
Mereka berdua berjalan saling bergandeng tangan ditengah keramaian. Mereka menikmati hiburan dijalan, seperti para pemusik dijalan, bahkan anak muda melakukan tarian yang begitu indah.
Begitu banyak pengunjung, bahkan anak-anak kecil yang tengah berlarian. Tak lupa juga jajanan dipinggir jalan yang wajib dicicipi.
Yuna memesan tiga sosis bakar berukuran jumbo. "Ini satu untukmu, yang dua ini buat aku."
Aga tertawa. "Bagaimana bisa kamu hanya membelikan aku satu, sedangkan kamu dua."
"Ck, uang ku tidak cukup. Jadi aku hanya bisa membelikan mu satu."
Aga menghela nafas, ketika ia ingin membayar Yuna mencegahnya. "Biar aku saja yang teraktir."
Aga tertawa. "Baiklah kalau begitu, aku akan gantian mentraktir mu."
"Hah? Mentraktir ku apa?"
Aga mengedarkan penglihatannya, ia kemudian menoleh pada sebuah toko bunga diseberang jalan. "Lebih tepatnya aku akan membelikan mu sesuatu. Jadi, kamu tunggu disini!"
Tanpa mendapat jawaban dari Yuna, Aga pergi menyebrangi jalan dan membeli setangkai bunga.
Ia memilih bunga mawar merah dara lalu mencium wanginya. "Saya beli ini!" ucapnya pada pemilik toko.
"Yuna pasti suka." gumamnya dalam hati, begitu bahagia.
Aga berjalan kembali menyeberangi jalan untuk menemui Yuna, namun sayangnya Yuna tak berada ditempatnya.
Dengan perasaan khawatir Aga mencari Yuna. Ketika Yuna tak kunjung ditemukan, ketakutan itu muncul begitu saja. "Apa Yuna sudah ingat semuanya lalu pergi meninggalkannya?" Hal itu yang selalu terpikir olehnya.
Aga berlarian dengan gelisah, matanya memerah menahan kegelisahan yang begitu hebat. Ia benar-benar takut.
"Aga."
Terdengar suara Yuna memanggil dari belakangnya, Aga menoleh menatap Yuna dengan mata nanar.
__ADS_1
Yuna jadi merasa bersalah melihat Aga yang ia kira sedang marah. "Maaf, tadi aku melihat anak kecil bermain jadi aku..."
Tiba-tiba Aga memeluk Yuna dengan erat, menenggelamkan wajahnya di lekuk leher Yuna. "Aga, kamu kenapa?" tanya Yuna, ketika menyadari Aga menangis karena airmata Aga membasahinya.
"Jangan pergi lagi!" ucap Aga dengan serak dan bergetar.
"Aga." gumamnya.
"Jangan pergi dari hadapanku lagi! Aku takut kamu pergi."
Yuna membalas pelukan itu. "Aku tidak akan pergi, Ga."
"Berjanjilah Yun! Berjanji untuk tidak meninggalkan ku." pintanya disela tangisnya.
Yuna melepas pelukannya, lalu menyeka airmata Aga. "Aku janji, aku tidak akan pernah meninggalkan mu."
Sekali lagi Aga memeluk Yuna dengan lega. "Terimakasih."
****
Aga mengeluarkan sebuah kotak yang berada disakunya, ia kemudian duduk bertumpu satu kaki dihadapan Yuna membuat semua pengunjung yang datang iri melihatnya.
"Aga, kamu ngapain?" bisiknya.
Tanpa menjawab, Aga menyodorkan sebuah kotak kecil itu lalu membukanya. Betapa kaget, disitu terdapat sebuah cincin pertunangan mereka sebelumnya.
"Yuna, maukah kamu menikah dengan ku?"
Orang-orang yang hadir saling mendukung dan mengatakan untuk menerima, Yuna jadi malu dibuatnya.
Sejenak Yuna menghela nafas, menyeka air matanya yang menetes karena terharu. Kemudian tanpa ragu Yuna mengangguk. "Iya aku mau."
Aga lantas memasangkan cincinnya itu di jemari manis milik Yuna, dan langsung mendapatkan tepuk tangan meriah dari orang-orang yang menyaksikan.
__ADS_1
Dengan perasaan bahagia mereka saling berpelukan. "Aku mencintaimu."
"Aku juga sangat mencintaimu, Aga."
****
"Oh ya, kamu dapat darimana cincin ini?" tanya Yuna penasaran, ketika mereka berdua didalam mobil untuk pulang.
"Aku menemukannya ditempat dimana kamu tidak sadarkan diri."
"Ah begitu."
Aga memeluk pinggang Yuna, merapatkan tubuhnya yang tengah duduk disebelahnya.
"Awalnya aku ingin mengganti cincin ini, tapi setelah aku pikir-pikir, kita terikat karena cincin ini. Jadi cincin ini begitu berharga bagiku sekarang dan aku tidak akan menggantinya."
"Aku setuju, karena cincin ini membuat kita terikat dan berharga bagimu. Aku akan benar-benar menjaganya dengan baik."
"Tentu kau harus menjaganya dengan baik, kita akan segera menikah!" pintanya tegas. "Minggu depan kita akan menikah, kau setuju?"
Yuna mengangguk cepat. "Kalau perlu besok pagi juga bisa."
Aga jadi tertawa. "Kita harus mempersiapkan beberapa hal, sayang."
"Sayang?" Yuna jadi merona, Aga malah mencubit kedua pipinya lalu mengecup bibirnya gemas.
"Iya, sayang ku. Calon istriku dan calon ibu dari anak-anakku."
Mendengar itu Yuna jadi begitu bahagia, ia melingkarkan kedua lengannya dileher Aga lalu mencium lelaki dengan mesra.
"Calon suamiku."
Tanpa mempedulikan supir didepannya, mereka berdua asik bermesraan saja seperti dunia hanya milik berdua.
__ADS_1