
Yuna membanting tubuhnya diatas kasur dengan kesal, mengabaikan Aga yang sedari tadi ingin berbicara padanya.
"Yun, kamu masih marah atas kejadian tadi?"
"Entah lah," sahutnya ketus, sengenanya.
"Pria itu tidak cocok denganmu, dari tampangnya saja dia suka merayu wanita. Bahkan, wajahnya itu agak aneh menurutku."
"Aneh dari mananya?" Yuna mengerut kening bingung dengan penjelasan Aga yang dibuat-buat itu.
"Ah pokoknya dia tidak pantas untukmu." sahutnya.
"Lalu, yang pantas untukku siapa? Kau?" sinisnya.
Mendapat pertanyaan itu membuat Aga jadi salah tingkah, dia sendiri bingung akan perasaannya. Bahkan, dia sendiri merasa tak pantas untuk Yuna.
"Terserah kamu sajalah." Aga jadi pasrah.
"Cih!" Yuna bersindakap meledek.
"Apa di kepalamu itu tidak ada sedikitpun ingatan tentangku?"
"Tentang apa?"
"Ya tentang kita berdua, tentang cincin ini?" menunjukkan jemarinya.
Yuna jadi melihat dengan lamat benda yang melingkar dijari manisnya sendiri, "Aku bahkan tidak peduli dengan cincin ini, dan aku tidak ingat apapun."
Mendengar jawaban Yuna, Aga jadi begitu kecewa. Bukankah dulu Yuna selalu ingin bersamanya, bahkan selalu mengemis perhatian darinya. Tapi kini dirinya tak lagi ada dihati Yuna.
Apa mungkin karena kejadian waktu itu, jadi dia terus membenciku meskipun ingatannya telah hilang?
Aga jadi berfikir, bahwa memang sepantasnya Yuna membenci dirinya yang brengsek itu. Ia pun teringat akan tujuannya, bahwa dirinya akan pergi dari kehidupan Yuna ketika Yuna pulih dari sakitnya.
"Ya, baguslah." ucap Aga acuh, lalu berbalik badan dan segera melangkah keluar begitu saja.
"Apa maunya itu orang sih, menyebalkan sekali." gumam Yuna dengan gusar, ketika Aga sudah pergi dan ia mengomel sendiri didalam kamar.
Sedangkan Aga duduk termenung sembari membenturkan kepalanya berulang, berharap pikiran serta perasaannya normal kembali dan ingat pada tujuan utamanya, yaitu pergi dari kehidupan Yuna.
"Ini tidak boleh terjadi." doanya dalam keadaan takut.
****
"Ini apa?" tanya Yuna heran ketika Aga menyodorkan sebuah kotak besar untuknya.
__ADS_1
"Buka saja!" pintanya.
Yuna pun segera membuka kotak besar berisi gaun indah itu, gaun berwarna coklat muda keemasan yang begitu menyatu dengan kulitnya yang putih nan cerah.
"Wah cantik sekali! Ini serius buat aku?"
Aga mengangguk, "Pakailah dan ikut denganku!"
"Kemana?" tanya Yuna bingung.
"Nanti malam aku harus datang ke pesta para relasi bisnis, dan aku tidak bisa membiarkan mu dirumah ini sendirian."
"Oh begitu, baiklah. Aku akan ikut denganmu." sahut Yuna dengan mimik wajah gembira, seakan dia mendapatkan undian lontre saja.
Seharian Yuna menyibukkan dirinya dengan segala perawatan, ia benar-benar mempersiapkan diri untuk menjadi pantas datang ke pesta besar.
Kini sudah malam hari tiba dan Aga sudah mempersiapkan dirinya memakai setelan jaz hitam yang sesuai dengan ukuran tubuhnya yang jenjang.
Aga berulang kali melirik jam tangan, menunggu Yuna selesai berdandan. "Yun, apa sudah selesai dandannya?"
Yuna tanpa menyahut langsung keluar menuruni anak tangga. Bunyi sepatu hak tinggi yang khas menyita perhatian Aga hingga membuat dirinya menoleh pada asal suara.
Aga pun tertegun dengan penampilan Yuna malam ini. "Cantik," gumamnya, lalu tersadar. "Ah tidak, maksudku tidak begitu buruk daripada kemarin."
Yuna memutar bola matanya jengah, kesal karena tidak mendapat pujian. "Minggir!" pintanya dengan kesal, ketika Aga berdiri dihadapannya dan seakan menghalangi jalannya.
