
Carol terlihat bisa bernapas lega, karena akhirnya Julian sudah terdaftar di sekolah ternama dengan bantuan dari Berlin dan juga Jonathan.
Padahal, dia sudah sangat was-was jika putranya tidak akan bisa sekolah di mana pun. Karena Julian lahir tanpa ayah, tidak ada pernikahan yang pernah Carol lakukan.
Bahkan, Carol tidak tahu siapa lelaki yang sudah membuat dirinya hamil. Yang Carol tahu, dia selalu bersyukur dengan apa pun yang Tuhan takdirkan untuk dirinya.
Dia sangat yakin dengan apa yang diberikan oleh Tuhan adalah benar-benar yang terbaik untuk dirinya, jalan yang harus dia lalui untuk mencapai kebahagiaan.
"Carol, Sayang. Bagaimana kalau kita langsung pergi ke toko saja, kita harus membeli alat perlengkapan sekolah buat Ian," usul Berlin.
Setelah dari sekolahan tadi mendapatkan buku pelajaran dan juga baju seragam, Berlin langsung berpikiran untuk membelikan perlengkapan alat sekolah untuk cucunya tersebut.
"Mom, benar. Ian pasti belum punya," jawab Jonathan cepat.
Jonathan menjawab seperti itu karena dia sangat tahu jika Carol baru saja tiba di tanah air, tidak mungkin bukan jika dia langsung mempunyai waktu untuk membelikan perlengkapan sekolah untuk putranya, pikirnya.
Padahal Berlin menanyakan hal itu kepada Carol, tapi Jonathan dengan sigap menjawab apa yang ditanyakan oleh ibunya itu.
Carol hanya bisa tersenyum, berbeda dengan Julian. Anak tampan itu terlihat bersorak dengan begitu kegirangan, bahkan dia sampai melompat ke pangkuan Berlin dan memeluk Berlin dengan sangat erat.
"Terima kasih, Granny. Terima kasih karena sudah membantuku dan juga Mommy," kata Julian dengan menggemaskan.
Berlin terlihat tersenyum bahagia, lalu dia mengacupi setiap inci wajah dari cucunya tersebut.
"Sama-sama, Sayang. Sekolahnya yang pinter, ya. Biar jadi orang yang sukses," kata Berlin.
"Yes, Granny. Kaya Om Jo," kata Julian dengan tingkah lucunya.
"Iya, Sayang. Semoga kamu suka dengan perlengkapan sekolahnya nanti," ucap Berlin.
Dalam benaknya, wanita berusia lima puluh lima tahun itu sudah membayangkan cucunya pasti akan terlihat sangat tampan ketika memakai seragam sekolah dan juga memakai perlengkapan sekolahnya.
"Tapi, Tante. Apa tidak berlebihan? Biar aku sama Ian saja yang pergi untuk berbelanja, Tante pasti masih ada keperluan yang lain," kata Carol tidak enak hati.
Berlin tersenyum ke arah Carol, dia sangat tahu jika wanita yang ada di hadapannya itu pasti tidak enak hati terhadap dirinya, karena dia bisa merasakannya dari raut wajah Carol.
"Ngga gitu juga," kata Berlin seraya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Carol terlihat menghela napas berat, kemudian dia menolehkan wajahnya ke arah Jonathan yang terlihat sedang asyik menyetir.
"Kamu juga, Jo. Pasti harus pergi ke kantor untuk bekerja, aku pasti ganggu waktu kamu," kata Carol.
Carol sangat paham jika Jonathan adalah pengusaha sukses, tidak mungkin bukan jika dia memiliki waktu untuk menemani dirinya dan putranya untuk berbelanja.
Hanya untuk berbelanja perlengkapan alat sekolah saja, menghabiskan banyak waktu dan menghabiskan peluang bisnis yang akan datang, pikirnya.
"Ngga dong, untuk urusan pekerjaan sudah kuserahkan kepada Dean. Hari ini aku ingin menemanimu dan juga Ian," jawab Jonathan.
Jonathan terlihat begitu enteng dalam mengatakan hal itu, padahal Dean kini sedang begitu pusing di kantor Anderson. Karena dia harus menghandle pekerjaan yang menumpuk sendirian.
Pekerjaan sedang begitu banyak, tapi Jonathan malah izin untuk tidak masuk. Sungguh hari ini akan menjadi hari yang melelahkan untuk Dean.
"Iya, Sayang. Tante juga ingin menemani kalian," ucap Berlin menimpali.
