After Six Years

After Six Years
Bermesraan


__ADS_3

Selepas kepergian Jonathan, Carol benar-benar merasa tidak enak hati terhadap suaminya itu.


Karena baru saja mereka menikah, tapi Jonathan harus langsung pergi bekerja. Tentunya dia sangat paham, kenapa Jonathan pergi meninggalkan dirinya.


Carol yakin jika Jonathan berusaha untuk menghindari dirinya, bukan karena tidak cinta tapi karena takut menyentuh dirinya.


Jonathan takut jika trauma yang dialami oleh dirinya malah semakin menjadi, jika Jonathan memaksakan kehendaknya.


Berlin terlihat keheranan saat pagi-pagi sekali Jonathan terlihat pergi untuk bekerja, bahkan dia pergi tanpa sarapan terlebih dahulu.


Julian juga sampai bertanya, kenapa ayahnya itu tidak mau menemaninya untuk sarapan. Namun, Jonathan berkata jika dia sedang sibuk.


Dia berjanji jika nanti ada waktu, Jonathan akan mengajak Julian bersama dengan Carol untuk pergi makan malam bersama.


Kini Carol sudah terlihat rapi, dia ingin mengantarkan putranya untuk berangkat ke sekolah. Berlin terlihat tersenyum lalu menghampiri Carol.


"Biar, Mom, yang mengantarkan Julian menuju sekolahnya. Kamu pergilah temui Jo di kantor, pasti dia merasa sedih," kata Berlin.


Carol ataupun Jonathan memang tidak menceritakan apa yang terjadi di antara mereka berdua, tapi Berlin adalah seorang ibu. Dia mengerti apa yang sedang terjadi di antara keduanya.


Apalagi dia sangat tahu apa yang terjadi sebelum Carol dan juga Jonatan menikah, dia paham jika Carol pasti memiliki trauma karena apa yang sudah dilakukan oleh putranya terhadap dirinya.


Kini tugasnya adalah untuk mendekatkan Carol dan juga Jonathan, dia tidak bisa membiarkan anak dan menantunya itu saling berjauhan.


"Maksud, Mom, bagaimana?" tanya Carol dengan raut wajah heran.


Berlin tersenyum, kemudian dia mengusap kedua bahu Carol dengan sangat lembut. Lalu wanita paruh baya itu terlihat berkata.


"Mom, akan mengantarkan Julian ke sekolahannya. Kamu siapkan bekal untuk Jo dan pergilah ke kantor," jelas Berlin.


Perusahaan Anderson adalah perusahaan yang sangat besar, dia belum pernah menginjakkan kakinya di sana.


Dia merasa malu jika harus datang ke sana dan menemui suaminya, dia takut ada yang menyangka jika dirinya terlalu mengejar suaminya yang kaya itu.


"Memangnya tidak apa-apa kalau aku ke kantor?" tanya Carol.


"Tentu saja tidak apa-apa, kamu itu istrinya Jonathan Anderson. Siapa yang akan melarang kamu masuk ke kantor?" tanya Berlin.

__ADS_1


"Baiklah, kalau begitu aku bersiap dahulu," kata Carol.


"Ya, bersiaplah. Dandan yang cantik, biar suamimu senang," goda Berlin.


Carol tersipu mendengar apa yang dikatakan oleh Berlin, setelah berpamitan kepada Ibu mertuanya itu Carol terlihat masuk ke dalam kamar yang tadi malam dia tiduri bersama dengan Jonathan.


Di Kantor.


Jonathan terlihat berjalan dengan langkah gontai, dia merasa tidak bersemangat pagi ini. Kekurangan asupan vitamin benar-benar membuat dirinya lemas.


Tentu saja asupan vitamin yang bisa membuat dirinya bergairah dan bersemangat, bukan sekedar pil penambah stamina.


Padahal dia sempat membayangkan jika hidupnya akan benar-benar sempurna setelah menikahi Carol, dia sudah berharap bisa menikmati malam pertamanya yang begitu indah dengan Carol.


Sayangnya, itu hanya jadi angan-angan saja. Karena ternyata Carol belum siap melayani dirinya, Carol masih memiliki ketakutan yang sangat besar.


Jonathan terlihat menghela napas beberapa kali, dia seolah sedang mengisi paru-parunya yang terasa kekurangan oksigen.


Dia benar-benar merasa sedih saat ini, jika saja Carol sudah bisa melakukan kewajibannya, sudah dapat dipastikan jika Jonathan belum bekerja hari ini.


