
Diana benar-benar tidak menyangka jika Andrew akan menyatakan hal itu, Diana benar-benar tidak menyangka jika Andrew akan menanyakan hal itu.
Jujur dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Diana memang begitu mencintai Andrew. Sosok laki-laki yang selalu menjadi penolong untuk dirinya dan Carol saat berada di negara A.
Namun, rasanya untuk langsung berkata jika dia mencintai lelaki itu sangatlah sulit. Apalagi kini lelaki itu malah bertanya bernada ancaman kepada dirinya.
Diana benar-benar tidak menyangka jika Andrew akan mengancam dirinya seperti itu, tapi tetap saja dia bisa melihat sorot penuh cinta dari tatapan wajah Andrew.
"Hey! Kok malah diem aja? Aku beneran loh suka sama kamu, please Diana bilang perasaan kamu yang sejujurnya sama aku," pinta Andrew seraya menatap wajah Diana dengan lekat.
Diana terlihat membalas tatapan mata Andrew, Dia seolah sedang mencari kebohongan atas ucapan yang sudah Andrew lontarkan dari bibirnya.
Hati Diana terenyuh, karena tatapan mata Andrew begitu tulus kepada dirinya. Hanya saja dia tidak menyukai cara Andrew dalam mengungkapkan perasaannya yang terkesan terlalu memaksa.
"Na, jawab pertanyaan aku. Please," kata Andrew dengan penuh harap.
Karena merasa kasihan dan tidak tega melihat wajah Andrew yang begitu memelas, akhirnya Diana pun berkata.
"Iya, aku suka sama kamu. Tapi kamunya ngga suka sama aku, kamu tuh cu--"
Belum juga Diana menyelesaikan ucapannya, ucapan Diana seakan menghilang di udara. Karena kini bibirnya sudah dibungkam oleh bibir Andrew.
Andrew yang merasa bahagia karena Diana memiliki rasa yang sama dengan dirinya, tanpa permisi langsung menyatukan bibir mereka.
Awalnya Andrew memagut bibir Diana dengan penuh cinta, tapi lama kelamaan pagutan itu seakan berubah menjadi ciuman panas penuh hasrat.
Rasa rindu yang menggebu setelah dua minggu tidak bertemu, membuat Andrew dan Diana menginginkan hal yang lebih dari sekedar kecupan atau ciuman hangat.
Andrew bahkan sudah mengangkat tubuh Diana ke dalam gendongannya, kini Diana sudah terlihat seperti anak koala.
Mereka saling menautkan lidah dan saling mencecap rasa manis, kepala mereka terlihat oleng ke kanan dan ke kiri.
Tangan Andrew bahkan merambat untuk meremat kedua bongkahan bulat yang dua minggu lalu membuat dirinya merasa penasaran, kini bongkahan padat itu sudah berada di dalam genggaman tangannya.
__ADS_1
"Engh!" lenguhan Diana terdengar begitu seksi di telinga Andrew.
Akal sehat Diana seakan menghilang, tubuhnya seakan ringan dan terbang ke awang-awang. Diana malah terbuai akan apa yang Andrew lakukan, dia begitu menikmatinya.
Namun, saat sedang asik bergulat dengan lidah dan tangan yang saling meremat, sebuah ketukan pintu membuat keduanya menghentikan aktivitasnya.
Andrew dan juga Diana terlihat melepaskan pagutannya, mereka saling pandang dan segera mengusap bibir mereka yang sudah basah.
Bahkan, dengan cepat Andrew menurunkan Diana dan mereka pun langsung merapikan baju mereka yang terlihat sedikit berantakan dengan apa yang sudah mereka lakukan.
"Ehm, siapa?" tanya Diana dengan gugup.
Untuk sesaat Diana terlihat menatap wajah Andrew, kemudian dia terlihat merapikan kerah baju Andrew yang berantakan.
Setelah itu, dia memalingkan wajahnya ke arah pintu. Dia harap-harap cemas menunggu siapa yang sebenarnya sedang berada di balik pintu saat ini.
"Ini saya, Rojak. Boleh kita bicara sebentar," ucap Rojak yang ternyata merupakan RT setempat.
