AGA DAN YUNA

AGA DAN YUNA
38


__ADS_3

"Rino, sebaiknya kamu beristirahat! Kamu sudah terjaga semalaman, nanti kamu bisa sakit."


"Tidak Irish, aku harus menyelesaikan semuanya. Proyek kali ini tidak boleh gagal, aku tidak mau kehilangan kesempatan lagi." sahutnya penuh tekad.


Pasalnya sudah beberapa tahun terakhir kondisi perusahaan menurun, mereka harus bersaing dengan perusahaan milik keluarga Herman yang tak lain adalah Aga. Semua tender terkalahkan, entah bagaimana bisa perusahaan yang semula kecil itu bisa bangkit begitu pesat hanya dalam beberapa tahun saja.


Disisi lain Vale bertepuk tangan ketika mendengar ide cemerlang dari seorang Aga. "Harus ku akui kau memang jenius sepupu, bahkan perusahaan kita ini berkembang pesat." pujinya.


"Yah seperti yang kau katakan, aku harus melakukan suatu hal yang berguna agar bisa hidup."


"Apa aku harus berterimakasih pada Yuna karena sudah membuatmu putus asa, lalu kamu fokus untuk bekerja?" ledeknya.


"Sialan!" melempar bolpoin yang ia pegang, ia kemudian kembali merenung.


"Aku kan benar. Tapi kamu serius berkencan dengan Jessy? Jangan menyakiti perasaannya!"


Aga malah menekan keningnya, terasa frustasi. "Yuna, dia selalu membuatku tersiksa, mengucap kata cinta lalu membodohi ku begitu saja. Kalau boleh memilih aku tidak akan pernah menaruh hati padanya. Lalu aku bisa menaruh hatiku suka rela pada siapa saja, termasuk Jessy."


"Sudahlah sepupu, jangan dipikirkan lagi! Kalian sudah menjadi masalalu. Kau juga harus tau batasan mu, dia itu istri orang."


Aga jadi tertawa frustasi. "Kau benar. betapa tidak tahu dirinya aku masih mengharapkan wanita yang sudah menjadi milik orang, dan sekarang dia bahkan terang-terangan mencampakkan ku, menyuruhku untuk bersama wanita lain agar aku berhenti berharap padanya. Ah, aku begitu bodoh."


"Tenanglah! Jika kamu jatuh cinta lagi, hatimu pasti akan merasa lebih baik."


"Jatuh cinta? Cih! Jika kamu jatuh cinta hatimu akan merasa bahagia, siapa bilang? Karena yang aku ketahui selama ini adalah mencintai seseorang sebelah tangan dan dihancurkan." Aga tertawa miris. "Berhenti lah membahas soal hati, aku hanya ingin bekerja saja saat ini!" imbuhnya.


Vale jadi merasa bersalah ketika membahas dia lagi. "Baiklah, kalau begitu aku akan menemui Jessy sekarang."


"Hah, untuk apa?"


"Melamarnya untuk menjadi istrimu."


"Bedebah! Seriuslah! Aku bukan anak kecil, hubungan juga tidak secepat itu."

__ADS_1


"He he he aku hanya becanda, kenapa kau serius sekali sih." ledeknya.


"Pergilah! Biar aku saja yang akan menemuinya."


"Nah bagus, begitu dong dari tadi." Vale jadi cekikikan, sepupunya peka juga, pikirnya.


****


"Eh Aga, kebetulan kamu disini," Jessy menyibukkan diri, bersiap untuk pergi.


"Sudah selesai pemotretannya?" melihat sekeliling.


"Belum, tapi aku mohon ijin pergi sebentar. Asistenku sedang masuk rumah sakit hari ini, jadi aku akan menjenguknya sekarang."


"Apa! Yuna sakit? Dia sakit apa? Bukannya dia sedang hamil, bagaimana dia bisa jatuh sakit? Apa suaminya tidak mengurusnya dengan benar? Si Ringkih itu kenapa tidak bisa menjaga diri sih."


"Kenapa kamu sekarang bahkan terlihat lebih khawatir daripada ibunya? Ha ha ha."


Aga jadi salah tingkah, seharusnya dia bersikap tak peduli. "Ah, aku hanya mengkhawatirkan bayinya, aku merasa kasihan saja padanya."


Aga mengangguk, ingin melangkah pergi namun seketika langkahnya pun berhenti. Ia ingat, tak seharusnya ia memikirkannya lagi. "Kamu sendiri saja! Aku sibuk banyak kerjaan."


"Baiklah, sampai jumpa pacarku." Jessy melambaikan tangan, berpamitan.


Sedangkan Aga membalikkan badan, mengepalkan jemarinya dengan kesal.


"Aku tidak akan peduli padanya."


****


Yuna setengah duduk sambil melamun, lalu Jessy pun masuk ke kamar inapnya.


"Yuna, kamu sakit apa?" memeluk, dan Yuna pun membalas pelukannya.

__ADS_1


"Hanya infeksi pasca keguguran beberapa minggu yang lalu." sahutnya sedih.


"Ya ampun, aku turut sedih. Aku fikir kamu cuti kerja karena ada hal lain." Jessy sedih, namun kemudian kesal. "Kenapa kamu tidak cerita kepadaku? Kita kan teman."


Mendengar kata teman membuat Yuna tersenyum. "Maaf saya tidak bisa bercerita."


"Ah lupakan! Lain kali kamu harus berbagi sedih mu denganku." ucapnya ketika melihat Yuna bersedih. "Yang terpenting sekarang kamu harus benar-benar menjaga kesehatan."


Yuna mengangguk mengiyakan.


"Kalau begitu aku pamit pergi, maaf aku tidak bisa berlama-lama menemanimu, aku harus menyelesaikan pemotretan hari ini. Lekas sembuh ya, Yun."


"Iya, terimakasih sudah menjengukku."


Setelah Jessy pergi, Yuna kembali membaringkan tubuhnya diatas ranjang. Ia mulai memejamkan matanya tanpa mengetahui seseorang berdiri disampingnya.


"Aga."


Ucap Yuna seraya memanggil pada Aga yang sudah memunggunginya. Ia tak menoleh.


"Aku dengar sup dan kacang-kacangan bagus untuk ibu yang mengalami keguguran, jadi aku membawakannya untukmu. Makanlah!" sahutnya, lantas melanjutkan langkahnya.


"Tunggu Aga! Terimakasih." ucapnya canggung.


Ia pun berhenti, lalu menoleh kali ini. "Jangan kira aku peduli, itu hanya pemberian dari Jessy. aku hanya mengantarnya."


"Ah begitu." menunduk sedih.


"Jangan tahan aku lagi, aku malas melihat wajahmu lag!."


Setelah mengucapkan kalimat jahat itu, Aga berlalu pergi tanpa mempedulikan Yuna yang bersedih.


Selang beberapa saat, Rino pun datang dan segera memasuki ruangan.

__ADS_1


"Istriku, kamu baik-baik saja kan?"


__ADS_2