After Six Years

After Six Years
Tidak Fokus


__ADS_3

Leo terlihat tidak fokus saat meeting berlangsung, karena dia melihat Meriana yang berdebat dengan seorang pria.


Sialnya, Meriana yang memang duduk tepat di depan Leo membuat dia bisa langsung mendengar apa yang mereka debatkan.


Padahal selama sembilan bulan ini dia selalu berusaha untuk menghindari wanita bernama Meriana itu, setiap ada urusan kerja dengan wanita itu dia selalu menghindar.


Dia akan meminta tolong kepada karyawan. lainnya, sebisa mungkin dia tidak ingin bertemu dengan Meriana.


Karena jujur saja, percintaan yang dia lakukan dengan Meriana adalah yang pertama untuk dirinya. Hal itu selalu saja terbayang-bayang di dalam ingatan Leo.


Dia bahkan masih ingat suara merdu erangan Meriana saat meneriaki namanya, dia masih ingat wangi percintaan yang menempel di tubuhnya.


Dia juga masih sangat ingat lekuk tubuh Meriana yang polos tanpa sehelai benang pun, sangat seksi dan. menggoda.


"Ken, kamu tidak bisa berlaku seperti ini padaku. Setiap hari aku selalu meluangkan waktu untuk kamu, tapi kenapa kamu malah mau kita putus?" tanya Meriana memelas.


Setelah dua kali mencoba untuk menjebak Jonathan dan tidak berhasil, akhirnya Meriana memutuskan untuk mendekati seorang pengusaha muda bernama Kendar.


Beruntung setelah dua bulan pendekatan Kendar langsung mau menjalin hubungan dengan Meriana, bahkan mereka sering memadu kasih di apartemen milik sang kekasih.


"Aku sudah tidak mencintai kamu lagi, aku sudah bosan terhadap kamu," ucap Kendar.


Kendar menatap tubuh Meriana dengan tatapan jijik, padahal tubuh itu yang selalu memuaskan dirinya jika sedang ingin menyelesaikan hasratnya.


Berbeda dengan Leo, hatinya terasa nyeri kala Kendar berkata seperti itu. Namun, dia berusaha untuk menulikan telinganya.


"Ken, tega sekali kamu mengatakan hal itu setelah apa yang kita lalui bersama!" kata Meriana dengan sedih.


Jika ada pemotretan saja Meriana selalu membatalkannya, karena adanya panggilan dari Ken untuk datang ke apartemen milik sang kekasih.


Kendar selalu tidak sabar ketika dia ingin bercinta dengan Meriana, lelaki itu memang mempunyai gairah seksualitas yang tinggi.


"Sudahlah Meriana, lagi pula saat kita melakukannya kamu juga sudh tidak perawan," kata Kendar.


Deg!


Mendengar akan hal itu dada Leo terasa berdetak tidak karuan, bahkan jantungnya terasa dipompa dengan cepat.


Dia merasa sangat bersalah mendengar akan hal itu, dia merasa menjadi seorang pria pecundang yang sudah merenggut mahkota dari Meriana.

__ADS_1


Karena sampai saat ini dia masih menganggap jika dirinyalah yang memerawani Meriana, dia tidak memeprhatikan apa pun.


Leo hanya tahu jika itu adalah yang pertama untuk dirinya, pastinya itu juga yang pertama untuk Meriana.


Meriana memang selalu rapih dalam menyembunyikan skandal cintanya yang selalu berakhir di atas ranjang, hanya orang yang begitu dekat denhannya yang sangat paham.


'Ck! Lupakan Leo, lupakan. Wanita itu tidak butuh dirimu, biarkan dia dengan pilihannya. Ingat, dia tidak butuh pertanggungjawaban dari kamu.' Leo berperang dalam hatinya.


"Oh ya ampun, Ken. Kamu juga sudah tidur dengan banyak wanita, jadi please jangan bahas masalah itu lagi. Kita mulai semuanya dari awal," pinta Meriana.


Meriana masih mencoba bernegosiasi dengan lelaki itu, sayangnya Kendar seakan tidak peduli. Dia malah memandang rendah ke arah Meriana.


"Sorry, aku tidak ada waktu lagi. Aku pergi," kata Kendar seraya bangun dan berlalu begitu saja.