"Hai babe!" sapa Nisa tiba-tiba ketika Aga melangkah masuk kedalam pesta. Sedangkan Yuna berdiri tepat disebelahnya.
"Bicaralah dengan formal!" titah Aga, membuat Nisa menjaga sikapnya. Meskipun ia tahu bahwa Aga jadi dingin begitu karena ada Yuna.
"Baik Tuan," sahutnya menundukkan kepala.
Aga pun kembali melangkah masuk kedalam meninggalkan Nisa, begitupun dengan Yuna yang datang menemaninya.
"Tadi itu kekasihmu, ya?" tanya Yuna penasaran.
"Kenapa?"
"Ya tidak, aku hanya bertanya. Sepertinya dia kesal karena kamu datang denganku." sahutnya, sembari menoleh pada Nisa yang tengah menatap tajam pada dirinya.
"Biarkan saja!" sahut Aga tak peduli, lalu mengambil segelas anggur yang disediakan untuk ia teguk.
"Yuna." ucap seseorang seraya memanggil, membuat Yuna menoleh padanya.
"Rino, kamu juga ada disini?"
__ADS_1
"Iya, aku datang karena ingin menemui partner bisnis penting." sahutnya tanpa mempedulikan Aga yang berdiri disebelahnya. "Bagaimana kalau kita mengobrol disana?" menunjuk tempat yang tak begitu ramai.
"Boleh. Yuk!" sahut Yuna mengindahkan ajakan sahabatnya, lalu menoleh pada Aga berniat berpamitan. Aga yang mengerti lantas mengangguk setuju.
Dari kejauhan Aga memperhatikan Yuna yang sedang mengobrol dengan Rino, mereka saling tertawa dan berbisik ditelinga masing-masing membuat hati Rino begitu terbakar. Ia bahkan tidak mempedulikan seseorang yang tengah mengajaknya berbincang.
"Babe, aku sudah lama gak ketemu kamu. Beberapa hari ini kamu sibuk tidak bisa dihubungi, dan sekarang kamu seperti mengabaikan ku." ucap Nisa datang tiba-tiba, merengek dan merusak suasana.
"Iya maaf, aku sibuk." sahut Aga sengenanya, sambil memperhatikan Yuna dan Rino yang masih begitu akrabnya.
"Huh, pokoknya aku gak mau tahu. Aku mau malam ini kamu temenin aku!" pinta Nisa dengan manja.
"Babe! Kamu dengerin aku gak sih?" desak Nisa ketika urung mendapat jawaban dari kekasihnya.
"Maaf, kamu bilang apa barusan?" tanya Aga lagi tak mendengar.
"Aku mau kamu bersamaku malam ini." sahut Nisa dengan penekanan.
"Aku tidak bisa."
"Kenapa?" tanyanya.
Tanpa menjawab pertanyaan Nisa, Aga langsung saja melangkah meninggalkannya dan berjalan mencari Rino dan Yuna yang sudah berjalan keluar dari gedung pesta.
Ketika Aga melihat Yuna hendak memasuki mobil milik Rino, dengan cepat Aga berlari dan langsung memegang lengan Yuna, menahan gadis itu untuk pergi tanpanya.
"Aga." Yuna keget ketika Aga tiba-tiba datang dan memegang lengannya.
"Kamu kenapa, Yun?" tanya Aga cemas ketika mendapati wajah Yuna menjadi pucat.
"Aku hanya sedikit pusing, dan aku ingin pulang." tuturnya.
"Kalau begitu, biar aku saja yang mengantarmu pulang." pintanya.
"Tidak, biarkan aku saja!" ucap Rino.
"Dia datang bersamaku, tentu dia harus pulang bersamaku juga." tegas Aga.
Mereka berdua jadi saling memegang lengan Yuna, dan berebut siapa yang paling pantas untuk mengantar pulang Yuna.
"Lepas! Kalian berdua apa apaan sih, seperti anak kecil saja?" kesal Yuna pada keduanya, lalu menoleh pada sahabatnya. "Rin, aku akan pulang bersama Aga."
"Tapi Yun-"
"Tidak apa-apa, yang diucapkan Aga benar. Kalau begitu aku pulang duluan ya Rin. Sampai jumpa Minggu depan."
__ADS_1
"Ya, baiklah." sahut Rino pasrah akan keputusan Yuna.
Lagi lagi Rino kalah oleh Aga.