
Diana terlihat begitu kaget kala melihat Julian dan juga Jonathan duduk berdampingan, bahkan Julian terlihat saling menuyapi dengan Jonathan.
Wajah mereka yang terlihat begitu sama membuat Diana curiga, jika Jonathan adalah ayah kandung dari Julian.
Apalagi tidak biasanya Julian bisa dekat seperti itu dengan lelaki lain, ini sangat aneh. Dengan Andrew yang sering bertemu saja dia tidak bisa dekat seperti itu.
"Ehm, Tante boleh gabung?" tanya Diana.
Sebenarnya Diana masih ingin mengamati interaksi antara Jonathan dan juga Julian, tapi perutnya yang begitu lapar seakan tidak bisa menunggu lama lagi.
"Boleh, Na. Gabung aja," jawab Carol.
Carol sengaja segera menjawab pertanyaan dari Diana, karena Julian terlihat sedang memakan sarapannya.
Bahkan mulutnya terlihat begitu penuh dengan makanan, sehingga Julian terlihat kesusahan untuk berbicara.
"Beneran gue boleh gabung? Laper banget gue," keluh Diana seraya mengelus lembut perutnya.
Carol terlihat terkekeh mendengar pertanyaan dari Diana, biasanya Diana tidak pernah bertanya terlebih dahulu. Biasanya dia akan langsung ikut bergabung sarapan bersama dengan Julian dan juga dirinya.
Namun kali ini Diana terlihat begitu sopan sekali, mungkin karena ada Jonathan, pikirnya.
"Boleh, Na. Duduk aja, nikmati sarapan paginya," kata Carol.
"Pasti," jawab Diana bersemangat.
Setelah mendapatkan izin dari Carol, Diana langsung duduk di salah satu kursi yang ada di ruang makan tersebut.
Kemudian, dia mengambil roti isi yang sudah Carol siapkan. Dia terlihat memakan sarapan paginya dengan sangat lahap, Carol sampai menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dia sangat tahu, jika Diana pasti malas untuk keluar rumah dan tidal ada makanan yang bisa dia makan. Alhasil sepagi ini Diana sudah datang ke rumahnya.
"Mendingan elu tinggal di rumah gue aja, gue takutnya elu kelaperan kalau tinggal sendiri. Gue tau banget elu, elu males kalau urusan makanan," kata Carol.
"Ngga bisa, gue tetep mau tinggal di rumah bonyok gue. Karena gue merasa selalu dekat dengan mereka, walaupun mereka udah ngga ada," kata Diana dengan mulut penuh dengan makanan.
Julian langsung menggelengkan kepalanya melihat Diana yang berbicara dengan mulut yang penuh dengan makanan, bahkan makanannya sampai ada yang terjatuh dari mulutnya.
"Tante jorok, kalau mulutnya penuh ngga boleh ngomong," kata Julian.
"Hem," jawab Diana seraya menganggukkan kepalanya.
Susana pagi ini di kediaman Carol sangat ramai, karena Diana dan juga Julian terus saja mengobrol saat sarapan berlangsung.
Jonathan dan juga Carol janya bisa menggelengkan kepalanya, padahal Diana sudah seusia dengan Carol. Namun, tingkahnya masih sama persis seperti Julian.
__ADS_1
"Jadinya elu mau berangkat sama gue apa Pak Jo?" tanya Diana ketika akan berangkat kerja.
"Bareng elu aja," kata Carol.
"Bareng aku aja," kata Jonathan.
Melihat Jonathan dan juga Carol menjawab pertanyaan dari Diana secara bersamaan, hal itu membuat Diana tertawa dengan terbahak-bahak. Kemudian dia berkata.
"Kalian kompak sekali, gue jadi curiga. Jangan-jangan kalian berjodoh, atau mungkin Pak Jo itu beneran bapaknya Julian? Soalnya muka kalian itu sembilan puluh sembilan persen sangat mirip," celetuk Diana.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Diana, Jonathan terlihat tersedak air liurnya sendiri. Dia bahkan sampai memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.
Berbeda dengan Carol, dia terlihat memelototkan matanya kepada Diana. Takutnya Jonathan akan tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Diana.
"Aku memang ayahnya Julian, memangnya kenapa?" tanya Jonathan.
Kini Carol dan Diana yang terlihat memelototkan matanya, mereka merasa tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Jonathan.
"Serius, Pak Jo? Jadi Bapak yang--"
Belum juga Diana menyelesaikan ucapannya, Carol sudah membekap mulut Diana dengan cepat. Kemudian dia tersenyum kaku kepada Jonathan dan berkata.
