
"Tuan, ada yang ingin bertemu dengan Anda." ucap Leni pada atasannya, Aga.
"Suruh dia masuk!"
"Baik."
Tamu itu pun masuk ke dalam ruang kerja milik Aga dan langsung duduk di kursi sofa yang tersedia untuk para tamu.
"Untuk apa kau datang kemari? Bukan kah kita sudah tidak menjalin kerjasama."
"Santai saja, aku datang kemari hanya sebagai pasangan dari calon istriku," sahut Rino dengan gelagat angkuhnya.
"Calon istri, apa maksud mu?"
"Oh iya aku lupa memberitahu mu," Rino melemparkan kartu undangan diatas meja depan Aga. "Beberapa hari lagi aku akan segera melakukan pernikahan dengan Yuna. Tentu aku harus mengundang mu karena bagaimanapun keluarga mu sudah membesarkan calon istriku dan aku harus berterimakasih untuk itu."
Aga mengepalkan tangannya menahan emosi, dia tak menyangka bahwa Yuna secepat ini melupakannya. Bahkan Rino juga ikut kedalam rencana Yuna.
"Aku pasti akan datang, aku akan menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat atas pernikahan kalian berdua," sahut Aga tersenyum palsu.
"Baguslah," Rino tersenyum penuh kemenangan, kemudian beranjak berdiri dan menepuk bahu Aga sebelum pergi. "Kamu memang harus hadir agar tidak lancang mengganggu calon istri orang lain."
Aga menggertakkan rahangnya menahan emosi atas penghinaan itu, ia harus bersikap tenang sebelum Rino benar-benar keluar dari ruangannya.
"Leni." Ia memanggil sekretarisnya kemudian.
"Iya Tuan?"
"Ada sesuatu yang harus kau lakukan untukku."
****
Kini sudah tiba waktunya acara pernikahan, dan seperti yang dikatakan Aga sebelumnya. Ia akan datang ke acara pernikahan sebelum dimulai.
"Kau mau kemana rapi rapi begini?" tanya Vale heran, ketika melihat penampilan Aga yang dimana kali ini sungguh berbeda.
"Aku akan menghadiri acara pernikahan Yuna."
__ADS_1
"Hah apa? Siapa?"
Aga tersenyum tenang. "Santai saja! Aku datang hanya sekedar mengucapkan selamat kepada mereka."
Vale mengerut kening bingung, bukan kah dia akan menghadiri acara pernikahan gadis yang telah membuatnya menderita selama ini. Kenapa dia setenang itu?
"Baguslah."
Apakah Aga merencanakan sesuatu?
Setelah selesai merapikan diri sebaik mungkin, Aga segera berangkat ke acara pernikahan dengan Leni, sekretarisnya.
Gedung mewah berhiaskan mengingatkan dirinya pada dua tahun lalu, ketika ia melihat Rino dari kejauhan tengah tersenyum mengingatkan pada dirinya dahulu.
"Tuan muda Rino, selamat atas pernikahan mu, semoga acaranya berjalan lancar. Maaf aku tidak menepati janjiku untuk manjadi orang pertama untuk mengucapkan kalimat ini padamu." ucap Aga terlihat sangat tenang, mereka saling berjabat tangan.
"Tidak masalah, dengan kau hadir saja itu sudah cukup."
Rino merasa ini kemenangannya, meski tak sekalipun terlihat raut kesal di wajah Aga.
"Anda tampak cantik sekali Nona," puji Leni menghampiri.
"Terimakasih Len."
Yuna tampak bahagia memakai gaun putih berhias manik-manik membaluti tubuh indah nan jenjangnya.
Ia fokus bercermin tanpa memperhatikan Leni tengah mengeluarkan sepotong kain dan meneteskan cairan bius di kain tersebut.
Ketika para penata serta pelayan keluar dan lengah, dengan cepat Leni menutup mu serta hidung Yuna dari belakang.
Yuna membelalak kaget, hendak menjerit meminta pertolongan akan tetapi pengaruh obat bius membuatnya ia tak sadar.
"Maafkan aku Nona."
Setelah melakukan hal yang tuannya suruh, Leni kembali menemui Aga yang tengah berbincang dengan beberapa rekannya yang hadir.
Leni menganggukkan kepala, memberi kode pada atasannya bahwa rencananya sudah berjalan.
__ADS_1
Aga tersenyum senang, mengambil segelas anggur yang disediakan dan meneruskan berbincang.
Tak beberapa lama pak Han melangkah cepat mendatangi Rino.
"Nona Yuna menghilang." ucap pak Han berbisik pada Rino.
Rino menoleh pada Aga yang tengah mengobrol dengan tamu lain, ia menghilangkan kecurigaannya.
"Bagaimana itu bisa terjadi? Bukan kah Yuna sedang bersama dengan kalian."
Para makes-up artist serta yang lain menunduk gemetar, ketakutan. "Benar Tuan, tadi kami merias Nona. Setelah selesai ka.. kami meninggalkan Nona sendirian didalam kamar."
"Kenapa kalian tinggal, hah?" teriak Rino emosi.
"Ma-maaf Tuan, saya pikir Nona membutuhkan waktu untuk sendiri." sahutnya dengan gugup. "Sekali lagi maafkan kami."
Rino menghantamkan kepalan tangannya ke tembok dengan marah. "Cepat kau suruh anak buah mu mencari Yuna! Kalau perlu kita harus meminta bantuan kepolisian untuk mencarinya. Aku yakin seseorang telah menculik calon istriku."
"Baik Tuan muda." sahut pak Han dengan sigap.
****
Samar-samar Yuna mengerjapkan matanya, kepalanya masih terasa berat. Ia tiba-tiba sudah berbaring di atas ranjang dengan keadaan kedua tangan terikat dipapan ranjang serta mulutnya tertutup.
"Kau sudah bangun?"
Suara berat nan dalam milik lelaki yang ia kenal membuat dirinya membelalak kaget, Aga telah menculiknya. Membawa dirinya kesebuah villa milik Aga.
Yuna mencoba berbicara seraya berteriak namun ia tidak bisa karena mulutnya tertutup, Aga hanya tersenyum sinis melihatnya.
"Aga, kau gila ya? Lepaskan aku!" teriak Yuna ketika Aga melepas penutup mulut.
Aga tertawa, tak menanggapi. "Aku melepas penutup mulut mu karena ingin mendengar suara desah4n serta erangan dari mu, bukan umpatan seperti itu." bisik Aga ditelinga Yuna.
Seketika Yuna membulatkan matanya, mencoba melepaskan ikatan di kedua tangannya namun tak bisa, ia terlalu lemah.
"Jangan mendekat!" pinta Yuna ketakutan ketika Aga ikut naik ke atas ranjang mendekatinya. "Jangan sentuh aku!"
__ADS_1