AGA DAN YUNA

AGA DAN YUNA
13


__ADS_3

Setelah memikirkan matang-matang, akhirnya Aga segera melajukan mobilnya untuk segera menemui Ayahnya.


Setelah sampai didepan rumah orangtuanya ia kembali menyandarkan kepalanya yang terasa berat disetir mobil, sebelum kembali memutuskan untuk turun dan melangkah masuk.


"Ayah, ada yang ingin aku sampaikan." ucapnya ketika baru saja memasuki rumah.


"Hayo masuk dulu, mari kita bicara ditaman belakang!" ajak Ayahnya, dan Aga pun mengangguk, mengikuti sang ayah.


Di bangku taman Aga terdiam dan sesekali menyentuh jemarinya yang terdapat cincin melingkar, dia bingung harus memulai pembicaraan darimana.


"Kamu ingin membicarakan apa dengan ayah?" tanyanya memecah suasana.


"Aku.. Aku memikirkan kembali tawaran dari paman William untuk membangun proyek di Amerika. Sepertinya itu sangat bagus untuk karirku kedepannya."


"Jadi, kamu akan pergi dan tinggal di Amerika?"


Aga mengangguk. "Iya, ayah."


Ia pun menghela nafas atas penuturan anaknya itu. "Lalu, apa kamu sudah membicarakan hal ini dengan Yuna?"


Aga menggelengkan kepalanya lemah, "Belum." sahutnya. "Sebenarnya ada sesuatu yang ku rahasiakan dari ayah."


Ia menoleh menatap putranya bingung, perasaannya mulai tak enak.


"Sebenarnya kita tidak pernah berlibur bersama."


"maksud mu, Yuna beberapa hari tidak pulang bukan karena sedang berlibur dengan mu?"


Lagi-lagi Aga mengangguk. "Sebenarnya Yuna mengalami kecelakaan, dia tertabrak mobil ketika menyelamatkan nyawaku."


Seketika ayahnya memegangi dadanya yang mulai terasa nyeri, membuat Aga jadi panik. "Ayah tidak apa-apa." titahnya, membuat Aga kembali tenang. "Tapi itu bukanlah hal yang bisa membuat mu memutuskan untuk pergi kan, Ga?"

__ADS_1


Aga tersenyum miris. "Aku merasa bersalah padanya ayah, karena sebelum kejadian itu Yuna mendapati ku bersama dengan wanita lain. Bukan hanya itu, Yuna saat ini mengalami hilang ingatan akibat syok berat pasca kecelakaan dan melupakan semua tentang pertunangan kita, bahkan tentang kejadian waktu itu."


"Memang yang lebih segalanya akan tampak berkilauan, tapi sebuah hubungan bukan hanya didasari oleh sayang, Ga. Akan tetapi komitmen untuk menjaga suatu hubungan. Jika sekarang kamu memilih nyaman baru mu itu, apa kamu yakin suatu hari takkan pernah lagi ada yang baru? Berhenti lah berkelana nak, belajarlah mensyukuri apa yang ada. Yuna itu anak yang baik. Jangan pernah membuang permata hanya demi se bongkahan kaca!"


"Aku tahu, ayah. Aku tahu kalau Yuna orang yang baik, periang dan juga sangat menyayangi ayah. Aku juga sudah memutuskan hubungan ku dengan wanita itu. Tapi, aku tetap tidak bisa bertahan dengan kepalsuan ini ayah."


"Ayah ingin bertanya sesuatu pada mu, apa kamu mencintai Yuna?"


Mendengar jawaban itu Aga hanya menoleh dengan sorot mata nanar, ia hanya bisa menunduk kembali tanpa bisa menjawab. Ia merasa tak berhak menaruh perasaan lebih pada Yuna karena kejahatannya.


Melihat anaknya yang hanya terdiam, ia bisa menebaknya sendiri. "Anak ku, penyesalan itu tak bisa diramalkan. Barangkali sekarang kamu yakin ingin meninggalkan, belum tentu nanti kamu tidak merindukan."


