AGA DAN YUNA

AGA DAN YUNA
28


__ADS_3

"Betapa cantiknya istriku."


Rino berdiri dibelakang Yuna yang tengah menatap cermin, ia berdandan sebaik mungkin karena hari ini Rino mengajaknya untuk menemui kedua orangtuanya.


"Terimakasih pujiannya suamiku."


Rino mengecup pipi istrinya. "Kamu sudah siap? Mari kita berangkat sekarang!"


Yuna mengangguk. "Yuk! Aku sudah siap."


Mereka akhirnya berangkat dan tiba di sebuah perumahan elite yang terletak dikawasan kota. Yuna memeluk lengan suaminya, berjalan bersama memasuki rumah yang dimana mereka sudah disambut.


"Selamat malam papa, mama."


Rino menunduk memberi salam, begitupun dengan Yuna.


"Malam anakku," sahut sang papa. "Kebetulan kami akan makan malam, mari sebaiknya kita mengobrol sambil makan bersama!"


"Baik pa." lantas Rino menoleh pada sang istri. "Hayuk kita makan bersama, kamu jangan sungkan!"


"Iya." sahutnya gugup.


Merekapun duduk dimeja makan yang telah disediakan, sembari melahap makanan dengan pelan, mereka saling mengobrol bersama.


"Pa, Ma, aku dengan Yuna sudah resmi menikah dua hari yang lalu."


Seketika kedua orangtua Rino menghentikan kunyahannya, tak bernafsu lagi untuk makan. "Bagaimana bisa kamu masih menikahi wanita yang jelas-jelas mempermalukan kita, Rino?"


Rino kaget mendengar respon orangtuanya, begitupun dengan Yuna. "Yuna waktu itu tidak bermaksud mempermalukan keluarga kita ma, pa. Dia tidak hadir karena_"


Seketika Rino tercekat, kehilangan kata-kata. Tidak mungkin dia mengatakan bahwa seseorang telah menculiknya.


"Ck! Bukannya hal ini pernah kau lakukan dulu pada calon suamimu?"


Yuna seketika gugup ketika mama Rino bertanya mengenai hal itu, ia hanya menunduk serta mengangguk. "Maafkan aku, ma."


"Ma? Cih!" bersindakap angkuh. "Sejak awal aku memang tidak menyukai mu, bagaimana bisa anakku Rino menyukai wanita seperti mu. Lebih lagi, kamu telah mempermalukan keluarga kita."


"Mama!"

__ADS_1


Rino, meminta orangtuanya agar berhenti berucap hal dapat menyakiti istrinya. Namun sang mama pun tak peduli.


"Sekarang aku tanya padamu, apa benar dihari itu kamu pergi bersama dengan pria lain?"


"Cukup ma! Kenapa mama bisa menuduh Yuna seperti itu? Yuna tidak akan meninggalkan acara pernikahan kita hanya demi seorang pria, ada masa sulit yang tidak bisa Yuna ceritakan."


"Tapi dia dulu meninggalkan pernikahannya dengan pria lain lalu kabur bersamamu, jadi apa mama salah kalau menuduh dia melakukan hal yang sama, Rino?"


"Maafkan saya," Yuna munduk memohon maaf sembari menyeka air matanya yang tak sengaja keluar.


Melihat istrinya bersedih, Rino memilih beranjak berdiri sambil menarik lengan Yuna agar berdiri tegap bersama.


"Kalian berdua sangat keterlaluan," ucap Rino lancang, kemudian menoleh pada sang istri. "Hayuk kita pulang sekarang!"


Rino menarik tangan istrinya agar mengikutinya keluar segera dari rumah, tanpa memperdulikan orangtuanya berteriak sambil marah-marah padanya.


"Sejak kapan kamu menjadi anak pembangkang seperti ini, Rino? Gara-gara wanita itu kamu jadi seperti ini, mama dan papa benar-benar kecewa padamu." teriak sang mama, penuh amarah.


Rino memilih acuh dan tetap melangkah menuju mobil. Ia sudah duga bahwa orangtuanya tak suka, tapi ia tak menyangka bahwa akan separah ini.


"Hey, kenapa kamu nangis?" mengusap wajah istrinya yang bersedih.


"Maafin aku ya, Rin."


Yuna mengangguk lemah. "Semoga."


****


Vale datang melemparkan bantal mini tepat mengenai wajah Aga yang tengah rebahan di sofa.


"Argh ganggu banget sih." gumam Aga kesal.


"Ha ha kena! Lagian kau ngapain sih murung terus? Kamu itu berhak bahagia."


"Bahagia? Sepertinya itu sulit."


"Aku yakin kalau kau memberi kesempatan wanita mendekatimu, pada akhirnya kau akan luluh. Percaya deh!"


Aga menghela nafas. "Entahlah, perasaan ku sudah mati."

__ADS_1


"Tapi tubuhmu masih hidup, bukan? Jadi nikmati saja selama masih bernafas, kau bisa mendapatkan wanita seperti apapun yang ada karena ketampanan dan kekayaanmu."


Aga menatap langit-langit rumahnya, menelaah kata-kata Vale. Tidak seharusnya dia terus bersedih seperti ini, karena pasti diluar sana Yuna tengah berbahagia bersama suaminya.


"Kau benar," sahut Aga tak terduga. "Berikan nomorku pada gadis yang terakhir kali ku temui agar dia menghubungi ku!"


"Maksudmu Jessy?"


"Entah, aku sudah lupa namanya."


"Gitu dong, seharusnya hal ini kamu lakukan dari dulu sepupu."


Vale menepuk bahu Aga, begitu gembira melihat sepupunya mulai membuka ruang pada yang lain.


****


"Kenapa belum tidur?" tanya Rino dengan suara seraknya. "Apa kamu masih memikirkan kata-kata orangtuaku tadi?"


"Tidak kok," sahut Yuna berbohong. "Kamu tidur saja! Sepertinya kamu sudah sangat mengantuk."


Rino mengecup kening istrinya dengan mata tertutup sudah susah dibuka. "Jangan memikirkan hal yang membuatmu sedih istriku!"


Yuna mengulas senyum. "Iya, aku tidak akan memikirkan hal yang membuatku sedih lagi. Oh ya, boleh kah aku meminta sesuatu padamu?"


"Boleh."


"Aku ingin bekerja."


"Apa yang ku berikan belum cukup sehingga kamu mau bekerja?"


Yuna menggelengkan kepalanya. "Bukan itu, aku hanya bosan saja. Seharian dirumah tanpa melakukan sesuatu sangat membosankan, aku juga ingin menjadi istri yang dapat di andalkan."


"Memangnya kamu mau bekerja dimana?"


"Aku masih belum tahu, tapi kalau kamu mengijinkan aku akan melamar dibeberapa tempat. Aku akan pulang sebelum kamu tiba dirumah, bagaimana?"


Melihat istrinya bersungguh-sungguh, siapa yang tak luluh. "Baiklah, aku mengijinkan."


Yuna mengecup pipi suaminya. "Terimakasih Rin."

__ADS_1


"He'em, yuk kita tidur sekarang!"


Ajak Rino membawa sang istri kedalam pelukannya, sebelum akhirnya mereka terlelap bersama.


__ADS_2