AGA DAN YUNA

AGA DAN YUNA
10


__ADS_3

"Ga, besok kamu ada waktu gak, aku ingin berlibur ke pantai?" tanya Yuna disela sarapannya.


"Aku sangat sibuk jadi tidak bisa menemanimu berlibur," tolaknya.


"Ah begitu." Yuna jadi kecewa.


"Aku juga akan sangat sibuk sampai beberapa hari ke depan, jadi aku akan mengantarmu pulang. Disana ada bibi yang akan membantu dan menemanimu."


Yuna mengangguk dengan kecewa. "Baiklah."


Sebenarnya Aga begitu senggang, hanya saja ini caranya untuk menghindar dari Yuna. Membuang perasaan itu tak mudah, tapi ia harus berusaha untuk tidak lagi peduli pada Yuna.


Yuna pun segera beranjak dan mengemas pakaiannya. Sebelum ke kantor, Aga akan lebih dulu mengantar pulang Yuna.


Sebetulnya Yuna begitu berat melangkah pergi dari rumah yang nyaman untuk ia tinggali ini, begitupun yang dirasakan Aga saat ini. Hari-harinya akan sepi ketika Yuna tak lagi menemani.


"Terimakasih, Ga." ucap Yuna ketika lelaki itu mengantar Yuna pulang kerumahnya.


Tanpa menjawab seakan tak peduli, Aga langsung menancap gas dan segera berlalu pergi. Namun, saat tak ada lagi Yuna dia menunjukkan kemarahan pada dirinya sendiri. Begitu sedih.


"Suatu hari nanti aku ingin sekali saja merasakan bahagia, tapi aku takut membuatmu menangis dan membuatmu semakin terluka.


Aku menang se pengecut itu, takut ketika aku benar-benar jatuh cinta dan kamu mengingat semuanya. Aku sangat takut, Yun."


Begitu pilu yang dirasakan Aga, dan itu sangat menyiksa. Terkadang memang hati tak sejalan dengan logika. Sama halnya dengan Yuna yang sering kali mengucap benci bahkan memaki, tapi jauh dari lubuk hati. Dia masih mencintai Aga yang telah menyakitinya.


"Non Yuna apa kabar? Bibi khawatir sekali saat mendengar Non kecelakaan, tapi Tuan Muda tidak mengijinkan bibi menjenguk Non karena khawatir Tuan besar tahu "


Yuna tersenyum. "Aku sudah baik-baik saja kok Bi, Bibi tidak perlu khawatir. Dan terimakasih sudah mengkhawatirkan ku."


"Ah Non, Non sudah Bibi anggap seperti ponakan Bibi sendiri. Jadi sudah sewajarnya Bibi khawatir."

__ADS_1


"Iya Bi." Yuna tersenyum senang mendengarnya. "Oh ya, Paman ada dimana?"


"Paman sedang berada ditaman belakang Non."


"Kalau begitu aku ke paman ya, Bi." pamitnya.


Yuna begitu rindu dengan pamannya, lantas ia langsung menghampiri nya ditaman untuk menyapa.


"Paman." ucapnya sembari memanggil.


Pamannya itu pun menoleh. "Yuna, apa kabar? Bagaimana hubunganmu dengan Aga?"


"Ish paman, baru saja bertemu langsung membicarakan hal aneh." protesnya.


"Ha ha ha apanya yang aneh? Kalian berdua kan habis liburan, jadi wajar dong paman menanyakan perihal hubungan kalian."


Yuna memutar otaknya berpikir. Ah, mungkin Aga beralasan mereka berdua tengah berlibur agar paman tak mencarinya.


"Ah, syukurlah jika kalian baik-baik saja dan mulai mengenal satu sama lain." sahut pamannya dengan senang, sembari menepuk pelan bahu Yuna dengan bangga.


Memikirkan perihal hubungannya dengan Aga, lagi-lagi membuat dirinya dilema. Dia ingin membuat Aga merasakan apa yang dirasakan dirinya selama ini, yaitu sakit hati yang menyiksa. Tetapi, ia sendiri bingung harus memulainya darimana. Sedangkan Aga sepertinya mulai bersikap dingin kembali padanya.


"Aku harus apa?" gumamnya.


****


Kini sudah ke esokan hari, dan Yuna bersiap-siap untuk pergi berlibur ke pantai sembari menjernihkan pikirannya kembali. Rasanya begitu sangat menyenangkan.


Disisi lain, Rino yang tengah berada di perusahaan segera menyelesaikan urusannya lalu bergegas untuk untuk pergi.


"Bapak sudah mau pulang?" tanya sekretaris yang mendampinginya.

__ADS_1


"Iya, aku ada janji dengan seorang teman. Dan sepertinya besok aku tidak bisa masuk kerja, jadi tolong batalkan semua janji dan meeting untuk besok."


"Wah, sepertinya dengan seorang wanita." tebaknya ikut senang."Apakah bapak akan menginap?"


"Ya, begitulah." sahut Rino begitu tampak senang.


Aga yang tak sengaja mendengar percakapan itu lantas curiga. "Apa dia akan pergi berlibur dengan Yuna?" pikirnya. "Ah, tapi untuk apa pusing memikirkannya." ucapnya lagi, tegas tak peduli.


Setelah selesai dengan urusan kantornya, Rino pun lekas pergi untuk bersiap diri lalu menjemput Yuna dirumahnya.


Ia berpakaian kaos polos berwarna putih, celana jeans serta jaket jeans yang menjadi andalan. Tubuhnya yang tegap dan jenjang bak model membuat pakaian yang di kenakannya seperti peragaan ketika berjalan.


"Apa apaan? Kita hanya pergi bersantai ke pantai." protes Yuna, ketika melihat Rino pakaian tampak mengesankan.


Rino menghela nafas, lalu mengambil kacamata hitam disaku jaketnya lalu ia kenakan. "Pesona ku memang tidak beraturan, sekalipun aku memakai pakaian sederhana. Jadi, tidak usah terlalu kagum dan memujiku seperti itu."


"Cih! Siapa yang memujimu."


Rino menyisir poninya dengan jari kebelakang, berlagak bak foto model didepan Yuna bikin Yuna geleng-gelang. "Bagaimana apa kamu sudah jatuh hati padaku?"


"Dasar aneh!" umpatnya, membuat Rino kesal saja. "Ayuk kita segera berangkat mumpung masih siang!"


"Perjalanan hanya memerlukan sekitar satu dua jam, jadi bersantailah!"


"Hem, iya." sahut Yuna, kemudian memasuki mobil mewah milik Rino.


Disisi lain Aga tengah kesal pada Nisa. "Ngapain ikut, sih?" kesalnya.


"Ya kan aku pingin berduaan sama kamu." sahut Nisa dengan manja, bergelantungan dilengannya. "Lagian untuk apa kamu pergi ke pantai masih lengkap dengan baju kantormu ini?"


"Bukan urusanmu! Ada sedang ada bisnis disini." sahut sengenanya, sambil tolah toleh mencari keberadaan Rino dan Yuna.

__ADS_1


"Bisnis?" gumam Nisa merasa aneh, pasalnya Aga sedari tadi hanya diam mengendap-ngendap seperti mencari sesuatu.


__ADS_2