Carol terlihat tersenyum canggung mendengar apa yang diucapkan oleh Berlin dan juga Jonathan, tapi jauh di dalam lubuk hatinya dia merasa bahagia.
Dia seperti merasakan kasih sayang seorang ibu dari Berlin, dia juga merasakan kasih sayang dari seorang pria terhadap dirinya dan juga kasih sayang seorang ayah untuk Julian.
"Tidak usah berterima kasih, karena aku yang menginginkannya. Kamu tidak meminta," kata Jonathan.
Jonathan terlihat menolehkan wajahnya untuk sebentar ke arah Carol, kemudian dia fokus kembali dalam menyetir.
"Ya," jawab Carol.
Pada akhirnya Jonathan melajukan mobilnya menuju toko perlengkapan alat sekolah untuk Julian, dia terlihat begitu bahagia.
Seumur hidupnya Jonathan tidak pernah membayangkan bisa sebahagia ini mempunyai putra, apalagi mengurusi keperluan sekolahnya.
Jangankan untuk memiliki putra, untuk berpacaran dan berumah tangga saja Jonathan merasa sangat malas untuk memikirkannya.
Namun, setelah melihat wajah Carol dan juga Julian, justru dia ingin segera berumah tangga dengan Carol.
Dia ingin segera tinggal satu atap dengan Carol dan juga Julian, bahkan rasanya Jonathan tidak ingin berpisah dengan kedua orang yang begitu berpengaruh besar di dalam hidupnya itu.
Selama perjalanan menuju toko tersebut, Berlin dan juga Julian terlihat bercanda tawa bersama.
__ADS_1
Berbeda dengan Carol yang hanya diam saja, sesekali dia akan menolehkan wajahnya ke arah putranya yang terlihat begitu senang.
Baru kali ini dia melihat putranya tertawa dengan sangat riang dan juga lepas, sepertinya Julian benar-benar merasakan kebahagiaan yang luar biasa saat bersama dengan Jonathan dan juga Berlin.
Dia tersenyum, lalu menolehkan wajahnya ke arah Jonathan. Pria itu nampak terus tersenyum seraya memperhatikan interaksi antara Berlin dan juga Julian dari kaca tengah.
Dia baru tahu jika Berlin ternyata sangat bahagia ketika bersama dengan Julian, mungkin karena Julian adalah cucu kandungnya, pikir Jonathan.
"Sudah sampai," kata Jonathan.
Mendengar ucapan Jonathan, Berlin dengan cepat turun dari mobilnya. Dia bahkan langsung menggandeng tangan Julian untuk segera masuk ke dalam toko itu.
Sengaja hal itu dia lakukan agar Jonathan dan juga Carol bisa berduaan saja, dia ingin memberikan kesempatan untuk Jonathan bisa berbicara dengan Carol.
Dalam hatinya Berlin berharap, semoga Jonathan bisa memanfaatkan waktu itu dengan sebaik-baiknya.
"Ehm, kamu ngga usah turun dulu. Aku, aku mau ngomong sebentar," kata Jonathan saat melihat Carol hendak membuka pintu mobil.
Carol mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil, dia terlihat menegakkan tubuhnya lalu menolehkan wajahnya ke arah Jonathan.
"Ada apa?" tanya Carol.
"Anu, itu. Ehm, boleh ngga kalau aku sering ke rumah kamu? Aku pengen ketemu kamu terus soalnya," kata Jonathan malu-malu.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Jonathan, Carol terlihat begitu kaget. Bahkan dia terlihat mengerjap-mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Ma--ksudnya bagaimana? Aku tidak paham," ucap Carol.
Carol merasa jika jantungnya berdetak dengan sangat cepat saat mendengar apa yang ditanyakan oleh Jonathan, apalagi saat melihat Jonathan yang menatap dirinya dengan sangat lekat.
"Anu, maksudnya. Aku"---Jonathan terlihat mengusap tengkuk lehernya yang tiba-tiba saja terasa dingin--"aku mau lebih sering ketemu sama Julian."
Jonathan terlihat begitu gugup kala mengatakan hal itu, bahkan dia merasa jika aliran darahnya terhenti saat itu juga.
***
Hayo, kira-kira Carol mau menjawab apa atas pertanyaan dari Jonathan? Apakah dia akan membiarkan Jonathan untuk masuk lebih dalam lagi ke dalam kehidupannya? Atau menolaknya dengan tegas?
__ADS_1