
"Eh, bukannya itu Yuna." gumam Jessy, ketika tak sengaja melihat Yuna dijalan. "Berhenti!"
Supirnya pun meminggirkan mobilnya dan menghentikan laju kendaraan, dengan segera Jessy turun dari mobil lalu menghampiri Yuna.
"Jessy." Yuna menoleh.
"Senang kita bertemu lagi." sapanya. "Bisa kita bicara sebentar?"
Yuna mengangguk mengiyakan, lalu kemudian mereka berdua memilih berbicara di depan toko swalayan diseberang.
"Jessy, aku minta maaf." ucap Yuna memecah suasana, ketika telah lama mereka dalam keheningan.
"Kenapa kamu berbohong padaku sebelumnya, kalau kamu dan Aga itu saling kenal?"
"Aku tidak punya kuasa untuk menceritakan hal itu padamu."
"Apa kamu tidak pernah menganggap aku ini temanmu?"
"Tidak Jes, bukan begitu. Kamu itu temanku satu-satunya."
"Tapi bagaimana kamu bisa berbohong padaku? Aku merasa seperti orang bodoh ketika menceritakan tentang dia padamu. Kamu pasti menertawai ku."
Yuna menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak Jessy, tolong mengertilah! Aku dan Aga itu hanya masalalu, jadi tidak mungkin aku menceritakan padamu. Apalagi saat aku tahu kamu sangat menyukainya."
"Baiklah, anggap saja aku percaya padamu. Jadi, jauhi Aga kalau kamu masih temanku!"
"Tidak bisa."
"Apa kau bilang?"
"Maaf aku tidak bisa." menundukkan kepalanya. "Aku masih mencintainya, dan sangat membutuhkannya."
"Kamu." Jessy geram, beranjak berdiri sambil menyiramkan segelas air kepada Yuna hingga membasahi wajah serta pakaiannya. "Aku tak mengira kamu bisa berlaku murahan begini, kamu sudah bersuami tetapi masih enggan melepas Aga."
"Kamu bisa melontarkan segala cacian mu padaku, segala amarahmu padaku, aku bisa terima. Tapi, aku tidak akan pernah bisa lagi meninggalkan Aga." sahut Yuna tegas, ia pun berdiri lalu menunduk memberi rasa hormat sebelum ia pergi. "Maaf, aku tidak bisa memenuhi permintaan mu sebagai teman."
Jessy mengepalkan jemarinya geram. "Yuna!" teriaknya. Namun, Yuna sudah tak peduli meski temannya itu memanggil namanya berulang-kali.
Bagaimana jika ragamu terikat, sedangkan hatimu pada yang lain? Yuna sudah merasakan itu dan menahannya sejak lama, jadi kali ini ia tidak akan membiarkan dirinya dan Aga jadi terluka.
Kalian tidak akan mengerti sakitnya menahan rindu setengah mati, namun ketika berjumpa kalian harus saling memaki. Itu sakit sekali.
__ADS_1
****
Yuna melangkah memasuki rumah, melihat sekeliling Aga sudah tak ada ditempat. Ia sangat sedih, tahu Aga tak akan pernah menunggunya.
Ia lalu melemparkan badannya yang lelah diatas kasur. "Eh iya, bajuku basah."
Ketika itu juga terdengar suara dari kamar sebelah, Yuna pun buru-buru beranjak dan berlari menuju asal suara.
"Aga." Yuna tersenyum, langsung memeluk tubuh Aga dari belakang.
"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya dingin, mengambil sebuah buku di rak.
"Memelukmu." sahutnya dengan riang.
Aga membalikkan badannya, Yuna pun melepas pelukannya. Ketika Yuna hendak memeluk tubuh Aga kembali, ia memalingkan muka lalu berjalan pergi.
"Aga, kamu marah ya?"
"Tidak." sahut Aga sengenanya.
"Kamu pasti marah, maafin aku ya?" mohonnya, sambil mengekori langkah Aga.
Aga pun tak peduli, ia memilih duduk sambil membaca buku yang baru saja ia ambil di rak. Yuna pun ikut duduk disampingnya.
"Ah ini, aku tadi tidak sengaja menjatuhkan minuman hingga mengenai bajuku."
"Ceroboh sekali." umpatnya, lalu kembali membaca buku seakan tak peduli.
"Hm, apa kau mau menemaniku ganti pakaian?" ucapnya malu-malu, menggoda.
"Cih!" sahut Aga, menolak.
Yuna menebalkan bibir bawahnya, frustasi rasanya menghadapi lelaki yang tengah marah ini.
Ia pun berinisiatif langsung duduk dipangkuan Aga menghadap pada lelaki itu dan memeluk lehernya.
"Apa yang kau lakukan? Turun!"
"Tidak mau!" mengecup bibir Aga tanpa permisi. "Aku tak tahan melihatmu marah, jangan marah ya!"
"Ck." Aga mendorong pelan tubuh Yuna agar menyingkir, tatapi wanita itu dengan cekatan memeluk leher Aga tanpa mau melepasnya. "Lepaskan! Bajuku juga ikut basah."
__ADS_1
"Tidak mau. Maafin aku dulu!"
Aga menghela nafas pasrah. "Aku tidak suka sikapmu. Kamu berlaku seenaknya sendiri tanpa mengandalkan aku dan menganggap ku tak ada."
"Aga, kamu sungguh salah paham."
"Kau yang tidak mengerti."
"Baiklah, maafkan aku. Sesungguhnya aku tidak pernah berfikir begitu, aku hanya tidak ingin menyeret mu dalam masalahku."
"Apa kamu pikir Rino akan langsung menyetujui keputusan mu itu?"
"Aku tahu pikiranmu, tapi aku dan Rino dalam hubungan yang tidak begitu baik. Begitupun dengan keluarganya, jadi hal ini akan mudah."
"Keluarganya? Apa mereka menyakitimu? Apa dia berlaku kasar padamu?" geramnya. "Beraninya mereka."
Yuna pun tersenyum akan perhatian yang ditunjukkan Aga. "Mereka tidak akan pernah bisa menyakiti aku lagi, karena sudah ada kamu."
"Hm."
"Jadi, kamu tidak marah lagi kan?" godanya.
"Masih, tapi aku sudah sedikit menerimanya meski terdengar seperti alasan."
"Ya ampun pria satu ini."
"Mau kemana?" manarik tubuh Yuna kembali ketika wanita itu hendak beranjak meninggalkannya.
"Mau ke kamar, mengganti pakaian."
"Bukannya pakaianku juga basah karena kamu, kamu harus bertanggung jawab untuk itu."
Yuna mengerti sikap arogan nan menggodanya ini. "Baiklah, aku mengerti." sahutnya sembari berbisik ditelinga Aga.
"Ya sudah, ambilkan pakaianku. Aku masih ingin melanjutkan membaca buku."
Yuna tercengang, ia tak menduga Aga akan mengabaikannya. Ia pun merasa malu dengan sikapnya sendiri.
Hiiiikss menyedihkan.
Ia pun segera beranjak untuk ke kamar, sedangkan Aga tertawa geli melihat ekspresi Yuna seperti itu.
__ADS_1
"Entah apa yang selalu dipikirkan Yuna itu." tawanya.