AGA DAN YUNA

AGA DAN YUNA
35


__ADS_3

"Sayang, kuantarkan ke tempat kerja ya?" ucap Rino merayu sang istri.


"Tidak perlu, aku ingin naik taxi saja."


"Ada supir yang akan mengantarmu, kenapa malah memilih taxi."


Yuna berdecak kesal. "Aku hanya ingin sendiri saat ini, bisa kan?"


"Kamu masih marah, ya?"


Yuna tak menjawab, ia memilih menyibukkan dirinya. "Aku pergi dulu ya!" pamitnya kemudian.


"Yasudah hati-hati dijalan."


Yuna masih begitu tampak marah, ia masih terngiang perkataan suaminya yang menghinakan dirinya. Sedangkan Rino tampak begitu menyesal karena sudah mengatakan hal yang tak seharusnya terucap.


Disisi lain Aga menekan keningnya dengan jemari terasa frustasi, lagi-lagi Vale berulah.


"Kenapa tidak menunggu persetujuan ku terlebih dulu, sih?"


Aga kesal, pasalnya Vale memilih Jessy untuk menjadi brand ambassador untk produk terbaru di perusahaannya.


"Memangnya apa yang salah? Jessy model terkenal, dia sedang naik daun. Dia juga sangat cocok untuk menggambarkan produk baru kita."


"Argh! Terserah kau saja lah."


Aga beberapa minggu terakhir ini sudah berusaha keras untuk melupakan Yuna, malah ia akan bertemu kembali dengannya. Hal itu akan membuatnya sia-sia.


****


"Selamat siang Tuan muda Aga." sapa Jessy begitu ceria, bisa melihat kembali lelaki yang disukainya itu.

__ADS_1


Tanpa menjawab, Aga menoleh pada sekretarisnya. "Len, kamu atur semuanya dengan Jessy serta berikan dia beberapa berkas mengenai informasi produk terbaru dan brand kita!"


"Baik Tuan." menoleh pada Jessy. "Mari saya antarkan ke ruangan khusus untuk Nona!"


"Ah iya."


Jessy sedikit kesal dan cemberut karena Aga masih dingin terhadapnya, bahkan enggan untuk menoleh padanya. Tapi dengan melihat Aga kembali, ia sudah begitu sangat bersyukur.


"Dia manis sekali." gumamnya kegirangan.


Berbeda dengan Jessy yang kegirangan karena akan lebih sering bertemu dengan Aga, Yuna justru merasa gelisah. Ia malah mondar-mandir sedaritadi digedung perusahaan.


"Yun, kamu sedang apa? Ayok masuk kita harus segera bersiap!" ucap Rafi, salah satu staff.


"Oh iya pak."


Yuna pun segera memasuki gedung perusahaan, sembari mengedarkan pandangannya. Gedung ini tak asing baginya, pun juga orang-orang tetap yang mengenalnya.


"Nona, anda disini juga?" ucap Leni menyapa, membuatnya membelalak mata.


"Ada apa, Nona?"


"Aduh Len, tolong jangan beritahu kepada siapapun kalau sebenernya aku itu mantan tunangannya Tuan Aga! Juga tolong beri tahu kepada yang lain juga, kalau mereka harus berpura-pura tidak kenal siapa aku!"


"Tapi Nona..."


Memegang jemari Leni, memohon. "Aku mohon padamu! Aku dan Tuan Aga hanyalah masalalu, dan sekarang dia sedang dekat dengan Jessy. Aku merasa tak enak."


"Baiklah Nona, aku faham maksudmu."


"Terimakasih Len."

__ADS_1


Akhirnya Yuna bisa bernafas lega, ia begitu tenang sekarang. Ia bisa menyiapkan segala busana yang akan dikenakan Jessy untuk shooting dan pemotretan.


****


"Yun, bagaimana penampilanku?" tanya Jessy


"Anda selalu cantik," sahutnya memuji.


"Ah, seandainya kamu Aga pasti aku akan terbang saat ini."


Membayangkannya saja Jessy begitu kegirangan, ia berjinjit sembari menari penuh kegembiraan.


"Hari ini aku akan mengungkapkan perasaan ku pada Aga, menurutmu gimana? Apa dia akan menerima ku?"


Seketika Yuna menghentikan kegiatannya, bersamaan dengan suara keretakan dalam hatinya. "Itu ide bagus."


"Tapi aku tidak yakin dia akan menerima perasaanku, dia terlalu dingin."


"Dia tidak sedingin itu, Tuan Aga orang yang selalu memperlakukan wanita dengan hangat. Dia juga orang yang sangat perhatian."


Jessy mengerut kening keheranan. "Kamu kenal Aga?"


Seketika Yuna tersadar, ia salah tingkah. "Tidak, maksudku biasanya orang yang tampak dingin diluar, didalamnya sangat hangat ketika memperlakukan wanita yang dia cinta."


"Iya kamu benar," Jessy jadi bersemangat. "Jika aku pikir-pikir, Aga pernah berinisiatif untuk menemaniku pemotretan, bahkan dia rela mengantarkan ku pulang meski arah kita berlawanan. Ah, manisnya. Pasti dia juga menyukai ku."


"Dasar, dia hanya malu untuk mengakui itu." imbuhnya, melamun kegirangan.


Yuna hanya terdiam, ia sadar akan posisinya dan tak berhak untuk merasa cemburu atas semua.


"Aku butuh bantuan mu, Yun!" pinta Jessy tiba-tiba, dengan idenya.

__ADS_1


"Bantuan saya, untuk apa?"


"Aku akan memberi kejutan pada Aga sebelum mengatakan perasaanku padanya."


__ADS_2