AGA DAN YUNA

AGA DAN YUNA
44


__ADS_3

"Vale, ijinkan aku bertemu dengan Aga, aku ingin berbicara padanya."


Jessy sudah beberapa hari susah untuk menemui kekasihnya itu, ia mengerti bahwa Aga dalam masa sulit, akan tetapi ia tidak ingin menyerah untuk mengambil hatinya.


"Kebetulan, Aga juga sudah menunggu mu. Dia berada di bangku taman belakang."


Jessy mengangguk. "Baiklah, aku akan menemuinya."


"Jes." panggil Vale, Yuna pun menghentikan langkahnya. "Apapun keputusan mu dengan Aga, aku tetap berada di pihak mu."


"Iya."


Sahutnya sebelum pergi menemui Aga. Jessy tersenyum ketika Vale menyemangatinya, hatinya yang semula gelisah tak menentu menjadi sedikit lega.


Di bangku taman Aga sudah menunggunya, meski Aga berpakaian sederhana hanya mengandalkan kaos polos dan rambut sedikit acak-acakan, membuatnya masih terlihat begitu tampan. Pesonanya begitu lekat, membuat siapapun yang melihatnya jadi terpana. Begitupun dengan Jessy yang selalu mengagumi keindahan wajahnya, Tuhan membuat mahakarya luar biasa.


"Kamu sudah menunggu ku lama?" tanya Jessy, duduk sebelah Aga.


"Tidak," sahutnya tersenyum pasi. "Aku ingin berbicara sesuatu padamu."


"Aku juga ingin berbicara padamu."


Ekspresi Aga serta mata yang tak bisa menatap padanya membuat Jessy sudah menduga, bahwa Aga akan mengatakan sesuatu yang tidak diinginkannya.


"Biarkan aku lebih dulu yang berbicara!" pinta Aga.


"Tidak boleh, biarkan aku lebih dulu!" tolaknya, tak ingin mendengarkan hal buruk keluar dari mulut Aga.


"Mari kita putus!"


Jessy pias seketika, hal yang ia takutkan dan sudah ia duga akhirnya terucap dari mulut Aga.


"Aku tidak mau! Aku tahu kamu masih tidak bisa melupakan Yuna, tapi aku yakin perlahan kamu akan melupakannya. kamu akan mencintaiku."


Aga tersenyum pasi, begitu lemah dan tergambar kata lelah diwajahnya. "Dia memiliki ruang khusus di hatiku yang tidak seorangpun bisa memasukinya."


"Aku tahu, tapi jika kita terus bersama pada akhirnya kamu akan mulai mencintaiku."


"Tapi Jes, cinta tidak bisa mudah tumbuh dengan cara seperti itu. Status sebatas status tanpa perasaan yang tulus. Jalan denganmu terasa biasa saja, tak mengubah rona wajahku. Pun berjumpa denganmu tak mempercepat gerak jantungku. Saat kamu menarik ulur langkah, aku tak sedikitpun gelisah. Tetap terasa hambar dan tak bergairah. Mungkin itu karena aku gagal berusaha menanam rasa untukmu. Maafkan aku."


Mendengar perkataan yang menyayat hati membuat hati Jessy perih, ia tak bisa menahan air matanya. Meskipun Aga tak tega melihatnya menangis, akan tetapi ia tidak ingin membohongi Jessy terus menerus perihal perasaannya selama ini.


"Maaf, aku harus mengakhiri hubungan ini. Kamu pasti akan menemukan seseorang yang lebih baik."


"Aku tidak akan menemukan pria seperti mu, Aga."

__ADS_1


Aga memegang jemari Jessy, menenangkannya. "Jangan berbicara seperti itu! Kamu berhak bahagia."


"Lalu, bagaimana denganmu? Dia sudah berulangkali menyakitimu, kenapa kamu masih menyukai perempuan seperti itu sih?"


Aga seketika marah. "Itu urusanku dengan Yuna, dan kamu tidak boleh membencinya."


"Kenapa? Kenapa aku tidak boleh membenci seseorang yang sudah merebut mu dariku?"


"Jagalah sikapmu, Jes! Dia menganggap mu teman, merahasiakan tentang kita karena dia tak enak hati padamu. Aku tidak bisa mencintaimu, bukan berarti itu salahnya. Dan dia tidak pernah merebut ku darimu."


