AGA DAN YUNA

AGA DAN YUNA
16


__ADS_3

"Aga, kamu lagi ngapain?"


Sapa Yuna ketika mendekati Aga yang tengah membaca buku di kursi panjang seorang diri.


"Aku sedang membaca buku," sahutnya tanpa menoleh, fokus membaca.


Melihat Aga tak begidik dan fokus, membuat Yuna tertarik untuk menggodanya. Tanpa ragu Yuna langsung berbaring dan menyandarkan kepalanya dipangkuan Aga.


Aga jadi tersenyum dengan tingkah manja Yuna, "Ada apa menggangguku?"


"Tidak ada, aku hanya bosan saja dan rasanya cukup empuk tidur dipangkuan mu seperti ini."


Aga menaruh buku yang sedang ia baca, lalu memfokuskan diri untuk menatap sembari mengelus rambut Yuna. "Apa tidurmu tidak nyenyak?"


Yuna mengangguk, "Aku baru saja tertidur dan bermimpi buruk, jadi aku memutuskan untuk kesini menemui mu."


"Kalau kamu merasa nyaman, tidurlah Aku akan menjaga mu!" pintanya dengan penuh kehangatan.


"Aku akan tidur sebentar saja di bantal baruku ini, kau teruskan saja membacanya!"


Aga tertawa, "Baiklah."


Ia kemudian mengambil kembali buku yang ia baca sebelumnya, sedangkan Yuna mencoba untuk menutup matanya. Dan benar saja, Yuna begitu terlelap dipangkuan Aga hingga lelaki itu tak tega untuk membangunkannya.


Ketika Aga bergerak pelan untuk mengangkat kepala Yuna agar menyandar pada bantal, Yuna malah jadi memeluk pinggang Aga tanpa sadar.


"Hmm, jangan bergerak!" pintanya tanpa sadar, dengan suaranya yang serak.


Mendengar itu Aga jadi makin tak tega, ia lalu memutuskan membiarkan Yuna tidur di pangkuannya hingga pagi tiba.


Samar-samar Yuna membuka mata, lalu terdengar suara berat milik seseorang yang ia kenal.


"Apa tidurmu nyenyak?" tanyanya.


Tanpa sadar Yuna mengangguk meng-iyakan kemudian beranjak kaget, bisa-bisanya dia tertidur dipangkuan Aga semalaman.


"Ya ampun, maaf!" ucap Yuna tak menyangka ketika beranjak dari tidurnya. "Pasti paha mu terasa kaku, ya?"

__ADS_1


"Tidak kok, hanya ngilu dan susah digerakkan saja," sahutnya memberi senyum sembari mengejek.


"Aduh ya ampun, maaf! Kau sih kenapa tidak membangunkan ku." kesalnya, menyalahkan.


"Aku ingin membangunkan mu tapi aku tidak tega karena kamu begitu pulas, lagian cukup di gerak-gerakkan saja sebentar pasti sakitnya sudah hilang." sahutnya menenangkan. "Aww!!" pekiknya ketika mencoba berdiri.


"Sssh, apakah susah bergerak?" tanya Yuna ikut merasa nyeri.


"Ah tidak kok, tadi hanya kaku sebentar saja. Aku akan pergi ke kamar untuk meregangkan tubuh sebentar sebelum berangkat kerja," sahutnya tenang, menahan sakit.


"Semoga benar tidak apa-apa. Kalau begitu aku akan pergi menyiapkan sarapan."


Aga membalas dengan mengangguk tersenyum, lalu dengan tertatih ia berjalan menuju kamarnya yang tak jauh dari ruang baca.


Melihat Aga yang berjalan dengan pincang, membuat Yuna merasa bersalah. Ia tak mengira bahwa ia akan tertidur pulas dipangkuan lelaki itu, bahkan ia tidak bermimpi tak seperti malam-malam biasanya.


