
Carol terlihat bingung, dia merasa bingung karena Jonathan terlihat selalu ingin dekat bersama dengan dirinya dan juga Julian.
Pria itu selalu berkata dalam kilahnya agar bisa bersama dengan dirinya dan juga Julian, entah apa maksudnya dia tidak paham.
'Boleh geer ngga sih gue, gue rasa dia suka sama gue,' bisiknya dalam hati.
"Carol, kenapa malah melamun?" tanya Jonathan.
Jonathan merasa tidak tahan, karena sejak tadi Carol malah terdiam saat dia bertanya kepada wanita itu.
Padahal, Jonathan berharap jika Carol akan segera menjawab pertanyaannya. Tentu saja menjawab dengan kata iya boleh, itulah yang Jonathan ingin dengar.
"Eh? Ngga apa-apa, aku hanya aneh saja. Kenapa kamu terlihat begitu bersemangat untuk bisa menemui Julian, padahal kalian tidak ada ikatan," kata Carol seraya terkekeh.
'Ada, Carol. Kita saling terikat, kamu adalah wanitaku dan Julian adalah putraku,' aku Jonatahan dalam hati.
"Aku suka sama kalian, boleh, kan, kalau kita sering bertemu? Kalau kamu mau, aku maunya kita langsung nikah aja. Biar kita bisa langsung tinggal satu rumah," kata Jonathan to the point.
"Me--menikah?" tanya Meyra tergagap.
Badannya terasa panas dingin kala Jonathan mengatakan hal itu, rasanya ini seperti mimpi. Mimpi di siang bolong, mimpi yang tidak akan jadi kenyataan.
"Iya, Carol. Aku mau kita menikah, aku mau hidup bersama sama kamu. Mau ya, nikah sama aku?" pinta Jonathan.
Jonathan mengatakan hal itu benar-benar dari dasar hatinya yang terdalam, dia ingin menikahi Carol bukan hanya sebatas tanggung jawab.
Akan tetapi karena dia benar-benar menyukai karakter Carol yang tidak pernah neko-neko, tentu saja dia juga sudah tidak sabar ingin bisa tinggal serumah dengan Julian, putranya.
"Oh ya ampun, kita belum saling mengenal," kata Carol dengan lesu.
Dia memang menyukai Jonathan, dia juga mengaguminya dan dia juga sangat suka dengan sikapnya yang baik terhadap Julian.
Namun, dia tidak mungkin langsung menikah begitu saja dengan Jonatahan. Setidaknya dia harus berkenalan dulu dengan Jonathan.
Setidaknya dia harus yakin terlebih dahulu, jika Jonathan menikahi dirinya bukan karena Iba. Namun, karena menyukai dirinya dan menyayangi putranya.
"Kita bisa memulai untuk saling mengenal setelah kita menikah, mau ya?" pinta Jonathan mengiba.
__ADS_1
"Jo, menikah itu bukan permainan. Pernikahan adalah hal yang sakral, jangan sampai kamu menikahi aku karena iba saja. Kamu paham kan, Jo?" tanya Carol.
"Paham, alu paham banget. Aku suka sama kamu, aku juga suka sama Julian. Aku mau nikah sama kamu bukan karena kasihan," kata Julian. 'Juga karena ingin bertanggung jawab,' sambung Jonathan dalam hati.
Sebenarnya Jonathan ingin sekali jujur kepada Carol, tapi Jonathan takut jika Carol malah akan menjauhi dirinya. Bahkan dia takut jika Carol malah akan menjauhkan Julian dari dirinya.
Dia tidak mau jika hal itu terjadi, dia baru saja merasakan nikmatnya menjadi seorang ayah. Dia tidak mau berpisah dengan Carol, ataupun dengan Julian, putranya.
"Pikirkanlah lagi, Jo. Aku tidak mau kamu menjadikan aku istri karena pemikiran yang belum matang," kata Carol.
"Intinya, kamu meminta aku untuk meyakinkan kamu, kan? Aku janji akan berusaha untuk membuat kamu yakin dengan apa yang aku minta," kata Jonathan.
Carol hanya terdiam, dia bingung harus berkata apa. Karena kalau disuruh untuk jujur, tentu saja dia ingin menerima tawaran dari Jonathan.
