersenyum lebar, lalu berusaha untuk memejamkan matanya kembali.
"Selamat malam, Mom, Dad." Julian berucap dengan mata yang tertutup.
"Ya, Sayang. Semoga mimpi indah," kata Carol.
Tidak lama kemudian, Julian kembali tertidur. Carol dan Jonathan sempat saling pandang, kemudian mereka tersenyum canggung.
Tentu saja mereka mereka merasa canggung setelah sempat berciuman tadi, karena mereka tidak menyangka jika apa yang sedang dilakukan malah terlihat oleh Julian.
"Ehm, aku harus pulang. Maaf untuk yang tadi," kata Jonathan.
Dia benar-benar merasa tidak enak hati kepada Carol, apalagi mereka belum menikah. Jonathan jadi takut jika Caro akan mengecap dirinya sebagai lelaki yang tidak baik.
"Tidak apa-apa, ayo aku, aku antar ke depan." Carol segera bangun dan terlihat berjalan terlebih dahulu.
Hal itu sengaja dia lakukan agar tidak bisa berjalan beriringan dengan Jonathan, alasannya tentu saja karena dia begitu malu jika harus berdekatan dengan pria itu.
Jonathan terkekeh melihat Carol yang salah tingkah, dia menunduk lalu mengecup puncak kepala putranya. Setelah itu, dia langsung menyusul Carol.
Tiba di halaman rumah Carol, Jonathan terlihat membuka pintu mobilnya. Namun, sebelum dia masuk, Jonathan kembali menutup pintu mobilnya itu.
Dia seakan enggan untuk berpisah dengan wanita yang sudah dia lamar itu, dia tersenyum manis dan menarik lembut tangan Carol.
Sontak saja karena kelakuan dari Jonathan membuat tubuh Carol langsung menempel pada tubuh Jonathan, dia tersenyum lalu dia peluk tubuh Carol.
"Jo! Jangan seperti ini, ini tidak baik," kata Carol.
Dia sangat tahu jika terus berdekatan dengan Carol adalah hal yang tidak baik, karena semakin lama mereka berdekatan, dia semakin ingin menyentuh wanita itu.
Dia ingin mencium bibir Carol dengan lembut, dia ingin merasakan kembali bagaimana nikmatnya bercinta dengan Carol.
"Hanya peluk, aku ngga bakal minta yang lainnya," kata Jonathan yang begitu enggan untuk berpisah dengan calon istrinya itu.
Carol hanya bisa menghela napasnya dengan berat, dia suka akan perlakuan yang dia dapatkan dari Jonathan.
Hanya saja mereka belum menikah, dia takut jika dirinya akan kebablasan. Takutnya dia akan khilaf, karena setiap kali dia berdekatan dengan Jonathan, dadanya seakan bedebar dengan cepat.
"Aku pulang dulu, kamu langsung tidur. Sepertinya untuk beberapa hari ke depan aku ngga bakal nemuin kamu," kata Jonathan.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Jonathan, Carol terlihat menunduk lesu. Rasanya dia tidak bersemangat karena Jonatahan tidak akan menemui dirinya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Carol seraya mengusakkan wajahnya di dada bidang Jonathan.
Rasanya dia tidak rela jika Jonathan tidak datang untuk menemui dirinya, dia sudah merasa nyaman saat berdekatan dengan Jonathan.
Dia sudah merasa nyaman kala mereka mengobrol bersama, apalagi ketika melihat senyum yang mengambang di bibir Julian karena kebersamaan dengan Jonathan, dia benar-benar merasa sangat senang.
Dia takut jika Jonathan tidak datang, maka Julian akan bersedih. Dia harus berkata apa kepada putranya itu, dia malah merasa bingung.
"Aku takut khilaf," kata Jonathan seraya mengurai pelukannya.
Carol langsung terkekeh mendengar ucapan dari Jonathan, lalu dia menganggukan kepalanya tanda mengerti. Walaupun pada kenyataannya terasa sangat berat.
"Lalu, bagaimana jika Julian merasa rindu kepadamu?" tanya Carol.
Jonathan menunduk, lalu dia mengecup kening Carol dengan penuh kasih. Dia merasa lucu dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh calon istrinya itu.
Dia jadi bertanya-tanya dalam hatinya, apakah mungkin Carol sengaja menggunakan nama putera mereka, tapi sebenarnya dialah yang belum berpisah tapi sudah merasa rindu dengan dirinya, pikirnya.
