After Six Years

After Six Years
Resmi


__ADS_3

Pagi ini aura kebahagiaan terpancar dari wajah Merlin dan juga Leo, dua insan berbeda jenis kelamin yang sedang dimabuk cinta itu terlihat berangkat menuju perusahaan Anderson secara bersamaan.


Selama perjalanan menuju perusahaan Anderson, tangan kiri Leo tetap setia menggenggam tangan kanan Merlin. Sedangkan tangan kanannya dia gunakan untuk menyetir.


Sesekali Leo akan mengecup punggung tangan Merlin dengan sangat mesra, mereka terlihat bak anak remaja yang sedang dimabuk cinta.


Mendapatkan perlakuan manis seperti itu dari Leo, sungguh Merlin merasa menjadi wanita yang begitu bahagia. Karena dia merasa begitu dicintai oleh Leo, lelaki yang sempat dia tolak itu.


Padahal, jadwal pemotretan Merlin akan dilaksanakan sekitar pukul sepuluh pagi. Namun, pagi ini dia sudah berangkat bersama dengan Leo. Karena dia tidak ingin berjauhan sebentar saja dengan pria yang sudah meluluhkan hatinya itu.


Baru kali ini Merlin benar-benar merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya, Bram ikut bahagia melihat kebahagiaan putrinya itu.


Bahkan, saat Merlin berkata akan menikah dengan Leo malam ini juga, Bram begitu bahagia. Dia langsung menyiapkan semua berkasnya, dia sendiri yang mengurus berkas-berkasnya karena tidak ingin mengganggu pekerjaan Leo dan juga Merlin.


Bram bahkan menawarkan pesta yang megah untuk kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu, sayangnya keduanya kompak menolak.


Mereka berkata jika mereka sudah berumur, tidak perlu mengadakan resepsi mewah-mewah. Mereka hanya ingin berusaha untuk menjalankan rumah tangga dengan sebaik mungkin.


Bram mengalah, padahal dia ingin sekali membuat pesta yang megah untuk putri semata wayangnya. Sayangnya Merlin tidak menginginkannya.


Namun, walaupun seperti itu dia tetap bahagia. Karena akhirnya Merlin mau berumah tangga, tidak ada Merlin yang terlihat ingin bersenang-senang saja seperti biasanya.


Setelah mengenal Leo, Merlin benar-benar berubah. Itu yang Bram suka, Leo memang bukan orang kaya, tapi mampu memberikan perubahan yang luar biasa kepada putrinya.


Tiba di kantor, Leo langsung masuk ke dalam ruangannya bersama dengan Merlin. Dengan setia wanita itu selalu saja duduk di samping prianya.


Jonathan yang baru saja datang dan ingin menanyakan tentang persiapan pernikahannya, terlihat begitu kaget.


Karena saat dia masuk Leo terlihat sedang bekerja dengan laptopnya di atas pangkuannya, sedangkan Merlin dengan setia duduk di samping Leo dan memeluk pria itu seraya menyandarkan kepalanya di pundak Leo.


Hal itu terlihat begitu manis sekali untuk Jonathan, dia jadi berpikir. Apakah nanti rumah tangga Jonathan dan juga Carol akan berjalan dengan lancar?


Apalagi jika mengingat dirinya yang belum berkata jujur kepada Carol, dia jadi takut jika mengingat akan hal itu.


"Ehm!"


Terdengar deheman yang begitu keras dari bibir Jonathan, Merlin yang sedang memeluk Leo terlihat melepaskan pelukannya. Lalu, dia menggeser letak duduknya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, kalau kalian mau bermesraan silakan saja. Yang penting pekerjaan tidak terbengkalai," kata Jonathan pengertian.


Walau bagaimanapun juga, Jonatan sangat paham jika Leo sedari dulu tidak pernah berdekatan dengan wanita.


Dia selalu tidak percaya diri dengan statusnya yang memang bukan dari kalangan orang kaya, tapi saat melihat kebersamaan Merlin dan juga Leo, Jonathan benar-benar bahagia.


Karena dia bisa melihat dengan jelas jika Merlin dan Leo saling menyayangi, mereka memiliki perasaan yang begitu tulus.


"Eh? Tuan ada perlu apa, ya?" tanya Leo.


"Tidak ada apa-apa sih, hari ini jadwal sangat senggang. Aku hanya ingin menanyakan tentang rencana pernikahanku, bagaimana persiapannya?" tanya Jonathan.


"Sudah tujuh puluh persen siap, Tuan. Pokoknya anda tenang saja, orang-orang kepercayaan saya sudah mengurusnya dengan baik," jawab Leo.


"Syukurlah, kalau begitu aku ke ruanganku terlebih dahulu," kata Jonathan berpamitan.


"Ya, Tuan," jawab Leo.


Setelah berpamitan, akhirnya Jonathan pun pergi dari ruangan Leo. Merlin kembali memeluk Leo seraya menyadarkan kepalanya di bahu pria itu.