***
Di lain tempat.
Leo terlihat begitu kerepotan, karena semua pekerjaan dia yang harus mengerjakan. Apalgi hari ini dia harus cek lapangan, rasanya tubuhnya sangat lelah.
"Sepertinya istirahat sebentar akan terasa lebih baik," ucap Leo seraya menghempaskan bokongnya ke atas sofa.
Di studi foto yang berada di salah satu ruangan di perusahaan Anderson, Merlin baru saja selesai melakukan pemotretan.
Dia yang merasa lelah langsung masuk ke dalam pantri, dia merasa jika meminum air dingin akan sangat menyegarkan.
"Ah, segarnya!" kata Merlin seraya mengusap lehernya yang terasa basah.
Selesai minum Merlin terlihat menolehkan wajahnya ke arah ruangan milik Leo, pintu ruangan Leo yang terbuka membuat dia bisa melihat apa yang sedang Leo lakukan.
"Pasti dia sangat lelah, sepertinya membuatkan dia kopi akan lebih baik," kata Merlin.
Tangan Merlin mulai mengambil cangkir, lalu menuangkan kopi dan juga gula sesuai dengan takarannya.
Lalu, dia menuangkan air panas yang sudah dia rebus. Dia tersenyum lalu membawa secangkir kopi itu dan melangkahkan kakinya menuju ruangan milik Leo.
"Ehm, boleh aku masuk?" tanya Merlin ketika dia berdiri di ambang pintu dengan secangkir kopi di tangannya.
__ADS_1
Leo yang sedang menyandarkan tubuhnya seraya menutup matanya langsung menolehkan wajahnya ke arah Merlin, dia begitu kaget kala melihat Merlin yang sedang tersenyum hangat ke arahnya.
"Eh? Kamu mau apa?" tanya Leo seraya menegakkan tubuhnya.
"Aku mau ngasih kamu kopi, mau?" tanya Merlin.
Sebenarnya Leo masih enggan untuk berdekatan dengan Merlin, karena setiap Leo dekat dengan dirinya, dia selalu ingin menyentuh wanita itu.
Namun, dia sadar jika Merlin tidak tergapai olehnya. Merlin anak pengusaha kaya yang berprofesi sebagai model, sedangkan dirinya hanya anak yatim piatu yang mendapatkan keberuntungan.
Dia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri, saat pulang ke tanah air dia juga merasa beruntung karena diterima di perusahaan Anderson.
Dia merasa sangat bersyukur karena setelah mendapatkan pekerjaan di perusahaan Anderson, dia bisa membeli rumah dan juga mobil impiannya.
Dengan bekerja di perusahaan Anderson, Leo bisa mendapatkan gaji yang sangat besar dari Jonatahan. Gaji yang setimpal dengan apa yang dia kerjakan.
"Boleh," jawab Leo.
Merlin tersenyum, lalu dia masuk ke dalam ruangan Leo dan duduk tepat di samping pria itu. Lalu, Merlin memberikan kopi itu kepada Leo.
"Minumlah!"
"Hem, terima kasih," ucap Leo seraya menerima kopi yang Merlin berikan kepada dirinya.
Leo terlihat menyesap kopi yang dibuatkan oleh Merlin, rasanya sangat pas. Leo sangat suka, dia tersenyum kemudian menyimpan kopi itu di atas meja.
Untuk sesaat mereka terdiam, baik Merlin ataupun Leo terlihat begitu canggung. Tidak ada yang berbicara, mereka malah sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Namun, tidak lama kemudian Leo terlihat menatap Merlin, wanita yang enam tahun lalu bercinta dengan penuh gairah bersamanya.
"Maaf untuk yang semalam, seharusnya aku tidak melakukannya," ucap Leo penuh sesal.
"Ehm, tidak apa. Leo, bisakah kita memulainya lagi?" tanya Merlin.
Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Merlin, Leo nampak mengenyitkan dahinya. Dia tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh wanita yang kini berada di hadapannya itu.
"Maksudnya?" tanya Leo.
__ADS_1
***
Selamat siang menjelang sore, terima kasih sudah mampir dan meninggalkan jejak like dan juga komentarnya. Sayang kalian selalu, love seempang kong Jali.