Meriana terlihat menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, dia menangisi nasibnya. Suara tangisannya memang tidak terdengar, tapi tubuhnya terlihat bergetar hebat.


Berulang kali Leo menarik napas panjang, dia merasa iba. Namun, dia tidak mau tergoda oleh pesona dari Meriana lagi.


"Ehm, Leo. Jadi, bagaimana?" tanya Jonathan.


"Eh?"


Beberapa saat kemudian, akhirnya meeting berakhir. Kedua belah pihak terlihat bersiap untuk pergi, tapi sebelum itu Leo terlihat pergi, dia meminta Jonathan untuk menunggu di dalam mobil saja.


"Kenapa tidak bareng, memangnya kamu. mau apa?" tanya Jonathan.


"Saya mau ke toilet sebentar," jawab Leo.


"Oh, oke!" jawab Jonathan tanpa curiga.


Jonathan terlihat ke luar dari Cafe tersebut, lalu dia masuk ke dalam mobil sesuai apa yang di minta oleh Leo.


Selepas kepergian Jonathan, Leo terlihat menghampiri Meriana. Dia duduk tepat di samping Meriana dan memberikan satu kotak tisu kecil kepada wanita itu.


Meriana terlihat menolehkan wajahnya, lalu dia tersenyum kecut ke arah Leo. Lelaki yang pernah tidur dengan'nya itu.


"Mau apa?" tanya Meriana seraya mengusap air mata dengan punggung tangannya.


Leo tidak banyak bicara, dia langsung menyimpan tisunya di atas meja. Kemudian dia meninggalkan Meriana begitu saja.

__ADS_1


Meriana hanya bisa menatap nanar kepergian Leo, dia tatap punggung Leo sampai menghilang di balik pintu.


"Ternyata dia peduli," kata Meriana lirih.


Di belahan dunia lainnya.


"Bagaimana, Na?" tanya Carol tidak sabar.


Padahal Carol baru saja datang dan belum duduk, tapi Carol terlihat sangat tidak sabar untuk mendengar apa yang akan Diana katakan.


Diana hanya mencebikan bibirnya mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu, dia duduk. di dekat Carol lalu berkata.


"Beres, gue udah dapet kostan di deket rumah bi Nancy. Dua kamar, satu ruang tamu, dapur dan kamar mandi. Harganya ngga terlalu mahal," kata Diana.


Selepas kuliah dia benar-benar disibukkan dengan pernintaan Carol untuk mencarikan tempat kost baru, dia tidak mau merepotkan Andrew.


"Bagus, terus bagaimana dengan bi Nancy, apa dia mau bantu gue?" tanya Carol.


Carol benar-benar berharap akan ada yang membantu mengasuh putranya, agar dia bisa tetap melanjutkan kuliahnya.


Dua sudah bertekad untuk lulus kuliah dengan nilai terbaik, dia sudah memutuskan untuk bekerja sambil kuliah.


Dia ingin menghidupi putranya dengan benar, dia juga berencana akan mencari pekerjaan paruh waktu setelah masa nifasnya selesai.


"Mau, bahkan dia bilang ngga dibayar juga mau," jawab Diana terkekekh.


Carol tersenyum mendengar akan hal itu, dia sudah menduga dari awal kalau bi Nancy pasti mau membantu dirinya.


Apalagi kalau mengingat jika bi Nancy yang sudah berumur tapi tidak juga memiliki anak, dia pasti senang jika harua mengurus Julian, pikir Carol.


"Oh ya Tuhan, terima kasih, Na." Carol memeluk Diana dengan penih rasa syukur. "Terima kasih Tuhan, karena engkau selalu mengirimkan orang-orang yang baik," ucap Carol dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Dia merasa bersyukur karena walaupun Tuhan memberikan ujian hidup yang sangat berat, tapi selalu ada orang-orang baik yang menolongnya.


"Udah ngga usah lebay, sekarang susui dulu tuh bocil elu." Diana menunjuk Julian yang terlihat menggeliat di dalam box babynya.


Carol tersenyum, kemudian dia melerai pelukannya dan segera menggendong putranya untuk disusi.


***

__ADS_1


Selamat pagi semuanya, selamat beraktifitas. Semoga kalian sehat selalu dan murah rezeky, jangan lupa like dan komentnya, sayang kalian selalu.


__ADS_2