AGA DAN YUNA

AGA DAN YUNA
8


__ADS_3

Aga menuntun Yuna memasuki kamarnya, ia lalu membaringkan Yuna diatas tempat tidurnya.


"Maaf." ucap Aga pada gadis yang tengah berada dibawah selimut sekarang.


Yuna jadi mengulas senyum, "Tidak perlu minta maaf, bukan salahmu. Ini keinginanku untuk ikut bersamamu. Dan aku juga merasa lebih baikan sekarang."


"Syukurlah, aku hanya khawatir takut terjadi apa apa padamu." Aga menarik nafas lega. "Kalau begitu beristirahat lah, semoga tidurmu nyenyak."


Yuna mengangguk mengindahkan, sebelum kemudian Aga berbalik untuk pergi ke kamarnya.


Dalam tidurnya yang semula lelap, ia teringat kembali atas kejadian kecelakaan yang menimpanya membuat dirinya mengigau karena mimpi buruknya.


Aga yang tak sengaja mendengar suara tangis dari kamar Yuna pun langsung terbangun dari tidurnya, lalu menemui Yuna untuk menenangkan gadis itu.


"Yuna." bisiknya, sembari mengusap pelan kening Yuna yang bercucuran keringat. Bahkan ia menyeka air mata Yuna yang menetes tanpa sadar.


Dengan penuh perhatian Aga mengambil baskom berisi air hangat dan sepotong kain, untuk ia gunakan mengompres Yuna yang tampaknya demam.


"Apa kamu mimpi buruk, Yun?" gumamnya pelan pada Yuna yang belum sadar, sembari menggenggam jemari Yuna penuh kasih sayang. "Tenanglah! Ada aku disini yang jagain kamu."


Mendengar bisikin itu membuat Yuna menjadi tenang dan tak lagi mengigau, ia kini tampak begitu tenang dan lelap dalam tidurnya.


Melihat Yuna yang tampak sedih dan kesakitan tadi, membuat hatinya juga ikut sakit. Jadi, Aga takut kalau dirinya tidak berjaga Yuna akan mimpi buruk lagi. Maka dari itu Aga memutuskan untuk menjaga Yuna sepanjang malam, berada disamping gadis itu dengan penuh kasih sayang.


****


Kini pagi hari pun tiba, dan Yuna mulai membuka mata. Samar-samar ia melihat sosok seorang pria yang tak lain adalah Aga berbaring disebelahnya.


Aga begitu tampak lelap dalam tidurnya, bahkan ia masih enggan melepas genggaman tangannya pada Yuna.


Yuna memutuskan untuk memiringkan tubuhnya, melihat dengan lamat wajah Aga yang tertidur lelap. Dengan lembut Yuna menggerakkan jemarinya, menyentuh lekukan wajah Aga yang begitu mempesona.


Kenapa kamu begitu baik seperti ini padaku.


Yuna meneteskan air matanya ketika memikirkan pria yang sedang terlelap didepannya ini, hatinya pun tidak dapat memungkiri bahwa masih ada rasa cinta untuknya.


Tanpa sadar wajah Yuna mendekat, melihat dengan baik bibir tegas nan tebal milik Aga yang menyita perhatiannya.

__ADS_1


TIDAK!!


Yuna kaget dengan apa yang akan ia lakukan barusan, dengan tergesa-gesa ia langsung menggulingkan badannya dan langsung beranjak berdiri dari tidurnya.


Aga yang semula terlelap itu pun ikut terbangun ketika mendengar suara langkah Yuna yang berlarian pergi dari kamarnya.


"Astaga, aku ketiduran." gumam Aga masih dengan suara seraknya, lalu dengan cepat bangkit dari tidurnya.


Aga mencari disetiap Yuna disetiap ruangan tetapi tak menemukan gadis itu, entah kemana perginya.


****


"Yuna."


Rino tercengang ketika sahabatnya itu datang tiba-tiba ke apartemen miliknya, lebih lagi Yuna datang pagi sekali tak seperti biasanya.


"Rino." Yuna langsung datang dan langsung memeluk sahabatnya itu, ia menangis.


"Ada apa Yun? Kenapa kamu nangis?" tanya Aga ketika Yuna melepas pelukannya.


Namun Yuna tak menjawabnya, ia hanya menunduk sedih saja membuat Rino jadi bertanya-tanya.


