
Pagi ini Carol memulai hari dengan sangat menyenangkan bersama Jonathan, mereka benar-benar memulai semuanya dari awal.
Carol yang awalnya terlihat begitu enggan menerima setiap sentuhan yang diberikan oleh Jonathan, akhirnya terhanyut dalam buaian kenikmatan yang Jonathan suguhkan.
Tidak perlu banyak gaya untuk memuaskan hasrat keduanya, cukup dengan satu gaya saja mereka sudah bisa menikmati pergumulan pagi ini.
Pagi yang terasa dingin, ditambah lagi dengan pendingin ruangan yang menyala tidak berarti untuk mereka. Karena kini peluh membanjiri tubuh keduanya.
Awalnya Carol memang terlihat begitu ketakutan, bahkan saat Jonathan mulai memasukkan miliknya Carol sempat berteriak.
Takut, sakit dan juga nikmat bercampur aduk menjadi satu. Namun, setelah Jonathan menenangkan istrinya itu, Carol mulai bisa menikmati pergumulan panas mereka.
Bahkan pergulatan panas itu berlangsung sampai dua kali, mereka terlihat bersemangat untuk memadu kasih.
Kini, Jonathan terlihat sedang memeluk tubuh polos istrinya. Dia kecup puncak kepala wanita yang sudah memberikan dirinya kenikmatan yang luar biasa itu.
"Terima kasih, Sayang. Kamu sangat luar biasa," ucap Jonathan.
Jonathan benar-benar merasa sangat bahagia karena akhirnya Carol mau melakukan hubungan suami isteri dengannya, walaupun diawali dengan drama.
"Hem, kamu ngga sabaran. Itu aku sampai sakit," keluh Carol.
Carol terlihat mencebikkan bibirnya seraya menatap Jonathan dengan tatapan tidak suka. Jonathan langsung terkekeh, lalu mengecup bibir istrinya.
"Sebentar lagi pasti sembuh," kata Jonathan dengan tidak enak hati.
Karena pada dasarnya dia memang terlalu memaksakan, walaupun Carol sudah menolaknya secara halus. Dia sudah tidak tahan.
"Kamu ngga mau berhenti, padahal itunya udah muntah-muntah. Kenapa masih berdiri aja? Jadinya kamu maunya masuk lagi," keluh Carol.
Jonathan terlihat nyengir kuda ketika Carol mengatakan hal itu, mau bagaimana lagi jika miliknya itu ternyata tidak mau tidur setelah melakukan tugasnya.
"Abisan enak, Yang. Jangan marah dong, kamunya juga tadi menikmati. Bahkan Ampe kejang berkali-kali," kata Jonathan mencoba mencairkan suasana.
Carol terlihat membulatkan matanya dengan sempurna mendengar apa yang suaminya katakan, menurutnya itu adalah hal yang memalukan yang tidak perlu dibicarakan lagi.
Berbeda dengan Jonathan, menurutnya itu adalah hal yang perlu dibicarakan karena merupakan sebuah kebanggaan untuknya.
"Jo!" teriak Carol seraya memukul dada suaminya.
"Maaf, Sayang. Mau langsung mandi atau mau aku sembuhkan dulu punya kamunya?" tawar Jonathan.
Mendengarkan tawaran dari suaminya, Carol terlihat mengernyitkan dahinya. Dia bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh suaminya itu.
__ADS_1
"Memangnya bisa?" tanya Carol.
Jonathan terlihat tersenyum dengan manis ke arah istrinya, lalu dia menganggukkan kepalanya dengan cepat.
"Bisa," jawab Jonathan.
Carol terlihat tertawa meledek ke arah Jonathan ketika suaminya itu berkata seperti itu, bagaimana cara Jonathan menyembuhkan dirinya, pikirnya. Karena Jonathan bukanlah seorang dokter.
"CK! Aku ngga percaya," ucap Carol meremehkan.
"Haish! Kamu tuh ngga percayaan, aku yang buat kamu sakit. Aku pasti bisa sembuhkan," kata Jonathan.
Setelah mengatakan hal itu Jonathan terlihat melerai pelukannya, kemudian dia terlihat bangun dan berlutut di hadapan istrinya.
Tanpa ragu Jonathan terlihat melebarkan kedua kaki istrinya, Carol terlihat memekik kaget dengan apa yang dilakukan oleh Jonathan.
"Jo, kamu mau apa?" tanya Carol mulai tidak enak hati.
"Mau sembuhin ini," kata Jonathan.
