
Leo semakin mendekatkan wajahnya kepada wajah Merlin, kemudian dia langsung menyatukan bibirnya dengan bibir wanita yang pernah dia sentuh dan dia nikmati itu.
Tangan kirinya terlihat mengusap-usap paha wanita yang pernah dia gagahi itu, sedangkan tangan kanannya merambat naik dan mengusap dada Merlin dengan penuh gairah.
Merlin yang awalnya terlihat kaku, kini terlihat membalas setiap pagutan dari bibir Leo. Dia begitu menikmati pergulatan bibir yang Leo suguhkan.
Bahkan, suara desahhan tertahan terdengar keluar dari bibir Merlin. Hal itu membuat Leo semakin bersemangat untuk melakukan hal yang lebih.
Tangan kanannya dengan lihai mulai menurunkan dress yang Merlin pakai, hal itu membuat dada Merlin terpampang dengan jelas.
Leo melepaskan pagutannya, kemudian dia menatap wajah Merlin yang terlihat sayu. Leo tersenyum, kemudian ia menunduk dan mengecupi leher jenjang Merlin sampai ke dada wanita itu.
Merlin yang merasakan geli dan juga nikmat saat bersamaan terlihat menggeliatkan tubuhnya, Leo tersenyum melihat respon dari tubuh wanita yang sedang dia cumbui itu.
"Oh, Leo," desaah Merlin saat Leo menggigit puncak dada Merlin yang masih terbungkus dengan cangkangnya.
Merlin bahkan terlihat menjambak rambut Leo dengan gemas saat merasakan sensasi yang luar biasa yang sudah lama tidak dia rasakan, karena memang sudah beberapa tahun ini Merlin tidak pernah menjalani hubungan dengan pria mana pun.
Hanya Duck, sahabatnya yang malah terlihat terobsesi untuk memiliki dirinya dan mengejar-ngejar dirinya.
Sayangnya, Merlin tidak melihat ketulusan dari Duck. Duck seperti ingin memanfaatkan tubuh dan uang Merlin saja. Maka dari itu Merlin selalu menghindar dari lelaki itu.
"Oh, Leo!" rintih Merlin kala Leo mulai membuka penutup dada wanita itu.
Untuk sesaat Leo terdiam, dia memandang dada Merlin yang terlihat begitu indah dan juga menantang.
Jika menuruti keinginannya, Leo ingin sekali melahap dada Merlin dengan rakus. Karena dia begitu merindukan rasa nikmat yang disuguhkan dari tubuh wanita yang berada di hadapannya itu.
Enam tahun memang bukan waktu yang sebentar, tapi rasa dari tubuh Merlin masih dia ingat. Wanginya pun masih terasa melekat di hidungnya.
Bahkan, setiap desaahan yang keluar dari bibir Merlin masih terngiang-ngiang di telinganya.
Jeritan Merlin ketika meneriakkan namanya, masih terasa mengalun indah seperti sebuah lagu favorite yang selalu ingin dia dengar kembali.
__ADS_1
Namun, tidak lama kemudian Leo langsung memakaikan kembali penutup dada Merlin, dia juga membenahi baju Merlin yang sudah berantakan karena ulahnya.
Melihat akan hal itu, Merlin merasa bingung karena tiba-tiba saja Leo memutuskan kenikmatan yang baru saja diberikan oleh dirinya.
"Ke--kenapa?" tanya Merlin.
"Tidak apa-apa, maaf. Tidak seharusnya aku lancang," kata Leo.
Leo terlihat membenahi letak duduk Merlin, kemudian dia merapikan rambut Merlin yang juga sedikit berantakan karena ulahnya.
Lalu, dia memasangkan sabuk pengaman untuk Merlin. Untuk sesaat Leo terdiam, dia menatap wajah Merlin dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
"Aku akan mengantarkan kamu pulang," kata Leo.
Setelah mengatakan hal itu, dia memasang sabuk pengaman miliknya dan langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Bram.
Selama perjalanan menuju kediaman Bram, Leo hanya terdiam. Pandangannya lurus ke depan, tidak ada niatan sedikit pun untuk
menolehkan wajahnya ke arah Merlin.