****


"Aga, bagaimana paha mu, sudah baikan?" tanya Yuna ketika Aga keluar dari kamarnya.


"Sudah baikan kok," menunjukkan cara berjalannya yang kembali tegap. "Hanya butuh meregangkan otot yang kaku saja, setelah itu akan baik-baik saja."


"Oh ya, Yun, tumben pagi-pagi kau sudah rapi begitu?" tanya Aga disela sarapannya.


"Yuna akan bekerja hari ini, dia ikut dengan mu." sahut ayahnya, dan mendapat anggukan dari Yuna.


"Dengan ku?" Aga bingung.


"Kau sekarang sebagai pemilik perusahaan tentu membutuhkan seorang sekretaris untuk membantu kegiatan mu, apalagi kamu akan sibuk untuk mengembangkan beberapa produk terbaru mu. Itu pasti sangat melelahkan."


"Aku bisa kamu andalkan, kamu tenang saja! Aku sekretaris yang sangat baik." imbuh Yuna meyakinkan.


Aga jadi tertawa, "Oke, boleh lah. Aku mempercayai mu."


Yuna sangat gembira mendengarnya, daripada ia hanya bisa rebahan saja didalam rumah. Begitu jenuh ia rasa. Apalagi ia akan selalu bersama dengan Aga, pasti sangat menyenangkan.


****

__ADS_1


"Selamat pagi, Tuan," sapa Nisa ketika Aga memasuki gedung perusahaan, namun tak menghiraukan dan terus berjalan.


Cih, pagi pagi sudah merusak pemandangan.


Yuna menggerutu dalam hati, melirik penampilan Nisa dari ujung kaki sampai ujung rambut. Rok pendek kekurangan bahan serta baju kekecilan seperti pinjaman. Cih!


Ia begitu risih melihatnya, pantas saja Aga tergoda karena setiap hari disuguhi pemandangan seperti ini.


"Eh, tunggu!" teriaknya ketika tanpa sadar Aga sudah melangkah masuk duluan, karena dirinya sedaritadi sibuk memperhatikan Nisa.


Merekapun memasuki lift menuju lantai atas berdua. "Kenapa muka mu ditekuk begitu? Ada yang membuatmu kesal kah?"


"Ah tidak he he," Yuna jadi malu. "Aku hanya gugup karena ini hari pertamaku bekerja."


Aga menggapai jemari Yuna, memberinya ketenangan. "Kamu tidak perlu gugup, tugasmu hanya menemaniku."


Yuna mengangguk. "Iya."


"Ini meja kerjamu, aku bisa mengawasi mu dari dalam dan kalau kau butuh sesuatu bisa langsung menghubungi ku melalui telepon yang langsung tersambung di meja kerjaku." ucap Aga menjelaskan ketika mereka sampai di ruangan.


"Seharusnya aku yang mengatakan begitu, jika kau perlu sesuatu aku akan membantu mu."


Aga jadi tertawa. "Ah iya aku lupa, baiklah selamat bekerja."


Ketika itu pula Nisa keluar dari lift dan Yuna menyadarinya.


"Aga tunggu sebentar!" panggilnya.


Aga menoleh. "Iya?"


Tiba-tiba Yuna membenarkan dasi milik Aga agar terlihat mesra, dan tak lupa mengecup pipinya membuat Aga merona dibuatnya. "Selamat bekerja juga."


Aga membalas kecupan itu di pipi sebelah Yuna, sebelum kemudian dia melangkah memasuki ruang kerjanya.


"Sial!" gumam Nisa, mengepalkan tangan serta menghentakkan kakinya dengan kesal.


Dengan perasaan marah, Nisa memutuskan kembali tak jadi menemui Aga dalam keadaan teramat kesal.

__ADS_1


"Mampus kau!"


Yuna jadi tertawa senang ketika melihat Nisa kesal dan pergi tak jadi mengganggu Aga.


__ADS_2