"Maaf, Jo. Diana tidak bermaksud untuk--"
Jonathan tidak berkata apa pun lagi, dia sudah berusaha untuk jujur. Namun, Carol malah menanggapi dirinya seolah sedang bercanda.
Diana seolah paham, dia langsung berpura-pura harus segera pergi. Karena ingin membiarkan Carol dan Jonathan agar bisa bersama.
"Car, sorry. Gue mau ke suatu tempat dulu, elu berangkat sama Pak Jo aja. Sorry gue buru-buru, mobil elu gue bawa," kata Diana.
Belum sempat Carol menjawab apa yang dikatakan oleh Diana, Diana sudah terlebih dahulu masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya dengan cepat.
"Dia itu kenapa sih?" tanya Carol heran.
"Entah," jawab Jonathan seraya menggedikkan kedua bahunya.
"Ayo kita berangkat," ajak Jonathan.
"Sebentar, aku belum berpamitan kepada Ian.
"Aku juga," kata Jonathan.
Carol hanya menggelengkan kepalanya, walaupun seperti itu dia tetap membiarkan Jonathan untuk mengikuti langkahnya.
Selepas sarapan Julian langsung masuk ke dalam kamarnya, dia berkata akan mempersiapkan perlengkapan untuk sekolah.
__ADS_1
Padahal Julian akan masuk sekolah TK tiga hari lagi, tapi anak itu terlihat sangat bersemangat untuk merapikan peralatan sekolahnya.
"Sayang, Mom, kerja dulu," pamit Carol.
Julian yang sedang asyik merapikan bukunya itu terlihat menghampiri Carol, lalu dia melompat-lompat seakan minta digendong oleh mommynya.
Dengan senang hati Carol langsung menggendong putranya seperti anak koala, Jonathan tertawa lalu berkata.
"Om Jo juga mau berangkat bekerja, apa Ian ngga mau peluk Om?" tanya Jonathan.
"Mau," ucap Julian seraya merentangkan kedua tangannya.
Jonathan langsung mengambil alih Julian dari gendongan Carol, dia langsung mendekap tubuh Julian dan mengecupi puncak kepala putranya.
Rasanya dia sudah tidak tahan lagi untuk bisa tinggal bersama dalam satu atap yang sama, dia sudah tidak sabar untuk menghalalkan Carol.
"Mommy sama Om Jo hati-hati kerjanya, Ian tunggu di rumah. Ian ngga nakal, nanti pulangnya bareng lagi, kan?" tanya Julian.
"Ian mau Om tinggal bareng sama Ian?" tanya Jonathan.
"Mau!" jawab Julian antusias.
"Kalau begitu, minta Mommy Carol untuk mau menerima ajakan Om menikah. Agar kita bisa tinggal bersama," jawab Jonathan.
"Kalau Om sama Mommy menikah, apa itu artinya Ian boleh panggil Om Jo dengan sebutan Daddy?" tanya Julian.
"Boleh, Sayang. Sekarang juga boleh, panggil Om Jo, Daddy!" pinta Julian.
Julian terlihat begitu bahagia saat Jonathan mengatakan hal itu, tapi sebelum dia memanggil Jonathan dengan sebutan daddy, anak tampan itu terlihat menolehkan wajahnya ke arah Carol.
Dia seolah meminta izin kepada mommynya tersebut, sayangnya Carol terlihat menggelengkan kepalanya.
Julian lihat kecewa, dia langsung menunduk lesu dengan air matanya yang sudah mulai merembes dari kedua matanya.
Anak tampan itu terlihat menggantungkan harapan yang begitu besar kepada Jonathan, dia benar-benar berharap jika Jonathan bisa menjadi ayahnya.
Karena selain hobi mereka sama, kesukaan mereka juga sama. Wajah mereka pun juga sangatlah sama, jadi menurut Julian seharusnya Jonathan adalah ayah dari dirinya.
Melihat Julian yang menangis, Carol terlihat serba salah. Dia mengelus punggung Julian degan lembut.
"Sorry, Mom tidak bermaksud untuk menyakiti hati kamu. Tapi Mom dan Om Jo masih perlu pengenalan, perlu waktu untuk Mom mengenal Om Jo, sebelum kami menikah," kata Carol pada akhirnya.
"Ian sudah kenal Om jo, Om Jo orang baik. Tidak perlu berkenalan lagi," kata anak tampan itu dengan keras kepala.
****
__ADS_1
Selamat siang Bestie, selamat beraktifitas. Terima kasih sudah meninggalkan Like dan komentnya, Love seempang kong Jali.