Namun, di satu sisi yang lain dia merasa bangga terhadap lelaki yang ada di sampingnya itu. Karena Leo terkesan menghormati di dirinya sebagai wanita.
"Sudah sampai, cepatlah turun. Ini sudah sangat malam," kata Leo dengan nada dinginnya.
Leo terus saja memfokuskan tatapan matanya ke arah depan, dia sama sekali tidak berniat untuk menolehkan wajahnya ke arah Merlin.
"Iya, aku turun. Terima kasih," kata Merlin.
Merlin terlihat melepas sabuk pengamannya, kemudian dia terlihat bersiap untuk turun. Namun, saat dia sudah membuka pintu mobilnya, dia kembali mendekati Leo.
"Terima kasih," kata Merlin. Wanita itu tanpa permisi langsung mengecup pipi Leo.
Setelah itu, Merlin terlihat turun dengan tergesa dari mobil Leo. Dia langsung berlari menuju rumahnya, dia terlihat seperti anak abege yang sedang menggoda pacarnya.
__ADS_1
Mendapatkan perlakuan seperti itu dari Merlin, Leo terdiam tidak percaya.
Namun, tatapan matanya tidak terlepas dari Merlin yang pergi begitu saja dengan tangan kirinya yang terus saja mengusap pipinya.
"Apa yang sudah dia lakukan?" tanya Leo.
Walaupun bibirnya berkata seperti itu, tapi hatinya begitu berbunga. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang berterbangan dari dalam tubuhnya, hingga menggelitik sampai ke dasar perutnya.
Leo tersenyum, kemudian dia melajukan mobilnya untuk pergi menuju rumahnya. Dia tidak mau berdiam diri terus di sana, karena takut khilaf.
Di belahan dunia lainnya.
Jika di tanah air waktu menujukkan pukul sebelas malam, maka di negara A kini menunjukkan pukul sebelas siang.
Andrew terlihat sedang duduk di kursi kebesarannya, dia terlihat tidak bisa fokus akan pekerjaannya. Karena otaknya terus saja memikirkan Diana, wanita yang selama ini dia anggap sebagai seorang sahabat.
Padahal, wanita itu baru saja tiga hari tidak ditemui. Namun, dia sudah merindukannya. Di dalam hatinya dia berperang, kenapa dia bisa merasakan hal yang seperti itu?
Padahal, selama ini yang dia kejar adalah Carol. Selama ini yang dia perhatikan adalah Carol, selama ini dia selalu berusaha untuk menjadi sosok seorang ayah bagi Julian, putra dari Carol.
Lalu, kenapa dengan mudahnya hatinya berpaling begitu saja kepada Diana? Apakah perasaan yang selama ini dia rasakan kepada Carol hanya perasaan iba dan kasihan saja?
Semua pertanyaan berputar-putar di dalam otak Andrew, sayangnya dia belum menemukan jawabannya.
"Ck! kenapa aku malah gelisah seperti ini?" tanya Andrew. "Apa mungkin Diana adalah wanita yang selama ini aku suka dan selalu membuat aku nyaman? Hanya saja aku tidak sadar," ucapnya lirih.
Andrew benar-benar tidak bisa fokus dalam pekerjaannya, berkas yang sedari tadi minta dikerjakan hanya berada dalam genggamannya saja tanpa dilirik sedikit pun.
Ingatan lelaki itu hanya tertuju kepada Diana, bahkan rasanya dia sudah tidak sabar untuk menghubungi wanita yang kini sedang berada di dalam pikirannya itu.
"Sepertinya aku harus menelponnya, atau video call. Tapi, di sana sudah malam. Pasti dia sudah tidur," keluh Andrew lesu.
Andrew hanya bisa menelan pil kekecewaan, karena dia tidak bisa menelpon apalagi video call dengan Diana. Karena dia sadar, jika di tanah air kini pasti sudah hampir tengah malam.
__ADS_1
***
Selamat pagi, happy weekend Bestie. Yuk kita kemulan, jangan lupa sambil baca karya Othor. Terima kasih, sayang kalian selalu.