"Argh! Kenapa jadi begini?" tanya Jonathan seraya keluar dari kurung besi yang mengantarkan dirinya ke lantai paling atas.


Dia mendengar suara erangan yang saling bersahutan, hal itu membuat Jonatan merinding.


Bahkan, dalam sekejap miliknya mulai menggeliat. Jonathan benar-benar merasa sangat kesal sekali.


"Sialan!" maki Jonathan.


Setelah mengatakan hal itu, dia langsung berlari menuju ruangannya. Dia benar-benar merutuki apa yang Leo dan juga Merlin lakukan.


"Bisa-bisanya mereka melakukan itu di kantor, awas aja nanti kalian," geram Jonathan.


Saat masuk ke dalam ruangannya, Jonathan langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa. Wajahnya terlihat ditekuk karena masih terngiang-ngiang suara Leo dan juga Merlin yang saling bersahutan.


Dia benar-benar tidak menyangka jika Leo, sang asistennya yang begitu dingin dan jarang berbicara malah bisa melakukan percintaan di dalam ruangannya sendiri.


Berbeda dengan dirinya, jangankan bercinta di dalam kantor. Bercinta di atas ranjang empuk yang ada di kamarnya saja belum terlaksana.

__ADS_1


"Ck!"


Terdengar decakan sebal keluar dari bibirnya, tapi tidak lama kemudian Jonathan terlihat bangun dan segera duduk di kursi kebesarannya. Lalu, dia mulai mengerjakan tugasnya.


Di depan perusahaan Anderson.


Carol baru saja tiba di perusahaan Anderson, dia tersenyum kikuk lalu memberanikan diri untuk masuk ke dalam perusahaan tersebut.


Saat dia melewati meja resepsionis, Carol terlihat menghentikan langkahnya terlebih dahulu. Lalu, dia bertanya kepada salah satu wanita muda yang bekerja di balik meja resepsionis tersebut.


"Selamat pagi, Nona. Bisakah saya bertemu dengan tuan Jonathan?" tanya Carol.


Untuk sesaat wanita muda tersebut terlihat memperhatikan Carol, dia terlihat begitu cantik dengan dress selutut berwarna navy.


Di tangannya terlihat kotak bekal dan juga di pundaknya tersampir sebuah tas mahal, bisa dengan pasti perempuan itu menyimpulkan bahwa Carol bukanlah orang sembarangan.


Untuk sesaat wanita muda itu terlihat mengingat-ingat siapa wanita yang berada di hadapannya, tidak lama kemudian dia pun mengingat jika wanita yang berada di hadapannya itu adalah istri dari bosnya.


"Ah iya, Nyonya. Silakan naik ke lantai paling atas menggunakan lift khusus," kata wanita itu seraya menunjukkan lift khusus yang biasa digunakan oleh Jonathan.


"Terima kasih, ucap Carol.


"Setelah mengadakan hal itu, Carol terlihat melangkahkan kakinya menuju kurung batang yang biasa mengantarkan Jonathan menuju lantai paling atas.


Dia terlihat begitu gugup sekali, karena ingin menemui suaminya. Antara perasaan bersalah dan juga ingin memperbaiki hubungan di antara dirinya dengan Jonathan, itulah pikirnya.


Dalam hati dia sudah bertekad ingin memulai semuanya dari awal, semoga Carol bisa. Saat tiba di depan ruangan Jonathan, Carol terlihat mengetuk pintu itu beberapa kali


Namun dari dalam sana tidak ada sahutan sama sekali, tentu saja hal itu Jonathan lakukan dengan sengaja.


Karena dia mengira jika yang masuk adalah Leo, pria itu masih merasa kesal dengan Leo yang bercinta di dalam ruangannya dengan istri.


"Jo, ini aku," ucap Carol.


Karena tidak tahan sejak tadi dia mengetuk pintu, tapi pria itu tidak mau membukakan pintunya, dengan cepat dia pun berinisir untuk segera menyebutkan namanya


Mendengar nama Carol, akhirnya Jonathan terlihat bangun dari tempat duduknya dan segera membukakan pintu ruangannya.

__ADS_1


"Oh ya ampun, Sayang. apakah ini mimpi?" tanya Jonathan seraya menepuk-nepuk pipinya karena merasa tidak percaya Carol datang untuk menemui dirinya.


"Tentu, Jo. Ini aku, memang siapa lagi?" tanya Carol.


__ADS_2