"Yang rindu itu kamu, apa Ian?" tanya Jonathan seraya mencuil dagu Carol.
Carol langsung tersipu malu mendengar pertanyaan dari Jonathan, tentu saja dirinya juga pasti rindu jika tidak bertemu dengan Jonathan.
Begitupun dengan putranya, pasti dia akan cerewet menanyakan keberadaan Jonathan yang tidak kunjung datang untuk menemui mereka.
Jonathan langsung tersenyum seraya mencubit gemas kedua pipi Carol, dia merasa lucu dengan jawaban Carol yang terkesan jujur.
Padahal dia sempat menyangka jika Carol tidak akan berkata dengan jujur, sepertinya Carol memang berbeda dengan wanita lainnya.
"Aku akan sering menelpon atau mungkin kita bisa melakukan video call," jawab Jonathan.
Carol tersenyum mendengar jawaban dari Jonathan, kenapa dia tidak berpikiran seperti itu, pikirnya. Padahal, sekarang jaman sudah sangat canggih.
Walaupun ada jarak yang membentang, tapi mereka tetap bisa berkomunikasi dengan berbagai aplikasi yang tersedia.
"Baiklah, kalau begitu kamu pulang gih. Sampai ketemu di hari pernikahan kita," ucap Carol.
"Hem, nanti kita nikahannya di rumah mom saja," pinta Jonathan.
"Iya," jawab Carol.
"Biar langsung bobo di kamar aku, terus Ian bobonya sama mommy," kata Jonathan.
Jonathan sengaja jujur dari awal, jika mereka akan langsung tidur bersama. Karena Jonathan sebenarnya sudah tidak tahan ingin merasakan kembali bagaimana nikmatnya bercinta dengan Carol.
__ADS_1
Enam tahun yang lalu dia merasakan kenikmatan yang tiada tara saat melakukannya bersama dengan Carol, dia sungguh rindu akan hal itu.
Jujur saja Jonathan begitu rindu saat melihat Carol yang menggeliat di bawah kungkungan tubuhnya, tentunya satu hal lagi yang Jonathan harapkan di dalam hatinya.
Semoga Carol tidak menyadari jika dirinya adalah orang yang pernah merenggut keperawanannya, sungguh Jonathan tidak berani untuk berkata jujur tentang hal itu.
Jonathan takut jika Carol benar-benar akan pergi dari dirinya membawa Julian putra yang lahir karena perbuatannya, Jonathan tidak sanggup.
"Kenapa Ian harus bobo sama mom?" tanya Carol.
"Karena aku mau menikmati malam pertama kita," jawab Jonathan.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Jonathan, Carol langsung tersipu malu. Bahkan, wajahnya kini langsung memerah.
Dia menunduk karena takut jika Jonathan akan menyadari akan hal itu, Jonathan langsung terkekeh. Kemudian, dia menunduk dan berbisik tepat di telinga Carol.
"Aku sudah tidak sabar untuk bercinta dengan kamu," bisil Jonathan.
Carol langsung membuatkan matanya dengan sempurna, dia merasa tidak percaya dengan apa yang Jonathan katakan.
Rasanya itu belum pantas untuk dikatakan oleh Jonathan, walaupun memang nantinya mereka akan menjadi suami istri.
"Jo!" seru Carol dengan suara tertahan.
Jonathan terkekeh, kemudian dia semakin mendekatkan wajahnya ke wajah calon istrinya itu. Dia sengaja ingin kembali menggoda wanitanya.
"Apa? Kenapa berteriak? Mau mencobanya sekarang?" tanya Jonathan seraya menaik turunkan alisnya.
Mendengar pertanyaan dari Jonathan, Carol benar-benar merasa malu dan juga kesal secara bersamaan.
"Haish! Kamu ngaco, pulang gih. Kamu emang harus jauh dulu dari aku, aku takut kamu perkosa," ucap Carol dengan nada bercanda.
Carol memang hanya berniat bercanda dalam mengatakan hal itu, tapi tetap saja hati Jonathan terasa mencelos.
Saat mendengar Carol mengatakan hal itu, dia benar-benar takut jika suatu saat nanti Carol tahu bahwa dirinyalah yang memerkosa dirinya.
Dia jadi berpikir di dalam hatinya, akan seperti apa hubungan rumah tangga mereka nantinya. Jonathan sangat takut kehilangan Carol dan Julian.
"Loh, kok malah bengong? Mikirin apa?" tanya Carol.
***
Sore Ayang.
__ADS_1