AGA DAN YUNA

AGA DAN YUNA
37


__ADS_3

Aku percaya tidak ada usaha yang sia-sia, dan bahkan aku sangat percaya, bahwa takdir Tuhan tidak akan pernah salah, tidak akan pernah tertulis dengan sengaja.


Sekalipun seperti kita yang berakhir dengan kata sia-sia. Tidak akan ada lagi kata cinta atau semacamnya. Yang dulu pernah kita lantangkan dengan bangga.


Kini pada akhirnya, kita hanya bisa bertatap untuk sekedar menyapa. Dan satu-satunya yang bisa kita lakukan adalah berpura-pura lupa, bahwa kita pernah bersama.


"Kenapa kamu menangis?"


Yuna menyembunyikan wajahnya, menyeka air matanya meski tak berhenti. Ia kaget ketika Aga tiba-tiba menemuinya.


"Maaf, tak seharusnya aku seperti ini."


"Bukan kah ini yang kamu ingin? Lalu kenapa kamu menangis?" ejeknya dengan kecemburuan yang tak pantas Yuna tampilkan.


Yuna mengangguk. "Aku tidak sedang menangisi mu. Jessy cantik, dia juga orang yang baik. Dia bisa membuatmu bahagia. Aku senang kalian bisa bersama."


"Cih! Bahagia? Setelah semua penderitaan yang kamu berikan padaku, dan sekarang kamu mendoakan aku bahagia? Ha ha ha." Aga tertawa frustasi mendengarnya.


"Aku mungkin keterlaluan, tapi aku benar ingin kamu bahagia."


"Tidak perlu bersikap baik padaku! Karena patah hati olehmu justru membuatku lebih dan lebih baik lagi. Setiap kali kamu menyakitiku, perasaanku semakin pudar padamu. Kali ini kamu tidak akan pernah menemukan aku yang dulu karena hatiku sudah mati."


Aga berucap dengan menggebu, penuh penekanan dan keyakinan sebelum ia kemudian berbalik pergi untuk meninggalkan Yuna, sekaligus seseorang yang hanya akan menjadi kenangan masa lalunya itu.


"Dan ku pastikan aku adalah rindu yang menyakitkan bagimu, yang kehadirannya tidak akan pernah kamu dapatkan kembali."


Mendengar ucapan itu, bagaimana bisa Yuna bisa tenang. Ia terisak kembali dengan bibir bergetar. Kini ia telah kalah, kalah dalam dendam karena sebuah perasaan. Yang ia dapati saat ini hanyalah sebuah penyesalan.

__ADS_1


****


Rasa sakit dalam hatinya menyiksa batinnya, Yuna kini terbaring lemah. Betapa bodohnya dia, tapi perkara hati memang tidak ada yang tahu, tidak bisa dengan logika.


Ia berada didalam selimut tebal, menggigil kedinginan karena suhu tubuh yang terlalu tinggi, serta sakit dibagian perutnya tak tertahankan lagi. Jemarinya pun lemah untuk hanya sekedar menggapai gelas berisikan air putih diatas nakas dekat ranjang.


Ketika malam hari, Yuna seorang diri. Para pembantu dirumahnya pulang ketika sore hari. Harapan Yuna ialah sang suami datang lalu membantunya.


Sekuat tenaga Yuna mencoba bangkit, bangkit dengan susah payah untuk mengambil ponselnya disaku yang ia gantung.


"Hallo Rin." sapa Yuna dengan suara seraknya.


"Hallo sayang, ada apa?"


"Aku, aku sedang sakit. Tidak ada seorangpun dirumah ini." sahutnya dari seberang.


"Sudah ku bilang untuk berhenti bekerja, kamu pasti kelelahan," omelnya, Yuna memilih diam menahan sakit di sekujur tubuhnya. "Aku sangat sibuk, aku tidak bisa menemanimu. Aku akan menyuruh supir untuk mengantar mu kerumah sakit."


"Tidak perlu!" sahut Yuna dengan tegas pada Rino. "Aku mungkin hanya lelah seperti katamu, jadi aku akan beristirahat saja. Selamat bersenang-senang disana."


Yuna langsung memutuskan sambungan teleponnya, tanpa peduli suaminya masih ingin mengutarakan beberapa patah kata untuknya.


Pantas saja Rino betah di kantor sampai lembur, ternyata dia ditemani Irish mantan kekasihnya. Pikir Yuna.


Ia kembali terkapar, menahan sakit seorang diri. Rasa dingin serta nyeri menyertai sekujur tubuhnya, belum lagi hatinya yang terasa perih ketika memikirkan ucapan Aga. Lengkap sudah penderitaan Yuna. Ia pasrah hingga terlelap karena rasa lelahnya.


Kini pagi pun tiba, salah satu pembantu mengetuk kamar Yuna. Karena tidak biasanya Yuna bangun sampai se siang ini.

__ADS_1


"Nona."


Ucap seraya memanggil, sembari mengetuk pintu kamar namun tak kunjung ada jawaban. Ia kemudian berinisiatif untuk membuka pintu yang kebetulan tidak terkunci hingga ia bisa leluasa masuk kedalamnya.


"Ya Tuhan, Nona!" teriaknya dengan panik, ketika melihat Yuna terkapar dilantai dengan wajah begitu pucat.


Ia pun segera memanggil para pekerja yang lain untuk mengangkat tubuh majikannya, lalu segera membawanya kerumah sakit untuk menolongnya.


****


Ketika membuka mata, Yuna sudah terbaring diatas ranjang rumah sakit dengan selang infus ditangannya.


"Nona mengalami septic miscarriage, infeksi pasca keguguran. Beruntunglah Nona segera dibawa kemari, kalau tidak akan berakibat fatal." tutur dokter, ketika memeriksa keadaan Yuna. "Sebaiknya Nona banyak beristirahat agar keadaannya cepat pulih."


"Baik dok." sahut Yuna lemah.


Ia kemudian menoleh pada salah satu pembantunya itu. "Bibi merasa bersalah pada Nona, seharusnya bibi langsung ke kamar Nona ketika sampai dirumah."


Yuna melebarkan senyumannya. "Bukan salah Bibi kok. Terimakasih sudah menolongku."


Ia mengangguk, membalas senyuman majikannya dengan lega. "Bibi sudah menyuruh pak Nan untuk menghubungi Tuan Rino, tapi Tuan tidak bisa dihubungi."


"Tidak perlu memberi tahu Tuan, dia mungkin sangat sibuk."


"Tapi Non, Non kan lagi sakit, seharusnya Tuan temenin Non."


"Tidak apa-apa kok Bi, aku hanya butuh istirahat. Biarkan perawat saja yang menemaniku, Bibi bisa pulang sekarang!" pintanya.

__ADS_1


"Baik Non." mengiyakan dengan sedih, namun ia tak bisa menolak.


Yuna membutuhkan ketenangan seorang diri.


__ADS_2