Mendengar 0ak RT menyebutkan namanya, Diana menjadi lebih gugup. Namun, dia berusaha untuk menenangkan dirinya dengan menarik napas panjang beberapa kali.
Setelah pintunya terbuka, pak RT terlihat menatap Diana dan juga Andrew secara bergantian. Dia seolah berusaha sedang mencari tahu apa yang sebenarnya mereka sedang lakukan.
Tidak lama kemudian, terdengar helaan napas lega dari bibir pak RT. Lalu, pria yang berusia empat puluh tahun itu mulai bersuara.
"Jadi begini, Nak Diana. Nak Diana kan, belum menikah. Terus tiba-tiba saja malam-malam begini ada tamu seorang lelaki, apa tidak sebaiknya tamunya tidur di rumah bapak saja?" tanya Pak RT.
Diana dan juga Andrew terlihat tidak enak hati, karena adanya pak RT yang datang berkunjung. Beruntung mereka belum melakukan hal yang tidak-tidak.
"Ehm, saya hanya berkunjung sebentar. Saya mau menginap di hotel," kata Andrew seraya menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa gatal.
"Begitulah? Tapi ini sudah pukul dua belas malam, manding Masnya nginep di rumah Pak RT saja. Lebih cepat dan gratis,'' kata Pak RT.
"Ah, Iya," jawab Andrew.
__ADS_1
Rasanya untuk menolak pun dia tidak enak hati terhadap Pak RT, akhirnya Andrew mengikuti langkah Pak RT untuk segera pergi dari rumah Diana.
Namun, sebelum dia benar-benar pergi dia terlihat menolehkan wajahnya lalu mengocup bibir Diana beberapa kali.
Diana sampai memelototkan matanya karena tidak percaya dengan apa yang Andrew lakukan, beruntung pak RT tidak menolehkan wajahnya ke arah mereka berdua.
"CK! Dasar nakal!" desis Diana.
Andrew hanya menanggapi apa yang Diana katakan dengan senyuman tipis di bibirnya, lalu dia mengerling nakal dan sedikit berlari menghampiri pak RT yang sudah agak jauh dari dirinya.
Selepas kepergian Andrew, Diana terlihat memegangi dadanya yang berdetak dengan cepat. Dia terlihat menutup pintu rumahnya dan segera berlari menuju kamarnya.
"Hastaga! Jantung gue!" teriak Diana seraya menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya.
Malam ini Diana benar-benar merasa sangat bahagia, karena akhirnya lelaki yang sejak dulu dia cintai itu mengatakan perasaannya.
Sungguh dia tidak menyangka jika Andrew akan datang ke tanah air dan menyatakan perasaannya dengan gamblang.
Diana yang begitu berbahagia, begitupun dengan Merlin dan juga Leo. Pasangan suami istri itu terlihat begitu bahagia, setelah menikah mereka berdua memutuskan untuk tinggal di rumah Bram.
Padahal awalnya mereka ingin tinggal di kediaman Leo, tapi mengingat Bram yang sudah tua mereka pun memutuskan untuk menemani Bram di masa tuanya.
Awalnya Leo merasa malu dan juga takut ada orang yang berkata jika dirinya memanfaatkan kekayaan dari keluarga Merlin.
Namun, kemarin berusaha untuk meyakinkan Leo jika kehidupan ini mereka yang jalani. Orang lain berkata apa pun tidak usah didengar.
Karena terkadang mereka hanya akan menertawakan kita di saat kita susah, terkadang mereka juga akan iri dengki di saat kita merasa bahagia.
Hidup kita yang menjalani, baik buruknya kita yang tahu. Jangan pernah memikirkan orang lain, tapi fokuslah kepada kehidupan yang kita jalani. Namun, jangan pernah lupa untuk bersyukur dan berbagi.
Saat Merlin mengatakan hal itu, Leo benar-benar merasa bahagia karena kini dia benar-benar memiliki istri yang perhatian dan pengertian.
Tidak ada Merlin yang angkuh dan sombong, tidak ada Merlin yang tidak pernah peduli pada orang lain. Leo merasa beruntung mendapatkan Merlin.
__ADS_1
"Tidurlah, Sayang. Maaf jika setiap malam aku selalu mengganggu tidurmu," kata Leo seraya mendekap tubuh polos istrinya.