Merlin terlihat sangat nyaman sekali, Leo pun merasa tidak terganggu dengan apa yang Merlin lakukan. Dia duduk anteng sambil memangku laptopnya dan menyelesaikan pekerjaannya.


"Jangan nakal, aku sedang bekerja. Nanti malam kamu boleh memintanya lagi," kata Leo.


Merlin tidak menjawab, dia hanya tertawa seraya menelusukan tangannya ke dalam kemeja yang Leo pakai.


Saat malam tiba, Leo dan Merlin benar-benar melangsungkan pernikahannya di sebuah gereja yang memang sudah disiapkan oleh Bram.


Pernikahan mereka berlangsung dengan khidmat, walaupun terkesan sederhana tapi tetap terlihat elegan dan juga mewah.


Malam ini Leo dan juga Merlin terlihat begitu berbahagia, pernikahan Merlin tidak dihadiri banyak orang. Hanya ada Bram, Jonathan, Berlin, Dian, Carol beserta dengan Julian.


Setelah selesai melaksanakan janji sucinya, Leo dan Merlin langsung pergi ke sebuah hotel yang memang sudah disiapkan oleh Jonathan sebagai kado pernikahan untuk asisten pribadinya itu.


Jonathan bahkan memberikan sebuah mobil mewah untuk Leo sebagai hadiah, lebih tepatnya sebagai ucapan terima kasih karena Leo selalu bekerja dengan sangat baik.


"Terima kasih, Tuan. Ini sangat berlebihan," kata Leo.

__ADS_1


"Sama-sama, berbahagialah dengan pilihan hatimu. Aku selalu mendukungmu," kata Jonathan seraya menepuk pundak Leo.


Satu minggu kemudian.


Akhirnya acara yang ditunggu-tunggu telah datang, di sore hari yang indah ini Jonathan terlihat melaksanakan janji sucinya bersama dengan Carol.


Pelataran rumah Berlin yang sangat luas di sulap menjadi tempat pernikahan Jonathan dan juga Carol, tentu saja semua itu bisa berjalan dengan lancar karena campur tangan dari Leo.


Padahal, Carol berkata jika pernikahannya ingin dilaksanakan secara sederhana saja. Namun, tetap saja pernikahan mereka terasa terkesan mewah bagi Carol.


Banyak sahabat, kerabat dan keluarga yang datang. Bahkan, semua karyawan perusahaan Anderson datang untuk memberikan selamat karena memang Jonathan yang mengundangnya.


Bagi Jonathan berbagi kebahagiaan dengan para karyawannya adalah hal yang menyenangkan, bahkan dia memberikan hadiah untuk para karyawan yang datang di hari pernikahannya itu.


Carol sempat mencebikkan bibirnya kala melihat banyaknya orang yang datang, dia merasa jika Jonathan benar-benar berlebihan. Namun, dia tidak bisa protes sama sekali.


"Aku senang karena akhirnya kita bisa menikah," kata Jonathan.


Kini Carol dan juga Jonathan sudah berada di dalam kamar milik Jonathan, setelah acara pernikahan dan acara resepsi kecil-kecilan ala Jonathan selesai, akhirnya dengan tidak sabarnya Jonathan membawa Carol ke dalam kamarnya.


Carol tidak bisa banyak protes, karena kini memang dirinya sudah menjadi istri untuk Jonathan. Beruntung putranya Julian tidak mengikuti mereka.


Berlin sangat pandai merayu, dia mengajak Julian untuk membeli mainan yang banyak. Setelah itu Berlin mengajak Julian untuk membuka mainannya di dalam kamar yang sudah disiapkan khusus untuk Julian.


Anak tampan berusia lima tahun itu begitu senang, karena selain mempunyai mainan yang banyak dia juga memiliki kamar yang baru.


Kamar bernuansa hitam dan abu-abu kesukaannya, apalagi saat melihat semua benda yang ada di dalam kamar itu semuanya berwarna hitam dan abu-abu, dia benar-benar sangat menyukainya.


"Granny, malam ini pokoknya Granny harus tidur bersama denganku." Julian berucap seolah tidak ingin dibantah.


Tentu saja Berlin langsung mengangguk setuju, karena dia tidak mau jika Julian malah meminta untuk tidur bersama dengan putranya dan juga menantunya yang baru saja melaksanakan pernikahan.


"Hem, Granny akan tidur bersama dengan Ian," jawab Berlin.


Di dalam kamar Jonathan.


Pria itu terlihat gugup sekali, kini tangannya sedang sibuk membantu membuka aksesoris yang berada di atas kepala Carol.

__ADS_1


Namun, hatinya terasa berdebar dengan sangat kencang. Beruntung tangannya tidak ikut bergetar, kalau iya pasti Jonathan akan terasa sangat malu.


"Ehm, Carol, Sayang! Malam ini kita sudah menikah, bolehkah aku meminta itu?" tanya Jonathan seraya menatap wajah Carol dari pantulan cermin.


__ADS_2