Aga mengehela nafas, sebelum berucap kembali. "Aku sudah jujur padamu, aku pamit pergi."


"Hikks. Sampai akhir, kau pun masih membela perempuan itu." gumam Jessy dalam tangisnya.


****


Kini sudah waktunya Yuna melakukan medical checkup kerumah sakit, dan Rino berjanji untuk menemaninya.


"Rino, katamu akan menemaniku checkup kerumah sakit?" tanya Yuna diseberang.


"Iya sayang, kalau begitu tunggu dirumah. Aku akan menjemputmu."


"Baiklah, ku tunggu."


Begitupun dengan Rino yang kini sudah beranjak dan meninggalkan meja kerjanya untuk menemani istrinya. Mungkin dengan cara ini ia bisa memperbaiki hubungannya yang renggang dengan sang istri.


"Kalau ada yang bertanya tentangku, tolong katakan bahwa aku sedang tidak ada di kantor ya! Aku akan menemani istriku checkup hari ini." pintanya pada sekretarisnya.


"Baik Tuan."


Percakapan singkat itu terdengar oleh Irish yang memang kebetulan ingin bertemu dengan Rino. Jadi Irish kembali ke lantai satu untuk menunggu Rino saja.


Ketika Rino keluar dari dalam lift seorang diri, ia langsung membelalak kaget ketika langsung disuguhkan oleh Irish yang akan pingsan.


Untung Rino secara sigap menangkap tubuhnya yang akan terjatuh, sehingga Irish tidak terbentur kelantai.


"Irish, kamu kenapa?" tanya Rino dengan panik, memeluk tubuh Irish yang lunglai.


"Rino."


Irish hanya berucap lemah, sebelum kemudian menutup kembali matanya lalu pingsan. Rino yang panik dan tak berpikir jernih lagi, segera menggendong tubuh Irish untuk membawanya segera kerumah sakit yang tak jauh dari kantornya.


Sedangkan disisi lain Yuna sudah menunggu Rino dengan gelisah.


"Bukannya butuh beberapa menit saja untuk sampai dirumah, tapi kenapa sampai sekarang belum juga datang."

__ADS_1


Yuna hanya bisa mondar mandi seharian, ia lalu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan bahwa ini sudah sore hari.


"Aku akan menunggunya dirumah sakit sajalah."


Ia pun segera meminta supir untuk mengantarkannya kerumah sakit, didalam perjalanan ia mendapatkan sebuah pesan singkat dari suaminya.


"Maafkan aku, tidak bisa menemanimu kerumah sakit."


"Iya tidak apa-apa." balasnya.


"Kamu tidak marah, kan?"


"Tidak."


"Aku benar meminta maaf, bukan bermaksud mengingkari. Aku tadi sudah siap-siap buat jemput kamu tapi Irish tiba-tiba sakit, jadi aku harus membawa dan menemaninya kerumah sakit."


Membaca balasan itu Yuna jadi tertawa miris, ia menertawakan dirinya sendiri yang menyedihkan, bukan prioritas utama bagi suaminya.


"Iya, temeni saja dia. Aku bisa sendiri."


"Tolong jangan marah!"


"Jangan marah? Ha ha ha." Yuna tertawa dalam tangis. menyedihkan.


"Pak, turunkan aku disini!" pinta Yuna kemudian.


"Tapi Non, rumah sakit masih agak jauh."


"Aku akan pergi sendiri, bapak pulang saja kerumah!" pintanya.


Mau tak mau sang supir menghentikan laju kendaraannya ditepi jalan, dan Yuna pun keluar.


Yuna hanya ingin berjalan sambil menenangkan pikirannya.


Mungkin dengan ia berjalan dengan memakai haknya, itu akan membuat kakinya kesakitan dan sedikit meredakan kesedihannya. Karena dengan sakit fisik, akan mampu melupakan sakit di hatinya walau sekejap.


Ia berjalan menelusuri jalan dengan badan sedikit goyah, dengan isi kepala yang hampir pecah, sebelum kemudian penglihatannya kabur dan dadanya sesak.


BRUGH!!


Yuna tiba-tiba tak sadarkan diri, ia tak mampu lagi menapaki kaki.


****


Maapkan banyak tipo

__ADS_1


__ADS_2