AGA DAN YUNA

AGA DAN YUNA
40


__ADS_3

Betapa terkejut dan heran Jessy ketika mengetahui makanan ini dari Restoran yang baru saja ia datangi bersama Aga.


Namun, ia mencoba menepis kecurigaannya. Begitu tidak mungkin sekali karena jelas-jelas Yuna sudah memiliki suami.


Ah mungkin hanya kebetulan saja, pikirnya.


"Maaf menunggu lama," ucap Yuna ketika dari kamar mandi.


Jessy mengangguk, tersenyum. "Oh ya, kamu sangat suka Fried Herring Sandwich?"


"Iya suka, tapi saya tidak menyukai acarnya."


"Ah, begitu."


"Memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa, aku hanya bertanya." sahutnya tanpa curiga. "Oh ya Yun, jangan bicara begitu formal dong. Mulai sekarang kan kita teman, jadi aku tidak suka kalau kamu masih berbicara terlalu sopan padaku."


"Baiklah, aku akan berbicara apa adanya denganmu saat ini." Yuna tersenyum. "Terimakasih sudah menganggap ku sebagai teman, tapi aku bukanlah teman yang baik. Kamu akan membenci ku suatu saat nanti."


"Jangan berbicara begitu! Apa yang akan bikin aku membencimu, kamu orang yang baik Yun. Makanya aku senang jika kamu bisa lebih dekat denganku." menggenggam jemari Yuna. "Jangan berbicara seperti itu lagi, ya!" pinta Jessy, seraya memohon.


"Iya maaf."


Jika Jessy tahu bahwa dirinya adalah masalalu menyakitkan seseorang yang ia suka, apakah Jessy masih mau berteman dengannya. Pikir Yuna, tak yakin.


****


Aga terjaga sepanjang malam, ia khawatir dengan keadaan Yuna. Ia terngiang wajah Yuna yang menampakkan kesedihan.


"Apa dia baik-baik saja?" gumamnya.


Ia tidak bisa tidur nyenyak, bahkan ia tidak dapat memejamkan matanya. Bagaimana ia bisa terlelap sedangkan Yuna disana sakit. Lebih lagi Aga tadi sudah berbicara dengan dokter yang menangani Yuna.


"Bagaimana bisa dia menggugurkan kandungannya?"


Aga berpikir itu aneh, pasalnya Yuna sangat menjaga kandungannya. Ia tak meminum alkohol karena ia sadar sedang hamil, tapi kenapa mereka mendadak mengugurkan kandungannya dengan sengaja?


Ia berpikir layaknya dihadapi dengan sebuah kuis penuh teka teki, membingungkan sekali.

__ADS_1


Sementara itu, Yuna pun tak bisa memejamkan matanya. Suaminya tak menjenguknya kembali bahkan tak menghubunginya.


Rasanya mengharapkan sesuatu, itu begitu menyiksa sekali. Benar kata orang, sebuah harapan itu bagaikan sebuah bisa, namun harapan itu pula mendorong kita untuk tetap bertahan.


*****


Hari ini pun tiba, Yuna kini sudah dirumah, karena kondisinya yang sudah membaik, ia bisa rawat jalan.


"Sayang, aku sudah membelikan mu gaun untuk kau kenakan nanti malam ke pesta." ucap Rino memberitahu.


"Baiklah," sahut Yuna sengenanya.


"Aku membelikan mu gaun terbaik agar kamu tidak tampil mengecewakan dihadapan keluargaku nanti malam. Dan satu lagi, kamu harus jaga sikapmu!"


Yuna memalingkan wajahnya jengah. "Maksudmu kau takut aku akan membuatmu malu?"


"Sudahlah Yun, kenapa kamu selalu memancing untuk berdebat sih? Aku hanya memintamu hal kecil dan kamu harus melakukannya sebagai istriku."


"Oh tentu, sebagai istrimu aku harus melakukan apapun meski itu mengorbankan perasaan ku," sahut Yuna begitu kesal.


"Yuna! Kenapa kamu mudah tersinggung seperti ini? Aku hanya memintamu menjaga sikap dan sedikit mengubah penampilan mu. Begitu saja kau merasa direndahkan. Aku tidak salah kan?"


Rino menggelengkan kepalanya, tak mengerti jalan pikiran istrinya. "Baiklah, kamu beristirahat dulu stelah itu segeralah bersiap!"


Yuna pun merenung ketika suaminya pergi. Kenapa dia menjadi seperti ini? Bukankah jika Rino bisa menyakitinya, tentu Yuna berhak marah padanya. Akan tetapi bukan sebuah maaf yang terlontar untuknya.