"Ayah benar, tapi rasa bersalahku begitu besar, begitu pula rasa takut ku. Aku takut ketika Yuna bisa mengingat semuanya, dia akan pergi meninggalkan ku."


Ayahnya menepuk bahu putranya, memberinya kekuatan untuk tegar. "Apa kamu sudah bertekad untuk pergi?"


Aga mengangguk. "Aku akan pergi besok, karena aku takut tambah lama tinggal disini, akan semakin membuatku sakit nantinya."


"Yuna." Aga jadi menoleh dan beranjak dari duduknya. "Yun, sejak kapan kamu disini?"


"Aku baru saja sampai dan mendengar kalau kamu akan pergi. Benar kah begitu Aga?"


"Iya, aku akan pergi."


Melihat keduanya saling berdiri dan menatap serius, sang ayah memilih pergi tanpa pamit agar tidak mengganggu.


Seketika mata Yuna jadi sembab. "Kenapa? Apa kamu tidak nyaman tinggal disini?"


"Aku nyaman, hanya saja aku ingin meniti karir. Di Amerika mungkin proyek baruku bisa lebih sukses, dan aku bisa mengalahkan teman mu itu." sahutnya tenang, beralasan.


"Lalu, bagaimana dengan ku? Bagaimana bisa kamu meninggalkan ku?"

__ADS_1


Aga tertegun melihat mata merah dan sembab Yuna. "Yuna, kamu sedang sakit. Seharusnya kamu beristirahat dirumah sakit, kenapa malah pulang. Kamu harus menjaga kesehatan mu."


"Lalu aku bagaimana?" pertanyaan itu kembali terlontar bersamaan dengan air mata, dan itu membuat hati Aga sakit.


"Yuna, kenapa kamu menangis begini?" menyeka air mata Yuna, dan Yuna menepisnya.


"Jawab aku, Ga! Lalu aku bagaimana? Aku dan perasaan ku tidak bisa kamu tinggal kan begitu saja." tangisnya.


"Kamu bodoh, kamu tidak boleh menyukai ku!"


"Kenapa aku tidak boleh menyukai mu?"


"Karena aku orang jahat, Yun. Bahkan kamu akan menyesali tangisan mu ini suatu saat nanti."


"Lalu kamu sendiri bagaimana? Apa kamu tidak akan menyesal suatu saat nanti sudah meninggalkan ku dan menolak perasaan ku?" ucapnya menggebu, penuh emosi, lalu menangis kembali.


"Yuna." Aga ingin rasanya memeluk gadis yang tengah menangis dan kecewa didepannya, tapi ia urungkan dan memilih berbalik badan dan meninggalkan nya.


Namun ketika Aga melangkah, Yuna langsung berlari dan memeluk punggung badannya dengan erat. "Jangan pergi, Aga! Tetaplah tinggal! Aku bahkan tidak peduli jika suatu saat nanti akan menyesal sudah mencintai mu. Aku tidak lah peduli."


Aga membalikkan badan menatap wajah Yuna penuh derai air mata. "Kamu bodoh, Yun!" umpatnya. "Seandainya kamu tahu aku pria yang jahat, kamu tidak akan sudi menangisi ku."


Ia kemudian memeluk tubuh Yuna erat, betapa pilu yang ia rasakan sekarang. "Maafkan aku, aku tetap akan pergi."


Yuna seketika pasrah akan hal itu, ia tak mampu mengubah keputusan Aga untuk tetap bersamanya. Ketika Aga melangkah meninggalkannya, ia jadi lemas seketika dan terduduk ditanah. Yuna menangis sejadi-jadinya.


Aku ingin pergi tanpa sekalipun bayangan mu berputar dikepalaku, entah kemana pun itu.


Aku lebih menyukai saat kau melontarkan kata jahat pada ku, daripada kamu mencintai ku lalu kemudian menyesali itu.


maafkan aku yang tak jujur, mengakui perasaan ku kosong walau akhirnya aku jadi pembohong.

__ADS_1


#Aga


__ADS_2