Tanpa banyak bicara lagi Jonathan langsung menenggelamkan wajahnya di antara kedua pangkal paha istrinya, dengan lihai lidahnya menyapu lipatan basah dari area inti tubuh Istrinya.
Carol terlihat menggeliatkan tubuhnya, bahkan tangannya terulur untuk menjambak rambut suaminya tersebut.
Carol tidak bisa melanjutkan ucapannya, karena Jonathan memberikan kenikmatan tanpa henti.
"Nikmat, bukan?" tanya Jonathan.
Setelah bertanya seperti itu Jonathan kembali melakukan aktivitasnya, dia bahkan menenggelamkan lidahnya untuk lebih masuk lagi ke dalam inti tubuh istrinya tersebut.
Hanya butuh waktu lima belas menit saja tubuh Carol terlihat mengejang, Jonathan tersenyum lalu mengusap bibirnya dan mensejajarkan tubuhnya dengan istrinya tersebut.
Dia menunduk dan tanpa ragu menautkan bibirnya pada bibir istrinya, wanita yang saat ini begitu dia cintai.
Wanita yang sudah memberikan satu putra yang tampan untuk dirinya, Julian.
"Sudah sembuh?" tanya Jonathan.
Carol hanya bisa tersenyum seraya menganggukkan kepalanya dengan napas yang masih tersenggal, kenikmatan yang suaminya berikan belum hilang sepenuhnya.
Bahkan, kini Carol masih merasa jika tubuhnya masih seringan kapas. Dia seakan terbang dan enggan untuk memijakan kakinya di atas bumi.
"Mau langsung mandi, atau istirahat dulu?" tanya Jonathan.
__ADS_1
"Pengen mandi, pengen berendam air hangat. Tapi tunggu sebentar, aku mau napas dulu," ucap Carol dengan dadanya yang terlihat naik turun.
Jika saja bukan ini bukan kali pertama mereka kembali bergumul, sudah dapat dipastikan jika Jonathan akan kembali memasukkan pusakanya itu.
Melihat tubuh polos istrinya membuat Jonathan tidak tahan, sepertinya setelah mandi Jonathan harus segera mengajak istrinya untuk pulang.
Dia takut khilaf dan kembali menghentak istrinya lagi, karena Jonathan sangat sadar jika tubuh istrinya sangat menggoda dan sulit untuk diabaikan.
Di lain tempat.
Diana benar-benar merasa kesal karena hari ini, karena selain dia harus bekerja sendiri di kantor, Andrew tidak mau berjauhan sama sekali dengan dirinya.
Pria itu sudah seperti seekor lintah yang menempel pada kulitnya dan susah untuk dilepaskan, Diana sangat kesal.
"An, please jangan ganggu!" keluh Diana.
Bukannya menurut, Andrew malah memeluk Diana. Lalu dia menyandarkan kepalanya pada pundak wanitanya.
"Aku tuh kangen banget, pengen deket-deket terus sama kamu." Andrew terlihat mengendus leher Diana.
Diana benar-benar merasa risih dengan apa yang Andrew lakukan kepada dirinya, Andrew terlalu berlebihan menurutnya.
"Auh! An, geli!" keluh Diana seraya mendorong wajah Andrew.
"Na, tega ih. Aku tuh pokoknya mau deketan terus sama kamu, aku cuma punya waktu dua hari buat bareng kamu kaya gini," kata Andrew mengiba.
"Tapi ngga nempel banget kaya gini juga, aku lagi kerja. Nanti kerjaannya ngga kelar-kelar," keluh Diana.
"Ya sudah aku bantu, tapi kalau udah selesai. Kita habiskan waktu untuk berduaan," kata Andrew seraya menaik turunkan alisnya.
"Iya, nanti kita habisin waktu berduaan. Tapi ngga aneh-aneh juga," pinta Diana.
"Ngga aneh, cuma satu macem aja. Kalau aku minta itu boleh ngga?" tanya Andrew.
Karena memang di negaranya melakukan hal itu adalah hal yang wajar, walaupun mereka belum menikah.
"Enak aja, ngga boleh. Nikahin aku dulu, baru boleh itu," celetuk Diana tanpa sadar.
"Okeh, kita nikah sekarang!" kata Andrew dengan wajah yang berbinar.
"Oh, God! Kamu tuh ngga boleh buru-buru, nanti kamu nyesel loh udah nikahin cewek biasa kaya aku," ucap Diana tidak percaya diri.
"Ngga bakalan, pokoknya aku ngga mau tahu. Selepas pulang kerja kita nikah, malemnya kita tidur di hotel," kata Andrew.
__ADS_1
"Pemaksa!" keluh Carol dengan bibir yang melengkung ke atas.