
Carol masih belum percaya jika Jonathan adalah pria yang merenggut kesuciannya, dia merasa jika Jonathan tidak mungkin melakukannya.
Secara Jonathan adalah pria yang begitu baik, Jonathan adalah pengusaha terkenal, sukses dan juga terkenal. Irit bicara dan dia tidak pernah bergaul dengan wanita mana pun.
Carol tidak pernah mendengar ada skandal tentang Jonathan dengan perempuan, dia hanya seorang pria yang terkenal tekun dalam berusaha.
Jonathan terkenal sebagai anak penurut, tidak pernah bergaul dengan pria apalagi wanita. Dia adalah sosok lelaki tertutup, jarang bergaul tapi membuat banyak wanita penasaran.
Hampir satu jam Carol menangis seraya memeluk tubuhnya di atas lantai, dia sedang memikirkan apakah benar Jonathan adalah pria yang merenggut kesuciannya atau bukan.
Jika memang iya, pantas saja wajah Julian begitu mirip dengan Jonathan. Tidak ada yang terbuang sedikit pun, matanya, alisnya, hidungnya semua pun sama.
Bahkan, setelah dua bulan Carol tinggal bersama dengan Jonathan, hampir semua kebiasaan Julian sama dengan Jonathan. Bahkan, saat Jonathan bersedih pun tingkahnya begitu sama dengan Julian.
Namun, Carol tidak bisa mengambil keputusan dalam keadaan emosi. Dia berusaha untuk menenangkan dirinya, dia sudah memutuskan ingin bertanya secara baik-baik kepada Jonathan.
"Sebaiknya aku menenangkan diri terlebih dahulu, aku tidak boleh seperti ini," kata Carol.
Akhirnya Carol terlihat berusaha untuk bangun, lalu dia membawa tas miliknya dan membawanya ke dalam kamarnya.
Tidak ada niat sedikit pun untuk membangunkan suaminya itu, rasanya dia belum siap untuk berbicara saat ini dengan Jonathan.
"Ya Tuhan, apakah benar Jo, adalah lelaki yang memperkosaku malam itu?" tanya Carol dengan sedih.
Setelah mengatakan hal itu, Carol terlihat meringkuk di atas tempat tidur. Kini, dia terlihat memeluk tas miliknya yang tidak sempat dia ambil saat malam di mana dia diperkosa.
Karena terlalu lelah menangis, akhirnya Carol tertidur pulas dalam kesedihannya. Carol tertidur dengan kekecewaannya.
**
Pagi telah menjelang, sinar mentari sudah menerobos masuk ke dalam ruangan kerja milik Jonathan.
Mata Jonathan terlihat mengerjap beberapa kali, karena merasa silau oleh sinar matahari yang kini menerpa wajahnya.
Jonathan yang tertidur sampai pagi merasakan lehernya terasa sakit, dia berusaha untuk menegakkan tubuhnya lalu meregangkan otot-otot lelahnya.
"Ya Tuhan, ini sakit sekali!" keluh Jonathan seraya memijat lehernya.
__ADS_1
Setelah merasa lebih baik, Jonathan terlihat keluar dari ruang kerjanya. Lalu, dia melangkahkan kakinya menuju kamarnya bersama dengan Carol.
Saat dia masuk ke dalam kamarnya, dia melihat Carol yang tertidur meringkuk di atas tempat tidur dengan posisi membelakangi dirinya.
Jonatan tersenyum, lalu dia ikut merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memeluk Carol dari belakang. Saat dia mengcup cerukkan leher istrinya, dia merasa kaget karena kini suhu tubuh Carol terasa sangat panas.
Jonathan berusaha untuk membalikkan tubuh istrinya, Jonathan sangat kaget saat melihat wajah sembab istrinya.
"Ya Tuhan, kamu kenapa, Sayang? Kamu nangis karena aku ketiduran di ruang kerja? Ma--"
Jonathan tidak mampu meneruskan ucapannya, kini jantung Jonathan seakan berhenti berdetak saat itu juga.
Karena saat ini, dia melihat Carol yang sedang memeluk tas miliknya yang dia simpan rapi selama enam tahun ini di dalam lemari kaca miliknya yang berada di dalam ruang kerja.
"Itu, i--itu!" Jonathan berbicara dengan tergagap seraya menunjuk tas yang Carol peluk.
Jonathan terlihat memundurkan tubuhnya, dia turun dari tempat tidur dan menatap Carol dengan tatapan tidak percaya.
Jonathan kini mulai bertanya-tanya di dalam hatinya, mungkinkah Carol tadi malam masuk ke dalam ruang kerjanya dan melihat tas miliknya yang dia simpan di atas lemari kaca, pikirnya.
