
"Hueek! Hueek!"
Yuna mual-mual ketika pagi menyapa, dan ia mulai gelisah karena sudah telat datang bulan.
"Ah tidak mungkin," Yuna menepis pikirannya sendiri. "Ini tidak boleh terjadi."
Yuna segera keluar untuk membeli testpack ketika sang suami masih terjaga. Karena apotik tidak jauh dari rumahnya, maka hal itu tidak membutuhkan waktu yang lama.
Dan inilah saatnya Yuna menggunakan alat itu, mencelupkan alat testpack di air kecil yang sudh ia tampung tak banyak. Ia menunggu hasil itu dengan gelisah.
"Tidak mungkin, aku hamil."
Yuna lemas seketika, ketika mengetahui hasilnya positif. Ia memegangi perutnya yang masih rata sambil menangis.
"Sayang, apakah kamu didalam?" tanya Rino sembari mengetuk pintu kamar mandi.
Yuna buru-buru menyeka air matanya, menyiram wajahnya sejenak di pancuran air wastafel serta menyembunyikan alat testpack di sakunya, namun terjatuh tanpa sadar.
Tanpa menjawab Yuna membuka pintu kamar mandi sambil memberikan senyum palsunya.
"Kamu mau mandi? Tidak kah sarapan dulu?"
"Perutku memang lapar, tapi aku sepertinya lebih menyukai kalau kita mandi bersama saat ini." bisik Rino menggoda ditelinga istrinya.
Yuna memukul pelan penggoda itu. "Ini sudah siang, nanti kau bisa terlambat kalau tidak cepat membersihkan diri. Aku akan menyiapkan sarapan untukmu."
"Yah, lagi-lagi kau menolakku." Rino menebalkan bibir bawahnya, cemberut pada istrinya yang tengah buru-buru melangkah keluar kamar. "Baiklah, aku akan sabar menunggu."
Rino tertawa dengan tingkah istrinya yang panik, namun terlihat menggemaskan itu. Akan tetapi senyum itu pudar ketika ia tak sengaja menemukan alat tes kehamilan dibawah wastafelnya.
"Hah! Hah!" Yuna menghela nafas kasar, memegangi dadanya yang kini lega. "Maafkan aku Rin."
Yuna tak tahu harus bagaimana, ia tidak mungkin membunuh bayinya yang tak berdosa. Tapi disisi lain ia merasa bersalah pada suaminya.
****
__ADS_1
"Hey, bagaimana hubungan mu dengan Jessy?" tanya Vale penasaran.
"Berjalan baik." sahut Aga sengenanya, sembari memainkan ponselnya.
"Sudah ku duga, kau pasti akan cepat dekat dengan Jessy."
Aga mengangguk, "Kau benar."
Ia membalas pesan dari Jessy, sibuk memainkan ponselnya tanpa peduli ada seseorang didepannya.
"Kamu lagi berbalas pesan dengan siapa? Kenapa senyum-senyum begitu?"
"Kau selalu ingin tahu ya!" menepuk agak keras bahu Vale hingga lelaki itu mengaduh. "Aku akan menemani Jessy pemotretan sekarang."
Vale tercengang, ia tak menyangka secepat ini Aga melupakan mantan kekasihnya itu. "Oke sepupu, jadilah pria baik yang selalu menemani kekasih barumu."
Aga hanya tertawa dalam hati, padahal dirinya hanya berpura-pura menemani Jessy hanya untuk melihat Yuna hari ini.
Sesampainya di lokasi pemotretan, mata Aga hanya tertuju pada Yuna seorang. Begitupun Yuna yang tengah mencoba menghindar dari pandangan Aga.
"Tidak perlu, aku bisa sendiri." ketusnya.
Tanpa menunggu persetujuan darinya, Aga langsung membawa koper besar itu sendiri.
"Lihatlah lengan kecil dan ringkih mu itu! Mintalah seseorang untuk membantumu jika kau kesusahan." omelnya penuh perhatian.
"Tapi aku masih sanggup membawanya, aku bisa."
"Diamlah!" menjitak kepala Yuna, membuat wanita itu mengaduh kesakitan.
Dari kejauhan Jessy melihat keduanya begitu akrab, mereka saling berdebat seakan sudah saling mengenal sebelumnya.
Namun pikiran curiganya ia tepis kembali saat ia mengingat bahwa asistennya itu sudah menikah. Mungkin Aga hanya ingin membantu, pikirnya.
"Aga, aku sudah selesai. Gimana kalau kita makan bersama?" ajak Jessy.
__ADS_1
Aga mengangguk. "Boleh, sekalian ajak asisten mu kasihan dia sudah bekerja seharian."
Jessy menoleh pada Yuna yang masih menyibukkan dirinya menata busana. "Yun, ikut makan bersama kita, yuk!"
"Terimakasih, duluan saja! Saya masih perlu menata busana untuk pemotretan sesi berikutnya."
"Ah, jangan menolakku! Kamu sudah bekerja terlalu keras hari ini, jadi biarkan aku mentraktir mu."
Melihat Jessy memaksa membuat Yuna tak enak jika menolak. "Baiklah, saya ikut."
Aga tersenyum senang ketika Yuna tak menolak, dia bisa makan bersama Yuna kembali meski ia harus berpura-pura tidak mengenalinya.
****
"Yun, kamu mau pesan apa?" tanya Jessy.
"Fried Herring Sandwich tanpa acar." sahut Yuna dan Aga bersamaan, merekapun jadi salah tingkah.
"Maksudku, aku memesan menu itu juga." sangkal Aga memberi alasan.
"Ah, baiklah." sahut Jessy tanpa curiga.
Selama makan, Jessy mencoba mengobrol sembari memberi perhatian pada Aga. Namun pandangan Aga selalu lekat pada Yuna, membuat Yuna tak enak dan takut jika mengetahui bahwa dirinya dengan Aga saling mengenal.
"Yun, kenapa kamu tidak minum?"
Tanya Jessy heran, pasalnya steak jika dipadukan dengan wine akan terasa nikmatnya. Bahkan kedua kombinasi itu seakan wajib untuk dinikmati bersama.
Yuna menggelengkan kepalanya cepat. "Aku tidak bisa minum alkohol."
Jessy menganga. "Kau hamil, ya? Wah, selamat Yuna." tebak Jessy kegirangan.
Yuna pias seketika, bibirnya kian bergetar ketika harus membalas senyuman dari Jessy dengan rasa khawatir, pasalnya Aga menatap penuh curiga padanya.
"Apakah itu anak...." suara Aga tercekat.
__ADS_1
"Istriku, kamu disini rupanya." Entah darimana, tiba-tiba Rino datang menyela percakapan mereka.