
Rino hari ini pulang sore tak seperti biasanya, dan ia menemukan istrinya tengah duduk sambil meneguk minuman keras dan ia segera merebutnya.
"Berhentilah minum! Kamu itu baru sembuh." pintanya, menjauhkan gelas berisi minuman dari istrinya.
Tanpa peduli Yuna mengambil sebotol minuman dan akan meneguknya, tentu Rino tak tinggal diam dan langsung merebutnya.
"Jangan minum lagi!"
"Kenapa aku tidak boleh minum? Aku sudah melakukan hal ini setiap hari, jadi kamu tidak usah khawatir aku akan mabuk."
Rino keheranan, pasalnya Yuna tidak seperti ini sebelumnya. "Kamu kenapa seperti ini?"
"Aku kenapa? Ha ha ha." Yuna tertawa frustasi. "Kamu yang kenapa? Kenapa baru sekarang memikirkan aku seperti ini? Saat aku mengatakan sakit, kamu anggap itu hal yang remeh, padahal dulu saat jariku terluka kamu selalu datang dengan wajah cemas. Tapi sekarang, kamu datang menampakkan wajah datar ketidak pedulian meski aku harus sakit mempertaruhkan nyawa karena mu."
"Yuna."
"Diam!" teriaknya frustasi. "Aku membencimu Rin."
"Yuna, dengarkan aku!"
"Jangan katakan apa-apa, aku tidak ingin dengar!" menutup kedua telinganya dengan jemari. "Jangan katakan mencintai ku kalau hanya ingin menyakitiku dan menyia-nyiakan aku saja!"
"Tolong dengarkan aku! Ini tidak seperti yang kamu pikir."
"Lalu seperti apa?" menepis kedua tangan Rino ketika hendak memegang kedua bahunya. "Aku selalu kau anggap hina, kau anggap aku kotoran, dan kau anggap aku memalukan. Begitu kah?"
"Yuna."
"DIAM!" teriaknya lagi. "Segalanya sudah berakhir Rino, kepercayaan ku, kekagumanku, bahkan rasa bertahan ku karena meyakini mu. Sekarang aku malah jadi membencimu."
"Aku bersalah, aku tidak menyadari bahwa selama ini sikapku hanya menyakitimu." Rino menunduk sedih.
"Seharusnya kita tidak pernah menikah."
"Tolong jangan ucapkan kata itu, Yun!" Rino memohon.
"Mari kita bercerai!"
Rino pias seketika, ia menggelengkan kepalanya cepat. "Tidak Yun, aku tidak mau. Tolong beri aku kesempatan sekali lagi, aku akan merubah sikapku!"
"Maaf, tapi bersamamu terlalu menyakitkan bagiku."
Yuna berucap dengan berderai air mata, sebelum kemudian ia benar-benar pergi meninggalkan Rino seorang diri.
__ADS_1
Langkah Yuna rapuh, dan ia tak tahu harus pergi kemana. Ia benar-benar meratapi takdir yang begitu tak berpihak padanya.
****
"Hmm Tuan."
Aga menghela nafas kesal, dari kemarin sekretarisnya ini selalu ingin menanyakan sesuatu tapi tak jadi membuat Aga kesal saja.
"Apa sayang, kau mau menanyakan apa?"
"Tidak jadi ah." memalingkan muka tak suka.
"Yah! Kenapa kau yang marah sih?" Teriak Aga frustasi. "Seharusnya aku yang sudah dibuat kesal dari kemarin karena kau hanya ha hem ha hem seperti orang gagu."
"He he kok Tuan cepat emosi sih, sabar Tuan. Nanti kau cepat tua."
Aga memutar bola matanya jengah, pada akhirnya si Leni akan membicarakan hal lain. Aga menebak hal itu.
"Hmm Tuan.."
"Len, bunuh aku sajalah! Aku sudah tidak sanggup marah padamu." akhirnya Aga pasrah.
"Ha ha ha, kan saya semakin tidak jadi ngomongnya."
"Iya sih, kan saya cuma mau menanyakan pendapat Tuan tentang hubungan Nona dengan suaminya."
"Ya kenapa kau bertanya padaku? Bukan urusanku."
Leni mendekatkan wajahnya, mengamati dengan lamat ekspresi Aga yang tampak biasa saja. "Tuan serius tak peduli lagi?"
"Entahlah, kenapa kau tumben menanyakan soal Yuna?"
"Ya, ya karena teringat saja." sahut Leni sengenanya.
Aga jadi terdiam, bayangan Yuna begitu lekat diingatannya. Sakitnya hati ketika dikhianati tak separah sakitnya ketika menahan rindu namun tak bisa bertemu.
Ketika melihat sekilas wajah kesedihan terukir di wajah Aga membuat Leni bersalah karena harus membuatnya mengingat kembali.
"Menurutmu, jika kamu jadi aku. Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Aga.
"Pilihan yang sangat sulit, tapi semisal saya menjadi Tuan ya mungkin akan memilih pergi bersenang-senang dengan wanita manapun yang pernah saya temui."
Aga berdecak heran. "Pikiranmu itu cocok dengan Vale, seharusnya kalian berdua berjodoh."
__ADS_1
"Sembarangan! Gini-gini saya masih waras."
"Ha ha ha memangnya Vale kenapa?"
Leni menggelengkan kepala. "Dia tak ada harapan, terlalu bar-bar untuk ukuran pria dewasa. Tubuhnya juga tidak sebagus Tuan. Pasti kecil." sahutnya seraya becanda.
"Ya ampun Len! Pikiranmu sudah ternoda ya." Aga jadi cekikikan.
"Hehe, ayo serius bicara!"
"Kau yang tidak serius dari tadi."
"Iya maaf." sahut Leni. "Sebenernya beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan Nona Yuna, sepertinya dia sedang ada masalah dengan suaminya."
"Kau tidak sedang bercanda, kan?"
"Serius!"
"Cih! Pengarang handal." umpat Aga.
Leni pun tersulut dan keceplosan. "Saya benar serius, bahkan Nona menginap dirumah."
"Apa?"
Leni menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Ya ampun, padahal aku sudah berjanji tidak akan menceritakan hal ini pada siapapun." gumamnya menyesal.
"Tolong ceritakan semuanya padaku, Len!"
"Maaf Tuan, hanya itu yang saya tahu. Kalau waktu itu Nona Yuna sedang ada masalah dengan suaminya, lalu dia menginap dirumah saya sementara."
"Terus? Apakah Yuna sudah kembali pada suaminya?"
Leni mengangguk mengiyakan, membuat Aga kembali tak ada harapan. "Iya Tuan, dia pulang karena takut suaminya khawatir."
"Ah begitu." Aga menunduk sedih, ternyata tak seperti dugaannya. "Ternyata aku memanglah bodoh."
"Tuan." Leni ikut sedih. "Kenapa Tuan berkata seperti itu?"
"Sejenak aku penuh harap, dia akan lari kembali kepelukanku. Ternyata aku salah, dia kembali pulang pada suaminya. Pikiranku sangat bodoh, bukan?" Aga tertawa miris.
"Maafkan saya."
Leni jadi merasa salah, seharusnya ia tidak perlu menceritakan hal ini pada Aga kalau pada akhirnya akan membuatnya terluka.
__ADS_1