
"Paman."
Yuna kembali pulang tapi kali ini bersama dengan Aga dan saling bergandengan tangan, membuat ayah Aga bahagia melihatnya.
"Ayah, aku pulang," ucapnya sembari menyapa.
Ia tersenyum, "Ayah tahu kamu akan kembali."
Aga mengangguk dengan lega. "Aku tak lagi peduli resiko yang akan ku hadapi nanti, yang aku ingin sekarang bersama dengan Yuna."
Aga mempererat genggamannya dan mereka saling menatap penuh cinta.
"Aku tidak mengerti yang kalian berdua bicarakan, tapi yang pasti aku bahagia Aga tidak jadi pergi." imbuh Yuna.
Aga begitu lega, ia tak mengira bahwa hanya menatap wajah indah Yuna saja membuatnya bahagia. Bagaimana bisa dia meninggalkan gadis itu dan tak lagi menatap wajahnya yang candu, apalagi ia jadi tahu bahwa Yuna tak ingin jauh darinya.
"Sementara aku akan tinggal disini, ayah. Boleh kan?"
"Boleh kan, paman?" desak Yuna merayu ketika tak kunjung mendapat jawaban.
"Iya boleh, kebetulan bibi memasak banyak makanan jadi mari kita makan siang bersama!"
"Baik ayah, aku akan membersihkan diri sebentar dan akan segera menyusul."
"Baiklah."
Aga pun segera pergi menuju kamarnya untuk membersihkan diri sejenak, sedangkan Yuna langsung membantu bibi menyiapkan makanan didapur.
****
"Yuna, tolong panggilkan Aga supaya segera ke bawah untuk makan bersama!" pintanya ketika makanan sudah diatas meja.
__ADS_1
"Baik Paman." sahutnya, lalu segera melangkah menuju kamar Aga yang berada dilantai atas.
Tok Tok Tok!!
Yuna mengetuk pintu namun tak ada jawaban. Ketika pintu kamar Aga terlihat tak terkunci, ia langsung menerobos masuk begitu saja dengan pelan.
"Astaga."
Aga kaget ketika Yuna berdiri didepan pintu kamar mandi dan bersindakap seolah tak melihat apa-apa, padahal ia tengah bertelanjang dada dengan berbalut handuk untuk menutupi tubuh bawahnya.
"Kenapa tidak mengetuk pintu terlebih dahulu?" tanya Aga gugup, sembari menutupi tubuhnya.
"Memangnya kenapa?" ucapnya sambil melangkah semakin mendekati Aga, dan Aga pun sontak melangkah kebelakang untuk menghindarinya. "Kenapa kau tampak malu-malu, bukan kah nanti kita akan terbiasa?"
"Hm itu tidak, ah maksudku..." Aga jadi gugup dibuatnya, wajahnya memerah merona membuat Yuna semakin usil padanya.
"Ah, udaranya panas." ucap Yuna sambil mendongakkan lehernya sambil mengipasnya dengan jemari, membuat Aga menelan salivanya.
"Ha ha ha sudahlah, paman sudah menunggumu untuk makan bersama. Cepat pakai bajumu aku sudah lapar!" ucap Yuna kemudian.
Ketika Yuna berbalik dan melangkah pergi, tiba-tiba Aga menarik lengannya dan melemparkan tubuh gadis itu hingga berbaring diatas ranjang dan ia atasnya bertumpu kedua tangannya yang kekar.
"Kenapa sekarang kamu yang gugup?" ucap Aga tersenyum sinis ketika ia membalas rayuan dari Yuna.
"A-aku tidak gugup." sahutnya menantang.
"Oh ya?"
Yuna mengangguk. "Aku tidak gugup." tegasnya.
Aga jadi tersenyum, lalu semakin mendekati dirinya untuk menyatukan bibir Yuna yang tengah berada dibawahnya.
__ADS_1
Dengan sadar Yuna menatap tubuh kekar nan bidang milik Aga, ketika lelaki itu mendekati Yuna yang berada didepannya, dan jelas sekali ia teringat bagaimana tubuh indah milik Aga itu pernah di jamah oleh wanita lain, sangat jelas teringat dua manusia saling tak memakai sehelai benangpun sedang asik bercumbu didepannya.
"Hueek!! Hueek!!
Sontak seketika Yuna mual, sebelum Aga berhasil menyatukan bibirnya dengan bibir Yuna. Ia pun segera beranjak dan berlari ke kamar mandi, memuntahkan cairan bening di wastafel.
Dengan gemetar Yuna membersihkan mulutnya dengan pancuran air. Ketika bayangan itu jelas teringat, seketika itu pula Yuna tak hentinya merasa mual karena perasaan jijik yang tak tertahan.
"Yun, kamu kenapa?" tanya Aga panik, menghampiri.
"Maaf!" ucap Yuna, ketika tanpa sadar menepis jemari Aga dengan jijik ketika ingin menyentuhnya. "Aga, tinggalin aku sendiri! Sebaiknya kamu keluar, aku akan segera menyusul."
"Tapi Yun?"
"Aku tidak apa-apa kok, aku hanya masuk angin saja." sahutnya meyakinkan, mengulas senyum dengan paksa.
Aga pun mengangguk. "Baiklah, aku akan menunggu didepan."
Ketika Aga meninggalkannya seorang diri, Yuna langsung lemas dan terkapar. Tangannya gemetar, menjambak rambutnya dengan frustasi. Ia terisak dalam hati.
Sementara itu, Aga pun segera memasang bajunya dan berjalan mondar-mandir didepan pintu kamar dengan khawatir. Walaupun Yuna bilang baik-baik saja, tapi dirinya masih tidak tenang.
"Yuna, kamu sudah baikan?" tanya Aga ketika Yuna keluar dari kamar.
Yuna mengangguk, memasang wajah ceria. "Baik sekali, aku tidak kenapa-kenapa kok."
"Serius? Apa perlu kuantarkan ke dokter?"
"Ah tidak perlu, aku butuh makan sekarang." sahutnya dengan tenang, lalu memeluk lengan Aga seperti biasa. "Yuk kebawah, aku sudah lapar!"
"Iya."
__ADS_1