"Kamu ada masalah apa Yun? Apa Aga yang membuat mu menangis seperti ini?" tanya Rino lagi ketika gadis itu masih duduk terdiam tak berbicara.


Yuna menggelengkan kepalanya cepat. "Bukan kok."


"Lalu?"


"Aku hanya ingin menangis saja, dan aku ingin menemuimu." sahutnya beralasan.


Rino tahu bahwa Yuna berbohong dan tak berterus terang padanya, tapi ia juga tak bisa memaksa Yuna untuk bercerita. Yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menghiburnya.


"Jangan sedih lagi ya, Yun!" menyeka air mata yang masih tersisa dengan kedua ibu jarinya. "Jika kamu sedih, aku pun juga ikut sedih. Berbagilah apa itu kesakitanmu, jangan kamu rasakan sendiri."


Mendengar penuturan sahabatnya membuat hati Yuna sedikit lega, ia pun mengulas senyum dan kembali memeluk Rino dengan bahagia.


"Makasih ya, Rin. kamu selalu ada buat dukung dan ngehibur aku."

__ADS_1


Rino mengangguk. "Iya." sahutnya lemah, membalas pelukan hangat dari sahabatnya.


Sebenarnya Rino ingin sekali mengatakan bahwa dirinya tidak sedang menghibur Yuna, tapi perkataannya itu tulus dari dalam hatinya. Tapi apalah daya, Yuna hanya menganggap sahabatnya saja.


****


"Ku antar kamu pulang ya, Yun?" tawar Rino didepan gedung apartemen miliknya.


"Tidak perlu Rin, aku bisa pulang sendiri kok." sahutnya.


Ketika Yuna hendak memasuki mobil taxi, lagi lagi Aga datang berlari kepadanya.


"Yun, kenapa ponselmu tidak aktif? Aku mencarimu seharian." ucap Aga sembari terengah-engah.


Melihat Aga yang tak becus memicu kemarahan Rino, ia langsung mencengkram kram milik Aga.


"Kamu sudah bikin Yuna menangis, dan sekarang kamu berbicara seolah tak tahu apa-apa?" gertak Rino membuat Aga terheran.


Aga lalu menoleh pada Yuna yang bingung harus bagaimana menjelaskannya. "Yuna." gumamnya.


"Rino, lepasin Aga!" pintanya, dan Rino pun melepas cengkraman nya dengan terpaksa. "Kalian berdua kenapa selalu ribut sih? Sudahlah aku pulang sendiri saja."


Tanpa peduli lagi Yuna langsung saja memasuki mobil taxi dan melaju begitu saja. Sedangkan Rino dan Aga saling bertatapan muka dengan kemarahan di keduanya.


"Kamu kenapa begitu peduli kepada Yuna? Dia itu tunangan ku." tegasnya.


"Cih! Apa kamu lupa perjanjiannya? Kamu akan meninggalkan Yuna ketika dia sembuh dari cideranya. Atau jangan-jangan kamu sudah mulai menaruh perasaan pada Yuna?"


Aga seketika terdiam. "Lalu kau sendiri? Untuk apa kamu masih peduli pada Yuna yang jelas-jelas bukan siapa mu."


"Aku menyukainya." sontak jawaban itu membuat Aga pias seketika. "Segeralah pergi dari kehidupan Yuna! Kalau tidak aku sendiri yang akan mengatakan padanya semua keburukan yang sudah kamu lakukan padanya."


Aga hanya bisa terdiam menahan amarah, ia mengepalkan tangan. Kini dia semakin bingung dengan perasaannya sendiri, ia pun menyadari bahwa ia telah melakukan dosa besar pada Yuna. Tapi, disisi lain kini ia sangat takut akan kehilangan Yuna.


"Kamu yang sudah menghancurkan kehidupan Yuna, ingat itu!" bisik Rino memperingati, menepuk bahu Aga sebelum berlalu pergi.


**KAKAK KAKAK, MOHON DUKUNGAN DENGAN CARA LIKE, KOMEN, VOTE YAH 😭**

__ADS_1


Btw, aku suka bacain komen kalian meskipun ga bisa aku balas satu-satu. Meskipun hate comment sekalipun, aku tetap bersyukur karena masih ada yang baca karyaku. Aku sangat berterimakasih pada kalian semua. Maapin kalo Novel yang lain belum bisa Tamat karena kendala level.


__ADS_2