"Oh ya Tuhan, apa yang sebenarnya sudah terjadi? Apakah Carol sudah tahu jika aku yang memperkosanya malam itu?" tanya Jonathan seraya menjambak rambutnya.
Dia kembali mendekat ke arah istrinya, lalu mengecek suhu tubuhnya yang dirasa benar-benar panas. Bahkan, kini Carol terdengar mengigau.
Carol terdengar beberapa kali bergumam dengan tidak jelas dengan raut wajah yang terlihat begitu sedih, Jonathan yang merasa penasaran dengan apa yang dikatakan oleh istrinya, akhirnya menunduk dan mencoba mendengarkan apa yang istrinya itu katakan.
"Kamu tega sekali, Jo! kamu tega! Aku benci kamu, Jo!"
Berulang kali hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Carol, hal itu membuat Jonathan benar-benar merasa frustasi. Dia benar-benar takut ditinggalkan ketika Carol sudah sehat nanti.
"Aku, aku tidak jahat. Kita ke Rumah Sakit," putus Jonathan seraya mengangkat tubuh lemah istrinya.
Jonathan langsung berlari untuk membawa istrinya keluar dari dalam kamarnya, dia harus segera membawa Carol ke Rumah Sakit.
Dia tidak mau terjadi apa-apa terhadap istrinya itu, Berlin yang baru saja selesai membuat sarapan ingin memanggil Jonathan dan juga Carol.
Namun, melihat akan hal itu dia menjadi kaget. Berlin bahkan terlihat berlari untuk mengejar Jonathan yang kini terlihat menidurkan Carol di baku penumpang.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Berlin dengan raut wajah khawatir.
Mendengar pertanyaan dari Berlin, Jonathan terlihat menolehkan wajahnya ke arah ibunya tersebut. Wajahnya benar-benar terlihat frustasi, lalu Jonathan berkata
"Carol panas, aku akan membawanya ke Rumah Sakit. Aku buru-buru, nanti aku ceritakan, Mom." Jonathan langsung masuk dan memeluk tubuh istrinya.
Sopir pribadi keluarga Anderson terlihat membungkuk hormat ke arah Berlin, kemudian dia segera masuk dan duduk di balik kemudi, lalu dia melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit.
Melihat raut wajah frustasi dari putranya, Jonathan. Berlin begitu takut akan ada hal yang tidak diinginkan terjadi, dia merasa cemas.
Karena ingin memastikan sesuatu hal, akhirnya Berlin masuk ke dalam kamarnya. Dia mencari ponselnya, karena ingin melihat rekaman CCTV.
Berbeda dengan Jonathan, kini dia terlihat begitu cemas seraya mendekap tubuh istrinya. Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, Jonathan benar-benar terlihat murung dan juga bersedih.
Apalagi ketika Carol terdengar berkali-kali mengigau dan berkata membenci dirinya, sungguh dia tidak sanggup mendengar kata-kata itu.
Dia baru saja berbahagia dengan Carol, mereka baru saja menjalani rumah tangga dengan penuh cinta.
Jonathan benar-benar ketakutan jika Carol membencinya dan akan meninggalkan dirinya bersama dengan putranya, sungguh dia tidak mau jika hal itu terjadi.
"Maafkan aku, Sayang. Maaf, aku tidak pernah bermaksud untuk merenggut kesucianmu pada malam itu, aku dalam pengaruh obat."
Jonathan berusaha untuk berkata dengan jujur, sayangnya Carol tidak mendengarnya sama sekali apa yang dikatakan oleh suaminya itu.
Justru, kini Carol malah terlihat tidak sadarkan diri. Hal itu benar-benar membuat Jonathan ketakutan setengah mati.
"Sayang! Bangun!" teriak Jonathan, tatapan matanya lalu beralih kepada sang sopir. "Lebih cepat Pak!" teriaknya lagi dengan air mata yang bercucuran.
Rasanya Jonathan benar-benar tidak sanggup berada di dalam posisi ini, rasanya lebih baik melihat Carol sehat dan memukuli dirinya jika memang Carol ingin meluapkan emosinya.
Melihat Carol yang tidak berdaya seperti ini Jonathan merasa dunianya runtuh, dia merasa separuh nyawanya hilang tak berjejak.
"I--iya, Tuan!" sopir itu menjawab dengan tergagap.
Pak sopir terlihat begitu iba kepada Jonathan, karena majikannya itu terlihat sangat kacau. Baru kali ini dia melihat Jonathan yang selalu terlihat berwibawa dan tampan paripurna terlihat tidak berdaya.
"Bangun, Sayang!" Kembali terdengar Jonathan berteriak seraya menepuk pipi Carol.
__ADS_1