Bagaimana pun luka di hati yang ia rasakan, Yuna tetap mencoba untuk bersabar karena ini adalah jalan pilihannya.


"Aku sudah merelakan mu, jadi kau harus bahagia."


kata-kata Aga masih terngiang ditelinganya, ia akan mencoba menahan sikap suaminya.


"Aku harus segera membersihkan diri dan bersiap."


Yuna menggulingkan tubuhnya untuk beranjak dari atas ranjang, ia pun segera membersihkan diri serta bersiap untuk ke pesta. Yuna akan berusaha sebaik mungkin sebagai Nyonya Rino.


****


"Yun, kamu sudah selesai dandannya?" tanya Rino melirik jam tangan.

__ADS_1


Tanpa menjawab Yuna langsung keluar dari kamar, ia begitu tampak anggun dengan berbalut gaun hitam serta riasan yang memancar. Ia terkesan jauh lebih anggun, dewasa dan juga sexy. Menurut Rino tidak ada salahnya sesekali istrinya berpenampilan seperti ini.


"Kamu sangat cantik," pujinya, melingkarkan lengannya di pinggang sang istri.


"Ayo kita berangkat sekarang, kamu tidak ingin telat, kan?!" ucap Yuna tiba-tiba ketika suaminya ingin memberi kecupan padanya.


"Yah." Rino jadi kecewa, belum sempat mengecup serta mencium istrinya yang sangat cantik malam ini.


Merekapun segera beranjak menuju pesta keluarga. Keluarga besar Rino begitu dikenal dengan keluarga bangsawan, semua anggota keluarga memiliki perusahaan serta bisnis besar diberbagai bidang, bahkan diluar negeri. Jadi tak heran, keluarganya tak suka Rino menikah dengan seorang wanita yatim piatu seperti Yuna.


Digedung besar nan mewah, mereka berdua disambut dengan hangat. Apalagi Yuna tampak begitu anggun malam ini, tentu para saudara Rino sangat menyukainya.


"Sangat cantik sekali menantu mu, cocok sekali dengan Rino yang tampan itu." puji saudara mama Rino dari kejauhan.


Mama Rino hanya tersenyum pasi, ia begitu tak suka dengan Yuna. Ia juga begitu khawatir jika para saudaranya ini mengetahui latar belakang keluarga Yuna, mereka pasti akan mengejeknya.


"Oh, kamu datang juga rupanya," ucap Irish mendekati Yuna yang tengah sendiri ketika Rino asik mengobrol dengan yang lain.


"Irish, kamu ngapain disini? Bukan kah ini acara keluarga Rino?" tanyanya heran.


Irish tertawa mengejek. "Aku disini karena diundang khusus oleh Tante. Oh ya satu lagi, sampai sekarang Tante hanya menganggap ku sebagai mantunya bukan kau, si Istri sah rendahan."


"Jaga bicaramu Irish!" geramnya.


Irish menyunggingkan bibirnya, mengejek. Lalu mendekatkan dirinya untuk berbisik. "Kamu pasti belum tau, Rino tidak pulang kerumah karena dia sibuk menemaniku. Bahkan dia memberikan apartemen pribadinya untuk aku tinggali."


Yuna mengepalkan tangannya, sungguh ia ingin menggampar wanita ular yang ada dihadapannya, akan tetapi Yuna sadar bahwa ia harus menahan emosinya untuk saat ini, ia tidak boleh terpancing.


"Kalian sebaiknya berpisah saja, karena Rino sampai saat ini masih belum bisa melupakan ku!"


"Cih! Memangnya kamu itu siapa bisa berkesimpulan begitu? Aku adalah istri sah Rino, ia sendiri yang memintaku untuk menikah dengannya. Dan, kamu hanyalah mantan yang tanpa tahu malu masih merayu pria yang sudah jelas-jelas beristri. Bukan kah itu memalukan? Mm, lebih tepatnya tidak tahu diri?"


Irish jadi tertampar, ia pias seketika. "KAMU!" mengepalkan tangan.


Yuna jadi tersenyum dengan renyah. "Jadi, jangan bermimpi kalau Rino akan menerimamu kembali!"


Ia pun membalikkan badan setelah berucap pedas pada Irish, ketika Yuna hendak pergi Irish seketika menampar pipinya sendiri, lalu menjatuhkan dirinya hingga terkapar.


"Hiiiikss! Apa salahku, Yun? Kenapa kamu menamparku?" ucap Irish dengan suara agak lantang agar orang-orang mendengar.

__ADS_1


__ADS_2